Balada Kunti dan Karna


Kokom tersedu. Ia membayangkan dirinya jadi Dewi Kunti, bunda para Pandawa yang tak diakui ibu oleh Karna, yang juga putra kandungnya.

“Bagaimanakah sikapku ketika menghadapi situasi seperti yang dialami Kunti?” Kokom masih tersedu sambil kepalanya rebahan di dada Juha pada sebuah Minggu sore.

Ada rasa sesal di hati Juha. Kenapakah ia harus menceritakan kisah Adipati Karna sehabis nonton wayang kulit melalui televisi dengan dalang Ki Manteb Sudarsono. Bukankah itu membuat sedih hati bininya?

Entahlah, Juha merasa lakon itu sedemikian menggetarkan nuraninya, karenanya wajib dibagi untuk Kokom. Apalagi interpretasi Pak Manteb yang mendudukkan tokoh Karna sebagai satria luhur yang punya sikap, yang sekaligus menggugurkan kesimpulan kebanyakan penonton wayang yang mengangap Karna adalah tokoh oportunis yang cuma mengejar pangkat belaka.

Dalang asal Karang Pandan, Klaten, Jateng, itu memang tak sekedar memainkan wayang. Ia mencoba menawarkan wacana baru tentang sebuah lakon pewayangan yang selama ini bergerak linear tentang tokoh/kelompok jahat-baik yang diwakili oleh Kurawa-Pandawa.

Maka benarlah kata para penggemar wayang, Ki Manteb memang mewarisi “greget” dari dalang kharismatik asal Semarang, almarhum Ki Nartosabdho. Ki Manteb tak hanya memberi “kehidupan” pada wayang-wayang yang dimainkannya, tapi juga melengkapinya dengan situasi batin tiap tokoh wayang yang dimainkannya.

Simaklah percakapan Karna dan Kresna sebelum perang Baratayudha pecah di bawah ini:

Kresna: Saya minta Anda kembali ke Pandawa, berkumpul kembali dengan saudara-saudara Pandawa lainnya.

Karna: Tidak. Ini sudah pilihanku. Toh tidak ada bedanya, jika kelak aku mati di perang Baratayudha, Pandawa tetap lima. Begitu juga sebaliknya jika Harjuna yang mati, Pandawa tetap lima.

Kresna: Kenapa harus saling membunuh, padahal kamu tahu Pandawa itu adalah saudara-saudaramu sendiri? Kamu, Puntadewa, Bima dan Harjuna adalah putra-putra Kunti!

Karna: Ini bukan persoalan bunuh membunuh. Ini persoalan tugas suci yang harus diemban oleh setiap ksatria untuk membuktikan bahwa pilihannya adalah benar.

Kresna: Bagaimana engkau bisa mengatakan pilihanmu adalah benar, sementara engkau membela angkara murka?

Karna: Jangan cuma melihat kulit, kakanda.

Kresna: Maksudmu?

Karna: Kanda tahu? Tiap orang memiliki cara untuk menyampaikan kebenaran. Pandita menyampaikan kebenaran lewat nasihat, sedang ksatria seperti saya ya lewat perang. Ah, kakanda pasti sudah tahu maksudku.

(Kresna diam. Sebagai titisan Dewa Wisnu, Kresna memang diberi kelebihan mengetahui sesuatu yang akan terjadi).

Karna: Begini, kakanda. Berkali-kali para pandita menasihati raja Hastina, Duryudana, untuk berbuat baik. Tapi tetap saja ia masih bersifat angkara murka. Maka satu-satunya jalan bagiku adalah mendorong dirinya untuk berani perang melawan Pandawa dalam Baratayudha.

Kresna: Kenapa harus melalui peperangan?

Karna: Karena hanya melalui peperanganlah angkara murka Prabu Duryudana akan punah sampai ke akar-akarnya!

Ya, ya, cerita tentang Prabu Karna oleh Ki Manteb tak seperti yang diketahui oleh Juha selama ini melalui dalang-dalang konvensional yang cuma menggambarkan sosok Karna sebagai tokoh matre yang tega melupakan saudara.

Melalui cerita Ki Manteb, Juha jadi tahu betapa Karna siap jadi tumbal bagi kejayaan saudara-saudaranya keluarga Pandawa. Satu sisi ia ingin membasmi sifat angkara murka keluarga Kurawa, sisi lainnya ia siap mati oleh panah Harjuna. Padahal, jika mau, tak ada jenis pusaka apapun yang sanggup menandingi senjata Kunta Wijaya Danu milik Prabu Karna.

“Tapi Karna kok kejem banget, padahal Bu Kunti kan udah minta maaf ya Bang? Padahal Kunti bertahun-tahun telah mencarinya. Eh, begitu ketemu malah nggak mau mengakui Kunti sebagai ibunya,” kata Kokom lirih.

“Kejam mana dengan Kunti yang tega membuang Karna ke sungai ketika masih bayi?”

“Ah yang bener, Bang…”

“Mana gue tahu, orang ini juga cuma cerita.”

“Ganjen juga tuh si Kunti.”

“Emang.”

“Abang tahu ceritanya si Kunti itu?”

“Sun dulu, dong.”

“Huh, sama ganjennya!”

Setelah sebuah ciuman mendarat dengan cepat di pipi, Juha pun bercerita tentang tokoh Kunti.

Dewi Kunti, kata Juha, adalah seorang anak raja bernama Kuntiboja. Meski sudah dikaruniai kecantikan, Kunti rupanya masih tertarik dengan ilmu pengasihan agar disuka banyak orang.

Suatu hari Kunti iseng kepingin mecoba ilmunya. Dengan busana yang rada menantang, Kunti berjemur di tepi kolam kaputren. Tanpa disadari oleh Kunti, mendadak ia disergap oleh sinar yang menerangi sekujur tubuhnya.

Setelah kejadian itu, Kunti pun hamil. Sang ayah kebingungan begitu mendapatkan anaknya hamil tanpa suami. Segera sang raja mengadakan pertemuan darurat yang intinya untuk merahasiakan kehamilan Dewi Kunti.

Untunglah kemudian ada orang pintar yang memberitahu sang raja, bahwa Kunti hamil akibat perbuatan Dewa Surya (dewa matahari) yang naik libidonya saat menyaksikan Kunti berjemur di tepi kolam.

Untungnya juga, si orang pintar yang berhasil melacak jejak durjana pemangsa “mahkota” Kunti, mampu mengeluarkan bayi Kunti tanpa melewati rahim untuk menjaga keperawanan sang putri.

“Trus lewat mana, Bang?”

“Telinga!”

“Hah?”

“Makanya si bayi akhirnya diberi nama Karna, artinya telinga.”

Agar kehormatan keluarga kerajaan tetap terjaga, maka bayi Karna dibuang ke sungai, lanjut Juha. Untunglah seorang kusir (pengemudi) kereta kerajaan yang bernama Adirata menemukan Karna.

“Tapi bener tuh Bang, Karna lahir lewat kuping?”

“Namanya juga cerita.”

“Ih, irasional banget.”

“Kagak usah nggaya lo, Kom. Pakai istilah irasional segala, mending lo tahu artinya.”

“Pan lagi ramai istilah itu di koran-koran. Emang apaan artinya, Bang?”

“Kalau ada awalannya i, berarti nggak. Irasional, berarti nggak rasional, nggak masuk akal.”

“Kalau ilegal?”

“Nggak legal, nggak resmi.”

“Kalau… i..kasihan deh lu?”

“Au ah gelap.”

jodhi@kompas.com

Penulis: jodhi yudono

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: