Kematian Jayadrata, Cakra Menutupi Matahari

KETIKA dunia pewayangan mengalami peperangan, mereka yang ke medan laga juga
menggunakan berbagai macam senjata. Rupa-rupa senjata digunakannya. Para
ksatria menggunakan panah dan keris sedangkan para sudra menggunakan
terampang, badik, tombak, atau golok untuk membacok.

Panah digunakan untuk dilepas pada musuh yang jauh tempatnya, sedangkan
keris digunakan untuk peperangan jarak pendek. Kedua senjata ini terhitung
yang paling sempurna. Ada yang berasal dari sesuatu benda ajaib, misalnya
dan taring Betara Kala. Namun, sebaik-baik senjata adalah yang berasal dari
pemujaan tapa-brata dan pembenan para dewa Umumnya, para dewa memberi hadiah
panah kepada anak keturunan Pandawa, karena Pandawa dikenal sebagai ahli
pertapa dan pemuja. Dari sanalah mereka memperoleh senjata panah dengan
kesaktian yang beranekaragam. Tak jarang beberapa jenis panah memiliki
kesaktian yang melebihi batas. Misalnya, ada panah yang bisa berganti wujud
dan bisa memagut bagaikan paruh burung Ardadeli. Bahkan, ada panah yang bisa
menutup teriknya matahari, mengubah terang benderangnya dunia menjadi gelap
gulita.

Raja dari segala senjata adalah panah cakra Prabu Kresna. la dihormati dan
ditakuti oleh seluruh benda yang bernama senjata. Segala kesaktian tunduk
pada senjata cakra. Tersebutlah dalam sebuah kisah. Tatkala Prabu
Arjunasastra hendak dipanah dengan senjata cakra, maka raja agung
binatoro-sakti madraguna itu keder, takut hingga bertriwikramalah Sang
Prabu, menjadi raksasa titisan Wisnu untuk menandingi kesaktian cakra.
Karena hanya kepada Dewa Wisnu sajalah senjata itu tunduk dan takluk
bagaikan hamba sahaya. Ini menggambarkan bahwa panah bukan sembarang
senjata, apalagi barang mainan.

Malah pada saat perang Baratayuda, panah cakra itu digunakan oleh. Prabu
Kresna untuk menghadang sanghyang surya. Ketika panah dilepas ke angkasa, ia
melesat menembus langit, menutup matahari. Bumi menjadi gonjang-ganjing,
siang menjadi muram, tampak seperti malam.

Tipu muslihat ini digunakan pada waktu Arjuna bersumpah akan mati membakar
diri, bila hari itu tak berhasil membunuh Jayadrata. Karena sumpah itu, maka
Jayadrata disembunyikan Kurawa agar terhindar dari ancaman Arjuna. Namun,
sial bagi Kurawa. Ketika sinar matahari tampak suram, Jayadrata ingin
mengintai matinya Arjuna dari persembunyiannya. Perbuatan Jayadrata ini
diketahui oleh Prabu Kresna. Maka, berkatalah ia kepada Arjuna agar segera
melepas panahnya kepada sang pengintai.

Panah dilepas dan terpenggallah kepala Jayadrata. Setelah peristiwa itu
terjadi, Prabu Kresna tak lagi menutupi matahari dengan panah cakranya.
Seluruh alam tampak terang-benderang sebagaimana sediakala. Sorak sorai
mewarnai kehidupan bumi. Kemenangan ada pada pihak Pandawa.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: