Prasetya Basukarna

[Ketika mendekati Setyaki yang tengah duduk bersila di tempat kusir kereta Kyai Jaladara, Sri Kresna melihat Raja Awangga lewat. Maka ia segera mengejarnya sampai ke tepi bengawan Yamuna.]

“Adik Basukarna, saya yang datang, Dik.”

“Wah, silakan Kakak Prabu, hamba menghaturkan selamat Paduka telah berhasil menyebabkan para Kurawa gemetar ketakutan, Kakak Prabu. Hamba menghaturkan takzim…”

“Wee lha, belum-belum diriku ini sudah disindir oleh Raja Ngawangga… hehehe… tidak, Adik hendak pergi ke mana?”

“Kakak Prabu, karena pengabdian hamba sudah tidak diperlukan, hamba akan mengheningkan cipta di tepi Bengawan Yamuna, Kakak Prabu. Seperti yang sudah-sudah. Hamba akan bersamadi di tempat dahulu Ibunda Rada mengangkat kotak mulia yang berisi jabang bayi bernama Suryatmaja, Kakak Prabu.”

“O, begitu… ya sudah, silakan… Tapi boleh ‘kan saya mengiringkan Adik Prabu, sambil berbicara mewakili adik-adikku para Pandawa?”

“Pembicaraan yang bagaimana lagi? Bukankah yang jelas adik-adik hamba para Pandawa nanti akan memperoleh kemuliaan kembali dalam bentuk negara Ngastina Separuh?”

“Ya, sekehendakmulah… mari saya temani naik kereta Kyai Jaladara ini….”

[Kedua orang besar itu pergi ke tepi sungai Yamuna, dikusiri oleh Harya Setyaki. Di tempat yang biasa, Prabu Basukarna segera duduk ditemani oleh Sri Kresna.]

“Mohon maaf, adik-adik hamba Pandawa ingin berbicara bagaimana, Kakak Prabu? Apakah ingin memberikan kehormatan kepada diri hamba dengan bersemayam di salah satu kasatriyan atau wilayah perdikan Ngastina Separuh nanti, Kakak Prabu?”

“Lho, ‘kan nekat saja. Yang mau membelah dua Ngastina itu siapa?”

“Lha, tadi tentu Adik Kurupati gemetar ketakutan menyaksikan Raksasa Kesawa, lalu bersedia menandatangani Surat Pernyataan, begitu ‘kan, Kakak Prabu?”

“Wee lha, Adik ini kebablasan menghujat orang tua. Tidak ada Surat Pernyataan, Dik…. Ternyata Perang Barata akan segera berkecamuk. Oleh karena itu kakak ini mendapat pesan titipan dari Adik Darmakusuma, apabila tugasku sebagai duta gagal, agar Adik bersedia hijrah ke Wirata. Bersatu dengan adik-adik dari ibu yang sama, Dik. Adik Aji tidak tega dan tidak bersedia berperang melawan saudara tua.”

“Wah, hmmm… namanya sudah terlanjur, jadi seperti ini nasib Basukarna. Harus tega memutuskan persaudaraan secara lahiriah … Duh, Kakak Prabu, izinkan hamba menyampaikan … juga ini sebagai pesan bagi Adik Samiaji dan adik-adik hamba para Pandawa… Hamba tidak dapat memenuhi kehendak Adik Puntadewa, Kakak Prabu.”

“Lho, apa sebabnya, Dik?”

“Kakak Prabu, bila saya bersatu dengan Pandawa, saya percaya Kurupati akan membatalkan Bharatayuda. Karena, terus terang, keberanian Kurupati itu justru saya yang mengobori …”

“Lho, alasannya?”

“Hamba hanya ingin menepati janji hamba kepada yang dapat mengangkat saya ke dalam golongan kesatria. Oleh karena dulu hamba ini cuma dianggap ‘anak kusir’. Memang, hamba tidak bisa menyalahkan siapa pun; mungkin ini adalah karma yang harus hamba sandang, Kakak Prabu.”

“Oh, janji? Janji yang bagaimana, Dik?”

“Hamba ingin menepati janji dan membayar semua hutang budi hamba. Hamba bisa menjadi adipati di Ngawangga oleh karena diangkat sebagai saudara oleh Kurupati. Jadi hamba harus menjaga orang yang sudah memberi budi kepada hamba, Kakak Prabu. Juga hamba harus menepati darma ksatria untuk membasmi angkara murka …”

“Weelah …. nanti dulu. Adik ingin membalas hutang budi itu memang benar, tapi prasetyamu untuk membasmi angkara murka yang menyatu dengan Kurawa itu penalarannya bagaimana, Dik?”

[Basukarna tersenyum … merasa dipojokkan oleh Sri Kresna. Maka ucapnya …]

“Kakak Prabu, Kurawa itu gudangnya angkara, hampir setiap orang tahu. Sampai hamba sendiri terseret-seret dianggap pelindung angkara; ya tidak dapat hamba pungkiri, karena kenyataannya hamba ini orang Kurawa, dan juga melindungi mereka….”

“Lha, mengapa begitu?”

“Terus terang saja, Kakak Prabu … Hamba ini sudah tidak mampu mengalahkan angkara murkanya Kurawa. Tetapi hamba ini orang dalam. Yang dapat hamba lakukan tiada lain ialah mengharapkan pecahnya Baratayuda….”

“Wee lha, kalau begitu Adik tega terhadap adik-adikmu? Apa karena niatmu memang ingin perang tanding melawan Permadi?”

“Kakak Prabu, kalau perang tanding tadi mewujudkan sarana bagi janji hamba menepati ksatria hamba, di mana salahnya?”

“Apakah Adik tidak menyadari dan tahu bahwa Pandawa itu tidak berani cperang tanding melawan Adik?”

“Seribu maaf … Derajat Basukarna itu apa dibandingkan Sang Mahatma Bisma…. Padahal apabila Baratayuda pecah, mau tidak mau Mahatma Bisma, Guru Drona, Kripa, juga akan berhadap-hadapan dengan para Pandawa, Kakak Prabu…. Apakah Kakak Prabu mengkhawatirkan bahwa Pandawa akan kalah perang melawan hamba?”

“Ah, siapa yang tidak tahu akan kesaktianmu, Dik…. Apa ada senjata yang mampu menembus tubuhmu?”

“Yah, berkat kewaskitaan Kakak Prabu dalam hal Aji Tirai Baja [kere waja] ini yang menyebabkan hamba mengharap-harap pecahnya Baratayuda…. Yah, oleh karena Kakak Prabu menjagoi Pandawa, hamba memastikan bahwa Baratayuda ini menjadi sarana bagi hamba mencapai swarga…. Melalui tangan Permadi itulah hamba dapat menemukan swarga, Kakak Prabu. Coba Paduka lihat, tubuh hamba ini memakai perlindungan apa?”

“Aaah … Adikku, Adikku …. Basukarna…! Begitu luhur budimu terhadap adik-adikmu pribadi yang sayangnya tidak memahami dirimu…. Duh, Dik….sungguh berat karmamu …. Saya hanya turut memohonkan kasih sayang dewata agar terlaksana prasetyamu, Dik…. Kakak mohon pamit….”

[Berlinang air mata Sri Batara Kresta ketika melihat Basukarna sudah tidak mengenakan busana ‘Tirai Baja’.]

Oleh: Ki Denggleng Pagelaran

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: