Wiratha Parwa 6/6

Malam hari menjelang akhir penyamaran Para Pandawa. Setelah para penyerbu berhasil diusir dari perbatasan menjelang pergantian hari ini. Belum sempat Bilawa, Wrahatnala, Wijakangko beristirahat untuk memulihkan tenaga. Kerajaan merasa perlu merayakan kemenangan Prajurit Wiratha yang gilang gemilang ini. Kerusakan, kehancuran, dan rasa penderiataan rakyat akibat perang beberapa hari ini, menjadi urusan nomor dua untuk dipulihkan. Raja Matswapati berpendapat semangat dan harga diri rakyat dan kawula perlu dipulihkan dulu dengan perayaan untuk menyuntikkan semangat dan rasa percaya diri di hati serta pikiran mereka. Perayaan ini sangat perlu untuk pemulihan rasa percaya diri itu atas nama kebangsaan dan kenegaraan Wiratha maupun kepada pemerintah kerajaan.

Perayaan ini sekaligus untuk menyambut Sang Senopati Utara dari perbatasan depan Wiratha. Semua punggawa, senopati, putri dan danyang – danyang hingga kawula rakyat kecil diundang ke balairung istana kerajaan yang memang tidak tersentuh perang sehingga kemegahannya sebagai bagian Istana kerajaan Wiratha tetap terasa. Hadir pula ke paseban agung di hadapan Sang Raja, adalah Kangka, Bilawa dan Salindri. Sementara Wrahatnala dan putra mahkota Utara belum terlihat.

Raja Matswapati memulai pidatonya dengan mengungkapkan rasa bangga hatinya karena putra mahkota Kerajaan berhasil memundurkan pasukan Hastina Pura. Begitulah yang disangka dan dibanggakannya. Kepada semua yang hadir tak henti – hentinya Sang Prabu memuji keberanian dan ketangkasan putra mahkota Raden Utara yang sepengetahuannya berhasil memukul mundur pasukan Hastina dari arah depan istana. Menurut khabar yang sampai ke telinganya, lawan yang dihadapi oleh Utara bukan lawan yang sembarangan, Adipati Karno. Seorang senopati dengan kemampuan dan kehlian perang tanpa tanding. Adipati Karno terkenal dengan kehlian memanah yang mencapai taraf sempurna. Juga diberikan senjata sakti oleh bapaknya, Bethara Surya, berupa keris Kyai Jalak yang dapat mencari musuh dan memusnahkannya dengan bertindak sendiri sesuai dengan keinginan Sang Adipati. Karno juga mempunyai anak panah, senjata kunta pemberian Sang Bethara Guru. Tetapi itu semua tidak berarti di hadapan Utara, putra kesayangannya. Kenyataannya Utara dapat mengatasi semua kesaktian Adipati Karno. Ini tentu saja prestasi yang luar biasa. Ini prestasi yang patut dibanggakan dan harus dihargai oleh para kawula dan raktyat Wiratha seluruhnya. Prabu Matswapati ingin menunjukkan kepada rakyatnya bahwa Negara dan kerajaan dalam kondisi aman terkendali, pemerintahan sangat dapat diandalkan untuk dapat mengatasi permasalahan apapun yang perlu dihadapi. Jadi tidak beralasan jika tersembul sedikitpun rasa tidak puas kepada pemerintahan.

Semua yang hadir ramai bersorak dan mengamini kata demi kata Sang Prabu, meskipun banyak di antara mereka tahu situasi sebenarnya di lapangan bagaimana. Namun mayoritas di antara yang hadir adalah lingkaran dekat kerajaan yang sudah terlanjur menempati posisi enak – kepenak. Mereke sudah terlanjur menikmati fasilitas dan kemapanan yang bahkan turun – temurun. Terlalu berisiko bagi mereka jika mereka berani menentang apa yang dikatakan Sang Raja. Bagi kebanyakan mereka, apapun yang terjadi di luar sana tidak mereka pedulikan yang penting Bapak senang.

Hingga giliran Raja Matswapati menumbukkan pandanganya kepada Kangka yang seolah tidak senang dengan suasana yang terjadi. Dari sikap dan pandangan mata Wija Kangko terlihat tidak sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Sang Raja. Kangko, yang sebenarnya adalah Puntadewa, terkenal sepanjang hidupnya tidak pernah berdusta. Karena sikap luhurnya ini, Yang Maha Kuasa karena sayangnya, memberikan kelebihan kepadanya. Puntadewa mempunyai darah berwarna putih, tidak merah selayaknya jalma manusia yang lain. Dimulai pada masa akhil baliknya, jika berjalan kaki Puntadewa tidak menyentuh tanah karena sucinya jiwa dan raganya.

Di Wiratha, Kangka cukup dikenal sang Raja karena keahliannya bermain dadu. Beberapa kali Sang Raja bermain dan diajari sukan dadu oleh Kangka. Maka wajah Kangka di perayaan kali ini pun tidak asing bagi Sang Raja.

“Kangka…,aku menangkap dan melihat kesan kamu tidak suka dengan suasana perayaan saat ini. Ada apa ??? Kamu khan menyaksikan sendiri bagaimana Utara memimpin pasukan kerajaan Wiratha mengundurkan prajurit – prajurit Astina yang dipimpin Basukarno”

“Mohon maaf Paduka, apa yang paduka katakan sebenarnya tidak benar”

“Hey….!! Tidak benar bagaimana ??”

“Sebenarnya yang mengalahkan Hastina bukan sang putra Utara, tetapi Wrahatnala ”

“Ah …ngawur kamu, bagaimana Wrahatnala si banci itu sanggup perang tanding apalagi mengalahkan Karno??!! Jelas anakku Utara yang maju perang dan dia yang menang!!!”

“Bukan paduka, yang menang perang Wrahatnala”

“Bangsat….Kamu berani melawan aku ??!!” Raja Matswapati meluap kemarahannya. Merasa dikilani dadanya, diremehkan martabatnya, dipermalukan harga dirinya.

“Yang menang Utara…..Iya apa tidak ???!!”

“Bukan, Wrahatnala yang mampu mengatasi prajurit Hastina”

Raja Matswapati tidak mampu lagi menahan amarahnya. Disambarnya cupu (pot) tanaman hias didekatnya, dilemparkanya ke Kangka. Tepat mengenai pelipis Wija Kangko, pelipis pecah mengucurkan darah segar berwarna putih. Belum sempat darah putih suci yang mengalir deras membasahi bumi wiratha yang amis ini, Salindri yang berada di samping Kangka menengadahkan telapak tangannya untuk menampung, menadah darah suci itu.

“Salindri…!!!” Bentak Raja Matswapati.

“Apa yang kamu lakukan, mengapa kamu tadahkan tanganmu seperti itu…? Sudah biarkan Kangka, tidak usah kamu ikut-2an mengurus. Sudah sewajarnya dia mendapatkan hukuman setimpal karena menentang Raja….”

“Aduh….Sinuwun Prabu, mohon maaf atas kelancangan hamba. Sebagai istri, hamba berkewajiban merawat suami saya yang kesakitan ini. Lagi pula, sayang sekali bagi saya, darah suci ini kalau sampai menetes membasahi bumi. Oleh karena itu darah suami saya, saya tadah dengan tangan hamba sendiri.”

“Wah….terserah kamu saja. Toh siang nanti kamu harus menjalani hukuman mati akibat pembunuhan atas Patih Kerajaan Kencaka Pura dan Rupa Kenca”

Malam telah melewati pertengahannya, hari sudah berganti, tidak lama lagi fajar timur akan menjelang. Di luar balairung terdengar sorak sorai gemuruh layaknya tembok bata yang rubuh. Senopati perang telah kembali dengan membawa kemenangan. Bukan Utara yang memimpin pasukan, tetapi Wrahatnala yang di depan. Rombongan ini memasuki balairung istana. Heran Sang Raja melihat pemandangan ini, namun rasa bangga kepada putranya menutupi semuanya. Disambut, dipeluk dan diciumnya putra kesayangan yang menurutnya telah menang perang.

“Ha…ha…ha…..Selamat datang sang senopatiku, Utara….aku bangga padamu karena Adipati Karno yang sakti mandra guna itu telah kamu kalahkan anakku. Tidak perlu menunggu lama, segera kamu aku angkat jadi raja menggantikanku Utara…”

“Mohon maaf Rama, ijinkan hamba matur…”

“Ya….bagimana ??”

“Rama Prabu, sejatinya bukan saya yang memimpin pasukan dan mengundurkan musuh..”

“Loh….la siapa ? Wrahatsangka ??? Atau Seto barangkali ???”

“Juga bukan adik – adik saya itu …”

“La terus siapa ???”

“Wrahatnala…”

“Ah kamu bercanda, yang benar saja. Bagaimana mungkin si wandu itu bisa memimpin pasukan Wiratha????”

“Kepareng matur Rama Prabu, sebenarnya Wrahatnala itu tidak lain adalah Cucu buyut Rama sendiri, ya cucu saya Si Permadi”

“Hey…??Gimana ?? Buyutku Permadi ???”

“Sendika Rama, terus Kangka yang Ramanda lukai kepalanya tak lain adalah Puntadewa ya Yudistira, Bilawa adalah Bratasena dan dua pemuda tukang kuda dan pemelihara unggas kerajaan itu tak lain adalah Nakula dan Sahadewa, sinuwun…”

Perasaan Prabu Matswapati saat itu campur aduk tidak karuan. Antara rasa malu yang dalam karena membanggakan keluarga sendiri yang ternyata salah dan kebahagian yang luar biasa karena cucu – cucu buyutnya dalam keadaan selamat dan dalam perlindungan kerajaannya meskipun tidak sengaja dilakukannya. Prabu Matswapati juga meratapi dan menyesali diri, mengapa pikiran dan rasanya begitu tumpul. Mengapa mata batinnya begitu tuli dengan situasi dan keadaan negerinya. Mengapa ia tidak tanggap ing sasmita melihat darah putih mengucur yang belum kering itu. Seharusnya dia tahu bahwa di jagad ini hanya Yudisthira yang mempunyai keistimewaan seperti itu. Mestinya dia juga merasa bahwa Bilawa yang menyelamatkan jiwanya adalah kerabat sangat dekatnya. Ciri fisik Bilawa mungkin bisa ditutupi, tetapi sikap dan sifatnya yang tetap konsisten, tanpa pamrih, tidak punya rasa takut, dan apa adanya itu seharusnya sudah mencukupi untuk menandakan bahwa dia Bratasena.

Di luar sana fajar baru telah menyemburat dari ufuk ujung timur. Sebentar lagi sang surya akan menunaikan kewajibannya, menerangi jagad bahana, dunia seisinya. Memberikan penerangan kepada siapapun yang mau, tanpa pilih kasih dan tanpa pamrih. Dunia berganti hari, sepenggal hari lagi jatah umur siapapun, apapun yang didunia berkurang. Prabu Matswapati, merasakan siraman terang pada hati dan pikirannya. Keangkuhan dan kesombongan yang mengiringi kekuasaan serta kewenanganya perlahan sirna, tunduk tawaduk.

“Waduh – waduh buyut – buyutku, mendekatlah kemari angger. Eyang ingin memeluk kalian satu per satu. Tiga belas tahun tidak melihat wajah teduh dan damai kalian, rasanya seperti sudah seumur hidupku. Drupadi, Yudistira, Bilawa, Nakula, Sadewa…Ah hemmm. Sini – sini ngger, aku ingin melihat dan menikmati wajah kalian satu persatu, cucu – cucuku. Ah hmmm, betapa bodonya eyang buyut ini. Kalau dilihat umur, aku ini ya sudah sepuh, tetapi hati dan batinku rasanya kok semakin tumpul. Kalau ditilik jabatan dan kekuasaan, aku ini ya Raja gung binathara, harusnya kebijakan dan welas asih yang eyang buyut kedepankan tetapi kenyataanya hanya congka dan arogan. Buyut – buyutku., rasanya umur eyang tidak akan lama lagi, harusnya eyang tambah prestiti ngesti ngabekti kepada gusti. Tetapi yang eyang terlalu terlena dengan mukti duniawi. Uyut…..maafkan aku ya ngger…Wah dosa apa yang eyang sandang..hemmm”

Bagai banjir bah, penyesalan dan ratapan raja matswapati mengalir seolah tanpa henti. Gungun – gungun menangis seperti bayi.

”Sudah – sudah eyang..” Yudistira dengan lemah lembut menghibur Sang Prabu.

”Eyang buyut…tidak perlu disesali terlalu lama apa yang terjadi kemarin – kemarin. Eyang, kami semua sedikitpun tidak merasa eyang sakiti, kami harusnya berterima kasih karena Wiratha telah memberikan tempat perlindungan yang sempurna bagi kami berenam, sehingga kami lulus ujian yang sangat berat ini eyang. Namun kami tidak bisa melakukan apa – apa kecuali dengan tenaga dan keringat kami. Hamba dan adik – adik hamba, mohon ketulusan dan keluasan hati Paduka untuk memberikan ampunan atas apa yang telah kami perbuat di Wiratha Eyang…”

”Duh Pandawa…. pandawa….begitu luhur budimu cucu – cucuku. Pantes kalau kalian adalah putra Pandu. Ya sudah, hari sudah berganti siang. Sudah waktunya kita menata diri setelah pertempuran dan kekacauan ini. Hanya satu yang ingin eyang sampaikan. Disaksikan semua yang hadir di sini, disaksikan jagad seisinya, Yang Maha Kuasa, para dewata dan malaikat, eyang berjanji. Nanti saat perang baratayudha digelar, negara Wiratha seisinya, Raja, para putra, para senopati, prajurit, semuanya Eyang pertaruhkan untuk mendukung kalian para Pandawa sebagai balas budi atas jasa – jasa kalian mengatasi serbuan Hastina dan Triharga ”

Janji Prabu Matswapati ini ditepati, semua putra senopati Wiratha gugur membela pandawa dan kebenaran pada hari – hari pertama perang besar Baratayuda Jaya Binangun.

[Selesai, edisi Wiratha Parwa…]

sumber: http://moedjionosadikin.wordpress.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: