Dewi Dahanawati: Gatutkaca Sungging

”SUNGGING? O, ternyata Raden Purbaya itu orangnya bisa tengkurap sambil bokongnya njentit munjung ke atas to, Truk?” Bagong bertanya pada kakaknya. Purbaya adalah nama alias Kaca Negara atau Tutuka, yang populer dijuluki Prabu Gatutkaca.

”Itu bukan sungging, Gong. Itu nungging. Sungging itu kalau wajah kita memerah, punya rasa ngganjel karena warna-warni kelakuan atau perkataan orang lain. Lengkapnya tersungging.”

”Wah, Truk, kalau gitu sebagai rakyat saya tersungging karena KPK memeriksa Pak Boediono dan Mbak Sri Mulyani di kantornya masing-masing soal kasus Century.”

”Kenapa tersungging, Gong?” tanya Petruk. Suaranya masih gandem tanpa beban seperti biasanya. ”Pak Boediono dan Mbak Ani itu tokoh yang supersibuk. Wajar kalau lembaga kebanggaan rakyat, KPK, njanur gunung alias pohon aren alias dengaren alias tumben harus mengorbankan harga dirinya, mengorbankan warna logonya yang merah-hitam pertanda tegar, sampai mau-maunya sowan pada tokoh yang diperiksa…”

”Ya, tersungginglah aku, Truk. Kalau memang beliau-beliau sibuk, mbok ya non-aktif saja sementara. DPR dulu kan juga sudah kasih lampu kuning pada mereka untuk non-aktif sementara. Jangan dipaido kalau sekarang aku tersungging, Truk.”

”Itu bukan tersungging! Itu tersinggung!” Gareng dengan suara sengaunya cepat menukas Bagong dan Petruk. ”Tersungging itu kalau kita tersenyum kecil. Misalnya, deklamasi…Ooo… gadis manis di pantai biru..camar-camar memutih di sekeliling…ada senyum tersungging di langit bibirnya…”

Bagong njeplak. ”Itu sungging dalam bahasa Indonesia, Reng. Sungging bahasa Jawa artinya digambar dan diwarnai. Contohnya orang bikin wayang. Kulit kerbau itu dipahat dulu atau ditatah. Setelah ditatah, baru digambari dan diwarnai. Itulah sungging. Kerajinan tatah-sungging artinya keterampilan memahati dan menggambari kulit kerbau. Abis ditatah it uterus disungging sampek menjadi wayang kayak kita-kita ini.”

”Lha, kalau sudah mudeng arti sungging kenapa kamu tadi nanya, Gong?”

”Kura-kura dalam perahu kan boleh-boleh saja,” potong Bagong dengan suara khasnya yang tercekik, nyaring namun sember. ”Wong pura-pura tidak tersinggung juga boleh kok. Kita semua ini kan sesungguhnya tersinggung KPK mau-maunya mendatangi kantor orang yang diperiksa, tapi kan seluruh kita pura-pura tidak tersungging, eh tersinggung? Hayo…”

***

Kocap kacarita, di Kerajaan Raksasa Dahanapura, putri raja Dewi Dahanawati di depan raja dan hulu balang kerajaan sedang menyungging seorang tokoh yang teramat dicintainya di dalam mimpi semalamnya. Ia sungging pemuda yang capet-capet muncul dalam impiannya itu tidak di kulit kerbau. Sang Dewi menyunggingnya di tembok merah jambu taman Dahanapura.

Sudah lama putri cantik yang tak berwujud raksasa itu nganggur tidak menyungging. Kepolisian sudah lama tidak meminta jasanya untuk menyungging tersangka atas dasar ciri-ciri wajah menurut keterangan para saksi. Maklum, para pembunuh sekarang ini adalah orang-orang top yang wajahnya sudah dikenal. Tak perlu jasa juru sungging alias penggambar sketsa.

”Hah? Itu bukan para pembunuh. Itu para koruptor. Beda,” kata Bilung, ponokawan di dunia raksasa.

Togog mengingatkan sejawatnya, ”Bilung, koruptor itu pembunuh juga. Malah lebih hitam ketimbang pembunuh. Pembunuh mateni menungso sa’kal mati. Korbannya tidak sakit berlama-lama. Koruptor juga mbunuh tapi mbunuhnya pelan-pelan. Koruptor mengurangi jatah sandang-pangan-papan kawula sak negara. Mereka tidak mati seketika. Mereka tetap hidup. Tapi hidupnya kejet-kejet susah tak beda dengan orang sekarat… Makanya di China koruptor ditembak mati. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D. sebenarnya juga sudah setuju hukuman mati untuk para koruptor. Tapi…”

”Tapi apa, Gog?” ujar Bilung sambil kembali menoleh ke sunggingan sang dewi.

Oooo… Gandane kang sekar gadung….Ooooo….Derodog…dog…dog!

Dewi Dahanawati sudah lama tidak menyungging para koruptor alias pembunuh lantaran mereka adalah wajah-wajah yang kita sudah tahu-sama-tahu. Makanya, kepiawaian putri raja Prabu Kala Dahanamukti itu menurun. Meski keterampilannya menurun, sang dewi tetap tekun dan sabar bekerja siang malam sampai keringatnya yang seharum sedap malam bercucuran. Ia tak ingin serbacepat bagai koruptorwati. Tekun. Telaten. Sabar. Genap sembilan tahun akhirnya sunggingan besar di tembok merah jambu sudah rampung dan membuat Patih Dahanapati kaget.

”Weladalah, Sinuwun Prabu Kala Dahanamukti,” hatur Sang Patih sambil masih terkaget-kaget memandang hasil sunggingan, ”Kalau impian sang dewi seperti ini, wujudnya raksasa, rambut gimbal, pundak besar dan kokoh… jelas ini raja Pringgandani, Prabu Anom Gatutkaca, anak Bima Sena dengan Dewi Arimbi, seorang perempuan raksasa…”

Ganti sang raja yang terperanjat. Tubuhnya tersentak sampai merontokkan daun-daun anyelir dan suplir di seluruh taman. ”Bukankah Raden Gatutkaca itu ksatria yang tampan, Patih?”

***

Menurut kakak Semar, Togog, ponokawan yang mengabdi kaum raksasa, Gatutkaca aslinya memang raksasa. Buruk rupa. Nama alias lainnya adalah Guritno, Krincing Wesi dan Bimasiwi. Tapi dasar orang Jawa itu munafik. Mereka nggak mau terima ada orang baik seperti Gatutkaca kok wajahnya jelek. Diubahlah Gatutkaca menjadi tampan. Konon sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, seniman kriya wayang diminta membuat Gatutkaca setampan bentuk salah kaprahnya sampai hari ini.

”Memang kalau orangnya baik terus tampangnya jelek, kenapa, Gog? Kan kenyataannya banyak orang apik hatinya tapi rupane elek?” tanya Bilung.

”Gini lho, Lung…Ehmmm…Kalau kita nggak munafik, kita akan legowo terima orang baik bermuka menakutkan. Nek pancen ndak ngganteng, foto-foto pemilukada di pohon-pohon dan gardu listrik itu ndak usah mbagusi dingganteng-nggantengno…Tapi kita ini orang-orang yang munafik…”

”Buktinya?”

”Buktinya masyarakat benci korupsi, tapi mereka nggak menghargai pejabat yang miskin. Kalau kita mantu dan pejabat kadonya minim, kita akan ngrasani. Kalau istri pejabat nyandangnya gak bagus, emasnya sepuhan, tasnya kodian, kita akan ngrasani sampai sekampung. Kalau misalnya…”

”GOOOOG!!!”

Waduh Togog kaget namanya diteriakkan oleh Prabu Dahanamukti. Badannya biarpun tambun mental sampai setinggi beringin karena Sang Prabu memanggil Togog sambil kakinya menggedrug bumi. Bilung yang kerempeng malah membubung sampai nyangsang di puncak tiang bendera.

”Togok…Jangan-jangan samakan aku dengan yang lain…dengan orang-orang Nusantara, ya!!!” kata Sang Prabu. ”Kita ini Kerajaan Dahanapura. Kerajaan seberang. Lain lubuk lain ikannya. Nggak peduli Gatutkaca itu wujud sejatinya raksasa atau bukan…Yang penting hatinya baik. Ayo Patih Dahanapati… Ojok wedi kangelan… Ayo kita cari bareng-bareng Raden Gatutkaca yang diimpi-impikan oleh bendara ayumu Dewi Dahanawati…Kita mohon pemuda ini datang ke sini dengan tata krama dan budi bahasa. Adapun kalau dia menolak, Patih… hahaha… sor mejo keh ulane jo gelo wis carane…Tih…Perang, Tih!!! Perang !!!”

***

Raden Krincing Wesi saat itu sedang melanglang buana mencari bantuan arsitek untuk membangun Candi Saptarengga. Candi dibangun buat Pandawa sebagai tempat beribadah agar rakyat kerajaan mereka, Amarta, semakin terbebas dari tipu daya dan sandiwara kaum wakil rakyat. Di tengah jalan Guritno kepergok bala tentara raksasa Dahanapura.

Perang terjadi karena Bimasiwi semula menolak tawaran untuk dinikahkan dengan Dewi Dahanawati. Pikir Purbaya, kalau bapak dan kakek moyangnya raksasa, anaknya pasti raksasa juga. Padahal, sebagai raksasa, Gatutkaca ingin memperbaiki keturunan. Tutuka ingin kelak anaknya berwujud dan berhati manusia.

Gatutkaca kalah. Gatutkaca ditawan ke Dahanapura. Melihat Dewi Dahanawati yang ternyata bukan raksasa, dada Gatutkaca langsung berdaun waru yang bentuknya mirip simbol hari Valentin.Tapi ia ingat, misinya pergi bukan untuk asmara. Misinya adalah mencari arsitek dan tenaga pembangun Candi Saptarengga. Wah, Prabu Dahanamukti sanggup menyumbangkan seluruh staf arsiteknya untuk pembangunan candi itu. Baru Gatutkaca mau menikahi Dewi Dahanawati.

Anak mereka asli berwujud manusia. Namanya Jaya Sumpena. Sumpena bermakna mimpi. Artinya putra yang bercikal bakal dari impian sang ibu tentang calon suaminya.

Sayang, Jaya Sumpena yang mewarisi bakat ibunya itu kelak menjadi pemuda pengangguran. Adakah pembaca yang punya lowongan kerja? Kasihan Jaya Sumpena. Kepolisian sudah tidak memerlukan jasa juru sungging, yaitu pembuat sketsa wajah calon pesakitan berdasarkan keterangan saksi. Seluruh pembunuh, yakni koruptor, sudah sama-sama kita kenali wajahnya.

The end.

http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: