Natalia Luna Mayang


NATALIA Luna Mayang nama seorang tokoh. Artinya perempuan yang mak pecungul lahirnya pas Natalan. Artinya, bisa juga, arek wedok namanya Luna. Pada hari Natal perempuan itu lagi melakonkan wayang. Melakonkan wayang bahasa Jawanya kan mayang, Rek.

Tapi awas jangan kebablasan jadi Mayang Sari ya. Kalau ini bukan pelakon wayang. Dia biduanita dari Purwokerto. Sekarang dekat mbarek keluarga Cendana. Hubungannya dengan wayang cuma faktor orang tuanya. Bapaknya pelakon wayang. Beliau dalang senior Banyumasan, Ki Sugito Purbocarito.

Luna yang ini cukup Natalia Luna Mayang saja. Ndak pakai Sari. Perawakannya tinggi semampai. Kelahiran Bali. Matanya belok. Mesem-nya ndak pernah cuti. Bahkan cuti hamil juga ndak. Pernah pas lagi hamil tahun lalu, Luna Mayang teteeeep aja mesem. Ndak seperti Pak SBY yang sekarang sedang cuti mesem. Dan Luna Mayang memang sedang mementaskan wayang. Tokohnya dirinya sendiri.

Seperti Luna-Luna yang lain, Natalia Luna Mayang juga berbeda dibanding Mbah Surip. ”Swargi Mbah Surip senang menggendong pacarnya ke mana-mana, Luna Mayang ke mana-mana sukanya nggendong anak orang lain,” kata Semar mengawali pementasan wayang orang.

Di panggung pada Kamis Kliwon itu Luna Mayang meminta penonton satu-satunya, namanya Ariel, untuk dijadikan bahan gendongan di panggung. Ariel, anak kecil yang masih berusia 3 tahunan itu meronta-ronta. Ia pengin digendong oleh ibu kandungnya sendiri yang sedang keluyuran embuh ke mana. Lagi pula anak itu nggak mood tampil di panggung kalau honornya kurang dari Rp 6,7 triliun. Luna Mayang akhirnya masuk panggung. Ia angkat pemeran Bagong yang sudah berusia 50 tahun. Digendongnya tokoh itu masuk ke atas panggung sambil perempuan ini tertatih-tatih. ”Bagong kan sifatnya seperti anak kecil,” batin si Luna Mayang, napasnya melar-mingkup.

Kebetulan beberapa wartawan sedang berkumpul di belakang panggung. Mereka sedang bikin liputan tentang nyaris punahnya kesenian tradisional. Kagetlah mereka melihat adegan Luna menggendong Bagong. Gila, yang digendong jauh lebih besar daripada yang menggendong. Mana Bagong sampai angler ketiduran. Berebutanlah para wartawan naik ke panggung untuk memotret. Sampai akhirnya di gendongan Luna, kepala Bagong terantuk kamera.

Weladalah…wah…wah..wah…Luna Mayang protes. Bagong yang ketiduran segera dialihkannya ke mobil. Balik lagi menemui wartawan Luna langsung mendamprat mereka. Kemudian inilah kata-katanya yang akhirnya lebih terkenal dibanding wajah Osamah bin Ladin: Wahai para wartawan!!! Tahukah kalian bahwa sesungguhnya kalian lebih buruk daripada cicak dan buaya!!! Ikh…Hmm..Kalian lebih kejam daripada pembunuh!!!”

***

Sebet byar kataliko….tan kocapo..

Di kawasan Surabaya, cicak-cicak di Dolly, di Tandes, ndak trimo dibilang buruk oleh Luna Mayang. Menurut para binatang itu Luna nabok kiwo keno tengen. Yang Luna hajar kelihatannya wartawan. Tapi sebenarnya dia menghujat cicak dan buaya. Bilang saja wartawan buruk. Tapi ndak usah pakai embel-embel bandingan bahwa wartawan lebih buruk dari cicak dan buaya. ”Berarti kami-kami ini buruk, dong,, nggih nopo mboten sedulur-sedulur?” pekik para binatang kompak.

”Padahal, akui saja lebih buruk mana saya dibanding kadal,” kata seorang cicak. Seorang cicak yang lain menambahkan, ”Bukannya kami mau sombong. Tapi sumpah tokek malah lebih bopeng-bopeng dibanding kami hayo…lihat sendiri aja kalau ndak percaya. Apa di Jakarta Luna udah ndak pernah lihat tokek? Di Paiton masih banyak. Wuaah kaco tuh badannya. Banyak tatonya…Kami masih lebih bersih. Kami lebih mirip Ariel.”

Cicak-cicak yang lain juga silih berprotes di depan istana Amerta, tepatnya di hadapan Raden Sadewa. Memang hanya anggota Pandawa yang kalem ini yang mengerti bahasa binatang. Dia seperti Nabi Sulaiman. Tugasnya memang mengurus fauna. Kembarannya, Nakula, dari Ksatrian Sawo Jajar, diberi tugas oleh Prabu Yudistira, pemimpin Pandawa, untuk merawat flora. Yaaah, bagi-bagi tugaslah. Arjuna disuruh membina perempuan. Bima dengan kuku Pancanakanya diminta mengelola obat kuat.

”Seburuk-buruknya kami,” sambung seorang buaya, ”Kami pernah menolong kancil nyeberang sungai lho…Luna Mayang itu pernah dengar cerita kancil tidak sih? Ini akibatnya kalau tradisi mendongeng makin luntur di tanah air. Orang tua lebih senang anaknya thenguk-thenguk di depan televise. Mereka bisa lebih santai, tidak perlu kasih dongeng lagi sebelum anak-anak tidur…”

Raden Sadewa manggut-manggut mendengar aspirasi buaya. Petruk dan Gareng bengong. Aspirasi apa? Wong bajul-bajul itu cuma mangap, megal-megol sambil matanya plerak-plerok kayak markus alias makelar kasus. ”Kalian betul,” kata Raden Sadewa dari Ksatrian Cemoro Sewu. Bahasanya campur-campur antara bahasa kasat kuping dan tak kasat kuping. “Kalian tidak buruk. Kalianlah satu-satunya yang pernah menolong kancil. Rumpun bangsa kalian lainnya tidak. Tidak biawak. Tidak komodo. Tidak cicak dan tokek.”

Petruk dan Gareng mulai mengerti bahasa campuran itu. Keduanya menyela. ”Betul, Raden. Ada yang paling buruk dalam etnis kadal-kadalan ini. Bentuknya seperti kadal. Warnanya plin-plan. Tergantung lagi menclok di mana. Dapat terbang sampai tinggi. Tinggi pula pendapatannya. Tapi tak mampu berpendapat…”

”Namanya bunglon!!!” timpal Gareng.

Bunglon-bunglon itu menurut Gareng-Petruk kini makin banyak di pohon-pohon di halaman gedung MPR/DPR, di istana, di kantor-kantor partai, departemen-departemen…wah pokoknya makin banyak. Makanya Luna Mayang mestinya jangan nyebut wartawan lebih buruk ketimbang cicak dan buaya. Yang bener, wartawan lebih hina-dina ketimbang bunglon. Ini harus diralat.

***

”Julukan pembunuh juga harus diralat oleh Luna Mayang di situ, biar adil,” kata seorang manusia yang ujuk-ujuk datang. Dia mengaku sebagai pembunuh Nasrudin. Merasa profesinya dilecehkan, pembunuh ini protes bergabung dengan ribuan demonstran cicak dan buaya pada siang yang terik itu.

Alasan si pembunuh Nasrudin, ”Kami tidak kejam. Yang kejam adalah otak pembunuhan. Mestinya Luna bilang bahwa wartawan lebih kejam dibanding otak pembunuhan. Kami membunuh karena memang kami nggak punya otak. Kami mustahil dapat gawean di tempat lain. Kami membunuh karena terpaksa. Tapi kalau otak pembunuhan, mereka punya otak. Punya banyak pilihan pekerjaan karena punya otak. Jadi, kenapa harus jadi perancang pembunuhan dari balik layar? Padahal dengan kemampuan otaknya mereka bisa jadi tukang tipu, tukang jagal, atau seapes-apesnya kalau sudah kepepet, ya jadi presidenlah.”

***

Wartawan di zaman wayang berbeda dibanding wartawan zaman lain. Mereka tukang kritik, tapi sebaliknya tidak tipis kuping kalau ganti dikritik. Mereka tidak marah seraya main lapor polisi karena diserang Luna. Justru para wartawanlah yang mendamaikan cicak dan buaya dengan Luna Mayang pada akhir demonstrasi hari ke-40. Menjelang salam-salaman cicak-buaya dan Luna, Bagong yang baru bangun tidur sejak digendong Luna dulu tiba-tiba bangkit. Kepalanya masih benjol bekas terantuk kamera. Ia pidato. Kelihatannya betul-betul dari hati nurani, bukan dari perdebatan ayat dan dalil-dalil yang masih silang sengketa.

”Sebelum jabat tangan, hayo kawan-kawan dari agama mana pun kita ucapkan selamat Natal dan Tahun Baru kepada Natalia Luna Mayang.”

Bagong turun panggung. Selanjutnya di kawasan demo itu berkumandang kasidah rombongan pesantren dari Blitar… Perdamaian…perdamaian…perdamaian…Kesyahduannya sundul sampai ke langit khatulistiwa. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: