Mencari Rumah Indonesia


KRIIIIIINGGGG…… Jam weker di kamar Abiyasa berdering tepat pukul enam bagi. Abiyasa ucek-ucek mata, tidak langsung bangun dari tempat tidur. Khayalnya melayang, nyanthel di awang-awang.

Sepuluh tahun dulu, selalu kicau burung dan kukuruyuk si jago yang menjadi alarm-nya di pagi hari. Entah beberapa hari ini, kehidupan di dunia wayang rasanya sumpek dan membosankan. Kepala Abiyasa rasanya penuh dan dikorek-korek raungan mesin modern serta tetumbuhan beton. ”Proyek hunian baru secepatnya segera dibangun,” Abiyasa bicara pada dirinya.

”Pak De ndak kesusu, kan? Diajeng Srikandi masih dalam perjalanan,” ujar Arjuna Hidayat, kontraktor PT ProKuSys alias Property Kuality System and Co. Abiyasa dingin. Dia lebih asyik nyedot cangklong. Sedetik kemudian, Komarudin Bima dari PT Unggal Unggul (UU) nyelonong masuk.

”Begini Le. Pak De merasa bete en mentok. Urip in here isvery hot. Sebagai kontraktor kita seharusnya tertantang,” ujar Abiyasa membuka obrolan. Dia lantas mengarahkan remote ke layar tipis 34 inci yang konek internet. Terpampanglah usrek-usrek-nya Ngamarta City.

Tepat, saat itu Direktur PT Power DIP (Desain Independen Produk) Srikandi celingukan masuk. Klik! Tampilan berubah. Tampaklah ribuan pulau yang asri, penuh dengan warna-warni, Indonesia. Klik! Masterplan program Abiyasa terpampang. Arjuna Hidayat, Komarudin Bima, dan Srikandi seksama mendengarkan paparan Abiyasa.

”Tentang masterplan pembangunan New Ngamarta City di Bumi, masing-masing dari kalian, saya tugasi mencari sesuatu yang paling menarik yang berhubungan dengan properti rumah Indonesia. Dan Pak De akan turunkan kalian pada daerah yang diwarnai merah pada peta digital ini,” tutur Abiyasa. Klik, dia lantas menutup rapat.

***

Singkat cerita, Arjuna Hidayat dengan penerbangan pertama turun di Semenanjung Kutub Utara. Dia sampai di Eskimo. ”Gendeng gak mari sampeyan, Pak De. Gimana mau konsultasi? Kagak ada orangnye,” gerutu Arjuna Hidayat. Ke mana pun mata memandang, yang terlihat cuma putih memplak. ”Sampeyan asli gendeng. Lihat tuh, pintunya kaya masjid. Ngapain jauh-jauh come here,” Arjuna kian nggondok.

Betul. Dia melihat rumah Eskimo, tanpa jendela dan hanya ada sebuah pintu setinggi manusia dengan setengah lingkaran di atasnya. Arjuna memilih salah satu yang terkecil untuk dibawa pulang,

Tak…ndandandaaang, busyet Buto Cakil menyerang. Arjuna Hidayat segera pacak gulu, srisik kanan kiri, dan sabetan. Buto Cakil pentalitan lincah. Buto Cakil menusukkan kerisnya, eits..pong..ngepong..dipongkan Arjuna Hidayat. Diawali tetabuhan Srepeg, meloncat tinggi menghunus panah Sapu (Sajadah Putih). Srrraaak, tek sek, Buto Cakil

terkapar.

Sementara Komarudin Bima diturunkan di pedalaman Kalimantan. Menumpang program KB (Keluarga Berencana), bukan dua anak cukup tapi dua jendela cukup. ”Ide brilian, sebuah jendela dengan ibu plus putranya dan jendela lain bapak plus putrinya,” Komarudin Bima terkekeh. Satu dua bulan mengamati akhirnya diputuskan jendela mana

yang akan dibawa ke Ngamarta. Tawar menawar harga dengan si empunya deal.

Tiba-tiba, hujaman linggis pertama telak mengenai sisi jendela. Asap hitam pekat menyusul. Asal itu lalu menjelma jadi Jin Gendruwo yang mengacungkan jari telunjuk tepat ke dahi Komarudin Bima.

Tubuh Bima yang kecil bersiukan memainkan teknik capoeira. Tapi tendangan dan

pukulan tak ngefek pada Jin Gendruwo. Komarudin Bima mengubah strategi, sak

klebatan bayangan Bruce Lee lewat. Bima menyerang dengan Dragon Fist-nya. Jin Gendruwo malah ngekek kegelian.

Dari jauh Komarudin Bima memutar otak dan jeli mengamati. Diawali lari, ciaaat, Bima salto sekuat tenaga. Tap, mendarat tepat di depan Jin Gendruwo. Ibu jari alias jempol Bima beberapa sentimeter di depan acungan jari telunjuk Jin Gendruwo, yang langsung sesenggukan pergi menjauh. ”Oaalaah, jebul-nya ngajak pingsut tha. Mbok omong dari tadi,” ujar Komarudin Bima terbahak.

Srikandi diturunkan di pedalaman Papua. Suku Asmat, suku Honi dan suku lainnya disambanginnya. Desain khas atap mereka difoto dari berbagai sisi. Selesai ngubek-ubek Papua, dengan sisa budget-nya, dia nyebrang ke pedalaman NTB dan NTT. Ratusan foto desain atap memenuhi hard disk laptopnya.

Di rumah kontrakannya, Srikandi kembali membuka laptopnya dan memutar otak. Dia memadukan semua jenis atap dalam kaitan yang padu. Tiga malam Srikandi lembur sampai akhirnya sebuah bentuk fisik atap terwujud. Hari itu juga, Srikandi

mencarter pesawat cargo ke Kahyangan.

Kaki Srikandi baru saja menginjak undakan terakhir, sebuah lengan penuh tattoo melemparkannya. Tubuh Srikandi kruntelan. Secepatnya bangun, emosi, napas panas mendengus keras lewat moncongnya. Tubuh Srikandi sedikit agak melengkung, kedua

tangannya menapak sejajar kaki. Diawali lenguhan panjang, tubuh Srikandi merangsek bak banteng. Apa yang ada di depannya abis diseruduk. Tubuh preman penuh tattoo sempat terseret lima meter sampai akhirnya dilemparkan oleh tanduknya.

Abiyasa sudah menunggu kedatangan mereka bertiga di sebuah lapangan yang luas. Setelah ketiganya datang, Abiyasa mencoba-coba merangkai pintu, jendela dan atap menjadi sebuah bilik untuk mencontreng. Keesokan harinya jutaan rakyat Ngamarta berduyun-duyun melakukan pesta contreng di rumah Indonesia. Semua gembira, Rumah Indonesia adalah rumah siapa pun yang bisa hidup merdeka di sana. (*)

Oleh : Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: