Penderitaan Bima

Suatu ketika para Kurawa mengadakan suatu acara selamatan di tepi sungai Gangga. Pihak Pendawa sebagai saudara diundang untuk hadir. Semua keluarga pedawa termasuk Dewi Kunti ibu pendawa datang juga.

Namun sebenarnya dibalik acara selamatan itu Suyudana telah mempunyai sebuah rencana yang jahat. Dia ingin membinasakan Bima. Hmmm bagaimana cara terbaik untuk mengalahkan si Bima itu. Kalau dengan adu kekuatan mungkin akan kalah.

Suyudana memanggil adiknya Dursasana, Citraksa dan Citraksi, serta adik-adiknya yang lain berkumpul. Saat itu Prabu Destarata sedang tidur. Dengan berbisik bisik Suyudana mengungkapkan rasa iri dihatinya. Tentang rencana ayah mereka yang akan memberikan tahta kerajaan kepada Puntadewa, tentang keinginannya menjadi raja, yang saat itu juga langsung di dukung oleh adik-adiknya.

Selain itu Suyudana memaparkan tentang peta kekuatan Pandawa dan Kurawa. Tentang kekuatan Bima yang tiada tandingnya. Akhirnya dia menanyakan kepada mereka adik-adiknya apa yang sebaiknya dilakukan.

“Ah Kakang, sebagaimana kakang ketahui bahwa ayah telah mengundang mereka untuk datang ke acara selamatan kita para Kurawa di tepi sungai Gangga” Dursasana mulai angkat bicara.

“Kita harus memanfaatkan keadaan itu sebaik-baiknya untuk membinasakan Bima, kemudian adiknya Arjuna.” Sambung Citraksa

“Ah aku tahu kelemahan Bima adalah pada makanan, dia makan banyak sekali” Adiknya Citraksi menungkas.

“Apa yang engkau maksudkan Adikku Citraksi ?” tanya Suyudana penuh prhatian.

“Yang aku maksudkan adalah, Kita beri Bima makanan yang enak-enak”, tapi sebelumnya kita tambahkan racun agar dia pingsan”, Selanjutnya kita bisa tuntaskan rencana kita ” Jawab Citraksi.

“Hmmm usul yang bagus ” Sambung Suyudana, yang lain juga ikut mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian Suyudana berkata “Nah sekarang kita bagi tugas, aku sebenarnya ingin menyaksikan si Bratasena itu makan racun dihadapanku, tapi aku tidak akan pernah bisa mengajak makan si Bima itu satu Meja denganku karena sepertinya dia juga sudah merasa bahwa aku membencinya.”

“Ahh biar aku saja kakang” Dursasana menawarkan diri

“Atau kalau tidak biar Paman Arya Sakuni nanti aku mintai tolong, .. Aku yakin dia tidak pernah menolak apabila itu untuk kakang Suyudana” Ya… Ya… Ya…”

Semua yang hadir manggut-manggut.

“Citraksa dan Citraksi kamu berdua aku tugaskan untuk membuat racun dan mencampurnya pada makanan Bima”,

“Jangan sampai para ahli masak dan pegawai istana tahu akan perbuatanmu”

Kata Suyudana.

“Siap Kakang, akan kami laksanakan” Sahut Citraksi, sementara Citraksa mengangguk mengiyakan kalimat adiknya. Dalam benaknya dia telah merancang campuran bubuk dan getah pohon yang pernah dia coba pada kambing dan kambing itu langsung jatuh pingsan. Untuk Bima mungkin takarannya harus ditambah.

“Baiklah adik-adikku kita tunggu saja datangnya hari itu”

Tiba pada saat hari acara selamatan tiba, rombongan Pandawa telah hadir. Suyudana heran menyaksikan Bima yang berjalan kaki sementara saudaranya yang lain naik kereta bersama Ibu mereka Dewi Kunti. Ah sejauh itu dia kuat berjalan kaki, atau mungkin dia berlari? Memang kuat sekali Dia ini…
Tepat sebelum santapan pesta dihidangkan, Suyudana memberi tanda pada Citraksa dan Citraksi untuk mulai menjalankan rencana. Meja yang penuh dengan makanan yang disukai Bima telah disiapkan. Paman Arya Sakuni juga telah menyatakan kesanggupannya beberapa hari yang lalu. Suyudana memandang kearah pamannya itu, adik dari Ibunya Dewi Gendari. Pamannya mengedipkan mata tanda telah siap.

Suyudana segera menghampiri Puntadewa, mengajaknya berbicara dan berbasa-basi dengan orang yang akan menjadi sainganya dalam memperebutkan tahta kerajaan astina. Puntadewa yang berhati bersih menyambut saudaranya itu tanpa rasa curiga, hanya ia agak heran mengapa hari ini Suyudana mendadak menjadi ramah.

Ibu Dewi kunti berjalan berkeliling bersama Dewi Gendari.. sesaat dilihatnya Citraksa yang menggenggam sesuatu dalam sebuah wadah kecil… pikirannya menjadi tidak enak, hatinya resah.. ada sesuatu apakah yang akan terjadi ..Jiwanya yang peka semenjak masa mudanya dia gemar bertapa mengatakan ada sesuatu.

Namun karena ada Dewi Gendari disampinya Dewi Kunti menebar senyum kepada semua orang yang hadir.

Tadi dia telah menyempatkan diri untuk bertemu dengan Prabu Dastarata dan mengingatkan tentang Sabda Prabu Abyasa tentang pesannya kepada Dastarata bahwa kepemimpinannya di Astina adalah sementara, dan segera setelah Puntadewa menjadi dewasa Tahta harus diserahkan kepada Puntadewa.

Sebenarnya Dewi Kunti kurang puas karena Dastarata hanya bergumam dan manggut-manggut, yang kurang jelas artinya apakah itu iya atau tidak. Seorang pemimpin seyogyanya tidak boleh ragu-ragu dan setengah-setengah dalam bersikap.

Sesaat kemudian dilihatnya putera kesayangannya Arjuna sedang duduk makan bersama dengan Anaknya yang lain Adipati Karna yang dilahirkannya melalui lubang telinga. ” Ah mereka telah tumbuh menjadi remaja-remaja yang sehat, gagah, kuat dan berwatak satria ”

“Ibu marilah kita makan ” Panggil Karna dari kejauhan. ” Ya anakku sebentar lagi ”
Sahut Dewi Kunti sambil melanjutkan berbincang-bincang dengan Dewi Gendari.

Di tempat lain Arya Sakuni adik Dewi Gendari telah berhasil mengajak makan Bima satu meja bersama dengan Citraksa dan Citraksi. Citraksa telah memberi tanda pada piring-piring yang beracun dengan meletakkan sobekan daun pisang yang terlihat sama ukurannya. Di piring-piring yang lain tidak diberi tanda.

Bratasena melihat ke seluruh Meja.. wah makanan ini kelihatannya nikmat sekali..

“Ayolah Ananda Bima, kita makan segera, semua orang juga sudah makan” Kata Arya Sakuni memulai percakapan setelah mereka duduk di kursi menghadap meja di bawah pohon di tepi sungai Gangga.

“Ya paman memang nikmat sekali makan di tempat seperti ini” Sahut Bima

Citraksa dan Citraksi segera mengambil tempat, dan mulai mengambil makanan seolah semua makanan disitu layak untuk di makan.

“Ah makanan ini nikmat sekali, cobalah kakang Bima” Kata Citraksi mengulurkan makanan yang dimakannya. Bima mengambil makanan itu dan mencobanya..

“Ah betul memang enak sekali Dinda ” Bima menimpali. Selanjutnya mereka makan dengan lahap. Namun ketiga orang itu makan dengan memilih makanan dari piring yang tidak diberi tanda. Sedangkan Bima telah mencoba semua makanan yang dihidangkan.

Sesaat dirasakannya ada rasa agak pahit dan aneh pada salah satu makanan yang sedang dikunyahnya. Namun untuk menghormati tuan rumah yang menyediakan makanan, dia menelannya semua. Arya Sakuni melirik kepada Kedua keponakannya, mereka saling memandang sesaat, namun segera berpura-pura melanjutkan makannya.

Beberapa saat kemudian Bima merasa pandangannya berkunang-kunang “Hoooy apa yang terjadi dengan kepalaku paman? kenapa aku tiba-tiba pusing? ”

Ada Apa Bima, kamu kenapa ? Arya Sakuni berpura-pura datang menolong. Namun kalimat itu tidak dijawab oleh Bima karena dia telah terkulai di kursi makannya. Arya Sakuni memberi tanda kepada Citraksa dan Citraksi untuk berjaga jaga di sekitar meja itu jangan sampai ada yang melihatnya. Memang letak meja makan mereka agak terpisah dari meja lainnya.

Suyudana yang dari kejauhan menatap meja dimana Bima makan telah melihat bahwa Bima telah pingsan. Maka dia segera meminta diri kepada Puntadewa, bahwa dia mau menemui seseorang sebentar. Puntadewa yang tidak pernah mencurigai seseorang mengangguk. “Silahkan saudaraku” Jawab Puntadewa.

Suyudana bergegas menuju ke tempat dimana Arya Sakuni, Citraksa dan Citraksi berkumpul di tepi sungai Gangga. Datang kemudian Dursasana dan segera dia berbisik-bisik sebentar kepada saudara-saudaranya mencari akar-akar pohon yang liat namun kuat.

Setelah terkumpul Suyudana segera mengikat tubuh Bima yang kekar tapi sedang lemas tak berdaya itu dengan akar-akar hingga melilit tubuhnya dari bahu hingga kaki.

Suyudana dan Dursasana berdua mengangkat tubuh Bima namun masih kurang kuat juga akhirnya Citraksa dan Citraksi ikut membantu mengangkat tubuh Bima yang berat itu. Setelah diayun-ayun mereka berempat melemparkan tubuh Bima hampir ketengah sungai Gangga yang sedang deras mengalir.

Bima yang sesaat tersadar dari pingsannya pada saat terbawa arus mengalir melihat sekelompok orang, Kurawa!, nampak Suyudana tersenyum menyeringai dan Dursasana yang tertawa-tawa. Kemudian didengarnya suara-suara arus deras sungai Gangga, sesaat kemudian kepalanya terasa terbentur sesuatu yang keras. Kemudian semua menjadi gelap lagi. … Ah Duhai Para Dewa lindungilah aku … Jiwa Bima berbisik……

Suyudana yang merasa rencananya telah berhasil, berjalan kembali ke Meja Puntadewa. Sesaat Puntadewa melihat raut muka puas pada Suyudana, namun dia tidak tahu apa sebabnya. Dari tadi tidak dilihatnya si Bima adiknya……

Dari jauh Suyudana melihat ayahnya sedang bercakap-cakap dengan para punggawa istana. Sedang para undangan lain juga sudah selesai dengan santapan mereka masing-masing. Nakula dan Sadewa sedang berjalan-jalan melihat sekitar Istana. Tidak lama setelah itu para undangan dan kerabat istana telah mulai meminta diri kepada Prabu Suyudana ayahnya.

Bagai disambar petir, Suyudana terkaget-kaget ketika ibunya Dewi Gendari bertanya: “Anakku Suyudana apakah kamu melihat Bima saudaramu?”
“Ah aku tadi melihatnya sedang makan dengan Paman Sakuni” jawab Suyudana
“Dari tadi ibunya menanyakan dan mencarinya, karena Pandawa dan Ibunya sudah mau berpamitan untuk kembali kerumah”.

“Cobalah tanya pada Paman Arya Sakuni ibu.” jawab Suyudana.

Sesaat kemudian Ibunya Dewi Gendari menemui Dewi Kunti Ibu Bima dan berbincang-bincang, kemudia mereka berjalan menuju tempat yang sama. “..Ah pasti mereka mencari Paman Arya Sakuni ” pikir Suyudana.

Ditengah jalan Dewi Kunti dan Dewi Gendari berpapasan dengan Puntadewa. ” Anakku Puntadewa, apakah kamu melihat adikmu Bima?” tanya Dewi Kunti

” Tidak Ibu, bahkan aku juga sedang mencarinya..” Jawab Puntadewa.

” Kalau begitu lanjutkanlah mencari, Ibu juga akan menanyakannya pada Paman Arya Sakuni ” Lanjut dewi Kunti

Dalam keadaan pesta yang baru usai, para undangan yang berpamitan, Dewi Kunti semakin gelisah.., Teringat lagi dia dengan penglihatannya yang melihat Citraksa yang memegang tempat wadah itu …. Apakah ada hubungannya ? Memang Pandawa dan Kurawa itu bersaudara, namun dia telah paham sifat-sifat anak Dastarata yang rata-rata tidak baik, pengiri, pendendam, usil dan jahat.

Sampai hampir sore Bima tidak diketemukan juga. Dewi Kunti mulai merasakan kebenaran perasaannya. Pasti telah terjadi sesuatu dengan Bima anaknya. Aku ibunya bisa merasakan apa saja yang terjadi dengan anak-anak ku. Desahnya dalam hati. Si Sakuni yang ditanya tadi hanya menjawab bahwa ia melihat Bima tertidur di bangku setelah kekenyangan makan. Selanjutnya dia tidak tahu apa-apa.

Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa telah berkumpul dan akhirnya si Sulung Puntadewa menghibur Ibunya dan berkata
“Ibu, mungkin adik Bima telah mendahului kita pulang ke rumah, dia tadi berangkat tidak bersama-sama dengan kita, dia berlari sampai ke tempat ini, sedang kita semua naik kereta. Barangkali dia telah bosan dengan suasana pesta dan ingin pulang lebih dahulu.”

“Ya ibu, sebaiknya marilah kita pulang dan memastikan hal itu” sambung Arjuna.

Dewi Kunti hanya bisa mengangguk. Kemudian mereka segera meminta diri kepada Dastarata yang berjanji untuk membantu mencari Bima. Sambil menenangkan Dewi Kunti.

” Kakanda Mbakyu Kunti, dia kan sudah besar, pasti sudah bisa menjaga diri, dan dapat pulang ke rumah sendiri” Hibur Dastarata.

“….Ya semoga para Dewa melindunginya …” pikir Dewi Kunti dalam hati.

Selanjutnya mereka menaiki kereta yang akan membawa mereka pulang. Kereta itu berjalan pelan meninggalkan istana kerajaan Astina. Dari kejauhan nampak beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian mereka dengan was-was dan puas.

Dalam keadaan terapung dan terseret serta pingsan, Bima terbawa oleh arus sungai sampai pada suatu daerah yang tidak berpenghuni, semakin-lama semakin sunyi. Hampir semalaman Bima Pingsan dan terseret-seret, terbentur bentur, pingsan, sadar, pingsan lagi,sadar lagi namun hari telah gelap, hujan juga turun dengan derasnya dan tubuhnya terikat kuat.

Lama-kelamaan gesekan-gesekan akar dengan batu-batu kali sungai gangga sedikit melepaskan ikatannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: