Usaha Perdamaian

Seperti yang telah dikisahkan sebelumnya, bahwa Pendita dari Negeri Pancala telah dikirim ke Hastinapura untuk membawa pesan perdamaian dari Pandawa. Pendita utusan raja Drupada itu tiba di istana Raja Drestarastra dan diterima dengan upacara penghormatan.

Setelah memperkenalkan diri, Pendita itu berkata, “Drestarastra dan Pandu adalah putra Wicitrawirya. Menurut tradisi, keduanya berhak mewarisi harta peninggalan ayah mereka. Berlawanan dengan kelaziman ini, putra-putra Drestarastra menyatakan bahwa seluruh kerajaan Hastina adalah hak mereka. Putra-putra Pandu dinyatakan tidak memiliki warisan apa-apa. Hal ini tidaklah adil”.

Kemudian Pendita itu melanjutan, “Wahai keturunan bangsa Kuru yang saya muliakan, Pandawa menginginkan perdamaian. Mereka bersedia melupakan semua penderitaan yang mereka alami selama di pengasingan. Mereka tidak menghendaki peperangan sebab mereka sadar bahwa peperangan tidak akan membawa kebaikan, melainkan hanya kemusnahan. Karena itu, berikanlah apa yang patut mereka miliki”.

Tiba-tiba saja Karna menyela, “Wahai Brahmana, apakah yang kau katakan itu adalah sesuatu yang baru ? Tak ada gunanya mengulang cerita lama. Yudhistira tak berhak menuntut miliknya yang sudah dipertaruhkannya di meja judi, karena ia kalah. Kalau ia masih ingin memiliki bagian dari kerajaannya, dia harus memintanya sebagai pemberian.

Tetapi nyatanya, dengan sombong ia menuntut sesuatu yang bukan haknya sebab ia merasa kuat berkat dukungan sekutu-sekutunya, terutama dati Matsya dan Pancala. Baiknya aku jelaskan di sini bahwa tidak sesuatu apapun akan diperolehnya dari Duryodhana karena telah terbukti dalam tahun ke tigabelas seharusnya Pandawa bersembunyi sebaik-baiknya. Jangan sampai keberadaan mereka diketahui. Tetapi, nyatanya mereka ketahuan sebelum bulan keduabelas dari tahun ketigabelas berakhir. Menurut perjanjian seharusnya mereka menjalani pengasingan lagi selama dua belas tahun”.

Bisma yang bijaksana berkata, “Karna, jangan engkau berkata demikian. Kalau kita tidak mendengarkan pesan yang disampaikan utusan itu, perang akan pecah. Ketahuilah, kita pasti kalah dan musnah”.

Raja Drestarastra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, kemudian berdiri dan dengan dituntun oleh Sanjaya, pembantu dan penasehat setianya, ia naik ke mimbar dan berkata, “Demi keselamatan kita semua dan kesejahteraan Pandawa, aku putuskan untuk mengirim Sanjaya berunding dengan Pandawa. Pulanglah wahai sang duta. Sampaikan hal ini kepada Yudhistira”.

Kemudian Drestarastra memberikan pesan-pesan kepada Sanjaya, “Pergilah menemui putra-putra Pandu. Sampaikan salam kasihku kepada mereka dan salam hormatku kepada Kresna, Setyaki dan Wirata. Pergilah atas namaku dan berundinglah dalam suasana kekeluargaan untuk menghindari peperangan”.

Maka berangkatlah Sanjaya ke Upaplawya dengan membawa pesan perdamaian. Dalam pertemuan khusus yang diadakan untuk menyambut kedatangannya, Sanjaya berkata singkat, “Dharmaputra, merupakan kebahagiaan dan kehormatan bagiku mendapat kesempatan untuk bertemu dengan putra-putra Pandu. Engkau dikelilingi sanak saudara dan sahabat-sahabatmu. Itu membuatku merasa lega. Raja Drestarastra mengutusku untuk menyampaikan salam kasih dan doa restunya bagimu. Ia tidak menginginkan perang. Ia menginginkan persaudaraan, persahabatan dan perdamianan dengan Pandawa”.

Mendengar kata-kata Sanjaya, dengan senang hati Yudhistira menjawab, “Kalau memang demikian, berarti putra-putra Drestarastra telah sadar. Kita semua bisa tenang. Kalau kerajaan kami dikembalikan, kami bersedia melupakan segala perselisihan kita dan kepahitan yang kami alami di masa lalu”.

Sanjaya berkata lagi, “Yudhistira, janganlah berharap bahwa putra-putra Drestarastra akan sadar. Mereka tidak seperti yang kau bayangkan. Mereka tetap menentang ayah mereka dan menginginkan perang. Tetapi kuharap engkau tidak kehilangan kesabaran. Yudhistira, engkau selalu bertindak adil dan jujur serta bersikap tegas dalam menjunjung kebenaran.

Mari kita hindari peperangan. Pandawa mungkin mampu menaklukkan dunia tanpa batas. Tetapi apa gunanya memiliki kerajaan dengan jalan membunuh sanak kerabat sendiri ? Duryodhana dan saudara-saudaranya memang jahat dan serakah, tetapi janganlah sampai engkau terbawa nafsu dan hilang kesabaran. Walaupun mereka tidak mau mengembalikan kerajaanmu, janganlah engkau tinggalkan jalan kemuliaan”.

Yudhistira menjawab, “Sanjaya, apa yang engkau katakan itu benar. Memegang kebenaran adalah harta terbaik. Tapi, bukankah kami tidak melakukan kejahatan ? Kresna tahu akan hakikat kebenaran. Ia pasti mengharapkan kita, kedua belah pihak, selamat dan sentosa. Aku akan minta pendapatnya”.

Kresna lalu berkata, “Aku menginginkan kesejahteraan bagi Pandawa. Aku juga mengharapkan Drestarastra dan putra-putranya bahagia. Ini sulit. Aku pikir, mungkin aku bisa menyelesaikan masalah ini dengan pergi sendiri ke Hastinapura. Kalau kita bisa mencapai persetujuan yang tidak merugikan Pandawa, aku senang. Kalau aku berhasil berbuat demikian, berarti Kurawa dapat diselamatkan dari kemusnahan. Kalau dengan jalan perdamaian Pandawa bisa memperoleh apa yang mereka kehendaki, mereka akan tetap menaruh hormat kepada Drestarastra. Tetapi kalau perang tak dapat dihindari, Pandawa siap menghadapinya. Dari dua kemungkinan ini, silahkan Drestarastra memilih. Perang atau damai. Damai atau perang”.

Akhirnya Yudhistira berkata kepada utusan Raja Drestarastra, “Wahai Sanjaya, kembalilah ke Hastinapura dan sampaikan pesanku ini kepada Paman Drestarastra”.
“Bukankah berkat ketulusan hati Paman, kami memperoleh sebagian wilayah kerajaan sebagai warisan ketika kami masih muda ? Paman pernah menjadikan aku sebagai raja dan Paman seharusnya mengakui hak kami sebagai pewaris yang sah. Paman seharusnya tidak mengusir kami, hingga kami terpaksa hidup seperti pengemis yang menggantungkan nasib pada belas kasihan orang. Paman yang kami hormati, sesungguhnya kerajaan kita cukup luas untuk dibagi dua. Karena itu, mari hindari permusuhan di antara kita”.

“Demikian hendaknya engkau sampaikan pesanku kepada Raja Drestarastra. Sampaikan salam hormat dan kasihku kepada kakek Bisma dan mohon restunya agar semua cucunya hidup bahagia dan bersatu, tanpa permusuhan. Salam juga untuk Widura. Ia adalah orang yang paling bisa melihat dengan lurus dan dapat memberi nasehat dengan adil”.

Kemudian Yudhistira melanjutkan lagi, “Tolong sampaikan pesanku ini kepada Duryodhana”
“Saudaraku tercinta, engkau telah menyebabkan kami, putra-putra pamanmu, hidup mengembara di hutan dan mengenakan pakaian kulit kayu. Engkau menghina dan menyeret istri kami di depan orang banyak. Kami terima semua itu dengan sabar. Kini, kembalikan milik kami yang sah. Kami ini berlima, setidak-tidaknya kembalikan lima desa kepada kami. Dan marilah kita berdamai. Sambutlah uluran tangan kami dengan hati yang ikhlas”.

“Ya, Sanjaya, sampaikan ini kepada Duryodhana. Kami siap menempuh jalan damai, tapi jika Kurawa menghendaki, kamipun siap menempuh jalan perang”.

Demikianlah, Sanjaya kembali ke Hastinapura dengan membawa pesan penting untuk Drestarastra dan Duryodhana.

*lanjutan dongeng seri Mahabharata, sumber dari “Mahabharata” oleh Nyoman S. Pendit*

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: