Semar Moksa…


Ndoro Arjuno, izinkan saya berpulang ya. Ndak usah nangis lho Sampeyan. Bojo yang paling Sampeyan cintai, Ndoro Sembodro, juga jangan membik-membik. Nek Sampeyan dan Ndoro Ayu sungkawa, nanti anak-anak saya, Gareng, Petruk dan Bagong, pasti tambah melas dan keronta-ronta… katulo-tulo katali.

Saya pergi dari Klampis Ireng yang fana sama sekali tidak ada sambung rapet-nya dengan ngambek atau mutung. O, mboten Ndoro. Sungguh selama saya ngemong keluarga Pandawa utamanya Ndoro di Madukoro ini toh nyatanya cuma sekali saya berontak.

Itu lho…kalau ndak salah pas Ndoro Janoko…ehmmm…mau memangkas kuncung saya. Ingat, kan? Waktu itu saya sampai munggah kahyangan. Suroloyo saya obrak-abrik. Batoro Guru yang merajai Suroloyo tak unek-unekno…tak tuding-tuding.

Saya ngamuk pada nasib. Bukan pada Ndoro. Kenapa gerangan begitu? Lantaran saya yakin Ndoro Permadi ndak bakal nggunting kuncung saya. Ini pasti gara-gara rayuan maut Dewi Mustokoweni. Maklum dia perempuan ayu. Tapi Mustokoweni ndak mungkin sanggup ngarang-ngarang rayuan maut kalau tidak gara-gara disekongkoli oleh gurita dewa-dewa di Suroloyo.

Saya tahu…Saya ngeh sejatinya Ndoro Kombang Ali Ali kebal terhadap rayuan berbagai tipe perempuan. Ndoro Margono sebagai lelananging jagad hanya berpegang teguh pada cita-cita bangsa. Demi itu Ndoro akan merayu perempuan mana pun waton cita-cita kebangsaan Ndoro tercapai.

Tapi ndak bakalan Ndoro bisa dirayu. Ndoro itu orang laki yang yakin, setiap perempuan yang merayu lebih dahulu pasti membelokkan cita-cita laki-laki. Ndoro Pandusiwi pasti mboten purun. Nggih to?

Nggih…Itu kejadian pas Ndoro mau ngetok kuncung saya mak thel. Hanya sekali itu saya mencak-mencak. Bahkan kalau dihitung sejak pengabdian saya pada ayahanda, almarhum Prabu Pandu Dewonoto, kakek Ndoro Abiyoso bahkan kakek buyut Manumayoso dan seluruh leluhur Ndoro yang saya turut mengasuh. Itu pun saya tidak mencak-mencak pada Ndoro. Saya mencak-mencak pada gurita-gurita yang akan memanfaatkan Ndoro melalui bujuk rayu dan sudut kerling wanita.

***

Ooo…mbegegeg ugeg-ugeg sadulita…hemmel… hemmel… Wong bagus satriyo Madukoro Ndoro Arjuno, yo Janoko, yo Ndoro Kombang Ali Ali, yo Permadi, yo Margono…Yo Ndoro Pandusiwi…yo Sukmowicoro, yo Ndoro Mintorogo, Ndoro Parto, tur yo Ndoro Endro Tenoyo…

Mustahil Ndoro Sukmowicoro waktu itu sadar dengan sengaja mau memotong kuncung kawula cilik seperti saya. Pasti ini karena rekayasa gurita-gurita kekuasaan. Wong Ndoro tahu kok, kuncung itu perlambang jiwa saya yang selalu jujur dan tulus seperti anak-anak. Senadyan saya sudah uzur, sudah kaki pikun kampong perot jambul uwanen, tapi saya masih punya jiwa kekanak-kanakan.

Ibarat bocah yang berkelahi rebutan dolanan, kuncung saya cepat melupakan perkelahian. Kuncung saya susah punya dendam. Dan ibarat kanak-kanak yang dilambangkan dalam kuncung beruban saya, saya itu tidak pernah ngitung risiko dalam melakukan apa pun, termasuk dalam upaya menyuburkan demokrasi.

Kalau saya sudah tidak punya kuncung, Ndoro Mintorogo tahu maka saya akan sama saja dengan orang-orang dewasa pada umumnya. Saya akan awet kalau punya dendam. Mustahil akan diprakarsai rujuk nasional dengan orang-orang eks PKI. Mustahil orang-orang Tionghoa dibolehkan merayakan Imlek.

Ketika DPR dulu pernah dibilang tidak beda dengan Taman Kanak-kanak, lho… mereka ngamuk. Padahal maksudnya baik. Maksudnya, DPR hingga masa hak angket ini agar masih punya sifat ketulusan dan keberanian anak-anak. Ya, sudahlah kalau mereka masih ngamuk, gitu aja kok repot.

***

Ndoro Parto alias Endro Tenoyo, surat saya hampir selesai. Sekali lagi jangan menangis seperti Gus Solah dan Gus Mus ketika berdoa di suatu pemakaman di Jombang. Saya berbeda pendapat. Bergembiralah. Tradisi kita menyambut kematian dengan gembira karena kematian adalah jalan awal menuju kehidupan yang lebih indah. Nangis-nangis dan pakai baju hitam dan pakai lagu-lagu yang sedih pas kematian itu tradisi dari Eropa.

Nanti semua kita jadi takut mati. Padahal situasi negara kita saat ini termasuk dalam pemberantasan perampokan duit rakyat, yang kerap diperhalus dengan kata korupsi, makin menuntut kita untuk menghadapinya dengan sungguh-sungguh dan berani mengambil risiko. Kalau perlu risiko mati. Jangan takut menghadapi ubur-ubur penguasa bahkan sampai se-gurita-guritanya.

Masa’ Sampeyan yang sudah menyandang sebutan Begawan Mintorogo kalah bijak dengan dalang senior Mbah Gondo Darman di Sragen. Pesannya sebelum meninggal, hendaknya jenazah beliau diarak dari rumah ke tanah makam dengan iringan kaset lawakan pelawak legendaris Jogjakarta, Basiyo. Maka di pertengahan dekade 90-an itu, ketika Mbah Gondo moksa alias melanjutkan hidup di alam lain, para pelayat berjalan ke tanah kubur dengan banyolan pelawak Basiyo.

Maka bergembiralah Raden Arjuno. Saya masih hidup kok, di alam lain bersama Batara Ismaya yang kasihan kalau saya terus-terusan repot di dunia dan beliau ingin agar sepeninggal saya tumbuh di alam fana generasi penerus saya yang lebih banyak dan moncer. Bahkan seandainya orang-orang betul-betul mencintai saya, sukma saya masih berdenyut di mayapada. Kalau mereka memang mencintai saya, tak cukup dengan tangis atau bendera setengah tiang. Yang lebih penting ambilah pelajaran dari saya, yaitu jangan takut untuk kentut di sembarang tempat.

Jangan munafik. Kentut itu lambang kejujuran. Sekarang masyarakat saya lihat-lihat kok kurang mengutamakan kejujuran. Mereka makin mengedepankan tata krama, basa-basi, dan kemunafikan. Mestinya kita itu ceplas-ceplos. Ngomong apa adanya sesuai hati nurani dan sukar dikecoh oleh kedok sopan santun pemimpin.

O, Ndoro Arjuna, sekali lagi, kalau mau kentut, saya kentut sajalah di mana pun. Makanya, akhirnya saya dianugerahi senjata pamungkas yaitu kentut. Siapa yang berani maju kalau akan dikentuti oleh kawula alit seperti saya? Tidak ada! Batara Kala, Batari Durga, yang Pandawa kalah itu, hehehe lari terbirit-birit pulang ke kahyangan Setro Gondo Mayit kalau saya sudah mungkur dan siap-siap mau ngentuti mereka…

Hidup Indonesia… Mari kita hidupkan kentut. (*)

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: