Sepak Bola Curang

MATAHARI mengintip dari awan. Panasnya tak begitu terik. Celoteh burung gereja sesekali terdengar. Embus angin seperti malu-malu kucing. Entah kenapa, waktu di Ngamarta hari ini terasa lama dari hari yang sudah-sudah.

Baru kemarin hari Ketua KPU Puntadewa mengumumkan hasil tabulasi akhir. Sementara di Karang Kadempel. Ke mana kaki melangkah, sebagai kader partai, Gareng bangga atas kemenangan partai yang didukungnya. Nyengenges, ngumbar gigi putihnya.

”Anda tidak takut atas tudingan bahwa partai Anda melakukan kecurangan dalam pemilu?” ujar seorang kuli tinta. ”Ah, biasa aja tuch. Di negeri ini, yang menang pasti digoyang. Inul kaleeee,” jawab Gareng ringan.

Sementara, Bagong yang mengawasi dari serambi rumahnya hanya mecucu-kan bibirnya sembari melotot. Petruk dengan kaca mata hitamnya malah sengaja mapasi tubuh Gareng. Bahu mereka bersenggolan. Tubuh Gareng limbung dan jatuh terduduk. Petruk hanya tersenyum sinis dan berlalu.

”Ehm, ini jangan dikira snack yah. Ini bukti pelanggaran! Kita akan bawa ke MK,” terang Bagong sambil menunjukkan delapan dus yang tertutup rapi. Sebendel kertas diangkat Bagong. Ia menerangkan bahwa terjadi penggelembungan suara lewat jalur DPT fiktif dan KTP ganda.

Wartawan cepat mengejar Petruk yang mengeluarkan statement. ”Kita sich legawa. Tetapi, mbok yao sebagai pemenang tidak baik jumawa dulu. Apa fakta ini akan jadi bungkus gorengan?” terang Petruk sambil menunjukkan setumpuk map yang tersusun rapi.

Sekali lagi, wartawan berlari ke arah Gareng yang tetap ngotot, menang ya tetap menang. ”Dah gini aja, persentase perolehan suara partaiku seumpama dipotong lima puluh persen,” ujar Gareng sambil mengambil sebongkah bata merah dan mencoret-coretnya di aspal. Dan memang, bisa dikatakan perolehan partai Gareng masih di atas kandidat yang lain. ”Wah masuk akal jane, mungkin karena faktor fisik Bapak, kali yah?” celetuk seorang wartawan yang disambut ketawa.

Kembali wartawan balik lari ke teras rumah Bagong yang sedang berteriak-teriak. Menurut Bagong, bagaimana bisa jujur, lha wong matanya jereng. ”Kita kagak tau dia melihat ke arah mana? Dus kaki pengkor-nya itu pertanda Gareng kagak bisa dipercaya. Lha wong di mana-mana jalan sudah dibuat rata masih saja doglag-daglig,” seru Bagong yang terus nyerocos.

Cecaran mulutnya baru berhenti ketika dari arah jalan masuk bus sekolah. Dari dalam kendaraan itu, keluar Al Khoireng, Bagong Jr, dan Petruk Jr. Ketiganya berlari ke arah bapaknya masing-masing. Dasar anak-anak, mereka sak penaknya dan tidak melihat situasi. Mereka langsung bermanja-manja ria, merajuk, minta dibelikan tiket MU versus Ngamarta All Stars.

Sebagai seorang father yang baik hati, tiga orang itu menuruti keinginan anak-anak mereka. Tur ini kejadian yang belum tentu setahun sekali. Pada hari yang telah ditentukan, mereka pun berangkat. Gareng dan Al Khoireng dengan seragam nomor 9 Wayney Rooney. Bagong dengan Al Bagong Jr pakai kostum Ryan Giggs lengkap dengan polesan warna merah di wajah. Petruk dengan Al Petruk Jr berkostum Edwin Van der Sar lengkap dengan topi bermotif bola. Tapi apa daya, mimpi mereka tinggal mimpi betulan. Kedatangan Red Devil ke Stadion Gelora Ngamarta dibatalkan. Ada teror bom yang meluluhlantakkan tempat menginap timnas Ngamarta All Stars.

Yah, karena peristiwa tak dinyana itu, ketiganya bisa duduk berjejer dalam suasana kekecewaan. ”Pah, gagal deh ketemu idola,” ujar Al Bagong Jr kecewa. Al Khoireng dan Al Petruk Jr mengangguk bareng.

Bagong, Gareng dan Petruk saling pandang. Entah ada apa di benak mereka masing-masing. Tiba-tiba, ”Waah, kemenangan yang ternoda,” celetuk Bagong. ”Ya nich, dukunnya dulu siapa? Pasti kurang sajeneee,” ejek Petruk. Gareng yang merasa menjadi tumpuan persoalan langsung memerah wajahnya. Seketika, dia berdiri berkacak pinggang dan menantang keduanya untuk melakukan adu tendangan penalti. Yang banyak kebobolan dialah yang pasti dicurangi. Ketiganya sepakat dan melakukan lempar koin.

Penendang pertama, Bagong, menghadapi kiper Petruk. Bagong ancang-ancang, daaagh, bola disapu kencang. Petruk gesit melentingkan tubuhnya ke kanan gawang, bola dapat dipukul keluar.

Giliran Gareng, matanya fokus ke arah bola. Di bawah mistar gawang, Bagong juga fokus. Gareng lari sekuat tenaga, tetapi, mak klantung kakinya kesrimpet. Bola pelan, ditangkap Bagong. Petruk maki-maki keras, ini sudah diatur, diskenario.

Gareng jadi penjaga gawang, Petruk menghadapi bola. Lari Petruk zigzag mau menipu. Giliran Gareng yang marah, menurut dia itu sudah kebohongan publik. Saling adu tendangan penalti dan saling menyalahkan dengan aturan yang tak jelas itu terus berlangsung.

Goooolllll, teriakan yang memecahkan ketegangan itu berasal dari gawang di sisi lapangan yang lain. Al Khoireng, Al Bagong Jr dan Al Petruk Jr saling berebut bola dan menceploskan ke gawang. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: