Pandu Dewanata Naik Tahta

Segera setelah Begawan Abyasa beranjak menjadi lanjut usia dia memanggil kedua puteranya untuk menyampaikan maksudnya yaitu ingin mewariskan tahta kepada salah satu anaknya.

“Putera-puteraku terkasih, seperti yang kalian ketahui ayahanda kalian telah beranjak tua, takhta kerajaan ini akan segera aku wariskan. Memang dalam aturan kerajaan bahwa putera sulunglah yang akan menggantikan seorang raja, akan tetapi anakku Dastarata, Hatiku sedih karena Dewa tidak berkenan memberimu penghilatan yang sempurna bahkan hingga engkau dewasa, aku mengkhawatirkan apabila engkau yang memimpin kerajaan ini maka akan kurang sempurna jalannya pemerintahan.”

Prabu Abyasa terdiam sejenak, terlihat Raden Pandudewanata menunduk, sedangkan Raden Destarata nampak gelisah.

“Maka oleh karena hal itu aku telah memutuskan bahwa takhta kerajaan ini akan aku wariskan kepada adikmu Raden Pandudewanata.

Begawan Abyasa berhenti sejenak kemudian dia bertanya kepada Destarata:

“Apakah kamu tidak keberatan Anakku Destarata?”
“Sendika Dawuh Ayahanda, apapun yang menjadi keputusan ayahanda adalah yang terbaik bagi negeri ini, hamba mengakui bahwa akan lebih baik apabila adik Pandu yang menjadi Raja Astina”.

Dastarata menjawab dengan terbata-bata, didalam hatinya dia galau sekali, haknya untuk menjadi raja hilang, dan dalam hati dia menyesali nasibnya menjadi orang buta.

“Apakah kamu bersedia Pandu?” Prabu Abyasa

“Apapun yang ayahanda titahkan akan ananda laksanakan dengan baik-baik dan sungguh-sungguh, Ananda akan senantiasa meminta nasehat dari Ayahanda dan Kakanda Destarata ” Demikian Raden Pandu Dewanata menjawab.

Segera setelah itu Prabu Abyasa mengumumkan kepada rakyatnya mengenaik diangkatnya Raden Pandu Dewanata menjadi raja menggantikan dirinya.

Rakyat menyambutnya dengan senang, gembira dan semua orang ikut merestui diangkatnya Raden Pandu Dewanata menjadi raja.

Namun ternyata ada sebagian orang-orang yang ternyata kecewa dengan keputusan itu, namun karena sebagian besar rakyat bersuka ria, mereka berpura-pura ikut senang dengan hal itu.

Mereka adalah orang-orang yang sudah terlanjur mendekati, berbuat baik, bahkan menjilat kepada Raden Destarata karena mereka yakin bahwa Raden Destarata akan segera naik tahta, akan tetapi setelah mendengar pengumuman yang diucapkan oleh Prabu Abyasa bahwa yang menjadi raja adalah Raden Pandu Dewanata maka buyarlah segala rencana yang mereka susun, kemungkinan untuk bisa naik pangkat untuk menduduki jabatan-jabatan negara yang penting menjadi gagal. Apalagi selama ini mereka kurang berbaik-baik denga Raden Pandu.

Prabu Abyasa segera menetapkan hari baik untuk mengangkat Raden Pandu Dewanata menjadi raja. Semua pegawai mempersiapkan segala kebutuhan upacara dan pesta yang akan diselenggarakan untuk merayakan hari itu.

Pada hari penobatan Raden Pandu menjadi raja, semua rakyat bersukaria, mereka mengelu-elukan raja baru mereka, banyak para undangan yaitu para bangsawan, serta raja dan pangeran dari negeri tetangga berdatangan memberikan ucapan selamat.

Sebagian orang sebenarnya memperhatikan bahwa Raden Destarata tidak begitu bersemangat dalam pesta itu. Namun karena dia buta, orang-orang berpikir mungkin karena dia buta sehingga tidak terlalu banyak temannya dan tidak banyak bicara pula. Tampak dia lebih banyak berdiam diri termenung dan duduk sedih, sekali-kali tampak dia tersenyum, namun senyum itu benar benar terlihat hambar.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: