Karno Tanding 3/7 Ketidakmampuan mengendalikan diri dan emosi mengantarkan Dursasana kepada kematiannya yang tragis

Ketidakmampuan mengendalikan diri dan emosi mengantarkan Dursasana kepada kematiannya yang tragis…..

Musim kemarau nan kering mengiringi pertempuran menuju puncak. Angin kering kencang menerjang, menyampaikan kabar buruk, bau amis darah dan busuk bangkai ke segala penjuru mata angin. Arah angin kering tidak dapat terduga ke mana akan menuju, seolah mengikuti apa yang akan terjadi dalam peperangan hari ini. Meskipun sebagian pandita, satria suci dan orang – orang yang bening hatinya mengetahui ke mana ujung perang ini akan berakhir, becik ketitik ala ketara. Daun mahoni, daun jati, daun asam mengering, berjatuhan, berguguran helai demi helai. Seperti itu tulah para yang berperang berguguran. Rumpun bambu berderit – derit mendendangkan jeritan dan perihnya hati mereka yang ditinggal gugur sanak – famili, menyanyikan rintihan sakit mereka yang terluka.

Udara yang kering naik turun menyapu dedaunan kering, membawa debu halus beterbangan tak tentu arah. Begitulah suasana hati orang – orang yang bingung menghadapi peperangan. Banyak di antara mereka tidak memahami apa yang diperebutkan dalam perang ini. Banyak di antara mereka tidak mengerti mengapa perang ini harus terjadi. Mengapa Kurupati begitu kukuh mempertahankan tanah Astina dan Kerajaan Amarta. Sebagian memahami bahwa memang inilah sifat serakah dan angakara murka Duryudono. Sebagian lain memahami memang sudah hak para Kurawa untuk menguasai Astina karena sebelumnya seharusnya Drestarata, ayah kandung Kurawa, yang menjadi raja. Namun karena penglihatan Drestarata tidak berfungsi, adiknya lah yang memerintah, Pandudewanata ayah para Pandawa.

Di antara mereka tidak sedikit pula yang anut grubyuk terserah arah angin kemana dia akan mengikuti. Kurang lebih begitulah yang dipikirkan Dursasana. Baginya perang ini tidak memperebutkan apa – apa, hanya karena kakaknya ingin perang, diapun mendukung perang. Dursasana, tipikal manusia yang malas berfikir. Hanya mengikuti apa yang terjadi di sekelilingnya. Ketika angin bertiup ke barat, dia akan condong ke barat, begitu pula sebaliknya. Dursasana hanya menelan mentah – mentah apa yang terlihat secara fisik, tanpa mencerna dan memikirkan bagaimana dan apa di balik apa yang ditangkap dengan panca inderanya.

Saat itu, sudah terasa lama Prabu Duryudana meninggalkan istana Hastina Pura, keputrian dan istrinya Raden Ayu Banowati. Perasaan kangen kepada belahan jiwanya sudah terasa memuncak. Seperti ingin melompat dari Perkemahan Bulupitu agar segera sampai saat itu juga di keputrian demi memuaskan rasa rindunya kepada sang raden ayu Banowati, istri tercinta jantung hatinya. Namun perang tidak dapat ditinggalkan barang sesaat. Maka untuk sekedar melihat kabar dan menjaga keselamatan dan suasana keputrian, Duryudana mengutus adinda Dursasana untuk melihat dan menjaga keputrian. Dursasana menuju keputrian dan menemui kakak iparnya, Raden Banowati.

Setelah berbasa – basi, Banowati menyapa adik iparnya.

”Dursasana.., apa yang kamu lakukan di keputrian ??”

”Kakang Mbok, ayu…he..he.. Saya ini diperintah oleh Kakang Mas Duryudono..ho…ho..ho, agar menjaga keputrian menjaga Kakang Mbok Ayu..”

”We..la, buat apa aku dan keputrian dijaga olehmu? Apa kamu takut perang?? Padahal sanak kadang Kurawa yang lain berpeluh dan bermandi darah di medan perang.Kok kamu enak – enakan di keputrian. Apa kamu takut darah, menghindari luka adikku ?? Ternyata hanya badan mu saja yang sentosa, tetapi kamu tidak bernyali”

”Walah la dalah….malah mengumpat – umpat. Sudah dari dulu saya mencurigai dan tahu bahwa Kakang Mbok tidak sepenuhnya mencintai Kakangku Duryudono, kamu hanya pamrih kepada harta dan kedudukan Kangmasku. Sebenarnya hati dan cintamu untuk Arjuna. Iya bukan??!! Bibirmu hanya lamis kalau bilang sayang kepada Kangmasku, sebenarnya kamu bohong. Wah..aku merasa kasian dengan kakangmasku, sekian puluh tahun dibohongi oleh sampeyan yang sebenarnya dipuja dan dimanja tiada tara….Tapi imbalannya hanya lamis, hanya kebohongan, hanya selingkuhan dengan Arjuna. Kalau seandainya aku diijinkan oleh Kakang Duryudono, sudah dari dulu aku bunuh Janaka”

Konan kabarnya, apa yang dikatakan Duryudono itu ada benarnya. Dari dulu, semenjak semasa gadisnya di Kerajaan Mandaraka dulu Banowati menaruh hati kepada Arjuna, lelakinya jagad raya. Seorang satria yang terkenal kesaktiannya jika berhadapan dengan sesama pria, tetapi terkenal dengan ketampanan dan rayuan mautnya jika menghadapi wanita. Tidak heran belasan wanita, mulai dari anak pandita, resi, petani, putri raja sampai dewi kayangan pun dipersunting Arjuna. Dan isu yang beredar, Arjuna pun menanggapi perasaan Banowati. Meskipun sudah menjadi istri Raja Hastina, Arjuna sesekali menemui Banowati secara sembunyi – sembunyi. Konon pula, sebenarnya Duryudono tahu hal ini, namun dia pura – pura tidak tahu. Entah apa yang ada di hati dan pikirannya, hanya Duryudono dan Sang Pengusaa Jagad Raya yang tahu.

Merasa dipermalukan di depan danyang – danyang keputrian, memuncak kemarahan Banowati.

”Dursasana, kamu gila. Untuk menutupi kekuranganmu yang takut darah kamu mengarang cerita ngaya wara, mengada – ada. Kamu bawa – bawa nama Arjuna. Apa kamu berani aku adu sama Arjuna ???”

”Oalah..Banowati – Banowati, jangankan satu Arjuna. Sepuluh Arjuna tidak membuatku gentar…”

”Dursasana, sesumbarmu seperti bisa mematahkan besi baja, seperti berani menjilat besi merah membara yang habis dibakar. Tidak sudi aku papan catur (meladeni obrolan) denganmu…Lebih baik aku pergi dari sini”

Banowati meninggal keputrian dengan hati penuh amarah dan rasa malu.

”We lah…aku buka rahasianya, Banowati marah – marah. Sekalian saja aku buka byak apa yang selama ini dia lakukan. Terserah apa jadinya nanti. Tetai aku tidak terima diremehkan, dikira aku tidak berani meladeni perang melawan Pandawa. Hoe…..!!!Pandawa…!!! aku yang datang menjadi senopati. Mana senopatimu, kerahkan semuanya. Hadapi Dursasana….”

Terbakar emosi dan kemarahan Dursasana. Tanpa ada perintah dari panglima tertinggi Kurawa Dursasanan maju perang. Sudah tidak terpikirkan lagi siapa yang akan dihadapi, tanpa mempedulikan strategi dan taktik apa yang akan diterapkan menghadapi para kesatria pandawa, yang ada di kepalanya hanyalah perang, perang dan perang. Tidak perlu lagi mengaca diri apa yang dipunyai dan apa yang akan dihadapi, yang dia inginkan hanyalah menunjukkan kepada Banowati bahwa Dursasana adalah agul – agul, dan jago Kurawa yang patut diperhitungkan. Tidak boleh ada satu jalmapun meremehkan keberaniannya. Gelap mata dan emosi telah menguasai seluruh pikiran dan nafsunya.

Sangkuni dan para Kurawa yang lain : Kartomarmo, Citraksa, Citraksi, tak kuasa mencegah kehendak Sang Dursasana. Dihalang – halangi, melompat diganduli berontak.

Di perkemahan Pandawa, perbatasan Wiratha – Hastina yang masih dalam kekuasaan Kerajaan Wiratha. Setyaki pemimpin penjaga perkemahan melaporkan situasi di arena pertempuran kepada sang pengatur strategi Pandawa, Prabu Kresna penguasa Dwarawati.

”Nyusun sewu sinuwun, Setyaki mohon matur kekisruhan di Kurupati karena Kurawa telah mengirim Senopati baru hari ini”

”Siapa Setyaki, senopati itu ?”

”Kakang Dursasana sinuwun”

”Wrekudara, bagianmu adikku”

”Mohon doa restu Kakang, aku hadapi Dursasana…”

Terlaksanana Wrekudara berhadapan satu lawan satu dengan Dursasana.

”Wrekudara, hayo hadepi aku Dursasana. Kalau di Pandawa, Wrekudaranya kamu maka Kurawa, akulah Bratasenanya. Hayooo…gunung lawan gunung, penguasa gada lawan penguasa gada. Kerahkan semua kesaktianmu, keluarkan segala kekuatanmu, mustahil kamu bisa mengalahkan aku…”

”Wa….Dursasana, sesumbarmu seolah mampu mencengkeram Gunung Himalaya. Padahal aku tahu sejatinya nyalimu tiada..Hayo silakan kamu mulai, hantamlah Wrekudara..pilihlah bagian tubuhku mana yang empuk menurutmu. Kamu lihat…mendung menggantung gelap menggulung itu ?? Itu tandanya jagad seisinya siap mengantarkan kematianmu yang nista menuju neraka jahanam!!!”

Dursasana, bahkan sepuluh Dursasana pun bukanlah lawan yang setimpal bagi Wrekudara. Wrekudara adalah kesatria pilihan dewa. Putra Bethara Bayu yang mempunyai kesaktian berupa Kuku Pancanaka pemberian sang ayah dan Gada Rujak Polo yang diperebutkan dari Gandamana. Semenjak lahir Wrekudara telah melakoni laku prihatin menggembleng diri. Belum sepekan kelahirannya telah dibuang ke hutan karena tiada senjata dunia yang mampu membelah bungkus bayi Wrekudara. Hanya senjata Kahyangan berupa gading gajah seno yang mampu membelah bungkusnya ketika itu. Kekuatan gajah seno melebur menyatu kepada bayi Wrekudara menjadikan kekuatannya lebih dari sepuluh kali kekuatan manusia biasa. Dengan empat saudara yang lain dia pernah membabat hutan wanamarta yang terkenal gung liwang liwung, wingit tak terjamah manusia. Wrekudara, bukan hanya berlaku satria. Olah batinnya juga nyaris sempurna karena dia pernah ”minandita” saat lakon Bima Suci. Bethara Indra, Bethara Brama, Pandita Druna, Resi Hanoman, Prabu Kresna, selain bapaknya sendiri Dewa Bayu pernah menjadi guru Wrekudra dalam olah kesaktian kanuragan fisik maupun kejiwaan. Di sisi lain, tidak ada cerita yang menonjol dari Dursasana kecuali senang – senang dan hidup enak di Kerajaan Hastina warisan gratis dari orang tuanya yang sebenarnya wali pemangku kerajaan.

Tanpa perlu berpeluh keringat, Wrekudara meringkus Dursasana tanpa perlawanan berarti. Saat Dursasana sudah dipithingnya, teringat peristiwa dua belas tahun yang lalu saat Pandawa kalah dalam adu permainan dadu. Kala itu pandawa telah memberikan segala yang dimiliki akibat kalah bertaruh dengan Kurawa yang dibantu Patih Haryo Suman. Ketika Pandawa tidak memiliki apa – apa lagi, maka istri mereka Drupadi pun dipertaruhkan. Kembali Pandawa kalah. Saat itu Drupadi menjadi milik Kurawa. Drupadi diperlakukan lebih nista daripada seorang budak. Dihadapan para punggawa kerajaan, para pinisepuh, para kesatria pandawa dan kurawa, para emban, para danyang dan para punggawa Hastina, Dursasana melucuti gelung rambut Drupadi sehingga rambutnya jatuh terurai, yang pada jamannya dianggap sudah merupakan aib bagi seorang wanita. Tidak cukup hanya itu, Dursasana melucuti kebaya Drupadi, kemben Drupati, tinggallah kain jarit penutup dada sampai ujung kakinya. Tanpa mempedulikan nasihat pinisepuh yang hadir waktu itu – Druna, Pandita Bisma, Prabu Karno, dll – ujung kain jarit penutup tubuh Drupadi telah dipegang Dursasana, ditariknya sekuat tenaga. Drupadi menjerit, merintih menahan malu dan amarah yang sangat. Permohonan welas asihnya tidak dihirauakan Dursasana. Sebaliknya yang didapat ledekan, lecehan dan umpatan. Para Pandawa tidak mampu berbuat apapun kala itu, kecuali menyaksikan dengan perasaan malu, marah, kecewa dan sedih yang mendalam. Karena Drupadi kala itu bukan milik mereka lagi. Hanya karena pertolongan dan kehendak Yang Kuasa, kain jarit itu seolah tiada ujung. Bertumpuk – tumpuk bagian jarit yang sudah diarik Dursasana, beserakan, berjuluran di lantai pendapa istana. Tetap saja masih ada bagian jarit yang menutup rapat tubuh Drupadi meskipun lekuk dan kelok bentuk tubuhnya terlihat jelas. Dursasana lemas karena terlalu letih menarik dan menarik.

Saat itu Wrekudara berteriak menahan amarah, jika sampai pada waktunya terlaksana perang Baratayuda, dia sendiri yang akan menghadapi Dursasana dan akan menyempal – sempal lengan Dursasana yang sudah berlaku lalim, mempermalukan Drupadi dan Pandawa. Setelah Dursasana lemas, terlalu letih, Drupadipun mempunyai nadzar akan selalu membiarkan rambutnya terurai dan tidak akan mandi keramas sebelum menggunakan darah Dursasana untuk menyiram rambutnya yang terurai.

Maka saat ini, saat perang baratayuda telah terlaksana Wrekudara menghadapi Dursasana. Dursasanapun telah sepenuhnya dalam penguasaanya, ditembuskannya kuku pancanaka ke perut dan ulu hati Dursasana. Terkejang – kejang Dursasana menghadapi sakaratul maut. Terlihat perih, pedihnya Dursasana menghadapi kematian ini. Matanya melotot seolah mau meloncat keluar, bibir kelu tanpa mampu mengeluarkan teriakan dan erangan. Kedua kaki dan tangannya berkelojotan tak berirama. Perlu menunggu beberapa lama sebelum nyawa Dursasana melayang meninggalkan raganya.

Wrekudara melunasi nadzarnya, disempalnya kedua lengan dursasana. Terpisah tangan dari kembungnya. Ditadahinya dalam bokor darah yang mengucur dari tubuh jasad Dursasana, dihaturkannya darah itu kepada Drupadi. Saat itulah Drupadi mandi keramas pertama kali setelah lebih dari dua belas tahun.

Berakhirlah episode Dursasana sampai di sini. Yang berbuat mempertanggungjawabkan, yang menanam menuai hasil, yang berlaku mendapatkan balasan dari apa yang dilakukanya.

Angin kering musim kemarau berhembus, menyambar, membawa bau darah dan sisa erangan Dursasana ke segala penjuru mata angin. Melintasi padang perang kuru setra yang luasnya tidak cukup sepemandangan mata yang melihat. Kabar kematian tragis Dursasana tersiar dari angin ke angin, dari mulut ke mulut, dari roda kerata perang ke tunggangan perang, menembus dinding tebal padepokan Kuramandala. Kabar sedih ini tersampai kepada Duryudona, Sangkuni, Prabu Salya, Prabu Karna, Kartomarmo, Citrakso, Citraksi, juga Banowati. Diriingi dendam, kekecewaan, amarah dan tangisan keluarga, jasad Dursasana diperlakukan dengan upacara sesuai agama dan keyakinan Dursasana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: