Si Kleptomania

ABIYASA Grand Mall terlihat mentereng magrong-magrong di tengah-tengah jalan utama Ngastina yang amat sibuk. Di sisi Ngastina Street itu, mal tersebut tampak megah dengan cat yellow white. Megah, memasukinya pun orang pasti tak wegah. Apalagi, di pintu mal itu ada tulisan Love yang genit menyambut setiap ABG yang mau ngumbah mata di pusat perbelanjaan tersebut.

Pada salah satu ruangan terdengar napas berat seorang petugas sekuriti. Satpam berkumis bak lintah itu menangkap seorang remaja bernama Lesmana Bush yang kedapatan ngutil kapur barus. ”Koen anak Presiden Duryudana. Keneng apa koen nyolong di mal yang nyong jaga?” kata Cak Kartowiyogo. Dia menahan marah, sampai logatnya belepotan, enggak jelas asal-usulnya. Begitu marahnya satpam itu sampai dia mau nangis. Sebab, batinnya memang sedang bercabang.

Kalau Lesmana Bush ditangkap, Bos Duryudana bisa memecatnya. Lha, kalau dibiarin nyolong, apa gunanya dia jadi kepala sekuriti yang andal. Pokoknya, pikir Kartowiyogo, aku harus telepon istana.

***

Status sosial dan pergaulan Lesmana Bush memang elite. Rumah mewahnya berdiri di atas tanah berkehtare-hektare. Rolls-Royce pun dia punya. Namun, penyakit kleptomania kian akut. Itu menunjukkan sifat aslinya, tukang maling.

Presiden Duryudana bukannya tak tahu kelakuan Lesmana Bush, anaknya. Dia khawatir. Karena itu, dia pun memantapkan hati bahwa Lesmana wajib ikut perang Bharatayudha. Namun, Banowati, ibu Lesmana tak setuju maksud suaminya. ”Lesmana ini masih muda. Itu kan hanya kenakalan remaja, Pah,” ujar Lady Banowati.

Duryudana bertahan dengan pendiriannya. Pertengkaran suami istri pun tak terhindarkan. Namun, cekcok alias padu itu game over saat Lady Banowati mengeluarkan senjata mautnya. Yaitu, ancaman cerai. Edan, po? Masak wanita seksi dan cantik itu tak ceraiin, pikir Duryudana. Karena itu, dia pun bersimpuh mengiba di depan istrinya. ”Oke, Mah. Please, jangan tinggalkan daku. Papah takkan usir Lesmana Bush. Tapi, dalam tiga minggu ini dia harus tunjukkan kelakuan baiknya. Lesmana harus never maling again,” kata Duryudana.

***

Minggu pertama. Malam hari, bakda isyak, Lesmana Bush terlihat berbaju necis. Lehernya dihiasi syal warna putih. Badannya semerbak harum, wajahnya disepuh pembersih dan pemutih dari Prancis. Dia mau ngapel Miss Pergiwati, putri Arjuno.

Acara kencan malam itu adalah dinner keluarga dengan menu tengkleng kesukaan keluarga Arjuna. Sehabis menyantap sepotong lidah dan nyeruput otak sapi, Lesmana Bush menarik tangan Pergiwati ke taman sari.

Sebenarnya, Lesmana Bush agak grogi dengan Pergiwati yang imut-imut. Namun, ia nekat. Dia harus katakan sesuatu yang selama ini tersimpan di batinnya. Pergiwati yang sedang jomblo hanya manut saat diajak ke taman. Sesungguhnya, Pergiwati sedang gundah. Abimanyu, kekasihnya, tak kunjung apel lagi. Tak ada pohon, ranting ya lumayan, pikir Pergiwati.

”Pergi, eh, Wati,.. Aku memang bukan pria yang pertama mencintaimu. Namun, Wati, aku sungguh demen marang koen,” kata Lesmana Bush sambil mendekat. Pergiwati pun larut dalam desah napas Lesmana yang harum. Dia membuka bibirnya. Nalika itu, bibir Lesmana juga dimonyongkan. Kedua tangan Lesmana pelan, terulur meraih bahu pergiwati yang melemah. Hampir saja ada kiss! Namun, pandangan Lesmana tertumbuk pada jam Rolex yang ada di atas tumpukan majalah.

Tubuh Lesmana tiba-tiba bergetar. Dia coba tidak memikirkan jam kinclong itu. Namun, tangannya keburu bergerak cepat. Sambil lari, Lesmana mengembat jam tersebut. Adegan roman gagal total (untung, lha wong bulan puasa, hehe). Pergiwati menangis tersedu dan teriak, ”Dasar maling jam!!”

Duryudana sangat malu saat menerima telepon Arjuna. Dia hendak memarahi Lesmana. Namun, namun Banowati acungkan surat nikah dan mengancam mau ke Pengadilan Agama. Duryudana langsung pucat pasi wajahnya. ”Udah, Mah. Papah tahu, curi jam itu juga kenakalan remaja,” rayu Duryudana tanpa daya.

Sampai pada suatu malam di minggu ketiga, dua orang memakai pakaian perang mengendap mendekati kediaman Lesmana. Dari celah lubang angin, diketahui Lesmana sudah terlelap.

Berbekal kunci tiruan, dua sosok itu membuka pintu belakang. Dengan mudah mereka mendekati Lesmana sedang tergolek di ranjang mewah. Yang bertubuh gemuk mengacungkan jempol dan yang kecil isyaratkan tunggu. Keempat tangan mereka lalu kompak saling beri tanda.

Tiba-tiba, cihaat,..Mbilung menubruk Lesmana dengan karung goni. Togog dengan cekatan mengikatnya. ”Kue yah,.. tak kandani. Yen tangkap Den Lesmana itu mudah. ‘Palagi, ini perintah Bos,” kata Mbilung. ”Gundulmu! Kalau ketahuan Miss Banowati bisa runyam,” sela Togog.

Berdua, mereka bergerak cepat membawa Lesmana ke pangkalan helikopter perang. Suara dengung mesin heli mengakhiri kemanjaan Lesmana yang sekarang dibawa ke medan Perang di Bharatayudha.

Sebulan, Banowati mencari Lesmana Bush yang lenyap. Dan saat ditemukan, Lesmana memang tak lagi kleptomania. Justru dia memimpin pasukan Ngastina dengan percaya diri.

Namun, alangkah kagetnya Banowati ketika kembali ke Ngastina. Duryudana sedang bicara rahasia dengan Presiden Bush yang hendak menyerang Pakistan secara diam-diam. Apalagi, tanpa izin rakyat Amerika. ”Ini juga sikap kleptomania. Orang yang suka mencuri kekuatan bangsanya untuk memenuhi ambisi pribadi,” kata Banowati sepulang Bush ke Amrik.

Dorongan mencuri dan suka perang adalah usaha untuk mengembalikan kekurangan pada masa kanak-kanak yang tak bahagia, ujar Banowati lagi. Duryudana Cuma bisa senyum kecut atas komentar Banowati pada Presiden Bush. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: