Seribu Bantal yang Koyak


LOLONGAN ayam jantan menguar di udara, tanda pagi menjelang. Hujan riwis-riwis menampar kaca jendela kamar Bagong. Sebagian muncrat masuk lewat sela-sela bibir jendela. Mengenai wajah Bagong. Malas-malasan, dia beranjak sembari mengingat mimpinya yang aneh. Dia lihat Semar berdiri jauh, tak terjangkau. Ada jurang lebar di antara Sang Romo dengan Bagong, Petruk, dan Gareng.

”Kang, bangun! Pinjam primbonmu! Mimpiku aneh, tahu artinya, Kang?” seri Bagong sambil menyerbu ke kamar Gareng dan Petruk. Kamar itu ternyata sudah tak terkunci. Yang ditemukan Bagong hanya kertas kucel dengan tulisan bak cakar ayam. Romo sekarang mudah naik pitam. Gak taulah, dah tua, kali. Hati kami sakit sering dicaci. So, suara hati kita tak bisa ditahan untuk mencari Romo kita yang asli.

Kertas itu langsung dilumat Bagong. Dengan mata berair menahan emosi, ditemuinya Semar.

”Romo, jujur saja. Bagong ini anak siapa? Bagong gak ingin seperti Kang Gareng dan Petruk,” selidiknya sambil menyerahkan kertas yang tambah kucel itu. Semar memungut kertas tersebut. Sambil mengelus dada, dia duduk di atas dipan reyot dekat sumur.

”Ketika itu, aku baru pulang dari kayangan, sedang mandi di sungai,” ungkap Semar. Wajah Bagong menegang. ”Nah, matahari tepat mengenaiku dari balik bukit,” lanjut si Romo. Bagong tambah bergidik. Tangannya menggenggam, menahan emosi. ”Aku melihat bayanganku sendiri, aku ciptakan bayangan itu menjadi sesosok jabang, yaitu Bagong,” ujarnya.

Memungkasi cerita itu, Bagong meraung keras. Ngelolo. Semar hanya bisa memandang Bagong yang ngambek dan membanting pintu kamar. Bagong lantas mengambil backpack. Semua barangnya dimasukkan asal-asalan.

Sebelum pergi, Bagong menghadap ibunda Kanastren, menyerahkan bantalnya, milik Petruk, dan juga Gareng. ”Mbok, ini bukti Mbok merawat kami dengan baik. Tolong disimpan, ya Mbok, biarkan kami cari jati diri,” ujar Bagong, mencium tangan Kanastren dan pergi.

***

Alkisah, Petruk sampai di gerbang negeri Black Gochick, negeri para Gendruwo. Aneh, pikir Petruk, jalanan begitu sepi. Pos keamanan baru terlihat menjelang pusat pemerintahan.

”Hei, hidung panjang! Mo kemane? Jangan sembarangan, lu! Pakai aturan, bos,” semprot seorang penjaga yang wajahnya enggak begitu seram. Petruk nyengenges. Dia mengaku ingin bertemu King Bel Bleh, raja Gendruwo. Si penjaga pun curiga. Petruk diminta lewat pintu Gendruwo Detection. Tit..tit..tit, berulang kali dilewati tetap gagal. Tentu saja, lha wong Petruk tidak berwujud Gendruwo.

Di tengah-tengah kehabisan akal, sebentuk suara menyapa Petruk. ”Suit, suit, hey cowok, godain kita, dong,” seru Lady Blorong. Pendar-pendar cinta langsung muncul. Mereka pacaran.

Suatu hari, Petruk minta diajak jalan-jalan ke negeri Black Gochick. Berdua, mereka krukuban sarung dan plass. Suara gagak hitam menyambut kedatangan mereka. Alangkah terkejutnya Petruk melihat sosok yang muncul di depannya, tepat di tengah-tengah Black Gochick. Wujudnya menyeramkan. Matanya di hidung, hidungnya telinga, telinga nempel di dahi. Bingung, kan? Sama, dalangnya juga bingung (hehe). Ya, itulah wujud King Bel Bleh.

Petruk pun menyapanya, ”Daddy, I’m your son. I miss you, Dad,” seru Petruk sambil menghambur ke arah King Bel Bleh. Namun, yang menyambut Petruk justru kepalan segede tampah. Petruk pun terlontar ke bagian belakang istana, tempat ratusan istri King Bel Bleh. Alangkah takjubnya Petruk yang melihat ribuan anak menyerupai Petruk. Mereka mengejar-ngejar Petruk yang ngos-ngosan berlari menjauh.

***

Sementara itu, Gareng sampai di Padepokan Lemah Abang. Momennya pas ketika ada bulan purnama yang meriah dan penuh hiburan serta sajian. Seorang cantrik menarik Gareng dengan keras karena masuk tanpa undangan. Melawan, tangan Gareng malah terikat ke belakang. Beruntung, seorang Pandita keluar dan melerai. Terus terang, Gareng mengaku sebagai keturunan raksasa dan ingin menjadi murid Pandita tersebut yang juga guru ratusan raksasa.

Seperti yang lain, Gareng harus melalui tahap seleksi. Pertama, Gareng dimasukkan drum baja di atas api yang membara. Walau grobyosan, memanfaatkan kaki pengkornya, dia berdiri satu kaki. Itu terus dilakukan Gareng sambil sesekali meloncat. Gareng lolos. Ujian berikutnya, Gareng dimasukkan drum penuh cacing. Walau ginjal-ginjal, dunia cacing adalah dunia Gareng yang peternak bebek. Lolos lagi. Selanjutnya Gareng dimasukkan drum penuh kodok ijo. Nah di sini kegagalannya, Gareng trauma. Kodoklah yang telah membuat kakinya cacat. Gareng nyerah.

***

Kini, Bagong masuk Rumah Sakit Karang Kadempel. Dokter spesialis bedah plastik mumpuni, Dr Amber Plastique, diordernya untuk total mengubah penampilannya. Dua belas jam, kemudian Bagong keluar kamar operasi dengan wajah mirip Sah Ruh Khan. Dia lantas balik ke Karang Kadempel untuk balas dendam.

Dilihatnya Semar lagi bebersih. Bagong lalu menyerang dengan kaki raksasanya. Semar kontal, jatuh menerobos atap teras. Dia jatuh tepat di genggaman Petruk dan Gareng. Bagong marah besar dan semakin membesar saja tubuhnya.

Gareng dan Petruk yang paham siapa raksasa itu mulai menyerang. Gareng mencipratkan air garam. Lambat laun plastik di tubuh Bagong meleleh dan dia kembali ke wujud semula. Ketiganya saling berpelukan dan menangis.

”Maafkan kebodohan kami, Romo,” kata mereka hampir bersamaan. Kanastren melihat dari kejauhan dan berdesis. Kalian memang bukan anak Semar. Tapi, bantal yang kalian pakai ini bukti didikan Semar. Jauh di negeri yang penuh kekerasan, seribu bantal terkoyak dibuang dari rumah. (*)

Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: