Joko Pitono Bukan Teroris!

WIS bolak-balik dibilangi sama Gareng, Joko Pitono yang darahnya muncrat di Pamulang itu sungguh-sungguh teroris. Bagong tetap saja ngotot. ”Buuuukan!” katanya metenteng. ”Joko Pitono bukan tukang teror!!!” Sekarang Bagong ngomongnya malah ambek teriak-teriak.

Tadi baru saja keduanya tukaran soal nama tempat penyergapan. Bagong bilang Joko Pitono didor di Pemalang. ”Aduh, Gong, Pemalang itu kota kelahirannya. Tertembaknya bukan di Pemalang, tapi nduk Pamulang,” bantah Gareng.

Di kawasan Banten itulah Joko Pitono dilumpuhkan. ”Alah, Pemalang dan Pamulang apa bedanya. Ambek Karangkates baru ndak sama,” Bagong balik membantah.

Gareng mangkel. Wajahnya jadi lebih merah dari jambu bol. Ia mukul-mukul amben dan gedhek. Kakak sulung Bagong itu akhirnya terus mondar-mandir, kukur-kukur kepala saking jembek-nya. Undang-undang dasar sudah berubah-ubah, kok rakyat yang satu ini ndak berubah-ubah juga. Tetep melarat dan suka ngeyel.

Petruk tanggap. Yang bikin Gareng tambah stres sampai wira-wiri kayak setrikaan, karena dia tidak ingin ihwal penyergapan teroris itu membuatnya lupa Century. Petruk sangat paham, Gareng yang selalu kritis dan waspada ingin engkel-engkelan lebih panjang dengan Bagong alias Bawor soal Joko Pitono. Tapi nanti bagaimana kalau debat kusir ndak rampung-rampung soal terorisme akan bikin Gareng lali Century?

”Ya sudah, Kang Gareng,” ujar Petruk kalem, ”Mending sekarang Sampeyan ambil napas. Sana, pergi, jalan-jalan, cangkruk terus nongkrongi Pak Bibit dan Pak Chandra di KPK yang kabarnya mulai mengurus lagi soal Century. Dulu konon mereka sudah pernah mau ngurus Century terus…gimanaaaa gitu…Terus mereka berhenti karena lebih sibuk nonton pertarungan cicak dan buaya. Sekarang mereka sudah cancut taliwondo lagi. Sampeyan teruskan debat dengan Bagong soal Joko Pitono via telepon saja dari gedung di Kuningan Jakarta itu. Pepet terus Pak Bibit-Chandra. Obrolan soal terorisme berlanjut, tapi Century tidak terlupakan. Yok opo?”

Gareng tetep mencak-mencak. Cakrawangsa ini tetep ndak bisa terima kalau Bagong nggak acung jempol bahkan su’udon terus pada pasukan elite kepolisian Densus 88 yang telah menyergap buron dunia itu. Apa Bagong kupingnya budek sampai ndak dengar Pak SBY dapat tepuk tangan meriah dari wakil-wakil rakyat Australia perkara tertangkapnya Joko Pitono?

”Joko Pitono bukan teroris!!!” Bawor masih terus teriak-teriak.

Tak jelas, dalam panasnya hati, mata Cakrawangsa yang juling itu sedang menyelidik ke mana. Tapi kira-kira ke arah palu di pohon trembesi di Karang Tumaritis, tempat Ponokawan biasa kongkow-kongkow. Benda itu mirip palu hakim yang dipakai untuk vonis Antasari Azhar. Hampir saja palu itu disambitkan Gareng ke rai-ne Bagong yang masih mendelik-mendelik sambil berulang-ulang bilang, ”Joko Pitono bukan teroris!!!”

Untung Petruk cepat melerai. Kantong Bolong ini segera nggeret Gareng nonton televisi. Berita demo HMI yang berakhir rusuh di Makassar. ”Emoh!!!” Gareng meronta, ”Itu kan untuk mengalihkan perhatian kita dari Century sak banjure…”

”Aduh!” Kantong Bolong menepuk kening. ”Ndak setiap hal harus dicurigai. Sampeyan sendiri bilang ke Bagong, jangan kita selalu su’udon. Belum tentu balang-balangan di peta Sulawesi bagian bawah itu untuk mengalihkan perhatian dari Century. Jangan sedikit-sedikit mengalihkan Century. Sedikit-sedikit mengalihkan Century. Nanti ada sunatan masal di Porong juga dibilang mengalihkan perhatian kasus Century. Gawat. Ojok ngono ta lah!”

Akhirnya Gareng manut Petruk meninggalkan Karang Tumaritis. Bagong tetap di situ, main-main dengan wedus kacang alias kambing-kambing yang pada berjenggot. Dari bibirnya yang ndower tetap terdengar kata-kata yang nyaring dan sember, ”Wedus-wedus itu, eh, Joko Pitono itu bukan teroris!!!”

***

Tak ada satu pun yang ujuk-ujuk di muka bumi. Semua mesti ada tahap dan tanda-tandanya. Rawon Setan dan Rawon Mbak Endang juga ndak moro-moro laris. Nah, Cakrawangsa marah-marah ke Bawor sebenarnya juga pakai tahapan. Malam sebelumnya, di Karang Kadempel, tempat kongkow lain Ponokawan, Cakrawangsa sudah mulai marah lantaran Bagong kekeuh bahwa orang mati adalah orang yang sudah ndak punya gerak-gerik. Orang yang nyawanya sudah ndak ada.

Cakrawangsa keberatan. Menurutnya Bagong terlalu nggampangno dan kasat mata memaknai kematian. Bagi Cakrawangsa, orang mati itu bisa saja orang yang masih sanggup bersin-bersin, batuk dan angop…Singkatnya masih bergerak dan bernyawa, tapi dia sudah tidak bisa mencari nafkah buat keluarganya. Orang hidup seperti itu kategorinya sudah orang mati.

Bagong tampak plonga-plongo. Tapi Cakrawangsa tidak bisa ngasih penjelasan lebih lanjut karena dia takut lupa Century, takut linglung dan pikun soal Century sebelum sebelum kelak masuk rumah jompo. Kantong Bolong ambil inisiatif menengahi.

”Gini, lho, Gong, kamu masih eling tembang dolanan zaman dulu? Pak jenthit lolo lobah, wong mati orang obah, yen obah medeni bocah, yen urip goleko duwit…Sudah jelas kan maksudnya? Maksudnya, orang hidup itu ndak bisa cuma ditandai dari apa matanya masih kethap-kethip apa nggak, hidungnya apa masih sentrap-sentrup apa tidak. Orang yang kelihatannya masih bergerak itu sebenarnya sudah ndak hidup, sudah mati kalau tidak bisa mencari nafkah.”

”Alah, Truuuk, Truk, hidup ya hidup. Mati ya mati,” Bagong bersikukuh.

Sebenarnya, Bagong dan Gareng sebelumnya sudah mencapai titik temu. Yaitu soal apa itu teroris. Ragil dan mbarep Ponokawan ini sepakat, teroris itu biang kerok yang bikin banyak orang tak bersalah mati. Keduanya malah sampai peluk-pelukan kayak episode terakhir mahasiswa dan polisi di Makassar. Tapi, ketika rembukan sudah mulai meningkat soal apa artinya mati, nah keduanya mulai berbeda pendapat mirip DPR dan Pak SBY soal Century.

Api dalam sekam itulah yang kemudian berkobar di saat cek-cok memperkarakan Joko Pitono itu teroris apa bukan.

***

Petruk sekarang paham. Baginya, Gareng terlalu takut otaknya kehilangan memori kasus Century. Akibatnya Gareng emoh memori otaknya diisi terlalu banyak oleh soal penyergapan gembong teroris. Wong kabar-kabar soal Obama akan ke Indonesia karena kangen nasi goreng, juga tidak dilebokno ke memori Gareng. Dari dunia terorisme Gareng hanya mau mengingat sambutan masyarakat Australia pada SBY, serta nama Joko Pitono, salah satu nama alias teroris ini. Selebihnya, Gareng nggusah dari memori.

Nama-nama lain Joko Pitono seperti Dulmatin, Yahya, Mansyur, tidak ingin Gareng masukkan ke memori otaknya takut kepenuhan. Suami Dewi Sariwati ini takut kenangan Century-nya ter-delete. Bahkan saking hematnya pada memori, sekarang Gareng sendiri sudah lupa hubungan antara Joko Pitono dan peristiwa penyergapan teroris di Pamulang.

Ingatan Gareng tentang Joko Pitono balik ke memori klasiknya tentang dunia pewayangan. Yaitu, Joko Pitono adalah nama alias dari penguasa otoriter, Raja Astina, Prabu Duryudana. Raja diraja yang juga punya nama alias Suyudana, Destrarastratmaja, Anggendari Putro, dan lain-lain itu memang juga dikenal sebagai Joko Pitono. Artinya, Duryudana masih Joko alias perjaka ketika dahulu dilantik dadi rojo.

”Sudah jelas kan? Joko Pitono bukan teroris. Joko Pitono seorang raja,” tandas Bagong.

Gareng ngotot, ”Joko Pitono itu teroris!! Dia memang ndak pernah mateni rakyatnya dengan bom. Tapi dia bunuh serentak rakyat itu dengan kebijakan-kebijakannya. Kebanyakan rakyatnya masih tampak hidup, bergerak, tapi sudah makin susah nyari duwit. Lowongan kerja makin ndak onok. Biaya sekolah buat anak-anak makin tinggi. Biaya sembuh ampun-ampunan. Kebanyakan rakyat memang masih bernapas, tapi megap-megap, ndak bisa cari duit alias mati. Joko Pitono adalah teroris!!!”

Perdebatan masih terus berlangsung malam itu.

Di Klampis Ireng.

http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: