Penjahat Siluman


Oleh: Ki Slamet Gundono

UFUK timur baru merekah. Tapi, jalanan di depan kantor pusat CIUM Bargawa (Central Ilmu Hukum Master Romo Bargawa) sudah ramai. Satu-satunya papan pengumuman di kampus yang dikelola Romo Bargawa itu dikerubuti wajah-wajah baru. Semua harap-harap cemas bisa kuliah.

Di ruang khusus, Romo Bargawa sedang menyeleksi tiga calon mahasiswa hasil Penelusuran Mahasiswa Intensif (PMI). Tiga orang itu memang ciamik puoll…. Yaitu, Durna, Karna, dan Abiyasa.

”Elu-elu pade emang jagoan. But, entu kagak cukup. Untuk bisa diterima, ente-ente kudu tunjukkan kasus hukum yang tak tersentuh meja hijau. Tinjauan yuridis gitu deh,” kata sang Profesor Hukum Romo Bargawa. Tiga calon mahasiswa khusus itu hanya diam sambil ting pendelik. ”Bisane diem aja. Udah, sono berangkat! Kalian akan didampingi Pembimbing Akademik masing-masing,” lanjut Romo Bargawa.

***

Karna pun langsung macak back to seventies. Dia pakai helm tahun 70-an plus kacamata goggle. Dia pakai baju lengan panjang kotak-kotak plus celana cutbray dan syal di leher. Cepat, dia starter vespa. Tak sabar, dia dorong Mbilung, pembimbing akademisnya, ke sespan vespa. Dan wusss.. gas dipelintir abis.

Roda depan Vespa terangkat. Tubuh Mbilung nyaris terlempar, untung masik sempat gocekan. Gemeretak mesin kalah keras dengan suara gemeretak gigi Mbilung yang ngeri ketakutan. Vespa dengan bahan bakar avtur melesat mengangkasa.

Radar vespa lalu menangkap sesuatu yang bergerak cepat. Mbilung cepat ngekepi Karna. ”Boss, rudal di belakang! Waduh, bos, gue belum kawin, lho,” teriak Mbilung. Jarak sepuluh sentimeter, vespa direm mendadak. Rudal pun mak sliyutt, meleset ke samping.

Ternyata, peluru kendali itu diikuti berondongan senapan antipesawat. Cengkeraman tangan Mbilung tambah erat di tubuh Karna. Vespa meliuk-liuk. ”Kunyuk, bedebah kurapan, budug bau amis, terimalah ini, Karadzic,” teriak Karna sambil melepas Kuntowijoyo Danu. Tubuh Karadzic pun bermandi peluh nyantol di pohon. Dua panah tepat di baju bagian pundak. Satu mengenai rambutnya dan satu lagi tepat di antara dua paha. Karna, pemuda yang bercita-cita menjadi bupati itu pun meng-SMS guru besarnya. Romo Bargawa tersenyum membaca SMS Karna. Bunyinya, Aq dah dpt pjht yg tk bs di mj ijokan, pjht perang!

***

Siuuit, siul Durna. Sebuah sapu lidi terbang mendekat. Bubaran memakai kacamata ray band, Togog mbonceng di belakang Durna. Dari jauh mereka melihat tugu menjulang tinggi yang mencorong atasnya. Mata tajam Durna mengawasi ke bawah dengan seksama. Di jalan Sudirman, dekat pangkalan bajaj mereka turun. ”Bang…nyang ntu Monas, ya Bang, berapa Bang?” Tanya Togog. ”Tiga ribu gimane? Murah dari sini,” jawab tukang bajaj.

Tapi, Togog melengos dan mengikuti Durna. Di bawah terik dan polusi knalpot, mereka menyusuri jalanan ibu kota. Entah mengapa, serasa ada kekuatan sihir mahadahsyat. Kaki Durna tidak bisa dilangkahkan lagi tepat di depan gedung hijau penuh air mancur di depannya. Bibir Durna segera umik-umik, tangan diangkat tinggi-tinggi. Dibarengi Ada kedabra bra kedabra, tangan kembali turun dengan.

Berikutnya, mata telanjang Durna dan Togog bisa tembus melihat ke dalam sedetail-detailnya. Sebanyak 50 anggota komisi IX yang diduga korupsi harus dilacak. Panah sudah siap dibidikkan Durna. Eallaaah, tiba-tiba muncul kuda Sembrani nan seksi jelmaan Dewi Wilutomo. Si Sembrani memprovokasi Durna. So, Durna pun klepek-klepek. Togog semakin yakin, ini kasus yang gak bakal tersentuh. Buktinya, kuda sembrani saja melindungi para koruptor .

***

Sementara jauh di utara Kanada, Abiyasa menggeh-menggeh bercucuran keringet. Lha hanya bermodal onthel, tur mbocengkan Semar lagi. Mereka terus berjalan ke arah utara, sampai mentok daerah ketika semua terasa putih. Sejauh mata memandang, yang ada hanya keputihan (maksudnya, suasana putih, gituu). Ini kutub utara.

”Wuiiih, uademe Den, masak di sini ada penjahat ngumpet?” ujar Semar. Di pondokan kopi, mereka menyewa seperangkat alat ski. Dasar Semar, baru selangkah, mak wuzzz, Semar njrekanang, ngglundung terus ke bawah mengikuti jalan menurun. Mendarat telak di gua, Semar jatuh di sesuatu yang empuk-empuk. Auuummm, ternyata Semar jatuh di pelukan beruang kutub. Njenggirat Semar lari sekenceng-kencengnya. Meloncat ke punggung Abiyasa, meluncur ski berdua. Di akhir turunan tajam, mereka melompat dan nyangkut di pinus.

”Ueelek pol nasib ini,” ujar Abiyasa. Tiba-tiba, suara menggelegar, bumi bergetar hebat. Pelan tapi pasti lempengan kutub utara merekah seluas tujuh mil. Dibantu Semar, Abiyasa mengabadikan moment dengan kamera. Dalam perjalanan pulang Semar dan Abiyasa saling bantah tentang orang yang paling bertanggung jawab. Pasti AC mobil semar yang buat kutub pecah. Atau kebiasaan Abiyasa buat pabrik korek api?

***

Di hadapan sidang akademik, Karna, Durna dan Abiyasa berargumen. Laporan Karna ditolak mentah-mentah Rama Bargawa. Kekejaman Karadzic masih di bawah Hitler atau Mussolini. Perjalanan Durna malah gagal total.

”Lepasnya lempengan kutub utara adalah kejahatan kolektif. Yang berbuat tidak bisa ditangkap. Hayo, siapa manusia yang mau dihukum karena kerusakan bumi?” tantang Abiyasa. Rama Bargawa tersenyum bangga dan putuskan hanya Abiyasa yang diterima. Dengan halus Abiyasa menolak, kecuali Durna dan Karna juga diterima. Karena mereka juga belajar hukum dan kenyataan.

Esok harinya, di ruang kelas mata kuliah tata hukum negara, mereka bertiga sudah jadi mahasiswa baru. ”Menurut kalian, siapakah yang pas di mata hukum untuk presiden tahun 2010,” tanya Bu Dosen yang cantik, tinggi, ramping dengan rambut panjang terurai. Serempak mereka bertiga menjawab, ”Yang penting, presidennya bukan penjahat siluman!!!” (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: