Megatruh Para Perempuan Korban

“Cak, ceritakno nang aku tentang perempuan. Ceritakno sopo wae asal perempuan. Khususon perempuan yang hidupnya dijadikan korban oleh banyak orang.”

Itu pertanyaan seorang gadis kepada pemuda pujaannya. Sang pemuda berambut panjang. Ikal. Matanya lebih bersinar dibanding Trawas di kala malam. Pandaan di kala malam…Surabaya malam hari dari Udara…Ooo semua kalah dibanding cahaya mata sang pemuda. Apalagi sorot mata kalau lelaki kelahiran Pulau Bawean ini sudah mulai bercerita tentang wayang.

“Oh, Ada…Ada, Diajeng,” kata lelaki itu lirih perlahan.
Perempuan dalam cerita lelaki petualang itu dikorbankan oleh suaminya sendiri. Namanya Dewi Windradi. Padahal yang bersalah bukan cuma Windradi, perempuan yang kelak menjadi nenek Hanoman. Setiap ada problem dalam hubungan suami-isteri, pasti yang bersalah adalah dua-duanya.

“Dua-duanya? Jadi bukan cuma Anang, tapi Kris Dayanti juga salah? Bukan cuma Ahmad Dani, tapi Maia juga salah? Kenapa bisa begitu?” gadis berambut panjang itu menyela dongengan sang pemuda. Angin dari jalan Pemuda Surabaya mengibarkan rambut panjangnya ke arah jalan Kembang Jepun.

Biasanya pemuda berwajah Bali-Madura itu kesal kalau ceritanya dipenggal-penggal oleh pertanyaan perempuan. Tapi perempuan ini agak khusus. Apalagi ketika angin senja hari itu tak saja membuat rambut gadisnya meriap-riap. Angin yang syahdu itu juga membuat wangi melati semerbak dari rambut panjangnya yang hitam, lembut dan betapa sorgawi.

“Ning…”

“Lho? Tadi Diajeng…”

“O ya, Diajeng,” kata pemuda itu sambil menaruh ranselnya dan menepis-nepis celana jeansnya yang berdebu,”Dalam teori fisika modern…Dibuktikan bahwa tak ada satu peristiwa apa pun di dunia ini yang diakibatkan oleh cuma satu sebab. Bahkan sebab-sebab kecil dan remeh-temeh bisa ikut andil dalam kumpulan sebab-sebab itu…”

“Maksud Sampeyan, Cak!?”

Sang pemuda tidak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya. Sang pemuda, dengan dada yang bidang dan pundak yang tidak luruh, tidak mengatakan kemungkinan Maia dan KD juga bersalah dalam hubungan dengan masing-masing suaminya.. Sang pemuda cuma memberi contoh dari fisika modern, betapa hal yang sepele seperti kepakan sayap kupu-kupu di Brasil pun terbukti bisa ikut andil dalam melahirkan angin ribut di Amerika Serikat.

“Oooooh…Cacak-ku… Cacakku…” sang gadis mulai melenguh panjang bagaikan sapi dari Pulau Sapudi. Tubuhnya menggelinjang seperti sesekali kawah gunung Argopuro, “Sampeyan betul-betul pujaanku. Aku nggak salah pilih. Dulu pernah kupuja para pemuda yang mobilnya mahal-mahal. Lebih dari mobil-mobil menteri yang harganya cuma 1,3 M. Dulu pernah kupuja para pemuda yang gigih dan kritis pada negara. Nyatanya setelah mereka diangkat jadi staf khusus maupun juru bicara presiden, hmmmm…mereka jadi kuthuk dan plonga-plongo dan ndlongop seperti ayam bekisar kalau kurungannya terlalu mewah…Jadi Dewi Windradi itu tidak bersalah?”

Bersalah. Bersalah. Tapi dia bukan satu-satunya yang bersalah karena sebagai isteri kok masih nyah-nyoh dan nyosor pada lelaki lain. Pacar gelapnya, Dewa Surya, juga bersalah. Lha wong wis ngerti nek Windradi itu punya bojo, lha kok sik nyayap wae. Tapi sang suami, Resi Gotama, juga bersalah. Salahnya, sebagai kepala rumah tangga dan sebagai suami, mengapa waktunya habis terkuras cuma untuk mengurus ribuan santri dan padepokannya. Hampir Resi Gotama tak punya waktu untuk Dewi Windradi. Hampir Resi Gotama tak punya waktu untuk mengurus ketiga anaknya, Guwarso, Guwarsi dan Dewi Anjani.

Saking nggak terurusnya sampai-sampai Guwarso menjadi monyet Subali, yang kelak jadi ayah Anggodo. Guwarsi menjadi kera Sugriwo. Anjani bertapa jadi katak dan wajahnya berwujud kera, dan punya anak bernama Hanoman.

“Apakah Anjani perempuan yang dikorbankan?” sekali lagi pertanyaan kala senja dari gadis berambut panjang memotong cerita sang pemuda.

Bukan Anjani korbannya. Perempuan yang dikorbankan kali ini adalah Dewi Windradi. Ketika perselingkuhannya dengan Dewa Surya ketahuan oleh sang suami, Resi Gotama, sang Resi mengutuk istrinya menjadi arca. Patung dilemparkan. Karena yang melempar adalah seorang resi dengan tenaga batinnya…terlemparlah patung Dewi Windradi itu jauuuuuh…. sampai ke sebuah perempatan besar di kerajaan raksasa Alengka. Menjadi tugu lalu-lintas raksasa.

Kelak patung perempuan itu hancur lebur ketika dicabut oleh kera Anggodo, bukan Anggodo dari geng kembang jepun. Anggodo putra Subali mencabut arca Dewi Windradi dan dihantamkan kepada Prahasto. Prahasto adalah mahapatih Alengka yang sekaligus paman sang raja Dasamuka.

“Apakah Dewi Windradi itu mirip Arthalyta atau Sri Mulyani?”

Kali ini sang pemuda marah atas pertanyaan kekasihnya. Pertanyaan itu dianggap keluar dari konteks. Ibarat kita mau omong serius soal peternakan bekicot, tapi disela obrolan tentang kelakuan anggota Pansus Century. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan mengambil ransel.

***

“Cak, ceritakno nang aku tentang perempuan. Ceritakno sopo wae asal perempuan. Khususon perempuan yang hidupnya dijadikan korban oleh banyak orang.”

Gadis berambut panjang itu kembali bertanya pada kekasihnya di senja yang lain. Kali ini di Tanjung Kodok. Seperti biasa dalam pacaran, ribut lalu damai. Damai, lalu ribut, damai lagi. Perdamaian senja di Tanjung Kodok diwarnai matahari kemerahan yang mau angslup ke peraduan. Bahkan rekonsiliasi itu diringi rerangkulan dan tawa canda keduanya. Burung-burung camar yang pernah hidup dalam lagu Aryono Djati dan dinyanyikan oleh Vina Panduwinata betul-betul ada pating sliwer sore itu. Cecet ciyet suaranya melengkapi tutur kata sang pemuda.

Sang pemuda menyitir lakon Pandawa Dadu. Lakon ini dimulai dengan raja dari Pandawa, Yudistira yang…

“Horeee, Yudistira, aku tahu….dia anak Vina Panduwinata,” teriak sang gadis sambil menggelayut ke dada bidang pemudanya, baur dengan tumpang-tindih rentetan suara burung camar.

Sebenarnya Yudistira alias Darma Putra adalah anak Pandu Dewanata. Tapi sang pemuda tak ingin mengecewakan kekasihnya yang bangga karena merasa mengerti lakon wayang, sementara kawan-kawannya yang lain cuma ngerti soal Avatar. . Ia pun tak ingin merusak perdamaian senja itu. Demi alasan keindahan pendapat gadis itu dibenarkan. “Iya, pinter, Yudistira itu anak mbarep Vina Panduwinata,” kata sang pemuda sambil mengelus rambut gadisnya, bersama elusan angin semenanjung.

Putra Vina Panduwinata itu akhirnya kalah berjudi dengan orang-orang Kurawa. Kebijakannya keliru. Keputusan-keputusannya keliru. Maka kalahlah Pandawa dalam berjudi. Tanggung jawab dialihkan. Semua itu yang menanggung bukan Yudistira, tetapi Dewi Drupadi, perempuan yang dikorbankan.

“Lebih buruk dari pengalaman Arthalyta, eh Dewi Windradi, yang dijadikan korban?”

Bukan saja lebih buruk, tapi jauh lebih biadab. Dewi Windradi cuma dijadikan patung. Tapi Dewi Drupadi ditelanjangi oleh Kurawa di depan umum…Yudistira dan segenap Pandawa tak bisa membela Drupadi karena sesuai isi taruhan: Drupadi diserahkan pada Kurawa. Selanjutnya terserah Kurawa perempuan korban itu mau diapakan.

***

“Cak, ceritakno nang aku tentang perempuan. Ceritakno sopo wae asal perempuan. Khususon perempuan yang hidupnya dijadikan korban oleh banyak orang.”

Sri Mulyani. Perempuan asal semarang ini akan dikorbankan dalam kasus Century.

Petruk dan Bagong kurang percaya pada kata-kata sang pemuda kelahiran Telaga Kastoba di Pulau Bawean itu. Memang pemuda itu bukan keturunan orang sembarangan. Kakek-moyangnya dulu pernah menaklukkan Prabu Dewanateguh di kota Sangkapura, yang kini bernama desa Gunungteguh. Dewanateguh adalah raja raksasa yang menguasai Bawean, setelah pulau di Kabupaten Gresik itu berganti dari nama sebelumnya, Pulau Majeti.

Petruk dan Bagong yang untuk pertama kalinya mulai mau berpikir tentang negara, angkat bicara, “Pemuda itu bisa saja salah, meski dia berdarah biru, keturunan tokoh yang mampu mengalahkan Prabu Vina Pandu Dewanateguh…”

Menurut Gareng, yang selalu berpikir kritis, salah atau benar kabar bahwa Sri Mulyani akan dikorbankan, sudah tidak penting lagi. Yang penting kita semua harus waspada. Kalau betul perempuan yang menteri keuangan itu akan dikorbankan, maka akan timbul korban yang lebih banyak lagi. Korban rentetannya adalah siapapun laki-laki yang sesungguhnya punya kemampuan otak dan tenaga, tetapi diam saja ketika menyaksikan perempuan dikorbankan.

“Setuju, Mas Gareng,” kata pemuda itu, pacar Dewi Sriayu Fatinah, gadis yang namanya mirip putri mahkota Prabu Dewanateguh di Bawean. “Masyarakat menyangka bahwa ksatria Bisma mati di tangan Srikandi dalam Perang Baratayudha. Sesungguhnya lelaki bermartabat ini sudah mati jauh hari sebelum itu. Putra Dewi Gangga itu sejatinya sudah mati ketika dahulu kala menyaksikan Dewi Drupadi dikorbankan, ditelanjangi di depan umum, tetapi diam seribu bahasa tak mampu berbuat apa-apa.”

Sungguh laki-laki sudah mati, semati-matinya mati, kalau diam saja melihat perempuan dianiaya…

Oooo…Punopo to mirah ingsun…prihatin waspo gung mijil….

Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: