Kalanjaya Kalantaka melawan Pandawa

Sementara itu di Astina Kalanjaya dan Kalantaka sedang sibuk melatih pasukan perang Kurawa di Astina. Di otak merka hanya ada satu tujuan…musnahkan Pandawa secepatnya. Mereka berdua didampingi oleh dua orang adik Prabu Suyudana sang pemegang tahta kerajaan, yang bernama Adityakethu dan Bunawala. Dua orang Kurawa yang saat itu sedang naik daun karena kemahirannya mengatur siasat perang.

Kalanjaya mendengar yang mendengar kabar samar-samar tentang kematian Sadewa di Setra Gandamayu ingin membicarakan hal itu kepada Kalantaka adiknya.

“Adikku Kalantakan… aku mendengar dari kabar-kabar yang sampai disini bahwa Sadewa anak terakhir Pandu saudara Kembar Nakula telah mati dimakan raksasa”

“Hmm bagaimana hal itu bisa terjadi kakang.?” tanya adiknya Kalantaka

“Akupun tidak tahu pasti, yang aku dengar adalah Dewi Kunti Ibu para pendawa, datang ke hutan Setra Gandamayu untuk meminta bantuan kepada Raksasa yang menguasai hutan itu untuk menumpas kita berdua, namun Dewi Kunti pulang dengan setengah gila dan Sadewa diminta oleh Raksasa itu sebagai Wadal… ha ha ha ha ha…”

“Kakang kita perlu waspada agar kalau benar Raksasa itu membantu Dewi Kunti maka kita harus bersiap-siap..” Berkata Kalantaka

“Takut apa kau Kalantaka… kita berdua juga raksasa…apalagi kita berdua apakah kita takut menghadapi satu raksasa?..” Berkata Kalanjaya dengan pongahnya.

“Ya.. ya..ya ..kita tidak perlu takut., apa lagai Kurawa dan orang-orang sakti di Astina ada di pihak kita…” Kalantaka menimpali.

“Adikku Kalantaka, aku pernah mendengar bahwa Pandawa pernah bersumpah setia bahwa kalau ada salah satu saudara mereka diantara mereka berlima yang mati maka yang lain akan segera menyusul mati. Karena pantang bagi Pandawa yang lain untuk hidup kalau saudaranya mati” Kalanjaya mengatakan apa yang diketahuinya kepada adiknya

“Aku juga mendengar bahwa Nakula sekarang sedang melakukan hal itu.. dia tidak ingin hidup kalau saudaranya Sadewa telah mati.. dia sekarang kuburnya mencari mayatnya Sadewa kalau ada…”

“Wah itu berarti diapun mengantarkan nyawanya kepada Raksasa itu Kakang..”

“Betul sekali… adinda..Kita anggap saja si Nakula itu sudah mati..jadi sekarang tinggal tiga orang” Kalanjaya berkata dengan serius seperti sedang memikirkan sebuah rencana.

“Kekuatan mereka sekarang sedang lemah kakang.. karena tentu mereka sedang sedih atau bingung karena kehilangan Nakula dan Sadewa…”

“Kalau kita serang Bima, Arjuna dan Yudistira terus menerus pada saat ini pastilah mereka tidak akan dapat bertahan” Kalantakan mengemukana sebuah usul..

“Ya.. ya kau benar… Apalagi Yudistira itu… tidak pernah terdengar kabar sedikitpun kalau dia itu seorang yang pandai bertarung atau berperang..Pekerjaannya hanya mempelajari kitab Weda…jadi musuh kita sekarang tinggal dua orang Bima dan Arjuna..” Sahut Kalanjaya.

“Kita berdua menghadapi mereka berdua pastilah seimbang…apalagi kalau dikeroyok oleh bala tentara Kurawa pasti akan cepat selesai tugas kita…kita sudah ditolah oleh Suralaya dan tidak mungkin bisa kembali kesana oleh karenanya kita enak-enakkan hidup kita disini” Berkata Kalantaka, entah kata yang mana yang diucapkan oleh Kalantaka itu tiba tiba menyebabkan muka Kalanjaya menjadi murung.

“Baiklah… kita serang mereka… lebih baik kalau si Arjuna itu kita bereskan dulu..baru kalau dia sudah tumpas… kita kalahkan si Bima itu berdua.. dan setelah itu tinggal masalah gampang mengalahkan Yudistira yang tidak ada apa-apanya itu.” Kalanjaya berkata dengan tegas menutupi kesedihan hatinya.

“Apabila benar bahwa Pandawa tidak mau hidup lagi apabila salah seorang dari mereka itu telah mati, maka akan sangat memudahkan kita untuk menumpas orang yang ingin bunuh diri Kakang. Namun menurutku ada baiknya kita tidak terburu-buru melakukan penyerangan… kita harus menyelidiki dulu kebenaran kabar kematian Sadewa… apakah benar ia sudah mati atau masih hidup.. kemudian Nakula…” Kalantaka berusaha bertindak hati hati dan tidak gegabah memberi usul pada kakaknya.

” Menurutku mereka adalah satria-satria yang dikasihi oleh para Dewa, rasanya mustahil kalau mereka begitu mudahnya mati…” Berkata Kalantaka yang memang lebih waspada dan cerdik dari pada kakaknya.

” Ahhh kau jangan membuang waktu lagi…apabila kita menyelediki terlebih dahulu..maka kita kehilangan kesempatan untuk menumpas ketiga Pandawa yang lain…Pasti merekapun sekarang juga sedang menyelidiki kepastian itu, dan hati merekapun sedang diliputi keraguan dan kesedihan. Hal itu tidak akan berlangsung lama karena kalau mereka tahu bahwa ternyata adik mereka tidak mati maka mereka akan kuat lagi.!..”

“Lebih baik kita sekarang mempersiapkan segenap pasukan sekuat-kuatnya, untuk segera menyerang dan menyergap mereka serta menyerbu dan memporak-porandakan semua Pandawa itu.”..

“Prabu Suyudana pasti senang dengan rencana kita ini.. karena beliau juga pasti sudah tidak sabar akan hal ini…atau malah sebaiknya kita tidak usah memberi tahu Prabu Suyudana akan hal ini sehingga bila kita menang kita bisa memberi kabar gembira kepada paduka. Pasti kasihnya kepada kita akan bertambah-tambah”

Berkata Kalanjaya berturut-turut tanpa meberi kesempatan adiknya untuk berbicara.

“Baiklah Kakang… kita langsung saja menyerbu ke Indraprasta..”

Sesaat kemudian tampaklah Kalanjaya, Kalantaka, Aditya Kethu dan Bunawala berbisik-bisik serius tanpa ada yang dapat mendengar apalagi mengetahui apa yang sedang dibicarakan. Setelah mereka selesai berbicara.. Aditya Kethu dan Bunawala bangkit dengan mata yang menyala-nyala.. segera mempersiapkan barisan tentara Kurawa untuk segera berbaris menuju ke Indraprasta.

***

Sebentar saja pasukan Kurawa yang terdiri dari ribuan prajurit telah berjajar rapi membentuk barisan panjang dan siap diberangkatkan berjalan kaki ke Indraprasta dan tinggal menunggu aba-aba dari pimpinan mereka.

Ketika mereka mulai bergerak, tak ayal lagi derap langkah mereka terdengar siapa saja yang sedang berpapasan jalan dengan pasukan itu. Beberapa orang yang tinggal di Astina sebenarnya lebih memihak ke Pandawa dari pada ke Suyudana, namun karena mereka telah lama tinggal disitu mereka berdiam diri saja dan berpura-pura membela Prabu Suyudana yang mendapatkan tahta kerajaan dengan cara yang licik dan memaksa kepada ayahnya.

Beberapa orang yang setia kepada Pandawa itu segera bertindak menyuruh anaknya atau siapa saja yang dapat dipercaya untuk segera mendahului tentara itu memberi kabar berita secepatnya ke Istana Indraprasta.

Beberapa diantara rakyat yang setia itu menggunakan kuda pinjaman untuk memacu diri secepat-cepatnya ke pinggiran Indraprasta..dan dipinggiran kerajaan Indraprasta orang-orang yang masih setia itu segera mendatangi rumah telik sandi kerajaan Indraprasta yang rumahnya memang sengaja tinggal didaerah pinggiran kerajaan Indraprasta… dan akhirnya.. Yudistira mendengar kabar penting itu.. bahwa Kalanjaya dan Kalantaka sedang menuju ke Istana Indraprasta segera menyerbu kerajaannya.

Yudistira atau Puntadewa atau Samiaji segera memanggil kedua adiknya..untuk berunding dan membicarakan hal yang penting tersebut.

“Adikku Arjuna dan Bima, apa yang harus kita perbuat kini.. tentu kalian telah mendengar tentang Kalanjaya dan Kalantaka seperti yang dicemaskan oleh ibunda kita, dan sekarang hal itu benar-benar terjadi bahwa Kedua raksasa itu akan menyerang kita..” Terdengar suara Yudistira yang halus namun penuh kekhawatiran.

“Jangan takut kakanda prabu…biar aku yang menghadapi mereka sendiri ..aku tidak takut sedikitpun walaupun dikeroyok oleh mereka berdua..” Sahut Bima dengan gagahnya…tanpa terdengar rasa takut sedikitpun.

Memang Bima dari sejak kecil telah menjadi seorang yang gagah berani.. telah banyak peristiwa yang dilalui oleh Bima dan peristiwa peristiwa itu menjadikannya manusia yang kuat perkasa dan sakti mandraguna. Arjuna hanya tersenyum saja menyaksikan Kakaknya yang tinggi besar itu.

“Bima adikku ..jangan tergesa-gesa menuruti amarahmu kepada Kurawa…..Dinda, menurutku sebaiknya Adinda Arjuna yang maju terlebih dahulu untuk mengukur seberapa besar kekuatan mereka… setelah itu barulah engkau boleh maju …” Ujar Yudhistira dengan suara tetap lembut.

Bima tidak menjawab namun ia mengangguk-anggukkan kepala dan mengelus jenggotnya yang tebal..

“Ya Kakang biarlah aku maju dulu…nanti kakang akan tahu sendiri kapan saat yang tepat untuk maju…” Kata Arjuna.

“Sekalian Kakanda Prabu .. aku mohon diri dan restu untuk menghadapi kedua raksasa itu…”

“Ya.. ya bersiaplah segera jangan membuang waktu lagi… dan Kau Bima siapkanlah pasukan Indraprasta secepat mungkin untuk menjaga segala kemungkinan yang akan terjadi mengingat kita tidak mengenal lawan kita kali ini…”

Arjuna segera bangkit berdiri dan menuju kearah tempat dimana kereta perangnya diletakkan. Dia memberi petunjuk kepada pegawai istana yang mengurusi kereta perang agar mempersiapkan kuda dan persiapan senjatanya. Setelah selesai memberi petunjuk Arjuna masuk kedalam hendak memohon restu pada Ibunya, Dewi Kunti.

Dewi Kunti memberi restu sambil menangis..benar-benar mengharukan..peristiwa itu sungguh sangat terlihat cinta seorang Ibu yang akan kehilangan anaknya…
Setelah Sadewa.. Kemudian Nakula sekarang Arjuna…nanti Bima dan akhirnya Yudistira… seolah Dewa telah mengurutkan kehilangan anak-anaknya dari yang termuda ke yang paling tua…oh ibu mana yang tidak sedih menghadapi peristiwa semacam ini…Matanya menjadi buram saat dilihatnya anaknya yang tampan si Permadi itu melangkah tegap .. memeluk isteri dan anak-anaknya kemudia berjalan pasti menuju kereta perang…. dalam hitungan singkat ia telah siap berada di belakang kendali keretanya dan terdengar ringkikan suara kuda yang seperti mengajak secepatnya menghadang kedua musuh besar itu..

Dengan hilangnya pandangan Dewi Kunti dari Kereta Arjuna.. para menantunya bergantian menghiburnya.. Drupadi yang cantik dengan rambut yang selalu terurai.., Arimbi yang sedang menggandeng anak Bima si Gatotkaca.. dan Srikandi yang sejak tadi menggandeng tangannya .. dapat dirasakan kesedihan menantunya itu.. namun ia pantang menangis karena Srikandi adalah seorang Satria wanita.

Sepeninggal Arjuna Bima memerintahkan beberapa prajurit berkuda untuk mengejar dan menemani Arjuna menghadapi Kalanjaya dan Kalantaka. Prajurit pilihan yang berjumlah dua belas orang itu rata-rata ahli mamanah dan menggunakan senjata sambil menunggang kuda. Dua belas prajurit pilihan itu siap dengan segera dan tidak lama kemudian kelepak suara kuda mereka begitu riuhnya..berlari mengejar arah yang dituju Arjuna..rakyat Indraprasta menyemangati mereka dan semua mengelu-elukan mereka untuk berani maju mempertahankan negeri mereka.

Setelah itu Bima mempersiapkan diri sendiri untuk segera membantu Arjuna..disamping itu ia memberi petunjuk semua kepala pasukan untuk mempersiapkan pasukan secepat mungkin dan akan segera diberangkatkan..Pasukan ini adalah pasukan pejalan kaki dengan senjata dan tameng lengkap sebagai pasukan penutup pada pertempuran nanti.

Beberapa waktu kemudian terjadilah hal yang sama ketika Bima meminta ijin dan restu dari ibundanya…kali ini kejadian yang lebih mengharukan terjadi ketika Gatotkaca yang masih bisa dibilang anak-anak ikut mempersiapkan diri dan seperti hendak menemani anaknya… tentu saja Bima melarang karena hal ini sangat berbahaya.. Gatotkaca menangis meminta ijin kepada ayahnya namun ayahnya berkeras.. Dewi Arimbi dan Dewi Kunti menahan Gatot Kaca dan memberi penghiburan dan pengertian akan besarnya bahaya yang sedang dihadapi ayahnya dan mungkin seluruh rakyat Astina.

Bima kini telah bersiap untuk memimpin barisan jalan kaki dengan suara yang sangat keras Bima memberi aba-aba pasukannya untuk mulai jalan…suara keras itu disambut gemuruh pasukan yang telah mempersiapkan diri masing-masing..

Disepanjang jalan.. para istri pasukan dan satria yang berjalan kearah medan perang mengelukan,, ada yang menangis ada yang berteriak-teriak memanggil suaminya.. ada yang terdiam sedih …semuanya larut dalam pemikiran masing-masing apakah kali ini negeri mereka bisa selamat?

Bima mulai berjalan kaki dengan tegap.. memang dia tidak pernah mau naik kereta atau kuda … dia tidak suka ..mengingat itu dia jadi malu sendiri ketika tadi ia mengusulkan untuk maju sendiri lebih dulu.. pastilah akan sangat lama untuk bertemu dengan Kalanjaya dan Kalantaka … memang lebih baik si Arjuna yang menghadapi lebih dulu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: