Mencari Makan Untuk Si Kembar

Setibanya di permukaan, Dewi Kunti dan terutama anak-anaknya Nakula dan Sadewa yang masih kecil merasa sangat lapar. Nakula yang masih kecil bernama Pinten dan Sadewa yang masih kecil bernama Tangsen itu merengek dan menangis terus minta makan nasi.

Dewi Kunti segera memerintahkan Bratasena dan Permadi untuk untuk mencari nasi.
Bratasena segera berangkat mencari desa di sekitar sumur Jalatunda itu, sedang Permadi yang diikuti oleh para Punakawan pergi mencari desa yang lain.

Pada waktu itu di desa Kabayakan ada seorang Pengantin Baru putri yang sedang mengangsu air di sendang. Tiba-tiba punggungnya digamit oleh Permadi. Ia terkejut dan berlari secepatnya kerumah.

Suaminya yan bernama Sagotra waktu itu sedang duduk melamun, memikirkan sudah berhari-hari menjadi pengantin, belum juga istrinya mau didekati

ia terkejut ketika tiba-tiba istrinya datang memeluknya. Istri yang sangat dicintainya itu mengadu padanya bahwa ia tidak dapat menerima tubuhnya digamit oleh lelaki lain, orang itu harus dibunuh katanya kesal.

Sagotra yang merasa nikmat sekali dipeluk oleh istrinya dalam batin malah berterima kasih kepada orang yang diceritakan istrinya itu. Karena kalau tidak ada peristiwa itu ia tidak pernah berhasil menjamah istrinya. Dan pada saat mereka berpelukan itupun nampak istrinya juga baru menyadari nikmatnya dipeluk oleh suaminya.

Kata Sagotra ” Gampanglah istriku, nanti akan kuhadapi dia”

Kemudian Sagotra bertemu dengan Permadi di sendang, dan menjelaskan hal ihwal kejadian yang menimpa istrinya, kemudian dia berterima kasih kepada Permadi.

Permadi juga menceritakan tentang ibu dan adik kembarnya yang sedang lapar. Sagotra segera mengatakan akan berpura-pura meminta Nasi dan lauk-pauk kepada istrinya sebagai upah untuk menghadapi Permadi, dan kemudian Sagotra meminta diri.

Sampai di rumah Sagotra mengatakan bahwa ia tidak menemukan lelaki yang dimaksud istrinya, kemudian dia mengatakan akan melanjutkan mencari akan tetapi sebelumnya ia meminta Istrinya untuk memasak Nasi dan Lauk pauk yang banyak sebagai sebagai bekal perjalanan.

Istrinya dengan segera menyanggupi hal itu dan dengan rajin dan akas dia memasak untuk Suaminya agar segera dapat berangkat bertemu dengan orang yang menggamit punggungnya dan segera pulang lagi, ia tidak sabar untuk menunggu dirumah.

Setelah selesai Nasi dan lauk-pauk itu diberikan kepada suaminya. Dengan membawa nasi dan lauk-pauk itu Sagotra menemui Permadi lagi. Kepada Permadi Sagotra mengucapkan terima kasih yang tak terhingga karena telah berhasil merukunkan dirinya dengan istrinya.

Permadi menerima pemberian Sagotra. Dan sambil bercerita tentang saudara-saudaranya para Kurawa yang memusuhi Pandawa Permadi, para punakawan dan Sagotra berjalan ke arah Sumur Jalatunda. Sagotra menyatakan berprasetia kelak apabila terjadi perang besar antara Pandawa dan Kurawa ia bersedia dijadikan tumbal sebagai balas jasa.

Di tempat lain Bratasena sedang berjalan memasuki sebuah pertapaan yang daerahnya termasuk pada kekuasaan Kerajaan Manahilan. Ada seorang pertapa disitu yang bernama Bagawan Hijrapa.

Sang Begawan sedang sedih karena hari ini dia akan mati.
Raja Negeri Kerajaan Manahilan adalah seorang Raksasa yang suka sekali daging manusia, lebih-lebih lagi manusia yang masih hidup. Namanya adalah Prabu Dawaka.

Setiap hari dia harus disediakan makanan berupa daging manusia, atau manusia hidup.
Karena rakyatnya tinggal sedikit, maka giliran prajuritnya sendiri yang harus menyerahkan nyawa untuk dimangsa rajanya.

Lama-kelamaan habis juga tentaranya, dan dia masih juga minta disediakan daging manusia tidak peduli bagaimana caranya.

Akhirnya semua rakyatnya digilir untuk menyerahkan diri. Karena takut maka rakyatnya tidak ada yang berani melawan.

Hari ini adalah tiba giliran Begawan Hijrapa untuk menyerahkan diri.

Prabu Dawaka mengijinkan Begawan Hijrapa untuk pulang sebentar dan melumuri badannya dengan bumbu sate agar terasa lebih nikmat.

Dengan sedih dan lemas Begawan berbicara kepada putranya akan tibanya giliran itu, dan menyuruh anaknya yang bernama Bambang Irawan untuk membuatkan bumbu sate untuk dioles ke tubuhnya sebagai baktinya yang terakhir kepada orang tuanya.

Bambang Irawan yang sangat berbakti dan sangat mencintai Ayahnya itu segera melaksanakan apa yang diperintahkan ayahnya. Ia mempersiapkan dan membuat bumbu sate di halaman rumah sambil menangis.

Bratasena yang melihat ada orang yang nampak sedang memasak atau membuat bumbu segera datang menghampiri, agar bisa meminta makanan yang sedang akan dimasak untuk Ibu dan adik kembarnya.

Bratasena heran melihat anak remaja itu mempersiapkan bumbu sate sambil menangis kemudian dia bertanya mengapa?

Bambang Irawan tidak dapat bercerita karena sedih, kemudian Begawan Hijrapa keluar dan menemui Bratasena, dia mempersilahkan Bratasena duduk.
Begawan Hijrapa menceritakan tentang kesedihannya.

Mendengar itu Bratasena merasa kasihan dan Satria panenggak Pandawa itu menawarkan bantuan dengan cara menggantikan Begawan Hijrapa, agar dia saja yang dilumuri bumbu sate dan datang ke Istana Kerajaan Manahilan, tetapi sebagai imbalanya Bratasena minta dibuatkan nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauknya untuk Ibu dan adik-adiknya. Begawan Hijrapa lega karena hari itu tidak jadi mati dan dia menaruh harapan kepada Bratasena yang nampaknya sangat kuat itu, segera menyatakan persetujuannya untuk membuat nasi tumpeng.

Begawan Hijrapa dan Bambang Irawan segera mengoleskan bumbu sate yang sudah siap itu ke tubuh Bratasena.

Setelah itu Bratasena segera diantarkan oleh Begawan Hijrapa hingga ke pintu gerbang kerajaan, sementara Bambang Irawan segera berbelanja ke pasar membeli bahan-bahan untuk membuat Nasi tumpeng.

Bratasena masuk kedalam kerajaan dan menghadap sang Prabu, serta menjelaskan bahwa hari itu giliran Begawan Hijrapa ditunda dan sebagai gantinya Bratasena yang terlebih dulu menjadi mangsa Raja untuk hari ini.

Prabu Dawaka yang sudah lapar karena kiriman daging hari ini agak telat, sangat bernafsu mencium bau bumbu sate, serta melihat Bratasena yang masih muda dan kenyal itu pasti lebih enak dari Bagawan Hijrapa yang sudah tua.

Prabu Dawaka segera menyahut dengan kesal bahwa tidak masalah dengan giliran itu, dan dia menyuruh Bratasena untuk segera mempersiapkan diri untuk mati dikunyah.

Prabu Dawaka segera menangkap Bima, dan mulai berusaha mematahkan kaki Bratasena, akan tetapi ternyata tenaga Bratasena kuat sekali sehingga dia kuwalahan dan tidak berhasil memotek paha Bratasena.

Tidak berhasil dengan kaki, Prabu Dawaka mencoba mematahkan tangannya, akan tetapi Bratasena yang ototnya kuat dan melawan itu menyebabkan Prabu Dawaka tidak mampu mematahkan tangan Bratasena juga.

Kesal karena tidak juga berhasil, maka Prabu Dawaka mencoba untuk langsung menggigit leher, tangan, paha, perut dan semua bagian tubuh Bratasena, akan tetapi sungguh keras dan liat daging si orang ini. bahkan ketika giginya bertemu tulang Bratasena, giginya terasa ngilu dan sakit.

Prabu Dawaka menjadi gusar dan marah, namun Bratasena juga sudah marah melihat sendiri seorang raja yang tega memakan rakyatnya sendiri.

Akhirnya pada saat Bratasena mendapatkan kesempatan, dia menancapkan kuku Pancanakanya yang sangat tajam merobek perut Prabu Dawaka yang jemblung itu.
Dengan berteriak sangat keras dan marah akhirnya Prabu Dawaka jatuh dan tewas tidak lama kemudian dengan ususnya berhamburan keluar, sebuah balasan yang setimpal untuk orang yang gila makan.

Bratasena menyeret tubuh Prabu Dawaka keluar istana dan mengumumkan kepada semua rakyat akan tewasnya raja mereka.

Begawan Hijrapa yang sedang menunggu di luar dengan was-was dan sedang berbincang-bincang dengan rakyat yang lain sangat gembira melihat Bratasena keluar dengan menyeret tubuh Prabu Dawaka.

Berita itu segera menyebar ke seluruh rakyat dengan sangat cepat, lebih cepat dari api yang menjalar, setiap orang sisa rakyat kerajaan Manahilan menangis terharu karena mereka tidak jadi mati. Setiap orang yang sebelumnya bekerja dengan lesu dan tidak bersemangat setelah mendengar berita itu akhirnya senang dan bersemangat lagi.

Seluruh rakyat Manahilan bersuka ria dan berterima kasih kepada Bratasena.
Mereka mengelu-elukan Bratasena yang sedang berjalan pulang bersama Begawan Hijrapa ke rumah Begawan Hijrapa.

Sampai dirumah, Bambang Irawan yang sedang mempersiapkan nasi tumpeng bersama tetangga-tetangganya langsung memeluk Ayahnya dan menyalami Bratasena.
Saking senangnya Bambang Irawan berprasetya akan menjadi tumbal apabila Bratasena akan berperang menghadapi musuhnya kelak suatu ketika.

Karena hari telah siang, Bratasena segera berpamitan minta diri dan mengucapkan terimakasih kepada Bambang Irawan semua orang yang telah membantu mempersiapkan nasi tumpeng yang telah siap untuk dibawa itu.

Dengan setengah berlari Bratasena membawa nasi tumpeng dengan lauk pauknya ke tengah hutan di tempat sumur Jalatunda, dimana Ibu Kakaknya Puntadewa dan sikembar Pinten dan Tangsen sedang tidur kelaparan. Hampir bersamaan datang pula Permadi dan para Punakawan datang membawa Nasi dan lauk-pauk dari Sagotra.

Dewi Kunti segera mempersiapkan nasi bawaan Bratasena dan Permadi, sambil bertanya mengapa tubuh anaknya bratasena bau bumbu sate. Maka bratasena pun menceritakan kejadian yang telah menimpanya sepanjang setengah hari tadi. Nasi dari Bratasena masih hangat dan lauknyapun terlihat enak. Maka Dewi Kunti mengambil Nasi bawaan Bratasena untuk dia dan anak-anaknya sedang Nasi dan lauk-pauk dari Sagotra diberikan kepada para Punakawan, yang sedari tadi sudah tidak sabar karena mencium bau makanan yang dibawa Permadi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: