Main Bola ala Koruptor

Oleh: Ki Slamet Gundono

WARNA-WARNI umbul-umbul mewarnai langit di atas Gemporium Stadium Ngastina. Sore itu, di stadion besar tersebut, sedang dilangsungkan big match, pertandingan mahadahsyat, game of the year, antara Kurawa Dream Team versus Ngalengka Best Team. Ribuan bonek Ngalengka terlihat wira-wiri di stadion mencari celah gratisan.

Ratusan spanduk dibeber oleh para suporter sebagai bentuk dukungan kepada yang bertanding. Il Capitano Duryudana, aku di belakangmu!!! Begitu bunyi salah satu spanduk. Rahwana, I Love You, spanduk yang lain tak mau kalah bersaing. Melihat jajaran spanduk warna-warni itu, hati para pemain kian mongkog. Irung mereka tambah mekrok.

”Kami punya trik khusus. Kalau perlu, maen srimpung,” kata Sengkuni, dedengkot tim Kurawa saat jumpa pers. Rahwana tak mau kalah. ”Dengan kekuatan Dasamuka plus Kumbakarna di bawah mistar, we are the best,” katanya. Perang analisis di media massa pun terjadi. Ngalengka siap turunkan Kumbakarna dan Rahwana dengan Dasamuka-nya. Begitu bunyi headline Ngastina Pos.

Tiket Gemporium Stadium ludes terjual. Suporter kedua kubu tampak mbleber di pinggir lapangan. Di tengah lapangan, terlihat Kresna, wasit yang sudah punya lisensi internasional, melemparkan mata uang. Sengkuni dan Rahwana terlihat saling sepakat dan berjabat tangan.

Kick off!!

Bola dihadapi Duryudana dan Sengkuni. Bola ditendang ke belakang, diterima Kartamarma. Tik-tak, cepat satu dua diteruskan long pass ke kiri luar. Salah satu dari sepuluh kepala Rahwana cepat memotong bola. Kesepuluh kepala Rahwana terlihat kompak bermain bola atas, saling sundul sementara si tubuh berlari cepat. Pertahanan Kurawa diam terperangah.

Tampak bola dilambungkan ke atas. Kepala bagian tengah dari sepuluh kepala mencoba memanjangkan lehernya. Wuzzz, bola melesat tepat dalam pelukan Dursasana, ”Kunyuk Durmogati! Bajingan! Di-srimpung Le, aja meneng bae” teriak Dursasana.

Walaupun jumlah Kurawa lebih banyak, beberapa kali serangan Kurawa mentok. Akhirnya, Sengkuni dan Duryudana mendekat saling umik-umik. Keduanya terlihat saling berdebat serius.

Akhirnya, Rahwana melakukan blitzkrieg cepat lantaran melihat ada kesempatan. Tapi, Sengkuni mendekati kepala ke sembilan dari Rahwana. Kepala dengan wajah melankolis dengan kumis tipis yang selalu diliputi senyum, Si Roh Khim Sahuri. Sengkuni mengacungkan selembar kuitansi senilai 31,7 miliar. Uangnya diambil Sengkuni dari dana nonbudgeter fishing and maritime department Kurawa. Dana yang ngendon lama tak terpakai, dari pada mubazir pikir Sengkuni. Kekompakan Ngalengka Best Team terganggu. Lewat umpan silang Kartamarma, Duryudana merobek jala Kumbokarno, 1-0.

”Roh Khim, bedebah, ente gelo, yo opo masih kurang ta gaji ente?” teriak Rahwana wajah ke lima. Wah tidak bisa didiemkan nich kalo begini carane, timpal wajah keenam. Keduanya, lewat ponsel 3G, browsing data riwayat hidup Sengkuni. Akhirnya, ketemu celahnya. Sengkuni pun diganggu lewat telepon.

”Ya…ini siapa? Duit mah biasa, ada plusnya nggak? Cantik mana dengan istri saya?” jawab Sengkuni by phone. Wajah kelima Rahwana menerangkan, plus-plus itu gak kalah caem, malah denok-denok duebleng, semlohay. Lalu, dalam babak istirahat, di ruang ganti, Sengkuni ”bertanding” sendiri melawan si plus-plus itu. Dia krenggosan adus kringet melakukan serangan mematikan, diakhiri gol-gol fantastis.

Hasilnya nyata. Di babak kedua, dengkul Sengkuni teklok. Koordinasi lapangan tengah Kurawa pun mudah diterobos. Sebuah sundulan keras dari jarak 12 meter merobek jalan Dursasana. 1-1 bertahan hingga peluit akhir ditiup Kresna.

Sengkuni pun seperti diadili. Dia tertunduk lesu saat sadapan telepon yang membuktikan bahwa dia minta servis plus-plus diputar. Namun, tim tetap diupayakan solid agar tetap bisa beraksi. Akhirnya, mereka menantang Ngamarta FC.

”Kakang, Diterima aja lah, jangan nyerah. Kita pasti menang,” sahut Werkudara saat ditanya Puntadewa soal tantangan Ngastina. Lalu, seperti yang sudah direncanakan, peluit panjang Kresna kembali ditiup.

Umpan silang manis Werkudara, diselesaikan tendangan salto Arjuna tepat di sudut gawang Dursasana. Dari tengah lapangan, Nakula berhasil melewati tiga hadangan. Sontekan kecil mengecoh Dursasana, kembali merobek jala Dursasana. Pertahanan kuat Kurawa, dibuat kocar-kacir Pandawa.

Sengkuni, dari bangku cadangan membisikkan sesuatu pada Duryudana. Dilihatnya perempuan sexy dalam balutan kaus tim Ngamarta FC. Duryudana menyalami wanita itu. Namanya, Artalyta Mustokoweni. Di ruang ganti, Duryudana menawarkan sebuah tawaran 6 miliar untuk membuat skandal calciopoli (pengaturan skor). Setelah bersalaman, keduanya memisahkan diri.

Di sela-sela babak pertama, Artalyta Mustokoweni mendekati beberapa hakim garis seperti yang direncanakan. So, memasuki babak kedua, pertandingan berat sebelah. Dalam waktu singkat, kedudukan sudah imbang 3-3. Werkudara merasakan ada sesuatu yang janggal. Di pinggiran lapangan, Werkudara membisikkan sesuatu ke Gatotkaca, Antasena, dan Antareja.

Dalam waktu singkat, Mustokoweni diseret ke KPK (Komisi Penegakan Kesebelasan). Di pengadilan, Artalyta Mustokoweni dihukum 5 tahun penjara dan denda 250 juta. Artalyta Mustokoweni dengan tersenyum mbatin, wah kecil amat hukumanku. Terbayang, 6 miliar masih bisa untuk hidup tujuh turunan. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: