Bima Menikah dengan Nagagini

Pada waktu itu di Sapatapratala atau bumi lapis yang ketujuh Hyang Antaboga sedang duduk dihadap oleh putrinya yang bernama Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini melapor kepada ayahandanya bahwa tadi malam ia bermimpi bertemu dengan satria besar tinggi berwajah tampan dan berkulit kuning bernama Raden Bratasena. Ia minta dicarikan satria tersebut sampai dapat. Hyang antaboga menyanggupi dan Iapun segera berangkat.

Pada waktu itu Pandawa masih mengikuti binatang garangan putih yang menjadi penunjuk jalan Pandawa. Akan tetapi Binatang garangan itu berlari kencang dan tiba-tiba hilang.
Pandawa kebingungan dan berhenti berjalan untuk sementara sambil memikirkan jalan keluar.
Tiba-tiba tampak didepan mereka Dewa Hyang Antaboga.

Setelah mereka berkenalan mereka dipersilahkan turun ke Saptapratala.

Pandawa dijamu oleh Hyang Antaboga dan diperkenalkan kepada putri Hyang Antaboga yaitu Dewi Nagagini.

Hyang Antaboga berterus terang ingin menjodohkan anaknya Dewi Nagagini dengan Bratasena.
Raden Bratasena menyatakan bersedia, maka dinikahkanlah Bratasena dengan Dewi Nagagini.
Kedua Pengantin ini hidup rukun. Kelak mereka akan dianugerahi seorang putera bernama Raden Antareja.

Pada saat Malam pengantin, pada saat Raden Bratasena dan Dewi Nagagini berada di kamar pengantin yang disebut “Pasamiran” cara Bratasena merayu istrinya lain daripada yang lain. Istrinya yang bertubuh kecil sangat cantik itu diontang-antingkan seperti barang akan dilempar.
Inang pengasuh Dewi Nagagini yang melihat kejadian ini segera melapor kepada Hyang Antaboga.

Hyang Antaboga terkejut, tidak mengira kalau Raden Bratasena berperangai kasar kepada istrinya dan segera merubah dirinya menjadi ular naga dan memasuki kamar “Pasamiran”, Namun disana dia mendapatkan anaknya Dewi Nagagini sedang dipangku dengan mesranya oleh Suaminya.

Dewi Nagagini yang tahu bahwa ular naga itu adalah ayahnya bertanya mengapa ayahnya memasuki pasamiran. Ular naga itu menjelaskan tentang laporan yang diterimanya dari inang pengasuh Dewi Nagagini.

Dewi Nagagini dengan tersipu-sipu menjelaskan bahwa ia merasa nikmat sekali diayun-ayun oleh suaminya dengan cara diontang-antingkan itu.

Dewa Hyang Antaboga yang sangat menyayangi anaknya itupun akhirnya mundur dan merubah rupa kembali menjadi manusia. Ia mengelus dada dan tersenyum memikirkan ulah anak-anak muda jaman sekarang.

Setelah beberapa waktu tinggal di Saptapratala, Dewi Kunti dan putra-putranya meminta diri. Hyang Antaboga mengijinkan.

Rombongan Pandawa dan Punakawan Semar Gareng Petruk dan Bagong itu segera kembali ke permukaan bumi melalui sumur Jalatunda.


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: