Tetap Bersama di Kala Suka dan Duka

Sang Duryudana sangat iri melihat keberhasilan para Pandawa membangun istana megah di Indraprasta. Lalu timbullah niat buruknya untuk merebut istana itu dari Pandawa. Di bantu oleh Sang Sangkuni, maka dengan memanfaatkan kebaikan hati dan kesetiaan Yudistira, maka dijebaklah sang Raja Muda untuk bermain dadu. Singkat cerita, akibat kelicikan patih Sangkuni, maka habis sudah harta kekayaan Pandawa dipertaruhkan dan kalah. Akhirnya, para korawa memaksa agar Yudistira mempertaruhkan saudara-saudaranya serta Drupadi Sang Permaisuri. Dan ternyata juga kalah.

Dengan kekalahan itu, pandawa harus hidup di hutan kamiyaka selama 12 tahun diikuti oleh masa penyamaran selama 1 tahun. Apabila penyamarannya terbongkar sebelum waktunya, maka mereka harus mengasingkan diri lagi ke hutan selama 12 tahun dan menyamar lagi 1 tahun, demikian seterusnya. Alangkah berat penderitaan yang mereka alami. Dari berlimpah kemewahan sebagai anak raja, sekarang terlunta-lunta di tengah hutan belantara. Semua itu karena judi yang memang dilarang agama.

Belum lagi rasa malu yang diderita oleh Drupadi permaisuri pandawa, di tengah-tengah pertemuan kainnya di tarik untuk ditelanjangi serta rambutnya dijambak dengan kasar, sehingga panjang terurai. Untung saja ada keajaiban, dimana kambennya itu, seperti tak putus-putus, sehingga Sang Dursasana kelelahan. Lalu dengan marah Drupadi bersumpah, untuk mencuci rambutnya dengan darah dari Dursasana, dan apabila belum terlaksana, maka dia akan membiarkan rambut panjangnya terurai dan tak diikat.

Bima sangat marah dengan keadaan itu. Dia mengusulkan untuk menggempur dan melawan korawa yang sudah tega menipu dan menghina pandawa. Arjuna dengan tangan gemetar memegang erat gendewanya yang siap meluncurkan ribuan panah hanya dalam sekejap. Nakula dan Sadewa, si kembar anak dewi madrim, siap-siap dengan senjata di tangan, ingin bertarung sampai mati dengan Korawa yang licik. Namun Yudistira tetap tenang, dan meminta semua saudaranya, menjalankan keputusan yang telah di ambilnya. Semua dari mereka berteriak marah, dan mengingatkan Yudistira akan cara licik mereka dalam menipu dia saat bermain dadu. Namun Yudistira tetap teguh dalam pendirian untuk satya wacana atau setia terhadap janji yang telah terucap.

Yudistira lalu mohon diri kepada Widura, Sang Paman serta Ibu Kunti dan Dewi Madrim, yang tak henti-henti menangis melihat penderitaan dari para Pandawa. Walaupun menderita, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, tetap setia kepada kakak tertua, Sang Yudistira. Maka berangkatlah mereka menuju hutan kamiaka.

Banyak orang mengaku saudara ketika kita bahagia dan sejahtera. Namun tidak banyak yang datang ketika kita dirundung malang. Itu memang sudah menjadi cerita biasa dalam kehidupan. Namun Pandawa bukanlah orang kebanyakan. Mereka bertekad untuk tetap bersama di kala suka dan duka.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: