Wisanggeni Mbelani Bonek

SIDANG Kabinet Dewa-Dewi Jilid 2. Batara Bayu, presdirnya angin, terus-terusan merengut. Kata orang zaman sekarang, dia bete. Lha bagaimana tidak bete to, ndak ikut makan nangkanya tapi ujuk-ujuk kena pulut atau getahnya. Nangkanya adalah proyek pembuatan roket yang diuji-coba di kawasan Lumajang, Jawa Timur.

Seingat Mas Bayu, sepeser pun dia ndak dapat duit dari proyek tersebut. Baik fulus itu disambut melalui istri, anak maupun sanak-familinya. Ndak ada. Lalu rampunglah proyek. Roket yang diuji tiba-tiba ndak ke sasaran. Keluyuran sak karepe dewe. Roket menggempur gubuk warga. Akibatnya penghuninya luka bakar serius bahkan kakinya harus diamputasi…dan seterusnya…

Eh, yang disalahkan angin.

”Coba, Cak Bayu, Sampeyan eling-eling,” celetuk Gareng yang jadi pramusaji di sidang kabinet. ”Ojir cash mungkin Sampeyan ndak kecipratan dari proyek ini. Tapi siapa tahu Sampeyan pernah ditraktir makan di Bromo, Tretes atau lontong balap nduk Gubeng?”

Kepala Mas Bayu gedek-gedek tanda tak sekalipun dia pernah dapat ”pembekalan” dari proyek roket tersebut. ”O, pernah, pernah. Pernah aku diajak cangkruk nduk Pasar Atom. Makan sate. Tapi aku mbayar dewe, Rek…”

Petruk yang mendampingi Gareng sebagai pramusaji sidang kabinet menekan-nekan handphone-nya. Setelah tersambung dengan istri Bayu, HP diberikan kepada Bayu. Dewa angin ini diminta ngomong langsung ke istrinya.

Kontan istri Mas Bayu naik pitam. Terima duit bagaimana? Kalau dia dapat duit ceperan dari proyek ini, buat apa dia beli alat-alat dapur yang murah-murah dari Cino? Panci, ember, baskom, ceret yang murah meriah bikinan Tiongkok?

”Aduh Caaaaak Cak, suamiku, Mas Bayu…Siapa yang tidak ingin tetulung tetangga dan konco-konco sendiri sak Nusantara yang bikin alat-alat dapur itu. Kang Sardi dari Ngawi itu bagus ceret dan baskomnya. Matrawi asal Tuban itu apik ember-e. Tapi Sampeyan ndak jegos cari duit. Kita mampunya beli yang murah. Lha yang murah-murah itu gaweannya Cino. Celana dalem Sampeyan itu juga bikinan Cino.”

Batara Guru yang memimpin sidang Kabinet Dewa-Dewi Bersatu Jilid 2 mengusir pramusaji Gareng dan Petruk. Dua panakawan yang berdasi kupu-kupu ini dianggap mengganggu konsentrasi bos Departemen Angin-anginan. Tapi, setelah Gareng dan Petruk pergi pun, bos departemen itu juga tak kunjung bisa berkonsentrasi.

Batara Guru kembali menegur Bayu.

”Ya ampun mau konsentrasi bagaimana, Pak Guru?” protes Bayu. ”Wong jajaran dan anak buah saya dari direktorat hairdryer , tambal ban sampai direktorat masuk angin, tidak diajak rembukan apa-apa dalam persiapan uji coba peluncuran roket…Giliran roket mengorbankan Muhammad Nuran dan Tiamah…Ujug-ujug angin disalahkan…Saaaaaakit hati saya, Pak Guru, sakiiiit…”

***

Sidang Kabinet Dewa-Dewi itu sedianya akan membahas rencana pemimpin sidang, Batara Guru, untuk menerbitkan album musik ketiga berjudul Ku Yakin Sampai di Sini Saja. Dewa Pencabut Nyawa, Yamadipati, keberatan. Judul album itu tampak pesimistis. Emangnya setelah kasus Century diungkap maka selesailah sudah kepemimpinan Batara Guru? Kok beliau cuma, ”Ku Yakin Sampai di Sini Saja”?

Batara Indra yang menguasai kesenian sependapat dengan sang Dewa Maut. Menurut bos Departemen Kesenian dan Jalan-Jalan (pariwisata) itu mestinya kita semua optimistis. Kalau cuma ”Ku Yakin Sampai di Sini Saja” berarti Batara Guru keder. Dia ketar-ketir pemakzulan bisa melengserkan kekuasaannya di tengah jalan. Jangan! Harus optimistis! Mestinya judul album berisi sembilan lagu tersebut adalah Ku Yakin Sampai di Sana.

Batara Brama yang menguasai api tampak kurang puas. Kata bos Departemen si Jago Merah itu Kabinet Dewa-Dewi terlalu menjiplak judul album SBY di Nusantara, Ku Yakin Sampai di Sana.

”Kita Dewa-Dewi hendaknya tidak main contek dan main jiplak. Karena di sini tidak ada Ujian Nasional yang diem-diem mengharuskan kita main contek untuk mengejar kelulusan… Kita harus kasih contoh yang baik. Bukan saja di sini tidak ada Ujian Nasional, tapi di sini juga harus ada teladan kreativitas. “Ku Yakin” itu bagi saya masih ragu-ragu. Kurang tuntas seperti cara dan sifat api kalau melaksanakan tugas. Api itu rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Bagaimana kalau judulnya jadi, Ku Haqqul Yakin Sampai di Sana!!!”

Kabinet Dewa-Dewi gemuruh bertepuk tangan.

”Judulnya lengkap pakai tiga tanda seru?” tanya Dewa Asmara, Kamajaya.

”Ya!” seru Batara Brama sambil berdiri dan mengepalkan tangannya. Wah, bahana tepuk tangan amboto rubuh kembali memadati graha sidang tersebut. Kecuali Batara Bayu. Ketika Bagong lewat mengeluarkan pisang goreng, Bayu berbisik, ”Batara Brama hepi banget karena tidak dijadikan kambing hitam kecelakaan uji-coba roket. Padahal korbannya kan terbakar. Kena api. Melepuh. Kenapa api tidak disalahkan. Kenapa kok cuma angin.”

Bagong yang juga berdasi kupu-kupu mirip Gareng-Petruk kasih kode, agar Mas Bayu bilang sendiri unek-uneknya di forum. Masa dewa kok beraninya ngomong di belakang.

Akhirnya, setelah diam sekitar setengah hari, Batara Guru angkat bicara dalam sidang Dewa-Dewi.

”Saya usul, agar budaya saling menyalahkan kita hapus. Kita harus bertanggung jawab untuk mencari kesalahan pada diri sendiri. Reffrain lagu Ku Yakin Sampai di Sini Saja harus memperhati…”

”Hoooi…Judul sudah diganti Ku Haqqul Yakin Sampai di Sana… Kamu tadi ikut rapat atau ngalamun?” teriak Sekjen Dewa-Dewi Batara Narada.

Bayu: ”Ya, reffrain lagu Ku Haqqul Yakin Sampai di Sana… jangan diambil dari lagu rakyat Buto-buto galak solahmu lunjak-lunjak…Karena melalui folksong itu sejak kanak-kanak kita diajari untuk menyalahkan orang lain. Dengar… lha wong kowe we we sing marah marahi…Bukankah itu ajaran moral pada kita untuk selalu menyalahkan pihak lain. Kalau anak kecil jatuh, yang kita pukul lantai atau kodok…Selalu yang salah pihak lain.

Makanya, lewat lagu Ku Haqqul Yakin Sampai di Sana, kita-kita yang di kahyangan ini harus kasih teladan kepada manusia di mayapada. Akar budaya tidak seluruhnya baik. Tembang dolanan Buto-buto Galak termasuk yang tidak baik untuk disitir dalam album. Jangan saling lempar kesalahan. Jika kasus Century terjadi di kahyangan, kita harus kasih contoh bahwa yang tanggung salah adalah pemimpin puncak: Batara Guru.

Bagong secara goblok-goblokan nyeletuk, ”Setujuuu. Misalnya Batara Guru itu kepala sekolah, masak duit keluar masuk bendahara sekolah, kepala sekolah ndak tahu!?”

***

Sebetulnya Bayu mangkel ke Brama juga karena hal lain. Waktu putri jelita Brama, Dewi Dresonolo, dinikahi oleh Arjuna dan sudah hamil, eh Brama masih ngasih juga Dresonolo ketika dilamar oleh Batari Durga. Durga melamar Dresonolo untuk dinikahi oleh anak Durga, Dewasrani.

Ketika bayi Arjuna lahir, bayi dibuang ke kawah Candradimuka. Anehnya bayi itu tidak mati, malah tumbuh jadi ksatria yang sakti di Kahyangan Duksinageni. Orangnya sederhana. Ndak gablek duit. Lebih compang-camping dibanding bonek. Ke mana-mana praktis cuma pakai celana dalam. Ia ceplas-ceplos, ngoko pada siapa pun dan mokong. Namanya Wisanggeni. Tapi kepiawaiannya bicara sangat tinggi, bahkan Kresna saja, yang punya senjata pamungkas Cakra, tunduk, diam dan takut kalau sudah berhadapan dengan Wisanggeni.

Kini Wisanggeni, ksatria kesayangan sang Hyang Wenang, sudah bicara di hadapan seluruh penguasa dunia yang tertunduk. Di belakang ksatria yang suaranya tinggi dan serak-serak seperti bocah kebanyakan main itu adalah punakawan dan ribuan bonek.

”Kenapa kalau bonek yang bikin salah kok mereka yang dihukum tidak boleh jadi supporter 4 tahun lamanya? Kenapa kesalahan tidak ditimpakan ke orang lain? Angin disalahkan dalam peluncuran roket? Menteri keuangan dan gubernur Bank Indonesia yang disalahkan dalam kasus Century. Lha kesalahan rajanya dikemanakan?”

”Ben adil, sama-sama lempar kesalahan, kenapa dalam perkoro bonek ini ndak Sampeyan salahno Bung Tomo dan arek-arek Suroboyo tahun 1945. Merekalah yang mengajari pentingnya nekad sebagai bondo, sebagai modal… Ariawiraraja dan Raden Wijaya juga gitu ndisik pas awal-awal Majapapit nduk Jawa Timur. Bondo nekad.”

”Sekarang pilih mana: bonek diizinkan menyaksikan pertandingan bola di mana pun atau saya cangking ribuan bonek ini untuk menyaksikan pertandingan partai-partai dalam memutuskan kesimpulan akhir hasil kerja Pansus Century awal Maret di ibu kota!!!???” (*)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: