Kesombongan dan Kebodohan

KSETI ksemebhih sadhubhir nakir yam ghnanti hanti yah, agne suvira edhate (Rgveda VIII.84.9) Artinya: Ya, Tuhan Yang Maha Esa, ia yang menjalani kehidupan suci, kerja keras, yang melakukan kebaikan kepada orang lain, tidak merugikan orang lain. Orang yang memiliki keluhuran budi pekerti dan berani seperti itu selalu berhasil baik.

Manusia sebagai mahluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, interaksi sosial adalah sesuatu yang sangat penting dalam mempertahankan eksistensinya. Interaksi sosial dapat bermakna; 1) stimulasi dan tanggapan antar manusia. 2) hubungan timbal balik antara pihak-pihak tertentu. Interaksi berlangsung antar komponen baik secara individu, kelompok, maupun lembaga, mereka hidup saling bergantung, saling mempengaruhi, saling menjaga dan menghargai karya orang lain dalam komunitas sosial yang terbina berdasarkan nilai dan norma-norma yang berlaku. Namun kenyataan sosial yang kita jumpai pada kehidupan sehari-hari baik lingkungan keluarga, dan pada masyarakat tertentu tumbuhnya keresahan dan ketegangan sosial yang berdampak terjadinya konflik berkepanjangan antara suami istri yang berujung perceraian dan konflik horisontal antar kelompok masyarakat. Perbedaan karakter suami istri maupun kelompok masyarakat janganlah dipertandingkan melainkan harus disandingkan sehingga hidup ini nampak indah.

Kesombongan memiliki kekuatan, kekayaan dan ilmu pengetahuan yang tinggi dan menganggap karya orang lain tidak bermakna sesungguhnya adalah sebuah kebodohan. Ketika orang yang diam mendapat celaan, orang yang mencela itulah yang termakan oleh celaan itu dan jika orang yang mencela memiliki kebaikan maka kebaikan itu akan didapatkan oleh orang yang dicela itu. Kisah cerita di bawah ini, kiranya dapat dipakai sebagai bahan renungan untuk mulat sarira ( instrospeksi diri).

Pada suatu hari Sri Kresna dan Arjuna berjalan-jalan di pinggir pantai Kanyakumari ujung selatan anak benua India. Di tempat itu mereka menyaksikan puing-puing jembatan Situbandha yang dibangun oleh Sri Rama dengan bantuan ribuan kera untuk merebut kembali Dewi Sita dari tangan Rawana. Sri Kresna berkata: ”lihatlah Arjuna, konon batu yang demikian besarnya mampu diangkat oleh bala tentara kera, sungguh mengagumkan. Arjuna pun menjawabnya dengan penuh kekaguman. Namun yang terjadi saat itu dalam hati Arjuna muncul keangkuhan dan kesombongan. ”Membuat jembatan demikian saja kok mengerahkan ribuan bala tentara kera, Aku sendirian saja mampu membuat jembatan yang jauh lebih megah, hanya dengan kekuatan sebatang anak panah saja. Keangkuhan dan kesombongan pikiran Arjuna akan dilenyapkan oleh Sri Kresna. Dengan kemampuan dewatanya, Sri Kresna memanggil Hanuman yang saat itu sedang rileks di lereng gunung Kailasa. Bagaikan kilatan cahaya, tiba-tiba muncul seekor kera kecil dan nampak kurang sehat berdiri di samping Arjuna dan mampu berbicara seperti manusia. Apakah tuan bernama Arjuna dan apakah tuan bernama Sri Kresna ?, mereka menyiakan. Tiba-tiba keangkuhan Arjuna tidak tertahankan dan nyeletuk : apakah anda mengenal mega proyek jembatan Situbandha yang dibuat oleh Sri Rama dengan para Kera ? Apabila hanya membuat jempatan seperti itu , maka Sri Rama tidak hebat, Aku mampu melakukan hal itu! Kera kecil itu menjawab: wah hebat benar tuan! tunjukanlah kepada hamba biar hamba mengenal kemampuan tuan. Arjuna mengeluarkan satu batang anak panah bernama Nagapasa dan melepaskannya. Seketika itu terbentang sebuah jembatan yang besar, megah dan nampak kokoh. Kera kecil itu minta ijin kepada Arjuna untuk mencoba melewatinya. Hanya dengan satu kali injakan jembatan itu roboh. Maaf, tuan Arjuna, saya kera yang bengil (kecil nampat sakit) saja membuat jembatan tuan hancur, apalagi ribuan kera !

Arjuna sangat malu, ternyata seekor kera kecil mampu merobohkan karyanya yang hebat. Siapakah anda, saya yakin anda bukan seekor kera biasa, saya mengagumi anda ! Aku adalah adalah Hanuman, abdi setia Sri Rama. Hanuman pun menunjukkan jati dirinya. Maaf tuan Hanuman, saya dengar tuan sangat perkasa, mampu terbang kemana-mana, kini mengapa anda kelihatan kecil dan tua renta seperti tidak berdaya. Ijinkanlah hamba menghormati Tuan, demikian kata-kata Arjuna dengan penuh penyesalan. Hanuman menjawab : setiap mahluk mengalami proses menuju ketuaan. Ketika saya masih menjabat untuk membebaskan Dewi Sita dari cengkraman raja Rawana, saya punya jabatan tinggi, sebagai pejabat kepercayaan Sri Rama, saya mendapat segala fasilitas. Tetapi kini saya telah pensiun, fasilitas tidak ada, segalanya nampak kecil, sakit-sakitan dan tidak seorang pun mau menoleh. Syukur, ketika saya menjadi panglima dapat berkesempatan dekat dengan Sri Rama sebagai awatara (perwujudan) Tuhan, beliau banyak memberikan karunia kepada saya untuk mmenghadapi berbagai persoalan hidup termasuk bagaimana cara menghindari ” pospowersyndrome ”. Arjuna, satu hal yang harus kau ingat bahwa, ”Kesombongan memiliki kekuatan, ilmu pengetahuan yang tinggi dan menganggap orang lain tidak berguna, sesungguhnya mereka adalah orang yang bodoh, kata Hanuman.**

Oleh IB Heri J

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: