Karno Tanding 1/7 Baratayudha harus tetap dilanjutkan, apapun pengorbanannya…!

Baratayudha harus tetap dilanjutkan, apapun pengorbanannya…!

Perang dunia ke empat, Baratayuda Jaya Binangun sudah menjadi ketentuan Yang Maha Kuasa, menjadi kodrat yang harus dijalani dunia. Perang besar ini telah telah memasuki beberapa hari. Ladang perang Kurusetra telah menjadi ladang pembantaian kedua belah pihak. Meskipun baru beberapa hari perang berlangsung, korban tewas tak terhitung. Ladang Kurusetra merah membara, bau amis darah menusuk hidung. Bangkai para prajurit dan hewan perang berserakan, bertumpukan seperti kocar – kacirnya ladang rumput ilalang yang ditebas dibabat sabit tukang kebun. Sisa – sisa patahan senjata bercampur baur dengan bangkai kereta perang. Kedua belah pihak sudah banyak kehilangan Senopati, sanak saudara, orang – orang tercinta, keluarga dekat dan darah daging mereka. Utara, Seta, Wrahatsangka, Abimanyu, Gatotkaca, para pemuda dan agul – agul kerajaan Wiratha dan Amarta itu, hidupnya terengut di masa muda di Ladang Kurusetra. Mereka meninggalkan istri – istri tercinta, anak – anak yang masih hijau. Resi Bisma, Lesmana Mandrakumara, telah menjadi korban kebijaksanan Raja dan Pemerinthan Hastina pura dalam rangka hangrukebi Kerajan Hastina dan Amartapura yang telah dikuasi selama 13 tahun karen sukan dadu.

Perang, di manapun dan apapun alasannya hanya akan menyisahkan kepedihan, penderitaan, bau bangkai, dan keterpurukan bagi kedua belah pihak. Jelas yang sudah menjadi bangkai, kepedihan dan kehampaan akan dirasakan oleh sanak saudara dan keluarga dekat. Yang luka arang kranjang, membawa pedih dan perih dalam arti yang sebenarnya. Yang cacat seumur hidup membawa derita jikalau tak mampu menerima.

Di perkemahana Kuru Mandala, disebut juga Bulupitu. Adalah perkemahan para pembesar dan punggawa Kerajaan Astinapura. Terletak di tapal batas kerajaan dengan ladang peperangan Kuru Setra. Meskipun sifatnya hanya perkemahan sementara, namun kemegahan dan kemewahannya setara dengan istana kerajaan. Gapura besar menjulang di depannya, kiri kanan gapura diapit kandang kelangenan sang Raja. Kiri kandang singa, kanan kandang macan. Hari itu menjelang sore, di padang Kurusetra pertempuran masih menggelora. Sesuai denga kesepakatan dan peraturan perang, perang hari itu akan dihentikan seketika setelah matahari terbenam. Kedua belah pihak akan menghentikan segala serbuan dan kelebat senjata, untuk sekedar beristirahat dan mengatur strategi perang esok hari.

Di dalam perkemahan, Prabu Suyodono duduk di kursi keprabon yang empuk, bersila methengkrang dengan tangan bersilang. Belum ada ucap yang keluar dari mulutnya saat itu. Namun rona wajah dan bahasa tubuhnya jelas menyiratkan kekecewaan, kemarahan, dan juga kesedihan yang mendalam. Sang mertua, Prabu Salya dari Kerajaan Mandaraka masih setia mendampingi. Juga Arya Patih Sengkuni. Seolah membaca apa yang sedang dirasakan oleh sang menantu, Prabu Salya memulai percakapan untuk memecah kesunyian sore itu.

”Anak Prabu,….saya sudah menunggu cukup lama untuk andika memulai pembicaraan kali ini. Tetapi sampai nggantung untu, saya menunggu pembicaraan itu dan rasanya tiada tanda – tanda dhawuh ananda itu. Saya merasa tidak dianggap dalam perhelatan ini. Padahal, keberadaan saya di sini bukan kemauan saya pribadi. Beberapa bulan yang lalu, secara tiba – tiba datang salah satu punggawa kerajaan – kelihatannya, sebab dari tindak tanduk dan cara bicaranya saya tahu- pasti ini adalah utusan Raja agung yang mengerti sopan santun. Singkat kata, utusan itu mengaturkan sepucuk surat untuk saya. Saking terkesimanya saya kepada sikap dan tindak tanduk panggawa ini, tidak saya perhatikan surat itu dengan terwaca serta teliti. Saya hanya membaca intinya, bahwa saya diundang ke perjamuan agung di tapal batas Hastina Pura. Saya ini sudah tua, tetapi kok ya masih saja bersikap terburu – buru, tanpa meneliti lebih jauh saya datang ke undangan itu dengan kerata kerajaan yang saya kusiri sendiri. Sampai di perjamuan agung, memang saya benar – benar dijamu. Setelah kenyang saya makan, setelah terasa seger saya minum, dan setelah saya puas menikmati aneka hiburan, baru saya menyadari bahwa itu semua adalah hajat andika anak prabu. Pada waktu itu, anak prabu meminta saya untuk melindungi dan mendukung kurawa saat perang besar Baratayudha Jayabinangun, yang artinya……yang artinya saya harus rela bermusuhan dengan anak – anak ku Pandawa. Padahal…padahal…, dosa dan kesalahan pandawa kepada saya apa sehingga Kerajaan Mandaraka perlu bermusuhan dengan mereka?? Namun..namun begitu….kok ya saya waktu itu menyanggupi apa yang menjadi permintaan andika prabu. Itu setelah saya kenyang dengan makan dan minum serta hidangan – hidangan lain yang andika suguhkan.. ”

Merasa diungkit – ungkit masa lalu dan ”kelicikan”nya saat membujuk sang mertua untuk berpihak kepadanya terkuak, Prabu Duryudona menyela…

”Jadi, apakah Rama Prabu menyesal dengan semua itu. Apakah Rama Prabu akan menarik kesanggupan yang telah Rama ikrarkan di depan kadang saudara Kurawa, Senopati serta Raja – raja sekutunya ???”

”We lah…., anak Prabu..bukan..bukan begitu, Saya tidak menyesal…ya saya tidak menyesal. Hanya saja…..,lumrahnya orang berkumpul dan berkumpulnya itu ada tujuannya, ya seharusnya ada saling bicara di antara mereka. Lah…pertemuan kali ini kok seperti orang saling satru satu sama lain, tiada pembicaraan apapun”

”Rama Prabu, saya masih menyesali meninggalnya Eyang Resi Bisma beberapa hari yang lalu. Mengapa Dewata begitu tega dengan gugurnya Eyang Resi Bisma?? Padahal belum sepenuhnya kami para cucu Kurawa sempat memberikan kebahagian dan kamukten kepada Beliau. Hm….”

”Anak Prabu,…..Tidak ada yang perlu disesali atas kejadian sampai dengan saat ini. Memang perang ini telah banyak memakan korban termasuk Resi Bisma dari sisi Hastina, Pandawa pun juga telah banyak kehilangan Senopati dan Kerabat. Utara, Seto, Wrahatsangka, telah gugur…”

”Iya, di pihak Kurawa lebih pedih lagi, ananda Lesmana Mandrakumara yang saya gadhang-gadhang jadi penerus dan penyambung keturunan trah Kuru, telah tewas…”

”Memang, memang…Ramanda tahu itu, tetapi pandawa juga kehilangan Abimanyu dan Gatotkaca. Mereka berguguran di Kurusetra karena tidak kuasa menandingi kesaktian para Senopati Kurawa.”

”Nggih, tetapi mengapa Pandawa begitu tega sampai menghabisi nyawa Eyang Resi Bisma ? Pandawa memang benar – benar murang tata, tidak mengerti tata krama dan adab sopan santun. Eyang Resi Bisma itu siapa? Seharusnya Pandawa bisa mengerti…”

”Sebentar – sebentar, anak Prabu. Ini dalam perang lo…., dalam perang tidak ada sanak sodara, tidak ada anak orang tua, tidak ada benar salah, yang ada ya kalau bukan teman ya lawan. Kalau tidak membunuh ya dibunuh. Cukup itu saja. Karena…karena…ananda sudah memilih dan menetapkan perang sebagai jalan keluar permasalahan Pandawa – Kurawa. Namun…namun ngger, sebenarnya tidak ada kata terlambat. Angger prabu masih bisa menyelamatkan keadaan dan menghindari lebih banyak korban serta penderitaan. Jikalau angger menginginkan, Pandawa bisa Rama panggil untuk menghadap Anak Prabu dan menyelesaikan semua permasalahan sampai di sini saja. Saya berani menanggung dan saya sendiri yang akan mengiringi Pandawa agar bersesedia menghadap Angger Anak Prabu. Asal….asal, Amarta anak prabu kembalikan kepada Pandawa dan hak Pandawa Hastina pura anak Prabu berikan meskipun hanya separo saja dari Hastina tanpa isinya. Saya berani menanggung dan menaruh dadaku di depan Puntadewa sebagai jaminan bahwa Pandawa tidak akan mengutik – utik kamukten dan kewibawaan Angger Prabu selama ini”.

”Rama Prabu…”

”Ya, bagaimana Ngger…”

”Rama Prabu saya mohon mendampingi saya di sini bukan untuk memanggil Pandawa menghadap di depanku…”

”Ooo begitu ??”

”Nggih..Lagi pula ibaratnya menyeberangi sungai, perang ini sudah sampai di tengah – tengah. Kalau kembali kami sudah terlanjur basah, berlanjutpun kami akan tetap basah. Maka bagi kami, tidak ada kata batal untuk perang Baratayuda ini. Yang kedua…”

”Apa yang kedua ngger ??”

”Jika saya menghentikan perang ini, saya malu dengan suwargi Eyang Resi Bisma yang telah mengorbankan nyawanya untuk membela Kurawa. Betapa saya tidak tahu diri dengan penderitaan dan pengorbanan Eyang Resi Bisma, padahal saya belum sempat memberikan kebahagian dan kemukten kepada Beliau. Oleh karena itu, dengan pengorbanan apapun, perang ini harus tetap berlanjut sampai Pandawa tumpas habis..”

”Oo..begitu ??”

”Nggih Rama…”

”Hmm…masih boleh saya matur lagi…?”

”Silakan Rama Prabu..”

”Anak Prabu… jangan dikira…jangan dikira jikalau meninggalnya Eyang Resi Bisma itu penderitaan untuk beliau. Kita tidak tahu, bisa jadi itu merupakan pencapain kesempurnaan hidupnya. Sebab jikalau saya dengar dari cerita banyak orang dan sudah menjadi cerita umum dunia, Resi Bisma itu sakti bukan kepalang. Di masa muda dia pernah berguru kepada Resi Bagaswara. Resi Bagaswara pada jamannya merupakan Guru tanpa tanding di jagad ini. Namun begitu…, namun begitu setelah selesai berguru, Resi Bisma muda menantang gurunya. Ya..gurunya ditantang. Singkat cerita, tantangan sang murid itu diterima, dan Resi Bargawa terdesak. Sampailah dikeluarkan senjata pamungkas Resi Bargawa berupa panah Bargawasta dilepaskan ke leher Resi Bisma. Bukan Resi Bisma yang luka, tetapi panahnya yang hangus terbakar. Namun….pada perang beberapa hari yang lalu, Resi Bisma menemui ajalnya hanya oleh Seorang Senopati Putri, Putri Kerajaan Pancala si Woro Srikandi….”

Belum sampai diskusi antar mereka mereda…di luar Kartomarmo mandi peluh berlari dari medan perang menuju padepokan. Sambil gero – gero menangis seperti anak kecil, lari Kartomarmo ibarat peluru lepas dari senapan. Terkejut Prabu Duryudono mendapati Kartomarmo seperti itu.

“Kartomarmo….! Tingkahmu seperti anak kecil, gero – gero mandi peluh. Apa yang terjadi di luar….???”..

“Aduh sinuwun…mohon ijin untuk matur”.

“Silakan matur, aku dengarkan…”

Sumber: http://moedjionosadikin.wordpress.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: