Tolak Kekerasan

”MY son, kita harus membuang karma keluarga yang selalu andalkan kekerasan. Memang susah, but harus,” kata Bima membuka perbincangan.

Ya, siang itu Bima sedang meregenerasi tiga keturunannya Gatotkaca, Antareja, dan Antasena menjadi tokoh Ngamarta yang bijaksana. Bima memerintahkan ketiganya belajar kehalusan budi ke Puntadewa.

Setelah copot alas kaki masing-masing, jalan pake dengkul, mereka mendekati Uwak Puntadewa yang umik-umik zikir di musala. ”Uwak, kami siap menerima pelajaran,” kata tiga putra Bima itu kompak.

”Pa kagak sale, daddy kalian kirim ente ke sini? Uwak kagak punye ape-ape,” ujar Puntadewa. Yang pasti Puntadewa menolak kekerasan apa pun bentuknya. Dan untuk menjadi tokoh panutan, harus menjauhi itu semua. Itulah wejangan terakhir Puntadewa. Lantas, tiga kesatria itu dikirim lewat mesin lorong waktu ke daerah penuh kekerasan. Mereka harus bisa menyelesaikan dengan dialog tanpa kekerasan.

Ketiganya sudah masuk tabung lorong waktu. Sementara di depan komputer, Puntadewa serius memasukkan kode-kode. Enter ditekan, claap, Gatotkaca clingukan di daerah asing. Desa bukan, dikatakan kota masih jauh. Kagak masuk akal daerah seperti ini ada konflik, pikir Gatotkaca.

”What?…jadi ni kekuasaan Genk NERO (neko-neko kroyok),” seru Gatotkaca kaget setelah tanya sana-sini. Dia lantas berubah jadi cewek. Tujuan pertamanya adalah boutique khusus cewek. Kumisnya yang mbaplang dikerok. Jarit wiron diganti rok mini yang pamerkan pahanya mulus. Wig cokelat disematkan dan nama Gatotkaca diubah menjadi Caca.

Ternyata ke-imut-an Caca bikin pemuda Pati klepek-klepek. Ngerasa tersaingi, salah satu anggota Nero minta bantuan sohibnya untuk menculik Caca. Di daerah sepi, Caca nurut digelandang. Di rumah sepi, Caca diinterogasi.

”Ca,.. kowe ki mateni pasaran, ngerti ora? Kemakine lho,” ujar salah satu cewek. Plaak, tamparan keras menghunjam pipi Caca. Anggota Nero kagak tau, mesin dilawan, ya mereka sendiri yang pringisan. Tangannya pada lecet-lecet merah.

Wuus, dari belakang tiba-tiba ada yang njambak. So, wig Caca lepas, O…O, kamu ketahuan. Muncullah kegantengan Gatotkaca.

”Hidup nih dah keras. But jangan gitu dong. Ilang deh kecantikan kalian,” sabda Gatotkaca. Cewek anggota nero malah sekarang ngrayu minta dijadikan girlfriend. ”Maaf saya not luv with girl without love,” ujar Gatotkaca dengan bahasa Inggris acakadul. Tapi, sabda itu membuat cewek-cewek Nero mulai menyadari bahwa belajar mencintai sesama lebih baik daripada main keroyok.

***

Di tempat lain, Antasena montang-manting dibawa mesin waktu. Plenyeek, Antasena tak sengaja menginjak cokelat di Stade de Geneve, Genewa, Swiss. Antasena berbaur di antara ribuan supporter Turki dan Republik Ceko di Euro 2008. Arda Turan meliuk-liuk membawa bola, tiba-tiba sebuah kaki keras mengganjal. Arda Turan pun kruntelan. Wajar dalam sepak bola, batin Antasena.

Giliran Jan Koller berhasil menghindari hadangan Nihat Kahveci. Tapi kaki Tuncay Sanli, bikin Koller mencium rumput. Bukan kekerasan, bisik Antasena.

Sampai-sampai mata Antasena dipelototkan, tapi tetap nihil. Wah, di sini tak ada kekerasan, gerutu Antasena. Tiba-tiba, pletak, sebuah kaleng minum nyasar di kepala bagian belakang Antasena. Antasena mbludak seketika dan menengok ke belakang.

Ampun, ternyata ribuan pendukung kedua kesebelasan saling adu jotos. Antasena keluarkan aji sembur air. Muncul ribuan Antasena mencoba untuk melerai. Memang keadaan sudah out of control. ”Semuanya diam, listen to me about football history, ok,” teriak Antasena.

Pencipta football dulu menciptakan untuk olah raga, alat pemersatu, dan–yang utama–me-raket-kan saduluran. Semuanya sontak diem, pelan tapi pasti mereka merangsek ke arah Antasena. Diawali sebuah tangan memegang lengan Antasena. Diikuti tangan kedua, ketiga sampai Antasena jadi bulan-bulanan, dipoteng-poteng untuk rebutan. ”Ini barang punya gue,” ujar mereka.

Antasena berteriak ketakutan. Gatotkaca dalam perjalanan pulang sempat mendengar dan turun membantu. Antasena di-goblok-goblok-kan Gatotkaca. Lha turun ke dunia, Antasena masih bentuk wayang kulit. Maka, dia pun jadi rebutan para suporter, dikira suvenir antik. ”Ni baru hebat, wayang bisa jadi sumber kerusuhan,” celetuk Antasena nyrenges.

***

Di tengah terik, Antareja terpaku memandang sebuah bangunan tinggi menjulang dengan emas di puncaknya, Tugu Monas. ”Sekarang ibu kota aman, lha wong polisinya sudah cepat bertindak. Tuh lihat sana,” jawab Gatotkaca waktu ditelepon Antareja.

Kaki Antareja lantas dilangkahkan ke Mapolda. Tak dinyana, Antareja berkenalan dengan seorang tahanan, Pollycarpus. Dari cerita, dia sampai jadi pesakitan gara-gara es cendol. Antareja melongo. Tapi es cendol yang dicampuri arsenik, bisik Pollycarpus.

Tapi tidak adil kalau hanya dia yang di sini, batin Antareja. Pollycarpus lantas menyebutkan beberapa nama. Tak tanggung-tanggung, nama yang diembel-embeli jabatan-jabatan penting negara ini.

Wajah Antareja menekuk dalam, ketakutan. Dengan handphone, di-SMS-nya: Uwak Puntadewa, saya tidak jadi tokoh saja. Sebab, kasus kekerasan ini keji dan terencana. Saya mengundurkan diri.

Puntadewa membacanya dengan kecewa. Sekarang ia berharap pada Gatotkaca si jago terbang dan Antasena si jago berenang. (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: