Menjelang Langit Ambrol


SEKELOMPOK kecil orang terlihat sedang berdemo di bawah hujan gerimis di sudut Kota Ngamarta. Mereka berorasi dengan mulut berbusa-busa.

”Penataan kota semrawut! Pembangunan mal tanpa batas menjadi penyebab utama banjir!!” kata Udin Mbilung yang berkoar di pojokan. ”Mental masyarakat memang sudah tidak peduli lingkungan. Itu membuat air marah,” timpal Joni Soropodo tak kalah sengit. ”Dan kalau air marah, hujan akan nangis nggelontorkan air matanya,” seloroh Rara Lekoh di salah satu sudut. Pakaiannya agak menor.

Namun, teriakan kelompok Spirit Solusi Lingkungan (Sulung) itu kian hari kian lenyap ditelan kemunculan spanduk dan baliho raksasa bergambar caleg atau bendera partai. Bahkan, ada juga bendera partai yang dipasang di pucuk pohon yang amat tinggi. Barangkali, itu partai monyet pemanjat pohon (hehe).

Salah satu yang cukup giat melakukan perlawanan munculnya mal dan bangunan ngawur di kota adalah Mbah Togog. Dia selalu hunting ke penjuru Ngamarta via LSM, pemerintah daerah, dan kelompok apa pun yang mau diubub-ububi alias dipanas-panasi. So, semakin hari perlawanan mereka seperti bola salju, menggelinding bergemuruh, nggegirisi. Semua elemen masyarakat bergandengan.

”Hai rakyatku, kota hanya tawarkan masa depan yang gagal. Banjir menjadi kegelapan kota yang berbau busuk. Kita ambil tindakan!! Hancurkan mal-mal!!” teriak Togog di tengah-tengah acara Simposium Ubub-ububan ”Air Kehidupan, Kini dan Yang Akan Datang”. Untuk seminar itu, ahli sungai didatangkan dari Sungai Gangga, India.

Tetapi, usaha Togog selalu terbentur birokrasi. Entah, apakah itu siasat para dewa yang selalu melihat aksi diving Togog. Semar sebagai sesepuh Karang Kadempel pun selalu terlihat no comment. Namun, diam-diam, Semar mencoba masuk Kahyangan lewat pintu lain. Ternyata, dia dihadang Dewa Brahma. ”Maaf, Bapak Manikmaya tidak ada di tempat. Beliau keliling membagi dana bantuan banjir. Mohon buat janji dulu untuk tiga bulan ke depan,” kata Dewa Brahma sambil mendengus.

”Apa??? Kentutku bisa menyelesaikan semuanya,” ujar Semar. Dia mulai marah. Semar mulai menunggingkan pantatnya yang sebesar gunung anakan. Dia labrak semua dewa hingga ketakutan.

Tak patah arang dihadang para dewa, Semar menggunakan ajian pintu ajaib seperti punya Doraemon. Akhirnya, dia melangkahkan kaki ke Kabupaten Bojonegoro. Dia kebingungan. Ke mana pun mata memandang, belum terlalu penuh beton-beton mal yang angker. Namun, anehnya, daerah itu tenggelam karena banjir.

Mendung gelap mengantarkan Semar memasuki sebuah gubuk yang ternyata warung. Dia pesan kopi panas untuk sekadar menghangatkan badan. Samar, namun kian jelas, sudut mata Semar melihat bayangan seseorang yang begitu familiar.

Berjingkat, Semar mendekati. Dari jarak dua depa, sekarang jelas terlihat orang yang dia lihat dengan mata tuanya. Ya, bos Manikmaya terlihat turun dari mobil Jaguar. Penguasa dewa itu terlihat asyik menggandeng dan sesekali merangkul pinggang Miss Durga.

Secepat kilat, Semar berbalik arah. Rasanya dia muak dan ingin muntah. Tak bosan-bosannya juga para pejabat yang masih selingkuh dalam masa krisis.

Langkah kaki semar menghantarkan badannya ke sebuah sungai kecil yang masih dihajar air Bengawan Solo yang ganas. Diselonjorkannya kaki di salah satu dam bendungan. Tiba-tiba, seseorang duduk di sampingnya. ”Anda siapa dan dari mana?” tanya Semar. ”Khidir Gejul namaku,” jawab yang ditanya singkat sambil menggelar air untuk tiduran.

Semar lalu bertanya mengapa tubuh si Khidir kebiru-biruan. Dengan tergagap, Khidir menjelaskan bahwa dia habis dipukuli sekelompok orang karena ia mengingatkan agar pabrik yang mengotori sungai dikurangi. Sebab, sungai sudah gawat polusinya.

Menurutnya, orang sudah tidak ada yang berani mengungkap kebenaran bahwa alam kita diambang kehancuran. Yang ada cuma wacana politik dan proyek membuat even. Semar seperti disambar geledek. Sebab, dia pun tak berani mengingatkan Manikmaya yang jelas suka selingkuh daripada urus alam yang hancur.

Dengan ajian pintu ajaibnya, secepat kilat Semar balik ke Karang Kadempel. Diambilnya mobil kodoknya, digas sekuat tenaga. Rumah Togog tujuannya. Mobil kodok terbatuk-batuk karena lari melebihi kemampuannya. Begitu mandek, Semar melesat turun dari mobil dan mencari Togog.

”Gog, Togog! Kita harus kumpulkan warga untuk bertemu tujuh kepala daerah yang dilewati Bengawan Solo. Rakyat butuh momentum untuk berani atasi banjir bersama,” teriak Semar dari pelataran. Sunyi, nihil, tak ada jawaban.

Dengan langkah pasti, Semar menuju pintu belakang. Dari sebuah nako kecil, terlihat Mbah Togog sedang konsen menghitung lembaran-lembaran uang hasil ngububi rakyat untuk demo. ”Gog, Togog. Ternyata bibirmu tidak berubah. Tetap jidit, mung siji kabeh duit,” ujar Semar dengan kesal.

”Wong arep golek proyek saja kok ngrembug banjir,” hardik Semar lagi. Karena konangan, wajah Togog pucat pasi.

Semar temui anak-anaknya. Mereka coba mulai memompa semangat, bukan hanya untuk hadapi banjir, tapi mengubah cara hidup karena langite wis arep ambrol. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: