Tumpeng Koalisi

Rintik hujan yang jatuh siang itu membasahi dedaunan dan setiap jengkal tanah kediaman nan asri penuh warna bunga dan celoteh gelatik. Alirannya sampai mendinginkan saraf kepala setiap penggede partai Bintang Besar, partai pemenang pemilu, yang hadir di rumah Arjuna Malarangeng. ”Anyu..Boz..ben tuambah kuaat..kita rangkul partai yang mini perolehan suara, but uuoptimis puandanganne pegimane..?” celetuk Bagong. ”By the way, siapa tuch..nyang bagaimana, visi, misi, ketuanya sapa, au ah gelap…musmet,” jawab Arjuna Malarangeng pasrah.

Kresna yang sedari tadi cuek pun menganjurkan untuk safari menyambangi partai-partai lain. Apalagi setelah terjadi miskomunikasi yang berujung cerainya Presiden Bima dengan Wapres Kartamarma.

Dengan Jaguar, meluncurlah Arjuna Malarangeng ditemani Bagong. Jaguar diarahkan ke selatan Ngamarta City. Tiga puluh menit perjalanan, puluhan bendera lusuh Partai Ge er Indah dengan lambang kepala burung emprit terlihat di jalanan ke arah kediaman penggede ketuanya.

Ciiieet, Bagong yang pegang kemudi segera turun dan membukakan pintu untuk Arjuna Malarangeng. Setelah menapaki anak tangga, salam hangat sang ketua menyambut kedatangan mereka. ”What ever-lah, kita terkaya emang, tapi harus gimana lagi, cuma empat persen tok,” ujar sang ketua.

Arjuna Malarangeng hanya senyum-senyum. ”Padahal, program kami jelas dengan semangat emprit kita majukan pertanian, kelautan, dan pendidikan. Ternyata kita sekarang yang dibodohi masyarakat, hehehe, bukan mereka,” tambah sang ketua.

Senyum Arjuna Malarangeng semakin ditahan. Tapi, mulut sang ketua terus ngerocos tak berhenti dan anehnya semakin nyerocos. Tubuhnya tambah very strong. Suaranya berat seperti mengaum karena dia sesungguhnya sang Rama bargawa yang terkuat dan liar. Arjuna Malarangeng sontak kaget, njenggirat, lari. Bagong yang menunggu di pintu ditabraknya sehingga nggelundung menuruni anak tangga. Arjuna Malarangeng pegang kemudi dan plazz, ngebut. Di jok belakang, Bagong pringisan. Koalisi yang mau dibangun gagal. Arjuna Malarangeng membelah jalan Ngamarta City, kesetanan bak pembalap. Tikung-menikung ala slalom. Di jok belakang tubuh Bagong terpental-pental. ”Den..den..awas..rem..kunyuk minggir..ambil kanan..bozz..reeem…bejut dech,” teriak Bagong. Berhenti tepat di gapura rumah ketua partai ciplukan. Ciplukan yang akarnya mulai kecil, sulurnya meranggas, tapi daunnya masih agak sedikit kekuningan.

Bagong yang kadung emosi menggedok-gedok pintu tak aturan. Pak Kebon yang membukakan pintu malah dijadikan pelampiasan maki-makian. Hiruk-pikuknya suara di luaran menarik si Eboz Partai JK (Jenderal Karno)

keluar. Dia langsung disongsong Bagong dan kerah bajunya dicekiwing.

”Ente primen sich, lambene direm dong, tahu diri dong, kyeh pan rukun maning ora…?” serang Bagong. JK pertama sabar, dasar Bagong lambene

ndower. Dia terus menyerang dengan kata-kata pedas. JK pelan mendesis, matanya memerah. Dari tubuhnya keluar pusaka Kunta Wijayandanu. Sebuah cengkeraman kuat mengangkat tubuh Bagong. Dia dilempar kembali masuk Jaguar. Langkah berat JK mendekati Jaguar.

Dengan gigi gemurutukan, Arjuna Malarangeng menginjak pedal gas dalam-dalam. Gagal juga.

Dengan dua gelas es teh, di sebuah gerobak wedangan di tengah danau mereka beristirahat. Pembicaraan mereka tak lepas dari kejadian barusan. Mereka menyusun rencana untuk mendekati partai ketiga, Partai Martabak Sejahtera.

Menurut Bagong, itu menarik karena pasti banyak makanan di sana. Jaguar pun mereka rentas ke sana. Memasuki kota tujuan, bau wangi masakan sudah meracuni hidung keduanya. Perut Bagong keroncongan, sementara lidah blingsatan. Hidangan martabak hangat beraneka rasa terhidang di meja rumah Ketua Partai Martabak Sejahtera. ”Nyaam..nyaam uenak bozz..klo gini sich kuline isi,” celoteh Bagong sembari menepuk perut. ”Yah..sebenarnya kita kan sodara, gak baik kalau jalan sendiri-sendiri, sepi,” tambah Arjuna Malarangeng. Si bos Partai Martabak Sejahtera mendengarkan seksama dan sesekali beringsut dari tempat duduk. Bagong coba memberi tahu Arjuna bahwa ketua partai itu adalah Eyang Abiyasa. Dengan sinyal kedip, mata Bagong coba memberi tahu Arjuna Malarangeng agar cepat tanggap, Jaguar digenjot abis. Di sebuah perempatan, Bagong berusaha mengendalikan setir dan menginjak rem abis.

Di tengah jalan, tiba-tiba muncul MegaSuprabaWati, dengan berkacak pinggang menantang Arjuna Malarangeng agar menyampaikan kepada Presiden Bima untuk bertemu di pemilihan presiden bulan depan. Arjuna Malarangeng

bertambah shock dan gelap mata, tubuh berupa bayangan MegaSuprabaWati tanpa ampun diterabasnya. Sampai di depan rumah, Arjuna Malarangeng judeg, kenapa koalisi kok kayak keluarga besar mau bagi-bagi tumpeng. Arjuna sampai rumah, dengan kesetanan dia gedog-gedog pintu. Drupadi yang membukakan pintu berteriak kaget karena di depannya berdiri sosok yang dipenuhi rambut di tangan dan kaki. Mata memerah dan mulut selebar lapangan. Sementara itu, Arjuna entah raib ke mana. (*)

Oleh : Ki Slamet Gundono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: