Serangan Babi Buta


BAGAI lomba lari maraton, Sengkuni lagi ngibrit dikejar Bima di Padang Kurusetra pada pengujung Perang Bharatayuda. Keduanya saling mengeluarkan kemampuan berlari. Sengkuni berkelit dan zigzag. Dia coba lepaskan diri dari kejaran Bima. Namun, dalam hitungan menit, Jenderal Sengkuni mulai kewalahan.

Bima melesat tinggi, salto, dan haap, rambut Sengkuni terenggut. Diponteng-ponteng, Sengkuni memekik. Rambut kepalanya hampir tercabut sak akar-akarnya. Namun aneh, tubuh Sengkuni kebal. Terbukti, kuku Pancanaka Bima yang tajamnya melebihi tujuh pedang tak mampu menyobek kulit kepala Sengkuni. Kuku itu mental.

Bima masih tak percaya. Ia hantam perut Sengkuni dengan gada Rujak Polo. Perut itu tetap utuh. Tergores pun tidak. Mendadak, keringat dingin membasahi tubuh Bima. Satria tinggi besar itu pun putuskan mundur dari peperangan.

Sengkuni juga kaget karena ternyata dia kebal. Sengkuni yang tadinya takut perang sekarang tumbuh rasa percaya dirinya. ”Hehehe, Bima lari, hehehe. Ternyata, gue jenderal paling sakti. Tapi, untuk kalahkan Pandawa, aku harus pelajari kembali kenapa jenderal yang seperti aku sebelumnya bisa gugur melawan Pandawa,” ujar Sengkuni.

Dalam kegembiraannya, Sengkuni ingat tas hitam lusuh yang dia bawa. Di tas itu ada PDA. Secepat kilat, PDA itu dia raih. Dengan search engine, dia browsing data dan fakta kenapa para jenderal besar sebelumnya bisa gugur.

Yang pertama dia klik adalah dokumen berjudul Bisma Gugur. Layar PDA menampilkan Padang Kurusetra yang tertutup salju. 24 hari silam, ribuan burung kuntul merontokkan beberapa helai bulunya bak hujan salju. Mereka seperti dikomando. Alam seakan melindungi jasad Bisma dalam keabadian balutan salju.

Sementara, Dewa Gimlo Ong gemrobyos adus kringet susah payah mencabut nyawa Bisma. Setiap kali nyawa terlepas dari ubun-ubun Bisma, ealah, si nyawa balik lagi. Entah lewat lubang telinga, lubang hidung, atau lubang-lubang yang lain. Gimlo Ong sampai habis akal. ”Aku gak bakalan sirna sebelum janjiku terpenuhi,” ujar Bisma sambil tersenyum. ”Oaalaah lin-lin, mbok omong dari tadi. Sampe tanganku lempoh begini,” jawab Gimlo Ong, dewa maut dari Beijing.

Tiba-tiba muncul seorang perempuan sendirian. Ternyata, perempuan itu bernama Dewi Amba. Sudah payah, dengan ribuan panah menusuk tubuh, Bisma bangun. Tertatih, Bisma mendekat ke Amba dan bersimpuh. Suasana hening seketika. Bisma dalam senyum, sujud dan muksa. Dia tepati janji untuk minta maaf karena pernah menolak cinta Dewi Amba.

”Edan!! Bisma kalah karena cintanya kepada perempuan,” teriak Sengkuni. ”Kalau gitu, aku harus berhati-hati dengan muslihat Semar atau si Kresna,” pikirnya kemudian.

Tiba-tiba, dari arah selatan terlihat satu titik hitam bergerak membelah terik panas padang Kurusetra. Setelah semakin dekat, tampak jelas sosok itu. Seorang perempuan berjalan sembari menggendong beberapa botol berisi jamu. Sengkuni waspada. Jangan-jangan, perempuan itu adalah Hantu Jamu Gendong jelmaan Julia Perez. Eits, ternyata bukan. Setelah dekat, tampak sosoknya yang sejati. Perempuan itu eksentrik. Kulitnya sawo matang, amboi, agak gemuk tapi cantik. Rambutnya dikepang dua dengan pita merah terikat.

Si gadis diam-diam mencuri pandang pada wajah Sengkuni yang mulai kendur kewaspadaannya. ”Nduk, jual jamu, ya? Gua minta jamu sehat lelaki,” kata Sengkuni. Sekalipun curiga, dia tak mampu menahan hasratnya pada jamu di botol yang tampak segar.

Dengan senyum, si centil tuangkan jamu ke gelas yang langsung habis ditenggak Sengkuni. Lima menit kemudian, reaksi jamu terlihat. Sengkuni kepanasan dan agak sedikit mules-mules. ”Waduh, ini jamu ada racun?” serunya. Dia lepas seluruh baju zirah. Bertepatan, hoeekk, Sengkuni muntah. Si penjual jamu mengawasi terus sambil siapkan jurus pemungkas untuk meringkus Sengkuni.

Tak tahan panas yang menggila, Sengkuni membanting topinya ke tanah. Mendadak, di langit terjadi hujan roket dengan sumbu bom. Ternyata, kupluk Sengkuni sangat sakti. Si penjual jamu terkena puluhan roket hingga tubuhnya penuh luka. Dan tampaklah wajah asli penjual jamu itu. Yakni, Bagong. Begitu penyamarannya ketahuan, Bagong ambil langkah seribu.

Sengkuni juga kaget. ”Lho, ternyata gua kebal dan punya aji udan watu. Hahahaha,” Sengkuni terbahak dan mulai mengamuk. Dia serang pasukan Pandawa layaknya babi buta.

Amukan Sengkuni mewujud menjadi perang yang benar-benar yang mengerikan. Serangan udara susul menyusul hanya lantaran Sengkuni mbanting topi. Roket berhulu ledak nuklir membidik semua pusat dan kantor keamanan di sepanjang pertahanan para Pandawa.

Serangan sendiri dilancarkan, tak hanya pada malam hari, namun juga saat malam ketika Pandawa tidur. Ini menyalahi aturan perang Bharatayuda. Apalagi, markas badan bantuan PBB juga tak luput dari hantaman.

Ban Kresna Moon segera turun tangan. Dengan senjata cakra dia meneropong titik lemah Sengkuni. Setelah yakin, ia bisikan sesuatu ke telinga Bima.

Dengan kecepatan angin, Bima bergerak. Akhirnya, mak jleg, dia sudah ada di depan Sengkuni. Namun, Sengkuni tersenyum sambil menantang. ”Silakan, Bima. Robek tubuhku. Yang mana pun boleh, hehe,” tantang Sengkuni. Bima yang sudah tahu kelemahan Sengkuni langsung beraksi.

Dia angkat dan balik tubuh Sengkuni, kaki di atas, kepala di bawah. Dengan kuat, Bima tepuk dubur Sengkuni. Sengkuni pun menjerit. Ia baru ingat, hanya duburnya yang dulu tak terkena Bayu Tala yang membuatnya jadi kebal. Sengkuni menangis, melolong minta ampun. (Dalangnya tak meneruskan adegan ini. Terlalu seram untuk ditonton).

Tapi, entah kenapa Kuku Bima tak segera menancap di dubur Sengkuni. Padahal, di Palestina, Sengkuni yang lebih ngawur sedang mbanting topi dan hadirkan hujan roket bom.

Kita dihadapkan pada tontonan kesombongan Israel yang dengan sengaja melecehkan manusia di seluruh dunia ini. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: