Petruk Versus Danny Granger

SUASANA gedung KONI (Komite Olahraga Ngamarta Idealis) hari ini agak rame. Beberapa pria berseragam jas biru dongker tampak simpang siur. Detik berikutnya, mereka kompak mengerumuni Rolls-Royce hitam mengilat yang sudah ditunggu sejak tadi.

Werkudara, Sekjen KONI, tampak nenteng stopmap. Dia berjalan cepat, melangkah masuk menghindari pertanyaan wartawan. Di ruang utama, Werkudara langsung serahkan masing-masing stopmap ke tim basket Ngamarta Dream Team yang diproyeksikan lolos final DBL (Dreaming Basket League).

Antasena, Boma Narakasura, Abimanyu, dan Pancawala terlihat seksama membaca surat kontrak yang disodorkan dalam stopmap itu. ”Uhh, mumet! Gak mudeng, wis sing penting wareg,” bisik Petruk sambil membolak-balik lembaran kontrak. Kertas bersegel itu dia baca seadanya. Tak lama, dia pun erek-erek, teken kontrak. Yup, Bro… Petruk, forward yahud Karang Kadempel Team, memang gak mudheng Bahasa Inggris.

Selama satu bulan, Ngamarta Dream Team ikut training center di puncak Himalaya. Pelatihnya, tidak lain dan tidak bukan adalah Kresna Tanuwidjaya. Setiap pagi, tim basket itu wajib naik-turun gunung sambil punguti sampah untuk bersih-bersih gunung. Untuk mengasah kemampuan slam dunk, tiap hari, mereka harus melompati pohon yang kian tinggi.

”Ayo mana semangat kalian??? Go..go..cepaaat!!” komando Kresna Tanuwidjaya. Petruk dengan sigap ancang-ancang. Tap..tap..hiaat..Krosak!! ”Waduuuh mbok, Mak Erotku mbok..muuluuur..mules Dhe!!” teriak Petruk yang entah berapa kali kecantol pohon jati.

Dribble di padas basah yang licin penuh lumut mengasah kelincahan mereka bergerak. Latihan menangkap belut diberikan untuk kecekatan merebut bola. Pokoknya Ngamarta Dream Team dibangun dengan belajar kepada alam.

***

Sorak sorai pendukung sambut kedatangan mereka di gedung Dreaming Basket League (DBL) Arena. Tiga klub terbaik bertemu di final yang menggunakan sistem gugur dan setengah kompetisi. Yaitu, Ngamarta Dream Team, Kurawa Bulls, dan Ngalengka Pacers.

Di putaran pertama, NDT bertemu Ngalengka Pacers. Dengan kekuatannya, Rahwana mengubah dirinya menjadi lima. ”Ya penonton, pertandingan sangat menarik! Si licin Antasena men-dribble bola, dioper ke Boma, lemparan datar disambut Petruk di bawah ring! Tapi, ah, kepala kelima Rahwana sukses melakukan steal,” suara announcer terasa sangat berapi-api.

Dari tengah lapangan, Boma cepat melesat. Umpan silang diterima Abimanyu, diteruskan datar ke Petruk, masuk kantong bolongnya. Tahu-tahu Petruk melakukan dunk. Sesuai ramalan di atas kertas, Ngamarta Dream Team menang mudah. Skor akhir 101-89.

Final yang ditunggu pun datang. Ngamarta Dream Team versus Ngastina Bulls. Berkostum merah, Ngastina Bulls langsung kuasai lapangan. Boma melakukan steal, dioper ke Abimanyu yang dengan kengser gemulai memainkan bola. Melihat posisi lawan, dia pun pacak gulu alusan. Diserobot Petruk yang gak sabaran, aksi sendiri, three point, dan angka NDT bertambah 91-72.

Dursasana membawa bola, waaaaw!.. Boma mengganggu dengan teriakannya. Lemparan Kartamarma pelan, diterima Pancawala. Dursasana dengan tersenyum mendekat. Pancawala malu-malu kucing, memberikan begitu saja. Citraksi menerima umpan Dursasana, melakukan lay-up. Di saat yang sama Petruk loncat, steal dilakukan. Ring Ngamarta aman.

”Ayo go..go..moving…Truk!..dari kanan!” teriak Kresna Tanuwidjaya. Pelatih Ngastina Pacers, Sengkuni, mentelengi lapangan melihat kemungkinan strategi baru. Sengkuni makin menahan napas, permainan timnya tidak berkembang dan makin terdesak.

Ngamarta sudah di atas angin. Dari ruang ganti Ngastina Bulls, muncul dadakan Duryudana. Bukan dia yang bikin suporter histeris, tapi kedatangan Danny Granger. ”Go..Danny..Go..Danny..Go,” teriak Penonton.

Pertandingan seketika berubah. Dengan pengalamannya, Danny Granger osak-asik pertahanan NDT. Ngastina Bulls dengan cepat mendekati skor Ngamarta Dream Team 90- 88.

Dari kiri lapangan, Danny Granger dribble dengan ringan. Abab teriakan Boma gak ngaruh. Ubetan si licin Antasena lolos. Hadangan Petruk gak mempan. Dunk, 90-90, Danny Granger lagi.

Serangan Ngamarta Dream Team tak berbuah hasil. Begitu juga dengan serangan Ngastina Bulls. Bola dikuasai Boma, diterima Antasena yang meliuk-liuk, Petruk lebar-lebar buka kantong bolongnya. Danny Granger gesit merampas bola. Tembakan tiga angka mantul ring. Ditangkap Boma, taktis, mau oper ke petruk di blok Kartamarma. Jatuh ketangan Pancawala yang malah asyik membawa bola ke arah Danny Granger.

Bola ditawarkan Pancawala, ditolak halus Danny Granger. Terjadi adegan sorong-sorongan bola. Petruk kembali serobot bola. Pas waktu habis, tepat bola masuk ring, 93-90, Ngamarta Dream Team menang.

Satu minggu itu, ada pembagian bonus. Tepatnya di kediaman Petruk, Karang Kadempel. ”Ente gimana sich? Kalo gak mudheng yo tanyao, masak kontrak hanya untuk sepuluh kilo beras. Lihat, Antasena beli matic baru,” kata Semar.

Petruk seolah tak percaya, merebut kontrak yang sudah di-translate. Seketika amarah Petruk menggelegak. Kelebat, dengan pentungan di tangan, motor diarahkan ke gedung KONI Ngamarta.

Baru setengah perjalanan, jalan jadi padat merayap. Serombongan orang Papua melakukan demo. Kontrak minyak Indonesia dan Tiongkok terlalu murah. ”Makanya, kalau kontrak yang betul. Jangan obral murah, jangan saling tuduh, kita butuh kejelasan,” teriak mereka. Petruk jadi introspeksi diri. Orang jujur selalu jadi korban si culig ketika bahasa kontrak jadi hubungan kerja. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: