Cinta Berdarah di Argobelah.

ANAK ulama atau pandita kalau lanang disebut Bambang, nek wedok Endang. Endang Pujawati berarti putri pandita. Dan pandita itu bukan ulama stempel penguasa. Ia ulama yang merdeka. Maka ia disebut wiku. Hatinya putih. Namun wujud sang wiku itu, hiii..nggilani…, raksasa mengerikan. Namanya Resi Bagaspati.

”Disebut resi karena sebelum jadi wiku dulunya Bagaspati tentara,” jelas Gareng kepada adik-adiknya sesama ponokawan.

”Kalau sebelum jadi pandita seseorang itu pejabat sipil, namanya apa Reng?”

”Hehe, begawan, Truk. Inget kan bapaknya Pak Prabowo Subianto, suwargi Pak Sumitro Djojohadikusumo? Kita sebut begawan ekonomi. Sebelumnya jabatan almarhum sipil sebagai menteri…”

”Ah, repot,” Bagong menimpali. ”Julukan kok berubah-ubah. Ada juga kok orang yang julukannya tetap itu-itu saja. Pas diangkat jadi menteri namanya ya itu. Pas lumpur Lapindo pertama nyembul, namanya masih sama. Pas terpilih jadi ketua umum partai, masih itu juga. Eh, pas ngotot perkoro Century sampek nggletek wae akhirnya toh jadi ketua sekretariat bersama (gabungan) partai-partai koalisi, apa namanya terus berubah jadi Dasamuka, hayo, tetep kan..?”

Bagong ndak perlu direwes. Gareng malah terus saja melanjutkan ceritanya tentang Endang Pujawati dari pertapan Argobelah. Ojok salah lho, Rek. Bapaknya tok sing raksasa. Tapi sang putri itu sendiri bersosok manusia jelita.

***

Kabarnya siswa-siswi di bekas jajahan Belanda, Inggris, Portugis, dan lain-lain ini sangat rendah nilai bahasa Indonesia-nya dalam ujian nasional. Umpamane Endang Pujawati ikut serta, menurut Gareng, pasti nilai bahasa Indonesia-nya jauh lebih ancur lagi.

Memang, Endang Pujawati ce’ cintane ke bahasa Indonesia. Ia pun sangat piawai menggunakan bahasa persatuan tersebut untuk dapat persis menggambarkan secara rinci isi pikiran dan perasaannya. Tapi sama sekali dia tidak mudeng tata bahasa dan hal-hal lain yang sifatnya hafalan seperti yang ditekankan soal ujian nasional. Apalagi dalam ujian nasional, kemampuan mengarang tidak dites.

Namun, umpamane putri Resi Bagaspati ini pernah jadi murid silek Minang (silat Minang), pasti peraih nilai terendah bahasa Indonesia dalam ujian nasional ini sebaliknya menjadi siswi yang paling kinclong dan moncer.

Gareng inget penuturan Gusmiati Suid, seniwati besar dari Ranah Minang. Ketika pertama belajar silek Minang pada masa kanak-kanak almarhumah, sang guru hanya mengajak jalan-jalan. Tetapi sang guru sangat menekankan dan menagih kejelian, keawasan, serta perhatian siswa-siswinya.

Sepulang dari keliling alam, sang guru kadang mendadak meminta murid-muridnya untuk bercerita secara rinci, runtut, dan tuntas tentang apa yang telah dialami oleh pancaindra mereka sepanjang perjalanan. Misalnya berapa persisnya jumlah pohon bambu yang dilewati, berapa jenis suara kicau burung, bagaimana rasa tanah tertentu di telapak kaki, apa saja bau yang diendus di sungai, pematang, hutan….

”Wah, Kang Gareng,” Petruk memotong, ”Endang Pujawati saking rinci, runtut, dan tuntasnya kalau ngomong, pasti bagus kalau jadi tukang jual obat di pasar-pasar.”

”Tepat sekali, Truk. Kemampuan menjual, kemampuan bikin presentasi, itulah yang sangat kita perlukan sekarang. Bongso dewe iki pinter-pinter kalau bikin sesuatu. Nek ndak percoyo takono konco seniorku Mas Priyo Suprobo, rektor ITS. Apa yang ndak bisa kita gawe? Malah robot bikinan kita ada yang menang di kontes internasional. Tapi kita ndak gablek ngedol, ndak bisa jualannya…”

”Nggak jegos dodolan karena kita nggak bisa ngomong dengan rinci, runtut, dan tuntas seperti Endang Pujawati…?”

”Tepat sekali, Truk. Karena kita sudah tidak lagi mementingkan pelajaran mengarang. Ndak penting lagi itu maju satu-satu cerita di depan kelas… Mangkane pidato-pidato kampanye juga nggak ada yang menarik. Semuanya jadi klise…”

”Setuju, Reng. Pidato-pidato penerimaan piala festival film kita juga klise. Ndak seperti sambutan-sambutan singkat Piala Oscar. Seger. Omong ceplas-ceplos antara peserta dan juri American Idol juga menarik yo, Kang Gareng. Mungkin karena nduk sana ditekankan pentingnya pelajaran mengarang sejak sekolah dasar.”

”Tepat sekali, Truk!”

”Alah,” Bagong kembai nyeletuk, ”Ndak usah mengagung-agungkan Endang Pujawati. Kita juga sudah bagus kok bahasanya. Buktinya nang teve-teve itu kita sudah rinci, runtut, dan tuntas kalau disuruh debat, eker-ekeran, tukaran, padu soal Pak Susno Duadji dan soal opo wae…”

Bagong ndak usah direken. Gareng kembali nerusno lakonnya tentang perempuan jelita yang pada suatu ketika membuat presentasi impiannya di depan ayahnya, Angganaputra alias Resi Bagaspati.

***

Endang Pujawati memang sangat mahir berbahasa untuk mengungkapkan isi ubun-ubun kepalanya. Dengan kalimat putrinya yang ringkas dan padat, saking terlatihnya mengarang, Resi Angganaputra langsung bisa tahu persis opo karepe putrinya.

Suatu pagi sang putri hanya merangkai kalimat pendek tanpa nyebut-nyebut lumpur Lapindo, Bagaspati langsung mahfum bahwa maksud putrinya pastilah Pak Ical. Pada suatu larut malam Bagaspati juga langsung tahu bahwa yang dimaksud putrinya pasti Pak SBY. Padahal Endang Pujawati hanya menyusun kalimat pendek tanpa kata-kata Century dan Sri Mulyani yang konon dikorbankan.

Maka, di suatu hari respati alias hari keempat yaitu Kamis, Resi Bagaspati langsung tahu sosok yang diutarakan oleh putrinya cuma melalui untaian kata-kata. Pemuda yang dimaksudkan putrinya tentu Narasoma dari Kerajaan Mandaraka. Bagaspati langsung bersamadi. Hanya membatin sebentar, lebih cepat ketimbang jangka waktu dari Sri Mulyani mundur ke Pak Ical maju jadi ketua Sekber Koalisi, tiba-tiba pemuda dari Mandaraka itu mak jleg sudah muncul di pertapan Argobelah. Telah bersila dia di bale pacrabakan, semacam pendapa untuk mewejang para cantrik.

Kelanjutan cerita mudah ditebak seperti skenario di DPR. Narasoma yang kelak berjulukan Prabu Salya yaitu mertua Baladewa, Adipati Karna dan Duryudana, menikah dengan Endang Pujawati yang kelak populer dengan julukan Dewi Setyawati. Usai nikah, Narasoma tinggal di pertapaan itu dan sangat disayangi oleh mertua raksasanya. Saking sayangnya, Resi Bagaspati malah mewejang ilmu pamungkasnya , Aji Candrabirawa.

”Narasoma, mantuku,” wejang sang Resi, ”Negaramu Mandaraka penuh teroris. Yaitu teroris yang membunuh banyak orang seketika dengan bom, maupun teroris yang membunuh banyak orang pelan-pelan dengan cara membuat mereka hidup di pas maupun di bawah garis kemiskinan… Orang salah kaprah menyebutnya koruptor. Padahal sejatinya mereka juga teroris. Nah, sifat teroris itu sama, dibunuh satu lahir dua, dibunuh dua lahir empat….

Oh, Narasoma, Aji Candrabirawa ini tak sanggup aku berikan pada Densus 88 bahkan kalau kesatuan itu juga berada di bawah KPK sekalipun. Hanya kuberikan kepadamu, Narasoma. Aji Candrabirawa ini akan sanggup menghadapi seluruh kelipatan teroris itu. Jangan kaget. Dengan aji pamungkas ini, dari badanmu akan muncul satu raksasa bajang, raksasa bocah. Kalau dibunuh dia malah akan hidup menjadi dua, dibunuh dua jadi empat, dibunuh empat jadi enambelas dan seterusnya menjadi kelipatan kuadrat, hahaha…”

Tapi, akhir cerita ini tidak mudah ditebak sehingga tidak mirip skenario Senayan. Suatu siang Narasoma ingin menjajal keampuhan Aji Candrabirawa. Sasarannya perempuan yang mengurus keuangan di pertapaan itu.

Kan kalau di pertapaan Putut adalah sebutan pemelihara pacrabakan, Cekel sebutan untuk juru taman, Janggan sebutan untuk juru tulis, Cantrik semacam office boy. Nah, perempuan itu tak jelas sebutannya. Narasoma mencium, perempuan yang amat disayangi resi itu kurang disukai oleh sebagian masyarakat Argobelah. Sebagian masyarakat malah mencurigai pernah ada kongkalikong keuangan antara perempuan itu dan sang resi.

”Weladalah! Narasoma, putra mahkota Kerajaan Mandaraka, jangan mengorbankan cewek itu,” wanti-wanti Resi Bagaspati seolah sudah punya firasat ndak enak. ”Dia perempuan. Ingat, adikmu juga perempuan, Dewi Madrim. Kita kaum lelaki, berpantanglah mengorbankan perempuan. Kalau kamu memang ingin menguji Aji Candrabirawa, sekarang juga arahkan itu kepadaku. Aku cuma pesan, kelak jangan kamu kawin dua, tiga, empat seperti raja-raja yang lain. Biarkan dunia mencatat bahwa kamu raja yang berbeda…”

Narasoma sungkem, sebelum mengarahkan Aji Candrabirawa. Tak lama setelah itu terdengar tangis merata di pertapaan Argobelah. Mahoni menangis. Beringin. Banteng. Bintang. Matahari. Semua menangis hormat. Burung garuda pun tak bersuara. (*)

http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: