Mengabdi Selamanya


JALANAN begitu lengang. Nama-nama pemilih yang belum hadir sesekali terdengar berulang kali dari pengeras suara yang ada. Kota Ngamarta seakan istirahat. Tak ada aktivitas yang berarti pada hari itu.

Bagong dan Gareng saling memamerkan jari-jemarinya yang berlumur tinta kebiruan. Keduanya langsung menuju rumah Gareng dan seksama melihat penghitungan quick count dan komentar-komentar yang ditayangkan di Ngamarta TV.

Dahi keduanya terlihat berkerut. Seolah tak percaya dengan angka-angka yang naik terus untuk capres Bima. ”Jariku boleh biru kena tinta. Niiing, darah inyong masih abang,” ujar Bagong tiba-tiba.

Keduanya lalu dikagetkan ponsel kuno Bagong yang berteriak kencang. Terdengar suara Wisanggeni dari seberang. Nadanya terdengar panik. Bunda Srikandi dedelikan masuk gudang persenjataan Ngamarta. Ia membawa lari dua senjata pamungkas Romo Arjuna, Hardodedali dan Pasopati.

Barong dan Gareng seketika ngelurug tempat rapat pleno Hankamnas. Di sana sudah hadir Abianyu yang digelayuti girl friend barunya, Roro Muaniezwati. Ada juga Wisanggeni, Gatotkaca, Antareja, dan Antasena.

”Kita harus bergerak cepat sebelum ada cap perencanaan makar,” ujar Gatotkaca membuka rembukan. ”Makar? Makaryo, kali! Bunda Sri tak sebegitunya. Dan di seberang meja, tangan Abimanyu benar-benar makaryo. Tangannya menggerayangi, mengelus rambut hitam, hap, lalu mithesi kutu di rambut Roro Muaniezwati. Mereka petan.

Setelah itung-itungan strategi keamanannya, akhirnya diutuslah Wisanggeni, Bagong, Gareng, dan Abimanyu untuk melacak serta membawa pulang Hardodedali dan Pasopati. Lalu, Ciettz, mobil Abimanyu yang dikendarai Wisanggeni direm mendadak. Selanjutnya berjalan pelan di antara perdu.

Terlihat, di puncak bukit di pinggiran Ngamarta, Bunda Srikandi sedang mempersiapkan Hardodedali dan Pasopati mengarah ke pusat kota. ”Le, tugasmu nggaglak DPT fiktif en KTP fiktif, ya,” ujar Bunda Srikandi kepada Hardodedali dan Pasopati.

***

”Modar koen, Nyuk. Ganggu keasyikan orang saja,” celetuk Abimanyu yang masih asyik metani rambut Roro Muaniezwati. Gareng mencibirkan bibir. Sementara Wisanggeni dan Bagong saling pandang.

Dan keceriaan kemenangan kubu Bima dikejutkan oleh telepon dari Prabu Blekok Wisesa. Intinya, minta bagian usaha milik negara yang dijanjikan bisa dibeli secara cepat. Agar bagian itu bisa direalisasikan sebelum program lainnya berjalan. Barterannya sangat berat. Yaitu kehancuran Ngamarta.

Akhirnya, Blekok Wisesa melangkah memasuki Ngamarta. Tugu perbatasan dicokok hancur. Cakarnya mencabik-cabik gedung-gedung perkantoran Ngamarta City. Kepakan sayapnya menciptakan angin puting beliung yang menerbangkan atap-atap rumah penduduk. Dari matanya keluar sinar perak berbau mesiu yang merontokkan satu per satu kilang cadangan minyak Ngamarta.

Bima kalang-kabut. Dikontaknya ponsel Gatotkaca, Antasena, dan Antareja. Semua tulalit, mereka ngorok kecapaian mempersiapkan pilpres. Akhirnya, hati nurani Bunda Srikandi pula yang berbicara. Diarahkan Hardodedali tepat pada moncong brutu Blekok Wisesa. Slaap, Blekok Wisesa sedikit mengangkat brutu-nya yang mulai rontok disapu Hardodedali. Bak bumerang, Hardodedali menyerang tanpa ampun. Sraak, sak kedepan mata, senjata itu kembali murka. Ia menyerang sayap Blekok Wisesa. Tanpa ampun, tubuh Blekok Wisesa menghempas bumi.

Satu meter mendekati bumi, tubuh Blekok Wisesa dikerubuti Hardodedali yang terus berputar secepat kilat. Tak ayal lagi, sampai di atas bumi, Blekok Wisesa sudah mruthuli tanpa selembar bulu pun. Ia lalu amblas entah ke mana.

Warga bersorak histeris dalam kegembiraan. Hardodedali pun kembali pulang ke Ngamarta. Bunda Srikandi merenung dengan apa yang barusan dilakukannya. Baru beberapa hari kemudian, Bima beserta staf meluncurkan bantuan peduli kepada korban Blekok Wisesa. Tiba, tiba, ujian kedua datang.

”Eh, sekarang gak ada yang gratis. Mana lahan untuk mal atau tak dum virus,” ancam Prabu Gagak dari pesawat pribadinya yang terbang rendah di langit Ngamarta. Sirene kembali didengungkan. Dari perut pesawat, Prabu Gagak keluarkan asap tipis. Dalam sekejap, Ngamarta jadi endemi virus flu. Rumah sakit dan puskesmas dibuat kewalahan menerima pasien yang terus datang bergelombang. Melihat kejadian yang menimpa warga di depan mata, sejenak sempat muncul kebimbangan dalam hati Bunda Srikandi.

Tapi, nurani kemanusiaan kembali mengalahkan segalanya. Dengan kepercayaan diri penuh, Bunda Srikandi melepas Pasopati. Radar pesawat Prabu Gagak mendeteksi benda asing yang mendekat. Perut pesawat segera memuntahkan ribuan peluru tajam. Pasopati meliuk-liuk di antara desing peluru. Pasopati tak mau kalah, memecahkan diri menjadi ribuan panah kecil-kecil dan terus merangsek menyerang.

Mendekati detik terakhir pesawat akan meledak, dengan kursi pelontar, Prabu Gagak menyelamatkan diri dengan ketawa yang membahana. Pasopati, tak kenal ampun, terus mengejar. Tepat saat Prabu Gagak membuka mulutnya lebar-lebar, ribuan Pasopati menerobos mulut dan telak-nya. Warga kembali bersorak tak putus-putusnya.

Dengan mata sembab, Bunda Srikandi melihat semuanya. Dari kaca mobil yang sedikit terbuka, Bagong bergumam. Pesta demokrasi adalah salah satu cara membuat negara baik. Kalau ada kesalahan, serahkan Kejagung saja.

Dengan suara lirih, Bunda Srikandi berbisik, bagi saya yang penting mengabdi terus untuk selamanya. Bahkan ketika saya tidak mampu memanah lagi. Wisanggeni, Bagong dan Gareng tersenyum. Demikian juga Abimanyu dan Roro Muaniezwati yang saling pandang. Tangan Abimanyu merengkuh lebih dalam. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: