Pandawa Berpisah

Sebelum Dewa Hyang Brama kembali ke Kahyangan, dia memberi sebuah senjata kepada Permadi berupa sebuah panah sakti, yang diberi nama Bramastra, setelah itu Dewa Brama menghilang dan kembali ke Kahyangan.

Puntadewa dan Bratasena serta Pinten dan Tangsen berpamitan dengan Dewi Kunti, dan berpelukan demikian juga dengan Permadi. Dewi Kunti berpesan agar mereka semua berhati-hati dalam segala hal. Keempat anaknya itu mulai berjalan menjauhi Dewi Kunti dan Permadi segera mengajak Ibunya untuk segera memulai perjalanan ke Gunung Retawu.

Puntadewa, Bratasena, Pinten dan Tangsen setelah berjalan beberapa hari sampailah ke kerajaan Wirata. Pada penduduk Desa Bratasena atau Jagabilawa bertanya pada penduduk desa dimana rumah Jagalwalakas. Setelah bertanya tanya dan mencari seharian akhirnya didapatkan juga yang dicari. Setelah ketemu yang dicari, Puntadewa segera mengajak berpisah karena menurutnya mereka masih harus merahasiakan kepada para rakyat Wirata bahwa mereka bersaudara Hal ini karena ia akan melamar kepada Prabu Matswapati sebagai pegawai. Bratasena atau Jagabilawa setuju dan mereka berpisah.

Kepada Jagalwalakas, Jagabilawa memperkenalkan diri, kemudian memperkenalkan adik-adik kembarnya yang masih kecil Pinten dan Tangsen. Ia mengungkapkan keinginannya untuk bisa ngenger kepada Jagalwilakas. Jagalwilakas dan isterinya senang dengan permintaan Jagabilawa, terutama isterinya karena sudah lama tidak ada suara anak-anak di rumah mereka. Kedua suami istri itu menerima mereka dengan senang hati.

Kemudian Puntadewapun melanjutkan perjalanan. Karena terlalu malam dia menumpang tidur di beranda rumah seorang penduduk. Pagi hari Wijakangka meminta diri dan melanjutkan perjalanan lagi menuju Istana kerajaan Wirata.

Pada pagi hari di kerajaan Wirata, Prabu Matswapati sedang duduk di paseban dihadap oleh putera-puteranya Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki berwajah tampan tegas dan berwibawa datang dihantarkan oleh seorang prajurit ingin menghadap Prabu Matswapati.

Laki-laki itu tidak tampak seperti orang rakyat biasa, namun pakaiannya adalah pakaian rakyat biasa. Pria itu memperkenalkan diri bernama Raden Wijakangka berasal dari kampung di lereng gunung. dan melamar untuk dapat bekerja di istana.

Prabu Matswapati yang melihat bahwa pria itu sepertinya bukan rakyat sembarangan segera menerimanya bekerja dan diberi pekerjaan sebagai seorang Tanda. Raden Wijakangkan berkenalan dengan putera-putera raja Raden Seta, Raden Utara dan Raden Wratsangka, serta Putri kerajaan Raden Dewi Utari.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: