Susu Ginjal-Ginjal

SORE itu, perempatan jalan Karang Kadempel terasa ramai. Semakin sore tambah ramai. Jajan serba manis ditawarkan beberapa pembeli di sepanjang jalan. Beberapa cuil asmara ngabuburit merekah di antara mereka.

”Susu yang bikin abadi just mitologi. Itu real-nya nihil alias nol besar,” ceramah Semar pada orang-orang yang menunggu berbuka di langgar-langgar. ”Tapi Mo, ada isu, ada lembu sakti yang susunya membuat peminumnya jadi abadi. Kronologinya gimana tuh, Mo?” potong Gatotkaca. Belum sampai Semar tuntas menerangkan, raungan sirene terdengar dari pusat kota. Segelas kolak manis jadi perhatian mereka sekarang.

Pertanyaan soal susu keabadian itu terus menggelayuti benak Gatotkaca, Abimanyu, dan Bagong. Sambil menikmati kolak, mereka lanjutkan obrolan di teras langgar dan dibumbui imajinasi masing-masing.

Setelah tarawih, dengan motor blutuk-nya Gatotkaca bergegas menuju toko buku terkomplet. Abimanyu lebih nakal lagi. Tarawih belum selesai, dia sudah nylintis ke Perpustakaan Madukara. Setelah larut di deretan buku-buku, Gatotkaca menemukan buku Cara Memeras Susu Keabadian, Lembu Andini. Sedangkan Abimanyu dengan penerangan seadanya fokus membaca Atasi Osteoporosis dengan Susu Lembu Andini.

Kisah Bagong lain lagi. Dia baca buku di toko emperan. Yang dia bolak-balik halamannya adalah buku Susu Lembu Andini, Obat Vitalitas. ”Le, kalau hanya baca ndang pindah! Nutupi pembeli aja,” celetuk Yu Siti, bakul buku cerewet itu. Bagong pun bertambah kesusu membacanya.

Jelas, tiga orang itu membaca bahwa yang memelihara Lembu Andini itu adalah Begawan Wasista. Mereka lantas berbegas. Gatotkaca meraih kutang hitam pekat dengan bintang cerah di dadanya. Wuzz, dia menuju alamat yang sudah dia hafal. Tak sampai sepuluh menit, dia sudah sampai.

Dengan Awan Kinton, Abimanyu mendarat sepuluh depa di sebelah kanan Gatot. Bagong mengikuti dengan vespa kesayangannya. Dia berhenti lima meter di sebelah Abimanyu. Anehnya, mereka tidak saling tahu kedatangan masing-masing. Yang mereka lihat pun berbeda-beda. Ada kekuatan yang mempengaruhi tiga orang itu.

”Ente bahlul! Tulisan gak pake argumen. Tuh lihat kenyataannya. Susu unta, kali,” ujar Gatot berlogat kearab-araban. Yang dia geremengi adalah penulis buku yang dia baca. Betul. Susu Lembu Andini sudah di-pack dalam ribuan kaleng. Semuanya berbau timur tengah. Baunya sedikit prengus alias embeekk.

Di mata Abimanyu, semua yang dia lihat berlabel Amerika, berbau Hollywood.

”Leng Su (kaleng susu) kin joss! Wo ai ni, kamsia,” ujar Bagong yang menyamar sebagai Wong Fei Hung. Dia lantas mendekati lokasi.

Dari ketinggian seribu kaki, Gatot menukik dan menyambar lima kaleng. Dari rimbun semak, bidikan Abimanyu nyaut sepuluh kaleng. Dengan tendangan tanpa bayangan yang termasyhur, Bagong menendang tiga kaleng. Sirene tanpa bahaya dibunyikan. Tapi, ketiganya sudah hilang ditelan malam.

Tepat lima menit menjelang imsak, ketiganya sampai di kamar masing-masing. Tanpa pikir panjang, tiga kaleng nggelontor tenggorokan Gatot. Dua kaleng diminum Abimanyu. Tiga kaleng dihirup Bagong. Kelelahan, mereka pulas.

Suara gemerisik kain pel membangunkan Gatotkaca. ”Yem, jam berapa? Lu pagi ini cantik banget. Sini dikit dong, Yem,” rayu Gatot. Iyem yang punya wajah Mersi (Pamer Gusi) hanya senyum. Tangan Gatot lembut elus pipi Iyem, pas Pergiwati masuk. Klepak, Pergiwati menampar keras dan berlalu menjauh. Ya, Gatotkaca kena virus. Semua yang ada di matanya tampak kemlincing alias cuaem dan cuantik.

Pengalaman Abimanyu lain lagi. Dia senang rias dan kemayu. Pantas saja, Dewi Utari berteriak histeris. ”Waduh Papih! Segala macam bedak dipake, ini lagi bikini Mamah!! Aduh,.. Papih kenapa?

Sedangkan Bagong, perutnya terasa munyel-munyel. Serasa minum obat pencuci perut.

Pagi berikutnya, tiga orang itu jadi pasien di rumah Semar. Dengan ramuan kunyit item asem, kening Gatotkaca dibubuki dan diikat kain putih. Jambe puyang diminum Abimanyu tiga kali sehari. Untuk Bagong, Semar harus keliling kampung mencari daun berbau menyengat. Yaitu, daun kentut-kentutan. Setelah dicuci bersih, daun ditumbuk halus. Dengan sesobek kain, ramuan dibungkus dan diikatkan sekitar hidung selama tiga hari.

”Tuh kan, dibilangin gak ada yang abadi. Susu sehat itu adalah Air Susu Ibu. Itu pun kalau tak disentuh ehmm,” terang Semar. Setelah sembuh Gatotkaca bergidik. Sebab, yang paling bahaya adalah susu yang diminum Bagong. Yaitu, susu dari negara Wong Fei Hug. Jika, di minum bisa membuat sakit ginjal-ginjal. Setidaknya, itu kata ahli kesehatan.

Bagong malah berpikir, waktu Prabu Pandu dan Dewi Mandrim naik Lembu Andini keliling dunia, pasti telah minum susu Wong Fei Hung. Sebab, mereka ginjal-ginjal dan lahir Bathara Kala. Mendengarnya, Semar jitak kepala Bagong sambil tertawa ngekek. (*)

Oleh: Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: