Presiden yang Dekat Rakyat

PERDEBATAN capres final kemarin malam menyisakan keraguan. Sebab, semua calon menyatakan diri ingin membangun negeri. Namun, kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan pembangunan masih bersifat fisik belaka. Masih penuh pula korupsi.

Di pagi hari yang cerah, Baging berjingkat memasuki kamar Semar. Ia mengambil kaset video rekaman debat capres final. Di kamar Gareng yang penuh peralatan elektronik, Bagong menyetel ulang rekaman debat capres.

Di layar monitor, muncul sosok berbalut setelah baju safari biru muda. Calon presiden Bima Berbudi dengan tenang dan suara khas berdiri di podium. ”Lima tahun kemarin memang sulit. Tapi, dengan ketabahan, kita semua bisa melewati semua bencana. Lanjutkan!” ujar Bima di awal debat. Bima ber-casciscus selama tujuh menit, diakhiri senyum menawan agar rakyat memilihnya.

Gantian Capres Ibu Srikandi Berwibowo yang menerangkan bahwa debat itu bukan teater besar yang artificial. Pengorbanan darah dan air mata dari perjuangan rakyat pantas dihargai dengan ekonomi yang pro-rakyat. Bu Srikandi menutup pidatonya dengan mengusung perubahan yang mendesak.

Di sesi ketiga, Jenderal Karno (JK) tampil dengan penampilan santai. Ia ungkapkan bahwa pemilihan presiden itu tidak berorientasi pada uang. Tapi, itu murni demokrasi rakyat. Perdebatan terus berlangsung. Saling serang, saling tohok. Namun, di pintu masuk gedung debat ada keributan kecil. Ketika sebuah mobil kodok berwarna kuning nyelonong masuk.

Dari dalam mobil itu mencuat Semar yang langsung berteriak. ”Lihat, rakyat kecil di pelosok masih miskin. Aku mau ketemu tiga capres!” teriak Sang Badranaya itu. Tapi, keinginan Semar untuk masuk terhalang barisan keamanan.

Semar lemas tak bisa masuk gedung debat. Padahal, ia butuh ketemu mereka. Sebab, rakyat ketiga capres bersatu untuk atasi bangsa yang sudah di ambang kehancuran mental.

Mobil kodok Semar kembali terseok-seok pulang kampung dengan penuh kecewa. Tapi, mak gragap, refleks Semar keras menginjak rem. Dengan sembrono, seseorang menyeberang jalan. ”Uelek, Gong. Koen bar saka ngendi?” damprat Semar. Bagong cengengesan. ”Lho, Mo. Belum ketemu tiga capres?” tanya Bagong tiba-tiba. SEmar pun menceritakan kejadian yang baru terjadi.

Menurut Semar, yang pantes dipilih adalah presiden yang dekat dengan rakyat. Pernyataan Semar ini mengakhiri tayangan 10 menit video dengan judul Presiden Rakyat.

Bagong begitu penasaran. Ia bertekad mencari presiden yang dekat rakyat di mana pun, di negeri mana pun.

Jauh di negeri Hastina, perbincangan soal presiden wayang yang dekat dengan rakyat menghangat di masyarakat. Durmogati mengemban amanat untuk menemui anak-anak Semar. Tapi, keterangan panjang lebar agar orang memilih presiden Duryudana yang disampaikan Durmogati dipandang sebelah mata oleh Bagong. ”Priben? Mau nggak nih? Yen dukung Duryudana duite gede,” rayu Durmogati. Mata Bagong malah tambah melotot. Kenapa mung ingin dekat dengan rakyat saja kok pakai mbayar? Bagong menolak tegas. ”Justru suka beri uang rakyat itu akhirnya dekat dengan rakyat,” Durmogati menjelaskan dengan bergaya bos.

Merasa terhina, Bagong usir Durmogati. Bagong putuskan keliling dunia untuk mencari presiden yang dekat rakyat. Dengan naik jukung tradisional, Bagong memasuki laut lepas. Sudah 3 hari mengayuh, jukung tak sadar memasuki laut dekat semenanjung Korea. Bagong sebodo amat dengan keamanan. Tanpa takut dicurigai, ia berjalan di tepi dermaga. Ia beli mi istimewa buatan Korsel yang lezat. Tanpa sadar, eh ndilalahnya ada tali kapal USS Abraham Lincoln tertambat melintang. Dasar, mata kaki Bagong buta, jatuh kongseb tur kesenggrok. Sehelai mie terlempar tepat mengenai lambung kapal selam. Kru kapal selam panik. Air deras masuk kapal selam yang lambungnya bocor. Dalam hitungan detik, kapal telah rusak.

Bagong langsung dikepung di bawah acungan senapan serang. Bak James Bond 007, sikap Bagong tetap dingin. Ia digelandang ke kapal USS Ronald Reagan untuk pertanggungjawaban. Di atas kapal, Bagong diinterogasi abis. ”Mbuh lah, rilly I Do No, koen ngomong apa,” jawabnya dengan Inggris yang belepotan. Perwira-perwira Amrik saling pandang. Interogasi sementara berhenti ketika sebuah helikopter mendarat. Ternyata, presiden Obama yang langsung melihat dengan seksama kepada Bagong. Bagong menunduk agak ketakutan di bawah bayang-bayang tubuh ideal presiden Obama. Telinga Bagong seperti dibisiki. ”Gong, presiden yang dekat rakyat itu tak ada. Itu hanya ilusimu saja. Yang ada, presiden yang benar-benar bekerja untuk rakyatnya,” kata Obama tegas.

Tapi Bagong tak percaya. Ia putuskan untuk ke kahyangan bertemu Presiden Manikmaya. Tapi, alangkah kagetnya, Presiden Manikmaya bermalam di Hotel Grand Bawana. Di radius radius 5 km, para dewa sudah membuat pagar manusia sebagai pertahanan di ring pertama. Sementara di ring kedua, radius 10 km, setiap orang yang mau masuk Kahyangan dicek KTP dan barang yang di bawa dengan alat detektor.

Bagong lemas. Punah sudah niatnya mencari presiden yang dekat rakyat. Sungguh, mungkin benar itu hanya ilusinya saja. Mendadak, seseorang menyentuh Bagong dari belakang. ”Gong, yang dekat dengan rakyat adalah kamu dan keluargamu, Semar. Dan dekat dengan rakyat tak harus jadi presiden, gitu loch,” kata sang Begawan Abiyasa sambil tersenyum menyapa Bagong yang cuma melongo. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: