Pandawa Mengamuk Karena Kematian Gatotkaca

Waktu pihak Astina mengetahui bahwa Gatotkaca tewas mereka bersorak bergembira. Sebaliknya pihak Pandawa berkabung. Hampir semua prajurit Pandawa menangis. Semangat tempur mereka hampir lumpuh.

Kemudian secara mendadak dan serentak seluruh Pandawa mengamuk. Prabu Puntadewa sendiri dan Arjuna mengamuk seperti orang mabuk. Ayah Gatotkaca ialah Bima juga mengamuk sambil tangannya sesekali mengusap air mata. Teringat-ingat kembali saat ia dan Gatotkaca kecil bercengkerama di Hutan amarta bersama isterinya Dewi Arimbi.

Puntadewa dan Arjuna juga berpikir tentang hal yang hampir sama, penderitaan mereka di hutan Amarta sempat terhibur dengan kehadiran Gatotkaca kecil, sehingga mereka sudah menganggap Gatotkaca seperti anaknya sendiri.

Gada Bima diputar-putar dengan sangat bertenaga dengan tenaga kemarahan dan kesedihan hatinya, banyak sekali korban di pihak Kurawa bahkan korban tewas dikalangan raja-raja yang berpihak pada Kurawa, adipati serta satria-satria yang berperang di pihak Kurawa.

Pendeta Durna memerintahkan kepada Kurawa agar memperbaiki gelar perang. Satu malam suntuk peperangan berlangsung dengan dahsyatnya dan menguras tenaga, dan baru berhenti ketika mereka sama sama kabur karena kelelahan dan mengantuk.

Dewi Arimbi bakar diri

Tiba-tiba munculah di medan perang yang masih banyak prajurit membereskan senjata yang masih bisa digunakan, Dewi Arimbi istri Bima, ibu dari Gatotkaca. Ia menyatakan ingin mati bakar diri bersama jenasah putranya di medan perang. Arimbi meminta ijin dan berpamitan kepada suaminya Bima, Bima memeluk istrinya dan tak mampu melarang karena dia tahu begitu cintanya Isterinya kepada anaknya Gatotkaca. Setelah itu Dewi Arimbi berpamitan juga dengan Dewi Kunti dan Pendawa lainnya. Begitu mengharukan peristiwa itu.

Setelah semua pandawa merelakan kepergiannya ia mendekati jenasah puteranya, sesampai disitu dia berbaring dan minta segera dibakar bersama puteranya. Bima tak mampu menyaksikan pemandangan itu dan tertunduk sambil berdoa kepada Dewa agar Jiwa mereka diperbolehkan bersemayam dalam damai di Suralaya.

Pendeta Durna menjadi Senapati Kurawa

Keesokan harinya perang dimulai lagi dan kedua belah pihak telah mempersiapkan gelar perang masing-masing. Genderang perang sudah ditabuh dan gelar perang telah dibentuk. Yang menjadi senapati Astina adalah Pendeta Durna. Adapun yang menjadi senapati di pihak Pandawa adalah Raden Drustajumena, putra dari Prabu Drupada, adik Srikandi dan Drupadi, Adik Ipar Puntadewa dan Arjuna. Kedua pihak pasukan telah diperintahkan untuk bergerak untuk maju.

Para prajurit Pendawa diperintahkan oleh Drustajumena agar menyerang Pendeta Durna selaku pimpinan perangnya sehingga apabila mereka berhasil maka Kurawa akan kehilangan semangat dan pada akhirnya akan dapat dengan mudah dikalahkan.

Drustajumena berpikir bahwa Pendeta Durna hanyalah guru yang melatih olah kanuragan dan olah senjata dari Pendawa dan Kurawa pada saat kecil, dan belum tentu sakti. Akan tetapi pikiran itu segera pupus saat dilihatnya Pendeta Durna yang dikeroyok oleh pasukan Pendawa dan dihujani oleh banyak anak panah ternyata tidak terluka sama sekali. “tubuhnya pasti kebal” Pikir Drustajumena.

Esti Aswatama mati

Prabu Kresna yang melihat dari jauh usaha prajurit Pendawa sia-sia untuk mengalahkan Pendeta Durna memanggil Bima untuk mendekat. Tidak jauh dari situ ada seorang raja dari Malawapati dipihak Kurawa yang sedang berperang naik gajah yang bernama Aswatama. Prabu Kresna membisikan perintah kepada Bima agar Bima membunuh gajah Raja itu dan apabila telah berhasil Bima harus berteriak dengan lantang “Aswatama mati! ”

Bima yang tidak tahu apa maksud dari Prabu Kresna mengapa dia harus membunuh gajah itu, namun karena Bima percaya bahwa Prabu Kresna adalah pemimpin yang sangat bijaksana, rela menjalankan perintah itu dengan sempurna. Dengan gadanya Rujak Polo dihantamnya Gajah itu, kemudian dihantamnya juga Raja Malawapati yang terjatuh dari Gajah itu, keduanya tewas seketika.

Bima segera berteriak ” Aswatama mati!! “. Teriakan itu begitu nyaringnya sehingga semua prajurit mendengar dan berteriak-teriak satu dengan lainnya “Aswatama mati” sambung menyambung, persis ketika Gatotkaca tewas teriakan seperti itu terdengar begitu lantang di pihak Kurawa.

Pendeta Durna yang sedang menghadapi pengeroyoknya mendengar teriakan salah seorang prajurit Pendawa “Aswatama mati!” Sangat terkejut dan menangis. Dewa..! Anaknya yang semata wayang telah mati! Anak yang dibesarkanya sendiri tanpa ibu itu kini telah mati!

Durna mencoba mendekati Bima dan Arjuna dan menanyakan apakah benar anaknya Aswatama telah mati? . Bima dan Arjuna hanya terdiam dan mengangguk.
Pada saat itu Bima baru menyadari ide cemerlang dari Prabu Kresna.

Karena masih kurang percaya pada berita yang didengarnya Pendeta Durna datang ke Prabu Puntadewa, dia tahu bahwa Prabu Puntadewa adalah orang yang tidak pernah berbohong dan tidak akan mau berbohong selama hidupnya, jawabanya pasti dapat dipercaya.

Namun pada saat Bima bergerak akan membunuh Prabu Malawapati dan Gajah Aswatama, Prabu Kresna telah menjelaskan rencananya dan meminta kepada Puntadewa agar berdusta kepada Pendeta Durna pada saat ia bertanya nanti.

Ternyata Prabu Puntadewa menolak untuk berbohong karena selama hidupnya dia tidak pernah berdusta. Akhirnya Prabu Kresna meminta kepada Prabu Puntadewa agar tidak berbohong nanti menjawab dengan kalimat “Esti Aswatama mati” yang artinnya ‘Gajah Aswatama mati’. Kemudian Prabu Kresna bersemadi untuk memohon kepada Dewa agar rencananya berhasil.

Pendeta Durna yang terlihat bersedih itu mendatangi Prabu Puntadewa dan bertanya dengan sedihnya apakah benar Aswatama telah mati?. Kemudian Prabu Puntadewa menjawab dengan perlahan “Esti Aswatama mati”. Pendeta Durna yang percaya Puntadewa tidak pernah berbohong mendengar jawaban itu bagai disambar petir karena Puntadewa mengatakan “Mesti, Aswatama mati”. Pendeta Durna yang sangat sedih jatuh tersungkur pingsan di kereta perangnya. Para Dewa di angkasa bersorak sorai ramai dan mengatakan satu dengan yang lain bahwa Pendeta Durna telah mati.

Prabu Kresna yang melihat Pendeta Durna pingsan segera memberi tanda kepada Pendawa untuk menuntaskannya. Namun tidak satupun Pendawa yang bergerak melaksanakan perintah itu. Mereka masih menghormati Pendeta Durna sebagai guru mereka, sehingga tidak ada yang berani melakukannya.

Melihat Pandawa diam saja, Raden Drustajumena yang saat itu menjadi Senapati perang segera mengambil tindakan, tidak boleh kesempatan ini di sia-siakan. Dia melompat ke kereta perang Pendeta Durna kemudian dengan sekali tebas dipotongnya leher Pendeta Durna dan kepala Pendeta Durna dibuat mainan olehnya , ditendang tendang dan dilempar-lempar karena senangnya ia telah berhasil membunuh Pendeta Durna.

Raden Drustajumena benar-benar lupa bahwa Pendeta Durna atau Bambang Kumbayana adalah masih saudara dengan Ayahnya yaitu Prabu Drupada atau Sucitra. Para Pendawa tidak begitu senang dengan perlakuan Raden Drustajumena itu dan menegurnya. Raden Drustajumena yang ditegur itu merasa malu dan segera melemparkan Kepala Pendeta Durna ke pihak Kurawa.

Ternyata kepalanya jatuh tidak jauh dari Prabu Suyudana sedang duduk, ia sangat terkejut bukan kepalang, bagaimana mungkin guru Kurawa dan Pandawa yang sakti itu dapat dikalahkan??

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: