Kresna Sebagai Duta Perdamaian

Setelah Sanjaya meninggalkan Upaplawya, Yudhistira berkata kepada Kresna, “Wasudewa, Sanjaya adalah bayangan Drestarastra. Dari ucapannya, aku mencoba menangkap apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Drestarastra. Ia mencoba mengajak kami berdamai, tanpa mengembalikan tanah kami. Sejengkalpun tidak. Ia menyatakan keinginan untuk berdamai, tetapi dengan syarat yang membuat posisi kami lemah karena mereka tak akan mengembalikan hak kami”

Kresna menanggapi, “Demi kebaikan kalian semua, Pandawa maupun Kurawa, sebaiknya aku pergi ke Hastinapura. Aku akan mencoba memintakan hak kalian tanpa peperangan”.
Yudhistira segera menyahut, “Wahai Kresna, engkau tak perlu pergi ke Hastinapura. Aku khawatir akan keselamatanmu karena Kurawa yang licik akan nekat dan bisa berbuat apa saja”.

Kresna menjawab,” Dharmaputra, aku tahu Duryodhana memang jahat, tetapi kita tetap harus berusaha mencapai penyelesaian secara damai agar rakyat tidak menuduh kita tidak berusaha untuk menghindari peperangan. Cara apapun akan kita tempuh, demi perdamaian. Jangan khawatirkan keselamatanku. Jika Kurawa berani mengancam atau melukai aku yang datang sebagai duta perdamaian, aku akan remukkan mereka hingga menjadi abu”.
Lalu Kresna melanjutkan, “Aku akan berusaha sebaik mungkin agar apa yang kau cita-citakan tercapai, yaitu penyelesaian tanpa perang. Memang kemungkinan itu sangat kecil dan situasi sekarang ini membuahkan firasat buruk. Tetapi kewajiban kita untuk selalu mengusahakan perdamaian”.

Sebelum Kresna berangkat ke Hastinapura, yang diiringkan oleh Setyaki, sekali lagi Kresna mengajak Pandawa berunding. Dalam perundingan itu, sungguh terasa bahwa setiap orang di pihak Pandawa menghendaki perdamaian. Bahkan Bima, yang terkenal keras kepala, juga memilih perdamaian. Katanya, “Janganlah kita memusnahkan bangsa kita, juga keturunannya. Kalau bisa diusahakan, aku lebih memilih perdamaian”.

Tetapi Drupadi tidak dapat melupakan penghinaan yang pernah dialaminya. Sambil mengusap rambutnya yang panjang ia berkata kepada Kresna dengan suara yang tersendat-sendat, “Madusudana, perhatikanlah rambutku ini, bekas penghinaan. Kehormatan apa yang harus dijunjung ? Tidak ada perdamaian tanpa kehormatan. Kalaupun Bima dan Arjuna tidak setuju jalan perang, ayahku, walaupun sudah tua, pasti akan pergi ke medan perang bersama anak-anakku. Mungkin ayahku juga tidak setuju, tetapi anak-anakku dan Abimanyu, anak Subadra, akan memimpin pertempuran melawan Kurawa. Demi pengabdianku kepada Dharmaputra, tigabelas tahun kulewatkan dengan memendam kebencianku pada Kurawa. Tetapi kini, aku sudah tidak tahan lagi”.

Kresna menjawab, “Mungkin sekali anak-anak Drestarastra tidak akan peduli dengan usul perdamaian ini. Dalam perang, mereka akan berjatuhan dan musnah. Engkau akan menyaksikan kami pulang membawa kemenangan. Semua penghinaan yang pernah engkau terima, akan mereka bayar mahal. Sabarlah, saat itu akan segera tiba”.
Setelah berkata demikian, berangkatlah Kresna ke Hastinapura.

Berita kedatangan Kresna telah sampai ke Hastinapura jauh sebelum dia dan pengiringnya melewati perbatasan. Drestarastra segera memerintahkan agar Hastinapura dihias dengan semarak dan upacara penyambutan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Kediaman Dursasana, yang paling indah dari semua kediaman Kurawa, disiapkan untuk tempat beristirahat Kresna dan pengiringnya.

Ketika Kresna dan pengiringnya tiba di Hastinapura, penduduk berdiri di pinggir jalan, mengelu-elukan kedatangannya. Mereka memadati jalan-jalan, menyebabkan kereta Kresna nyaris tak bisa bergerak. Pertama-tama Kresna pergi ke istana Drestarastra, kemudaian ke kediaman Widura. Dewi Kunti menemuinya di kediaman Widura. Ibu para ksatria Pandawa itu menangis ketika bertemu dengan Kresna. Ia sedih karena ingat akan penderitaan putra-putranya selama tigabelas tahun. Kresna menghibur Dewi Kunti dengan mengabarkan bahwa saat itu Pandawa dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Dari kediaman Widura, Kresna pergi ke tempat tinggal Duryodhana untuk menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu mengharapkan penyelesaian yang wajar. Setelah menyampaikan pesannya kepada Duryodhana, Kresna minta diri untuk kembali ke kediaman Widura. Di sanalah ia memilih untuk tinggal selama menjalankan tugasnya di Hastinapura.

Kresna dan Widura lalu mengadakan pembicaraan. Widura menjelaskan kepada Kresna bahwa keangkuhan Duryodhana disebabkan oleh keyakinannya akan kesaktiannya sendiri. Selain itu Duryodhana juga merasa bahwa Bisma dan Drona akan tetap berada di pihaknya. Widura juga menyarankan agar Kresna sebaiknya tidak masuk ke ruang perundingan yang akan diselenggarakan oleh Duryodhana. Widura merasa khawatir kalau Duryodhana dan saudara-saudaranya telah merencanakan suatu perangkap untuk membunuh Kresna.

Tetapi Kresna berkata kepada Widura, “Apa yang engkau katakan tentang Duryodhana itu benar. Aku datang kemari dengan harapan bisa merundingkan penyelesaian secara damai. Jangan engkau khawatirkan keselamatanku”.

Keesokan harinya, Duryodhana dan Sakuni datang menemui Kresna, mengatakan bahwa Drestarastra telah menunggu kedatangannya. Kresna segera pergi ke tempat perundingan bersama Setyaki dan Widura. Ketika Kresna memasuki ruangan, semua yang hadir di situ serentak berdiri dan memberinya salam hormat, dan dipersilahkan duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Setelah upacara penyambutan selesai, tibalah giliran Kresna untuk berbicara.

Sambil memandang hormat kepada Drestarastra, Kresna menjelaskan maksud kedatangannya kepada semua orang yang hadir. Ia juga menjelaskan apa yang sebenarnya diinginkan oleh pihak Pandawa.

Akhirnya secara khusus Kresna berkata kepada Drestarastra, “Paduka Raja, hendaknya Tuanku jangan membawa kehancuran bagi rakyat. Tugasmu adalah untuk menuntun putra-putramu. Pandawa siap bertempur, tetapi mereka memilih perdamaian. Mereka ingin hidup rukun dan bahagia di bawah pimpinanmu. Perlakukan mereka sebagaimana putra-putramu sendiri. Berusahalah untuk mencari penyelesaian yang damai dan terhormat. Pasti dunia akan menghormati engkau. Renungkanlah hal ini, sesuatu dikatakan jelek apabila baik bagi dirimu sendiri dan sesuatu dikatakan baik apabila jelek bagi dirimu sendiri”. Demikianlah Kresna berkata dengan sungguh-sungguh.

Drestarastra yang buta berkata, “Saudara-saudara dan sahabat-sahabatku, dalam hal ini aku tidak bersalah. Aku juga mengharapkan perdamaian, sama seperti yang dikatakan Kresna. Tetapi aku tidak berdaya. Putra-putraku tidak mau mendengarkan kata-kataku. Kresna, aku harap kau berhasil menasehati Duryodhana”.

Kresna menoleh kepada Duryodhana dan berkata, “Engkau keturunan keluarga agung dan terhormat. Buanglah iri, dengki dan dendam di hatimu karena itu tidak sesuai dengan keagunganmu. Karena engkaulah, keturunan ini berada dalam bahaya kehancuran. Pandawa menghendaki Drestarastra menjadi raja dan engkau menjadi ahli warisnya. Berdamailah dengan mereka dan berikanlah separo kerajaan ini kepada mereka”.

Bisma dan Drona pun berusaha menasehati Duryodhana agar mau mendengarkan kata-kata Kresna. Tetapi tampaknya hati Duryodhana sudah keras, tak bisa lagi dilembutkan. Drestarastra sekali lagi berkata kepada putra sulungnya itu, “Duryodhana, kalau engkau tidak mau mendengarkan kata-kata Kresna, bangsamu akan musnah”.

Tetapi Duryodhana justru kehilangan kesabaran. Ia tidak dapat menahan kekesalannya lagi. Amarahnya meledak. Dia berdiri, lalu berkata dengan lantang, “Hai, Kresna. Engkau menyalahkan aku sebab engkau memihak Pandawa. Yang lain juga menyalahkan aku, tetapi aku yakin bukan aku yang harus dikutuk. Atas kehendak sendiri Pandawa telah mempertaruhkan kerajaan mereka. Mana bisa aku yang harus bertanggung jawab atas semua itu ? Setelah kalah dalam permainan, mereka harus masuk hutan, seperti kesepakatan kita semula”.

“Sekarang, kesalahan apalagi yang mereka tuduhkan kepada kami ? Mengapa kami dituduh haus perang dan pembunuhan ? Aku tidak gentar menghadapi ancaman apapun. Ketika aku masih bocah, orang-orang yang lebih tua selalu menyalahkan dan menyakiti hati kami dengan selalu membenarkan, membela dan menyanjung Pandawa. Aku tidak tahu, mengapa mereka harus mendapat setengah dari kerajaan ini padahal sesungguhnya mereka sama sekali tidak berhak. Waktu itu aku diam saja. Tetapi, bukankah mereka telah mempertaruhkan kerajaannya dalam permainan dadu dan mereka kalah ? Sejengkalpun tak akan aku berikan wilayah kerajaanku kepada Pandawa!” kata Duryodhana tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Kresna tersenyum dan berkata,”Bukankah engkau telah mempersiapkan permainan itu dengan licik ? Bersama dengan Sakuni, kau telah memperdaya Pandawa. Permainan kau atur sedemikian rupa hingga Pandawa tak mungkin menang. Dengan keji, kau hina Drupadi di depan para raja dan tamu-tamu lainnya. Tanpa malu engkau tetap bersikeras bahwa engkau sama sekali tidak bersalah”.

Dursasana menanggapi pembicaraan tersebut dengan mengatakan bahwa Bisma dan para tetua lainnya sudah termakan oleh kata-kata Kresna yang memojokkan Duryodhana. Ia lalu berdiri dan berkata dengan lantang, “Saudaraku, rupa-rupanya orang-orang dalam perundingan ini telah menyiapkan rencana jahat terhadap dirimu. Mereka hendak mengikat kaki dan tanganmu dengan tali tipu muslihat dan menyerahkan dirimu pada Pandawa. Ayo, kita pergi dari sini !”.

Akhirnya, Duryodhana dan saudara-saudaranya segera pergi meninggalkan ruangan.
Sepeninggal anak-anaknya, Drestarastra tampak bersedih dan mengeluh, “Semua usaha kita gagal. Duryodhana memang kepala batu”.

Setelah merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Kresna segera meninggalkan ruangan didampingi Setyaki dan Widura. Ia langsung menemui Dewi Kunti dan mengabarkan bahwa usahanya gagal. Dewi Kunti meminta agar Kresna menyampaikan restunya kepada putra-putranya.

“Sekarang saatnya menunjukkan untuk apa sebenarnya seorang ibu membesarkan putra-putranya hingga menjadi ksatria, yaitu untuk dikorbankan di medan perang. Semoga engkau dapat menuntun mereka dalam pertempuran” kata Dewi Kunti kepada Kresna.

Segera setelah itu, Kresna cepat-cepat naik ke keretanya dan melecut kudanya agar berlari kencang menuju Upaplawya.

Ya, jalan damai sudah diusahakan, tetapi nampaknya peperangan tak dapat dihindarkan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: