Sepatu Jinjit dan Gempa Bumi


Sampeyan perempuan? Seneng pake sepatu hak tinggi? Pelajari pengalaman wong-wong wedo’ Jakarta dan Bandung pas gempa kemarin. Gara-gara pakai high heel turun tangga dari lantai 7, lantai 8, lantai 13, dan seterusnya, kunang-kunanglah mripat mereka sampe nduk lantai dasar. Ada yang semaput. Ada yang besok paginya masih sambat pegel-pegel boyo’ dan pinggang-e.

Sa’benernya ndak pake ada goyang bumi, wong-wong wedo’ itu wis mudeng. Mudeng bahwa sepatu jinjit pancen bikin repot. Sopir-sopir pribadi pasti tahu, rampung melenggang anggun pake sepatu tumit tinggi dalam pesta, ibu-ibu langsung ngelepas itu di mobil. Nafas mereka sedikit melar-mingkus, lalu ganti sandal jepit.

Nek ndak percoyo buntuti saja bos-bos perempuan dari ruang pertemuan ke ruang kerja pribadinya di satu lantai atau satu gedung. Pasti beliau pas masuk ruang kerjanya dewe langsung lukir high heel-nya dengan sandal saja atau malah nyeker.

Ponokawan Petruk sering dicurhati Arjuna. Katanya penengah Pandawa ini lebih suka istri sing nganggo sepatu rendah saja pas nang pesta. Tampil pakai sepatu hak tinggi pancen cantik. Tapi habis itu lho…Habis itu… pas wis pulang, di atas ranjang, otot-otot pinggang dan pinggul mereka wis ndak lentur lagi, sudah ndak hot lagi. Bojone gigit jari.

”Demi cantik di depan umum,” kata Dewi Kunti, ”Perempuan memang rela menyiksa dirinya sendiri.” Ibu para Pandawa itu hanya menyayangkan, kelak kaumnya terlalu peduli pada pandangan umum. ”Keperluan” suami dikorbankan. Mereka juga terlalu pusing ambe’ wujud fisik dandanan. Bukan falsafah dandanan.

Lihatlah kemben alias korset Dewi Drupadi, madu Dewi Kunti. Itu ndak cuma bagus wujudnya. Falsafah dan khasiatnya…wah. Berkali-kali Dursasana dan bala Kurawa ngudari kain Drupadi. Mereka bakal rame-rame memerkosa sang Dewi. Bolak-balik gagal. Ujung kemben tetap mereka tarik gotong-royong berlarian kayak dari Tuban ke Lamongan sampai sang Dewi berputar seperti gasing. Tapi saking saktinya kemben, masih juga kain yang meliliti tubuh Drupadi itu tak habis-habis.

Bener lho…

”Alah alaaaah…Jangan Sampeyan reken omongan perempuan,” kata Gareng, kakak Petruk. Anak tertua Semar sing paling seneng mikir ini punya alasan. Katanya, Kunti yang bolak-balik omong perkara moral nyatane juga ndak jegos ngurus moralnya dewe. Eling? Dengan pelet Aji Cipto Wekasing Roso Sabdo Tunggal Tanpo Lawan, ibu Pandawa ini punya pacar gelap Batara Surya. Dia ngandung anak di luar nikah. Melahirkan. Terus bayi itu dibuang. Dia kelak jadi anak temon yang dipiara Kurawa. Namanya Karno.

Ma’ jleg Bagong datang kayak biasa-ne. Mata-ne melotot-melotot. Dengan sangat polos tapi mendasar, bungsu Semar ini marah-marah nang Gareng. ”Awakmu sok tahu perkoro perempuan,” sergah Bagong. ”Sopo sing ngomong Kunti itu bobrok moral-e. Sopo sing ngomong Drupadi ndak mau di-anu ambe’ Kurawa. Dan sopo sing ngomong perempuan itu tersiksa ne’ pake sepatu hak tinggi…Belum tentu…belum tentu…Perempuan susah ditebak. Maksud hatinya bahkan dia sendiri juga nggak tahu…”

Melihat kegigihan dan kengototan Bagong siang itu, di bawah pohon sawo kembar, di pelataran padepokan Semar, Klampis Ireng, saya jadi teringat penggalan sajak almarhum Rendra:

…Perempuan bagaikan belut

Meski telah kau kenali segala lekuk liku tubuhnya

Sukmanya selalu luput dari genggaman…

Suasana Klampis Ireng saat itu jadi kaku. Gareng ndak kunjung menanggapi Bagong. Kedatangan Petruk pun tak kunjung mencairkan suasana. Seribu pelawak Kartolo diterjunkan ke situ juga nggak bakal nolong suasana. Bagong akhirnya bengak-bengok membawakan puisi yang ditulisnya sendiri di Jombang tentang are’ wedo’:

Dalam laut dapat diduga

Dalam celana siapa tahu

Apalagi di dalam kalbu perempuan

Kita tambah ndak ngerti opo-opo…lholak lholok

Kenapa perempuan kalau dicium kok selalu merem?

Petruk: Karena perempuan menghayati. Bedo karo wong lanang sing main sludrak-sludruk asal cium tanpa curahan jiwa.

Gareng: Sebab ndak kuasa menggambarkan betapa indah dan nikmatnya cinta. Maka perempuan terpejam pas dicium.

Bagong: Itu bisa betul bisa kliru, Goblok! Tapi bisa juga perempuan tutup mata kalau disun, karena mereka membayangkan laki-laki yang lain-lain lagi.

Wah, Gareng jadi inget. Istrinya, Dewi Sariwati, waktu diambung Gareng tidak merem tapi matanya malah nyambi baca koran. Masuk akal juga saat merem pas dicium, kaum perempuan itu mengingat-ingat bacaan di koran, umpama-ne bertanya-tanya kenapa kok sedekah ke wong mis wong mis di Jakarta malah dihukum Perda 8 tahun 2007 -yang mau keluar di angka togel nanti apa 82007 apa 67 (dari Rp 6,7 triliun yang dirampok dari Bank Century) atau 73 (dari 7,3 skala Ritcher gempa di Tasikmalaya).

O ya, sampe lupa. Semar sebenarnya dari tadi juga ada di bawah sawo kembar itu. Lupa saya sebut karena dia diem saja. Sekarang orangnya sudah mulai ngomong sambil terkekeh-kekeh:

”Saya kemarin malam ketemu Batara Hananta Boga di Bromo. Itu lho dewa yang dinasnya menyangga bumi. Hananta Boga batuk, bumi gempa. Boga mulet, bumi gempa. Boga kepingkel-pingkel, bumi gempa. Ta’ tanya ke Boga kenapa kok batuk, mulet dan tertawanya nggak bisa diprediksi? Kenapa kok kawruh dan ilmu pengetahuan paling mutakhir pun ndak bisa meramal kapan terjadi gempa?

Kenapa gempa jauh lebih ndak iso diramalkan ketimbang perempuan-perempuan seperti (Badai) Isabel (2003), Donna (1960), Camile (1969), Gabrielle (1989), Ella (1978), Gerda (1969), Debbie (1982), termasuk sing paling dahsyat Katrina (2005) dan Ike (2008)?

Oh, thole, Garong, Petro dan Baong, apa jawaban si Bapak Bogasari itu, eh, si Tata Boga, eh, si Jasa Boga? Begini jawab Hananta Boga: Hahaha…Eyang Semar, biar kaum perempuan juga tahu, bahwa bukan cuma perempuan yang nggak bisa ditebak, bahwa bukan cuma perempuan yang nggak bisa diramalkan. Hahaha…

Ooo…jumangkah anggro sru susumbar lindu bumi gonjing…

(Semar lan para putro pun hanya bisa berbela sungkawa atas musibah gempa yang melanda bumi Parahiangan. Para petinggi nggak perlu mereka iringi ke lapangan. Mereka tetep di ibu kota, karena pemilu sudah lewat.)

*Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: