Perang solar


PULUHAN camar silih berganti bersiutan di antara gelombang laut Selat Situbanda, dekat pantai Alengka Diraja. Tenangnya pantai tiba-tiba berubah dipenuhi derung ribuan mesin perahu jukung. Di laut lepas, pasukan Alengka dan wadyabala Ayodya saling berhadapan.

Seperti dikomando, keduanya saling serang. Satu sisi bersenjata ketapel batu, sisi lain pakai tulup beracun. Jerit kesakitan dan darah memerahkan air laut, kejam.

Tapi Anoman, jenderal pasukan Ramawijaya, dan Prahasta, jendral raja Rahwana, masih punya etika. Mereka tidak menyerang jukung-jukung berisi perempuan dan anak-anak di tepi laut.

Di antara desing senjata, Anoman mendengar kabar yang sulit dipercaya. ”Bos, solar habis. Kita terpaksa mundur,” begitu bunyi laporan dari handy talkie-nya.

Belum menyentuh daratan, Anoman sudah salto. Dia tendangi drum-drum kosong sampai penyok-penyok. Tong yang kosong itu pun berbunyi nyaring. Anila mendekat. Kesatria kera berbulu ungu itu pun menyodorkan teropong dan memberi isyarat ke tengah laut. Melihat pemandangan di tengah samudera, Anoman ngekek. Lewat HT, dia kontak Prahasta. ”Hap..hap, bikin kembung tuh perut!! Kehabisan solar juga yah? Hahaha..,” ejek Anoman. Prahasta hanya menjawab dengan mengacung-acungkan kepalan tangannya.

Anoman segera adakan rakor hankam dadakan. Tak ada jalan lain untuk memenangkan perang, kecuali ada solar dalam dua jam. Anila melesat ke Ayodya tapi nihil, puluhan pengecer sudah seminggu nganggur. Anggada, kesatria kera berbulu merah, putra Sugriwa, melaporkan bahwa kilang minyak Ayodya juga kosong.

Anoman lalu cepat nyaut Bagong dan melesat. ”Welaaah, Den, ati-ati.. Wow Den takut ketinggian nih.. aduh Den ngompol,” ujar Bagong di angkasa. Anoman menuju bursa saham Amrik. Dari indeks saham, untuk memperoleh solar murah, bisa dengan melakukan aksi borong Dow Jong.

Anoman merogoh kocek dalam-dalam. Keningnya mengernyit tegang, duitnya masih kurang. Bagong lalu menawarkan menjual persediaan pakaian di tas ransel. Di trotoar New York Street, Bagong buka lapak.

Dalam satu jam, baju itu ludes karena mode-nya unik, ya iyalah,.. busana wayang. Sertifikat sudah di depan mata Anoman, tinggal urek-urek saja. Tapi Anoman merasa aneh melihat orang di sebelahnya yang juga membeli Dow Jong. Walaupun menyamar. dari bau dan tingkahnya, sepertinya Anoman kenal. Jangan-jangan.., Anoman akan mengatakan sesuatu tapi terlambat. Si misterius sudah melesat. Dari info telik sandi, pesanan solar Prahasta sudah sampai. Anoman cepat melesat balik.

”Prahasta, gue tau lu dah dapet solar. Gue tantang lu perang satus meter ala koboi!!” teriak Anoman dari pantai Situbanda. ”Idiiih, sapa takut? Mang lu aja yang bisa? Serbuuuuu!!!” komando Prahasta dari pantai Alengka.

Satu jam berlalu, kedua belah pihak masih saling serang. Pasukan Prahasta segera menutupi kepalanya kehujanan batu yang dilepas ketapel pasukan Anoman. Melihat ada celah, giliran pasukan Anoman pating pethakilan hindari tulup beracun pasukan Prahasta.

Dua jam berlalu, beberapa mesin jukung kedua pihak terlihat batuk-batuk. Pertanda karburasi mesin sudah mulai kekurangan suplai solar. Sementara, di garda depan, Anoman melesat jauh ke udara. Dia tiba-tiba meluncur ke bawah dan cepat mengetapel Prahasta.

Tak ingin menjadi sasaran empuk, mesin jukung di-off dan dibalik. Prahasta berlindung di bawah jukung. Tapi alangkah kagetnya Anoman pas mendarat di jukungnya yang telah mati mesin. Berkali-kali handle starter ditarik, tetap sama. Mati alias koit. Begitu pun Prahasta setelah posisi jukung kembali menjadi jukung. Anoman menoleh ke belakang. ”Kunyuk kurapen, solar habis gak omong!” teriaknya dan langsung clulum, berenang ketepian.

Prahasta tak kalah sial, entah udah berapa kali pulang dengan berenang. ”Bedes! Perang kan mandi keringat, bukan mandi air laut,” ujar Prahasta di tepian.

Perlombaan berburu solar pun kembali dilakukan dua pihak. Anoman dan Bagong meluncur ke semenanjung Arabia menemui Raja Fadh. Tapi penolakan yang didapat. Raja Fadh tak akan melepas solarnya sampai harga sentuh titik tertinggi. Kalaupun ada hanya sepuluh liter.

Lain dengan Prahasta yang ditemani Togog. Sampai di Irak, yang terlihat puluhan kilang minyak yang telah hancur porak poranda. Kalaupun mau, mereka harus ngoredi sisa solar yang sudah campur tanah. Dari hasil ngoredi dapat lima liter. Target mereka belum terpenuhi dan terus mencari.

Dan tak sengaja, Anoman dan Prahasta bertemu di Jakarta, tepatnya di Tugu Monas. Mereka mborong solar di ”pom eceran”.

Di sebuah tanah lapang, tampak kerumunan masa menyerang kelompok lain secara membabi buta. Kelompok penyerang hancurkan apa saja yang bisa dihancurkan. Mereka serang siapa saja. Perempuan kek, orang di kursi roda kek, pokoknya apa saja kek.

Di bawah rimbun pohon, Anoman dan Prahasta rasanan. Ini negara mana? Orang di wayang saja, kalau perang jelas peraturannya. Tidak serang perempuan dan anak-anak serta tak ada perang malam. Kok ini brutal?

”Den…baiknya kita go damai aja. Biar Den Rama dan Rahwana yang perang saja,” celetuk Bagong. Mereka mengangguk sepakat, bersalaman dan pergi. Togog dan Bagong lalu bagikan jerigen solar pada sopir-sopir, karena mereka tak ingin perang solar lagi. Anoman dan Prahasta hanya tersenyum, nyawang dari jauh. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: