Prita Mencari Undur-Undur


Kondangnya Dewi Kunti. Perempuan ini anak Raja Kuntiboja dari Kerajaan Mandura atau…gampange sebut wae Madura. Tapi sejatinya perempuan tangguh ini Prita namanya. Ibu Pandawa yang nama lengkapnya Dewi Kunti Nalibranta itu janjane punya nama alias Dewi Prita. Begitulah pakem pedalangan menyebutnya.

Sekarang lihat…Masyarakat lagi gandrung-gandrungnya ngumpulno koin buat Prita. Yok opo nek aku usul agar sedulur-sedulur juga urunan dukungan dana buat perkara pengadilan Prita-Prita yang lain.

Wah…wah…wah…Pengadilan memang kurang bijak memecahkan masalah Dewi Prita. Masa’ Prita dihukum gara-gara rasan-rasan tentang buruknya pelayanan rumah sakit. Padahal yang digunjingkan mungkin sedikit banyak ada benarnya juga.

”Wah itu malah bijak. Dan sudah bagus engatase anak raja, Prita tetap diadili,” kata Bagong kepada Gareng.

”Bijaknya di mana?” Gareng nyureng-nyureng sambil seperti biasane berpikir serius koyok yak-yako.

Seperti biasa pula, dengan polos namun cerdas Bagong menyahut, “Namanya saja memecahkan masalah. Jadi masalah satu dipecah jadi dua masalah, tiga masalah, empat masalah, dan seterusnya…dari satu masalah jadi makin banyak masalah…”

“Bagong bener,” sela Petruk yang pernah bekerja di pegadaian dan baru belajar bahasa Inggris di Saudi Arabia. ”Kalau wong londo Inggris sudah jelas, istilahnya kalau nggak problem solving ya solving problem. Jadi menyelesaikan masalah tanpa masalah. Bukan malah masalah itu dipecah-pecah menjadi bermasalah-masalah…”

Masalahnya, zaman semono Dewi Prita bunting di luar nikah gara-gara kelakuan Dewa Surya. Prita meminta rumah sakit itu membantunya bersalin secara wajar. Yaitu, kelahiran lewat guwa garba. Tapi pihak rumah sakit ingin menge­luarkan bayi melalui telinga alias karna. Alasan rumah sakit, agar kewanitaan Prita tetap gres ewes-ewes. Maklum, bulan depan akan diadakan sayembara perang untuk mencari pejantan tangguh sebagai suami bagi Dewi Prita. Masa’ yang disayembarakan sudah blong.

Ah, Prita males eyel-eyelan di ruang bersalin. Dokter-dokter menang. Akhirnya Prita babaran melalui telinga alias karna. Maka bayi itu akta kelahirnnya bernama Karna, kelak menjadi Adipati Karna setelah hak asuhnya diambil alih oleh pihak Kurawa.

Suatu hari di pasar kaget Madura, sebut saja dekat Bangkalan, Prita rasan-rasan rumah sakit itu. Dia protes, kalau laki-laki boleh ndak joko pas mantenan, kok cek enake perempuan mesti perawan thing-thing sehingga rumah sakit itu susah-payah dan menyakitkan mengeluarkan orok dari telinga dia.

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap…

”Opo dosaku sampai telinga ini diobok-obok. Gara-gara rumah sakit itu maka indra runguku sekarang jadi berkurang. Saya kurang bisa mendengar apakah betul nama SBY disebut empat kali oleh Anggodo dalam sadapan telepon yang dipamerkan di Mahkamah Konstitusi. Kalau memang SBY disebut-sebut empat kali namanya di situ, dan SBY tidak tersangkut, kenapa SBY yang biasanya supersensitif tidak melaporkan pencemaran nama baik itu ke polisi,” kata Dewi Prita sambil mulutnya menyonyo-nyonyo persis ibu-ibu arisan.

***

Tur maneh, pertemuannya dengan Dewa Surya pas Dewi Prita mudo nduk kamar mandi juga tidak terjadi atas kesengajaannya. Waktu itu Prita sedang menjadi sukarelawan percobaan perusahaan handphone. Perusahaan ini ingin memecahkan rekor bahwa handphone bukan cuma bisa memunculkan gambar hidup seseorang, tapi langsung bisa menghadirkan sosok fisik orang yang kita inginkan.

Staf ahli perusahaan tersebut adalah Resi Druwasa. Seperti disebutkan dalam pakem pedalangan, resi ini mempunyai aji sangat terkenal yaitu Cipto Wekasing Roso Sabdo Tunggal Tanpo Lawan. Barang siapa diberi aji tersebut yang dilengkapi sebuah cupu, bisa mendatangkan siapa pun yang sedang dipikirkannya.

Kocap kacarito pas Prita mandi pagi hari itu, setelah melepas seluruh pakaiannya termasuk yang terakhir adalah bra-nya, Prita melihat matahari dari balik jendela kamar mandi. Prita terlintas memikirkan sang Surya itu. Mak jleg, tahu-tahu Dewa Surya sudah hek-metehek berdiri di dalam kamar mandi. Kunti tak bisa mengusirnya. Wong Dewa Surya itu perayu ulung. Apalagai di kalangan dewata Mas Ganteng ini dikenal sebagai playboy.

Syahdan terjadilah peristiwa itu…

Tapi Prita tidak merasa perlu menutup-nutupi kecelakaan yang indah itu. Dan demi keadilan, Prita merasa tidak perlu harus pera­wan untuk bisa menikah, wong laki-laki juga gak harus perjaka untuk bisa nikah kok. Tapi pihak rumah sakit memaksanya melahirkan melalui telinga agar keperawanan Prita tetap prima.

Akhirnya Prita sudah jatuh ketimpa tangga. Pihak rumah sakit merasa namanya dicemarkan. Hakim memutuskan Prita membayar denda ratusan juta. Sudah itu, eh, telinga Prita rusak. Misalnya suatu panitia khusus meminta agar pejabat-pejabat yang diduga terlibat perkara korupsi mundur dari jabatannya, paling tidak mundur sementara. Prita salah dengar. Yang didengarnya, panitia khusus itu meminta masyarakat agar mencari binatang undur-undur.

***

Sudah hampir satu bulan sampai malam 1 Suro kemarin Prita mencari undur-undur. Tapi ndak ketemu-ketemu. Hewan ini lebih besar sedikit dari ketonggeng alias tinggi. Badannya lunak. Warnanya abu-abu ketanah-tanahan. Dulu waktu Prita masih kanak-kanak, ketika iklim masih bagus, jauh sebelum Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, ia suka bermain dengan undur-undur.

Biasanya ia cabut rambutnya yang panjang itu satu. Lalu ia kili-kilikan masuk ke tanah yang gembur di karangkitri, yaitu pekarangan di belakang rumah. Ketika rambut itu pelan-pelan ia kili-kilikan naik ke permukaan tanah, biasanya terikut binatang yang jalannya nggeremet mundur itu. ”Nah, itu namanya undur-undur, Ndoro Ayu,” Semar menjelaskan.

Kini satu Suro bahkan sudah lewat masih juga undur-undur tak ditemukan. Akhirnya Prita lapor ke suatu panitia khusus, ”Mohon maaf Mas Pansus, binatang yang bersedia mundur sekarang sudah tidak ada. Mungkin karena perubahan iklim. Mungkin juga karena sudah banyak di-untal masyarakat sebagai pengobatan alternatif kencing manis. Binatang-binatang lain yang saya temui tidak berkenan mundur. Semua jalannya maju. Bahkan kuda yang zaman bapak saya bisa disuruh mundur, kalau kendalinya kita hentak pelan dan kendurkan, sekarang tetap diam ditempat. Jaran itu malah maju…”

Mas Pansus terhenyak, kok telinga Prita bermasalah. Mas Pansus ngetes. “Coba saya tes…Supaya adil, sebaiknya koin-koin yang kalau disusun lebih tinggi dari Monas itu juga dipersembahkan buat pencuri cuma tiga butir kakao, Mbok Minah…Hayo tirukan omo­nganku tadi…”

Prita: Hehehe…Mas Pansus tadi bilang begini, Pak SBY malu 100 persen dan sudah setuju imbauan Mas Pansus agar Kang Mas Boediono dan Mbakyu Sri Mulyani mundur sesuai akar budaya kita, yaitu tradisi binatang undur-undur.

Waduh… Mas Pansus akhirnya mengimbau masyarakat, jika kumpulan koin sudah melebihi denda yang harus dibayar Dewi Prita, sisanya buat membiayai Prita ke ahli THT untuk memecahkan masalah kupingnya.

Gareng: Memecahkan masalah apa menyelesaikan masalah, Mas Pansus? (*)

*) Sujiwo Tejo, tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: