Semar dan Senjata “Kentut”-Nya

Melanjutkan refleksi budaya pewayangan pada tulisan pertama yaitu
“DUNIA PEWAYANGAN DAN KEKUASAN ORDE BARU” yang membahas tentang etika
Jawa berkenaan dengan pimpinan ideal dan kekuasaan, tulisan kedua
“MAKNA PERANG BHARATAYUDA DAN PERUBAHAN” yang membahas tentang
ketidaksempurnaan manusia dan hakekat perang saudara dalam kerangka
menegakkan kebenaran melawan keangkamurkaan agar terjadi perubahan
yang nyata untuk menuju pada tata masyarakat yang lebih baik, pada
tulisan kali ini penulis akan membahas tokoh yang sangat menarik
didunia pewayangan yang paling banyak mendapat perhatian dan berbagai
intrepertasi simbolik yang sangat bervariasi yaitu tokoh Semar dengan
senjata ampuhnya “Kentut”.

Semar adalah tokoh utama panakawan – arti dari panakawan adalah pana
yang berarti bijaksana dan kawan berarti teman jadi artinya adalah
teman yang bijaksana – bersama-sama ketiga anaknya yang bernama
Gareng, Petruk, dan Bagong, secara umum dalam pewayangan digambarkan
sebagai berikut :

1. Semar selalu muncul pada tengah malam pada pagelaran “wayang
purwo/kulit” semalam suntuk yaitu setelah episode yang dinamakan
“goro-goro” yang dalam “goro-goro” diceritakan terjadi banyaknya
kekacauan dimuka bumi ini yang secara simbolik kemunculan Semar dan
punokawan meredakan kekacauan tersebut.

2. Pada saat pemunculannya Semar sang Dalang akan bercerita bahwa:
“Semar punika saking basa “samar”, mapan pranyoto Kyai Lurah Semar
punika wujudira samar. Yen den wastani jalu wandanira kadi wanita. Yen
sinebat estri, dadapuranira teka pria. Pramila katah ingkang klentu
mastani. Yen ta wonten ingkang hatanya menggahing sasipatanira hirung
sunti mrakateni, mripat mrembes mrakateni, lan sak panunggalnipun
sedaya sarwa mrakateni ” yang terjemahan bebasnya dalam bahasa
Indonesia adalah : “Semar berasal dari kata samar. Memang sesungguhnya
wujud dari Kyai Lurah Semar juga samar. Kalau dikatakan laki-laki
wajahnya mirip wanita. Kalau disebut wanita perawakannya seperti
laki-laki. Oleh karena itu banyak orang keliru menilai. Jika ada yang
mencoba memerinci anggota badannya akan melihat hidungnya mancung
seperti wanita yang mempesonakan, matanya yang basah juga
mempesonakan, dan yang lain-lain-nya juga serba menarik perhatian”.

3. Semar dan panakawan lainnya bukan berasal dari epic Ramayana dan
Mahabharata sehingga banyak pakar yang menyimpulkan bahwa tokoh
tersebut asli Jawa / asli Indonesia yang sudah ada sebelum agama Hindu
dan Budha datang ke Indonesia.

4. Diceritakan asal usul Semar adalah dari telor yang :

a. Kulitnya menjadi Togog yang menjadi simbol hidup laksana kulit
tanpa isi yang mementingkan duniawi semata oleh karena itu ia mengabdi
pada raksasa sebagai simbul angkaramurka.
b. Putihnya menjadi Semar yang menjadi simbol hidup yang penuh
kesucian yang mementingkan isi dari pada kulitnya. Ia selalu memihak
kepada kebenaran dan keadilan dan meluruskan segala bentuk
penyelewengan oleh karena itu ia mengabdi kepada raja dan ksatria
utama.
c. Kuningnya menjadi Manikmaya yang mencerminkan kekuasaan karena itu
ia dinobatkan menjadi rajanya dewa di Kahyangan “Junggring Salaka”
sebagai Bhatara Guru.

Biarpun Semar itu manusia atau rakyat biasa yang menjadi panakawan
para raja dan ksatria, tapi dia memiliki kesaktian yang melebihi
Bhatara Guru yang rajanya para Dewa. Semar selalu bisa mengatasi
kesaktian dari Bhatara Guru apabila ingin mengganggu Pendawa Lima yang
dalam asuhannya. Banyak arti simbolik dalam masalah ini yang penulis
percayai mungkin mendekati kebenaran adalah :

Bhatara Guru dalam agama Hindu adalah Dewa Shiva yang dipuja oleh
pemeluk agama Hindu, sedangkan Semar adalah tokoh asli Jawa / asli
Indonesia yang mungkin juga dipuja saat sebelum kedatangan agama
Hindu. Secara simbolik bisa diartikan bahwa existensi dari budaya atau
nilai2 luhur dari Jawa kuno selalu akan bisa mengatasi dari pengaruh
Hindu dan secara simbolik selalu memenangkan tokoh Semar terhadap
tokoh2 dewa Hindu. Dan hanya dengan menerima tokoh Semar agama Hindu
bisa berkembang di Indonesia. Hal ini sekali lagi dibuktikan dengan
apa yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan senjata
Puntadewa jamus “Kalimasada” sebagai transisi dari Hindu menjadi Islam
yaitu dengan menimbulkan kisah hutan Ketangga yang mengisahkan
pertemuannya dengan Puntadewa dan meng-Islamkan dengan menjabarkan
jamus Kalimasada sebagai Kalimat Sahadat. Dan peng-Islaman masayarakat
Jawa tidak melepas sama sekali tokoh2 yang sudah ada dari zaman
sebelum Hindu dari sekarang seperti Semar yang perilakunya dijadikan
teladan ataupun panutan masyarakat Jawa. Dan disadari oleh Sunan
Kalijaga bahwa Islam hanya akan bisa diterima oleh masyarakat Jawa
apabila kesenangan orang Jawa akan “wayang purwo/kulit” tidak diganggu
yang sebetulnya kesenangan orang Jawa kepada “wayang kulit/purwo”
bukan sekedar sebagai tontonon tapi suatu upaya pelestarian dari
petuah atau etika atau budaya Jawa yang berumur sangat tua yang masih
hidup sampai sekarang oleh karena itu wajah Islam di Jawa atau mungkin
juga di Indonesia mempunyai ciri budaya yang berbeda dengan Islam di
Saudi Arabia tanpa mengurangi makna Islam yang mendasar.

5. Dengan berjalannya waktu tokoh Semar dan panakawan diterjemahkan
sebagai simbol kesederhanaan dari rakyat jelata, dikarenakan
kehidupannya sebagai Lurah/Kepala Desa yaitu suatu jabatan
kepemimpinan yang paling dasar/bawah dalam sistim pemerintahan yang
dipilih secara demokratis oleh masyarakat pedesaan pada masa lalu,
tokoh Semar selalu berada diantara rakyat kecil dan kesederhanaannya
telah membawa kepada sifat kearifan dan kesucian pandangan yang bisa
memberikan pandangan yang lebih murni tanpa bias terhadap suatu
permasalahan sehingga bisa menangkap kebenaran seperti apa adanya.
Oleh karena itu diceritakan dalam “wayang purwo/kulit” Semar selalu
bisa mengatasi permasalahan yang tidak mampu diatasi oleh asuhannya
Pendawa Lima ataupun para raja dan ksatria lainnya.

Contoh-contoh diatas adalah memberikan suatu gambaran bahwa tokoh
Semar merupakan tokoh yang paling banyak mendapat sorotan interpretasi
simbolik dikarenakan keunikan, kesamaran dan ketidakjelasannya dan
yang lebih lagi karena sebagai tokoh yang asli Jawa / asli Indonesia
yang oleh cendikiawan ataupun budayawan Jawa dimasa lalu disisipkan
dalam epic Ramayana dan Mahabharata dalam cerita “wayang purwo/kulit”
tanpa harus merusak kisah kepahlawan yang ingin ditonjolkan bahkan
malahan memperkaya nuansa etika yang lebih mendalam. Contoh-contoh
diatas belum lagi membahas intepretasi tokoh Semar yang bersifat
mistik yang penulis tidak akan bahas disini.

Semar dengan senjata ampuhnya “Kentut”

Diceritakan dalam pewayangan bahwa Semar mempunyai senjata yang sangat
ampuh yaitu berupa “Kentut” dan hal ini yang penulis ingin bahas
kandungan simbolik yang semata-mata adalah menurut keterbatasan
pandangan penulis sendiri.

Sebagai suatu kisah kepahlawanan “wayang purwo/kulit” tidak lepas dari
kisah kesaktian senjata dari para pahlawannya untuk bisa memenangkan
peperangan, seperti Arjuna dengan senjata panahnya Pasopati, Bima
dengan kuku Pancanaka, Sri Kresna dengan Cakra dan sebagainya. Bahkan
dalam pewayangan juga dimasukkan unsur keris yang nyata2 bukan senjata
dari Hindia tapi asli dari Jawa.

Tradisi memuja senjata ini berlanjut pada budaya/sejarah Jawa dengan
pada masa-masa kejayaan kerajaan Hindu dan Islam seperti Ken Arok
dengan keris Empu Gandring, Raja Balambangan dengan gada Besi Kuning,
Panembahan Senopati dengan tombak Kyai Plered, dsb.

Senjata sebagai alat memenangkan peperangan akan tetap penting artinya
bahkan sampai pada masa kekinian seperti bagaimana Sekutu menggunakan
senjata nuklir untuk memenangkan peperangan melawan Jepang. Juga
dengan terjadinya perlombaan kecanggihan persenjataan pada masa perang
dingin antara Rusia dan Amerika pada masa beberapa tahun yang lalu.

Apabila senjata itu kita terjemahkan sebagai tools atau peralatan
untuk memenangkan suatu peperangan ataupun persaingan, pengembangan
peralatan ini tidak hanya terbatas kepada sesuatu yang bersifat phisik
peralatan peperangan militer tapi juga menyangkut peralatan atau
sumber daya (resources) untuk memenangkan persaingan dibidang bisnis
dan politik. Sedangkan peralatannya atau tools bisa bervariasi dari
penguasaan informasi, sistim, strategi, prosedur/peraturan, sumber
daya manusia yang berkwalitas dsb.

Yang memerlukan kajian lebih lanjut kenapa Semar mempunyai senjata
“Kentut” dan bukan senjata yang bersifat phisik seperti panah, pedang,
tombak ataupun sejenisnya. Beberapa sifat senjata “Kentut” nya
Semar:

1. Kentut berasal dari dalam diri Semar sendiri, jadi senjata ini
sifatnya adalah kekuatan yang muncul dari pribadi Semar bukan alat
yang diciptakan atau dibuat.

2. Semar menggunakan senjatanya bukan untuk mematikan tapi lebih untuk
menyadarkan. Dalam beberapa lakon/cerita pewayangan Semar menggunakan
senjata “Kentut” nya melawan resi/raja/ksatria yang tidak bisa
dikalahkan oleh Pandawa Lima yang akhirnya “badar” atau sadar kembali
pada perwujudannya yang semula, yang biasanya adalah Bhatara Guru,
Bhetari Durga dsb.

3. Semar akan menggunakan senjata “Kentut” nya apabila dengan cara
yang konvensional yaitu menggunakan senjata biasa tidak bisa mengatasi
permasalahan.

Sebagai makna simbolik “Kentut” itu sendri mempunyai sifat-sifat :

1. Selalu mempunyai nuansa bersuara dan berbau.
2. Bisanya baunya busuk atau tidak enak.
3. Jadi “Kentut” itu juga bisa berati suara yang berbau atau
bernuansa kurang enak didengar maupun dirasakan.

Jadi kalau kita kombinasikan dengan dengan simbolik Semar sebagai
suara “rakyat” kecil yang bercirikan kesederhanaan yang membawa kepada
sifat kearifan dan kesucian pandangan yang bisa memberikan pandangan
yang lebih murni tanpa bias terhadap suatu permasalahan sehingga bisa
menangkap kebenaran seperti apa adanya.

Maka senjata “Kentut” nya Semar adalah bisa punya arti simbolik suara
“rakyat” yang menyuarakan kebenaran yang sifatnya memberikan kesadaran
kepada para pimpinannya agar kembali pada jalan yang benar sehingga
suaranya bagi sang pimpinan adalah suara-suara yang tajam dan tidak
enak didengar dan kalau dirasakan sangat bau busuk karena keterus
terangannya melaksanakan kritik yang cenderung untuk menyakitkan kalau
dirasakan bagi sang pemimpin.

Dan kenyataannya apabila rakyat sudah mengutarakan isi hatinya,
apalagi kalau menyampaikan kemarahannya akan lebih dahsyat seperti
laiknya “Kentut” Kyai Lurah Semar yang mau tidak mau pemimpin harus
sadar untuk memperbaiki diri (atau kepemimpinannya sebetulnya tidak
diakui oleh mayoritas rakyat dan rakyat mengakuinya semata-mata
berdasarkan rasa takut).

Dalam kondisi kekinian, suara rakyat yang murni tidak terdengar dalam
tata masyarakat Indonesai dikarenakan ada hambatan2 dalam
penyampaiannya atau tidak ada kebebasan dalam menyuarakan pendapatnya
/ keinginannya (termasuk didalamya kemandulan media masa, lembaga
perwakilan rakyat untuk dijadikan sarana rakyat menyatakan pendapatnya
yang mungkin saja tidak sejalan dengan pendapat yang sedang berkuasa).
Sebagai akibatnya para pimpinan negara hanya mendengarkan suara-suara
yang merdu dan enak didengar saja yang mungkin jauh dari kenyataan
yang ada. Oleh karena itu “rakyat” mencari jalannya sendiri untuk
menyuarakan hati nuraninya.

Kalau kita membaca Internet – seperti Indonesia-L – barangkali ini
lambang “Kentut” nya Semar dengan segala suara yang tidak enak
didengar ditelinga oleh para pimpinan Negara kita (kalau mereka sempat
baca Internet – mengingat accesnya yang masih terbatas di Indonesia)
yang mungkin lebih mendekati realitas dan suara raktyat yang
sebenarnya yang menghendaki keterbukaan dan kearifan para pimpinan
Negara untuk menerima saran dan kritik agar melakukan perbaikan dan
“badar” atau sadar kembali untuk menuju cita-cita masyarakat Indonesia
yang adil makmur bagi semua rakyat (bukan buat sebahagian kecil rakyat
yang dengan kedekatannya dengan kekuasaan mendapat kesempatan yang
lebih dari yang lain)

Kesimpulan

Senjata “Kentut” nya Semar adalah secara simbolik bisa diartikan
senjata pamungkasnya “rakyat” untuk menyadarkan pemimpinnya agar
kembali kepada jalan yang benar yaitu etika berbudi luhur yang harus
dipegang teguh. Mencapai tujuan yang benar haruslah dengan cara yang
benar, adalah sangat disayangkan apabila kita dipimpin oleh pimpinan
yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan (tanpa maksud
untuk mengurangi nilai keberhasilan secara phisik yang telah dicapai
selama ini). Nilai-nilai luhur etika Jawa pada khususnya dan bangsa
Indonesia pada umumnya selalu mengajarkan mencapai tujuan yang baik
menuju Indonesia yang adil dan makmur harus dengan sekaligus
mempraktekkan etika budi luhur agar terjadi Negara ideal yang
“panjang-punjung”, panjang berarti menjadi panutan negara lain,
punjung berarti mempunyai kewibawaan yang tinggi.

Tulisan ini dibuat dengan maksud agar tercapai suatu Pemerintahan
(siapapun yang melaksanakan) yang berorientasi sepenuhnya untuk
kepentingan dan kesejahteraan rakyat secara luas.

Ki Ageng Mangir.

Referensi:

1. Ir. Sri Mulyono Djojosupadmo , Apa dan Siapa Semar, 1975, P.T.
Gunung Agung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: