Sepatu Genderuwo


TETES embun yang bergelayut di ujung-ujung rumput seketika buyar tersapu langkah kaki seorang ibu muda yang trengginas. Dewi Maerah, wanita itu, memaksa kakinya melangkah lebar menuju ujung gang tempat penjual nasi bungkus.

Saat nasi sudah di tangan, Dewi Maerah cepat kembali menuju dapur. Sebuah panci penuh air diletakkan di atas tungku panas. Dia berpacu dengan waktu sebelum Basudewa bangun dan segera berangkat berburu. Benar juga, Basudewa bangun saat semuanya sudah terhidang.

”Dinda May, sepatu Kanda dah kering kan? Semalam Kanda mimpi dapat sepatu baru,” ujar Basudewa sambil nyeruput kopi. Jawaban Dewi Maerah tenggelam di antara gerojokan air mandi. ”Akang jangan, apaan sich Kang, malu atuh. Sepatu noh di tempat biasa,” jawab Dewi Maerah sembari sekuat tenaga menahan pintu yang coba didobrak Basudewa.

Selanjutnya, Basudewa mencoba menarik-narik busur panah yang akan dipakainya berburu. Tepat tengah hari dia berangkat. Langkahnya kian berat, seolah terbebani senyum dan lambaian tangan Dewi Maerah di bawah ambang pintu.

Pada hari ketiga, Basudewa akhirnya datang. ”Dinda May, cepetan, Kanda bawakan daging kesukaan Dinda, kidang muda?” seru Basudewa. Istrinya tak begitu menghiraukan kejanggalan siang itu. Biasanya, Basudewa pergi seminggu lebih, ini baru tiga hari sudah pulang. Tapi, bayangan kijang muda mengacaukan suara batinnya.

Daster basah yang dikenakan Dewi Maerah jatuh mengikuti lekuk tubuh. Itu bagai air dingin yang menyejukkan di tengah hausnya naluri kodrati manusia. Radar Dewi Maerah pun segera tanggap menangkap sinyal-sinyal Basudewa. Degnan bantuan elektroda positif dan negatif plus larutan kimiawi, sinyal-sinyal itu mewujud menjadi gelombang. Rengek tangis Kangsa Dewa melengkapi kebahagiaan pasangan itu tepat sembilan bulan sepuluh hari kemudian.

Saat Kangsa Dewa masih bayi merah, Basudewa pamit berburu lagi. Ealah, belum tiga hari, Basudewa sudah balik lagi. Kali ini wajahnya penuh kumis. Jenggot dan jambangnya tak terawat. Alangkah kagetnya Dewi Maerah. ”Akang teh naon? Baru tilu dina dah nggilani seperti ini,” ujar Dewi Maerah. Sontak, Basudewa kaget. Sebab, dia merasa sudah setahun tidak pulang. ”Lho, arek iku siapa? What’s happen, Dinda? Jangan-jangan…,” Basudewa menyemprot dan menyelidiki.

Blak-blakan Dewi Maerah menceritakan semuanya. Sambil menahan mangkal, Basudewa menuju kediaman Semar. Atas saran Semar, Petruk diutus. Itu lantaran Petruk adalah turunan genderuwo dan menyandang gelar SAG alias Sarjana Alam Gaib.

Dengan mudah, Petruk menerobos barikade kerajaan genderuwo. Kala itu, Bushong Blazz, raja genderuwo, sedang koordinasi terakhir dengan panglima perangnya di tepi kolam belut putih raksasa. Bushong Blazz merencanakan ekspansi ke negeri Jin Kutil. Tepat dini hari nanti, ribuan Belut Putih akan diterjunkan ke perbatasan Negeri Jin Kutil. Bila masyarakat dan raja Jin Kutil diam saja, mereka berarti takluk. Tapi jika mereka berani menyerang, pasukan Bushong Blazz akan meluluhlantakkan mereka.

Kerajaan Jin Kutil dasar kerajaan lemah tak berdaya, kemenangan tak makan korban. Apalagi sebelum diserang kerajaan Jin Kutil sudah diserbu dengan politik dan embargo berlebih. Ngakake Bushong Blazz tambah lebar saja makin hari dan yang pasti tambah pongah saja raja Gendruwo itu.

Saking congkaknya, Bushong Blazz datang ke semenanjung Hollywood. Ditantangnya tokoh haus darah, Drakula untuk duel. Promotor Don King tertarik untuk mengagasnya. Dipilihlah Madisson Square Garden untuk arena pertandingan. Tapi pertandingan tinju kali ini lain dari seperti biasanya. Mereka hanya menggunakan kedua jari telunjuknya alias ditowel atau diculek. Wasit Richard King memberi tanda mulai.

Keduanya saling merangsek menjajaki pertahanan lawan. Ting, tusukan tajam Drakula ke sisi dalam mata kanan Bushong Blazz berhasil ditahan. Tubuh Bushong Blazz sempat tersungkur tapi cepat bangun. Teng, ronde kedua selesai. Memasuki ronde kedua culekan Bushong Blazz membabi buta. Pertahanan Drakula tidak begitu rapat, serangan datang dari bawah. Tuiiing, mata Drakula kena culek. Kubu Bushong Blazz langsung bersorak kegirangan.

Dalam press conference, Bushong Blazz sombong tenanan. ”Sape lagi yang berani tantangin, guwe pasti beri koit,” teriaknya. Tapi desas-desus di antara jurnalis muncul. Kepongahan bisa diruntuhkan. Isunya, Bushong Blazz telah melanggar batas dunia manusia sampai meninggalkan keturunan. Tapi bukti sukar diperoleh.

Sementara itu, Petruk langsung tancap gas ke Mandura. Ditelusurinya setiap liku kediaman Basudewa. Petruk dengan membawa bungkusan berbau lecit kembali ke alam Gendruwo. ”Kagak mungkin di dunia ini ada yang bisa kalahin guwe! Ayo kalo berani,” tantang Basudewa. Mak wuzzz, pletak!.. Petruk melemparkan Sepatu Bushong Blazz yang dulu ketinggalan di kediaman Basudewa. Pengawal Bushong Blazz cepat susun pagar betis. Tubuh Petruk dipoteng-poteng

Semar melepaskan topi kuncungnya, pelan ditiupnya. Cliiing…Petruk sudah di antara mereka. Basudewa memberondong Petruk. Siapa trouble maker-nya. Petruk hanya diam. Semar yang jelaskan, itu kerjaan makhluk halus. ”Ini sepatunya.” (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: