Raksasa Bernama Bagaspati

Prabu Salya yang rela mati demi janjinya kepada Resi Bagaspati

Waktu kecil Prabusalya itu bernama Narasoma. Dia adalah putra mahkota kerajaan. Ketika telah remaja maka ayahnya hendak mengangkat dia menjadi raja. Namun dia merasa tidak mampu, karena belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menjadi raja. Di samping itu dia anak manja, yang sangat sayang dengan ibunya. Karena itulah, ketika dia ditanya, pasangan yang diinginkan, dia berkata bahwa dia ingin memiliki istri mirip ibunya. Karena kata-katanya seperti itu maka muncullah salah paham, dikira Sang Narasoma itu ingin mempersunting ibunya sendiri, juga dia dianggap menentang kehendak ayahnya untuk menjadikannya seorang raja. Karena itulah dia diusir dari kerajaannya.

Akhirnya dia terlunta-lunta, pergi dari kerajaan, sampai pada akhirnya tiba di tengah hutan yang lebat sekali. Karena tanpa tujuan, maka dia menembus hutan yang angker itu. Di tengah hutan, tiba-tiba dia melihat pedepokan yang asri, di mana di depan pedepokan itu dia lihat seorang gadis cantik mirip sekali dengan ibunya. Namun sekejap saja anak gadis itu hilang dari pandangnnya. Maka masuklah Narasoma ke padepokan itu dan melihat seorang Raksasa dengan muka merah menyala bertanya “Apa yang engkau cari di sini anak muda ?”.

Gadis yang tadi itu adalah anak dari Resi Bagaspati sang raksasa. Dia mengintip dari jendela dan terkesiap, inilah pemuda pujaan yang sering dia lihat dalam mimpi. Berkali-kali dia ceritakan hal itu kepada ayahnya, namun ayahnya selalu berkata, sabarlah … jika dia adalah jodohmu, tentu kamu akan bertemu dengan pemuda pujaanmu itu. Dan kini, pemuda itu ada dihadapannya. Dengan hati berbunga-bunga dia mencuri dengar pembicaraan antara sang pemuda dan ayahnya. Seraya berdoa dan berharap agar ayahnya dapat menerima narasoma di padepokannya.

Resi Bagaspati yang sakti mandraguna tentu sudah tahu dengan jalan nasib seperti ini, maka diterimalah sang narasoma sebagai muridnya di padepokan itu. Diajarkan segala ilmu tentang sastra, pemerintahan dan kanuragan kepada sang murid tersayang. Dan Dewi Setyawati dengan setia dan berbunga-bunga melayani segala keperluan ayahnya dan juga pemuda pujaannya. Walaupun hatinya berbunga-bunga, namun dewi setiawati tetap menjaga perilaku dihadapan ayah dan pemuda pujaannya itu.

Setelah lama belajar di padepokan, di sore yang cerah, Rsi Bagaspati yang berwajah raksasa namun terkenal baik hati dan ber”darah putih” itu dan narasoma anak raja dengan wajahnya yang tampan tampak bercakap-cakap dengan akrab. Di pewayangan konon ada 3 orang yang memiliki darah putih, artinya orang yang sangat setia dan baik hati yaitu Rsi Bagaspati, Subali (Ramayana) dan Sang Yudistira.

Rsi Bagaspati bertanya kapan saatnya kembali ke kerajaan untuk melaksanakan tugas utama seorang putra mahkota yaitu melaksanakan tugas mengelola kerajaan dengan baik. Namun Narasoma terlihat enggan dengan topik pembicaraan itu, dan pada akhirnya berkata, bahwa dia belum merasa memiliki kesaktian yang cukup untuk memerintah kerajaan yang begitu besar. Lalu Rsi Bagaspati berkata akan menurunkan Aji Chandra Birawa yang amat sakti sehingga yang memiliki ajian tersebut, tidak dapat terbunuh oleh senjata apapun.

Dengan gembira Narasoma menyambut baik tawaran Rsi Bagaspati. Rsi Bagaspati memberi syarat agar Narasoma mau menjaga Dewi Setyawati, anak perempuan satu-satunya yang ia sangat sayangi. Karena memang pada dasarnya Narasoma sudah jatuh cinta dengan Dewi Setyawati maka dia segera mengiyakannya. Lalu dipanggillah Dewi Setyawati oleh Rsi Bagaspati, dan mengutarakan maksudnya agar Dewi Satyawati mau dinikahkan dengan Narasoma. Gayung bersambut, bunga-bunga cinta kedua insan ini, seperti mendapat jalan untuk segera mekar bersemi.

Syarat berikutnya yang dilontarkan oleh Rsi Bagaspati adalah Ajian Chandra Birawa harus diserahkan lagi kepada orang berdarah putih, apabila Narasoma menemukannya. Mendengar akan diturunkannya ajian Chandra Birawa, maka meledaklah tangis Dewi Setyawati, karena dia mengetahui apabila ayahnya menurunkan Ajian tersebut kepada seseorang, maka saat itulah ajal akan menjemputnya.

Narasoma yang tidak mengetahui informasi tentang hal ini, sangat terkejut, dan segera memeluk kaki Sang Rsi agar mengurungkan niat untuk menurunkan ilmu yang mahadahsyat tersebut. Narasoma berkata bahwa dia ingin menghapus keinginan untuk menjadi raja, apabila itu harus ditukar dengan nyawa guru yang sangat dia hormati. Namun tekad Rsi Bagaspati sudah bulat, bahwa dia ingin mengakhiri hidupnya dengan cara menyerahkan ajian tersebut ke Narasoma.

Dengan rasa bersedih, Narasoma akhirnya mau menerima Ajian Chandra Birawa tersebut, dan berjanji akan menjaga Dewi Setyawati dan juga akan melepas Ajian Chandra Birawa ini, jika suatu saat dia menemukan orang yang ber-darah putih juga. Akhirnya Rsi Bagaspati meninggal, lalu kedua insan yang saling jatuh cinta itu, kembali ke kerajaan untuk segera diangkat menjadi raja dan permaisuri.

Kedua insan tersebut, saling mencintai dan tidak pernah saling menyakiti. Kerajaan Mandaraka menjadi besar ketika dipimpin oleh Narasoma yang juga disebut Prabu Salya. Sampai akhirnya perang Bharata Yudha dimulai … Prabu Salya menemukan Ksatriya ber darah putih yaitu Yudistira … dan saat itulah perpisahaan kedua insan yang saling mencintai itu harus terjadi … Dewi Setyawati kembali harus kehilangan orang yang dia cintai …

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: