Waspadai Angka Keramat 32

INI sangat urgent. Mendesak. Sampai-sampai ponokawan Togog dan Mbilung kedungsang-dungsang datang ke Amerta. Biasanya Togog-Mbilung berdinas menemani dan kasih nasihat tokoh-tokoh dari dunia hitam. Sekarang mereka malah berkunjung ke Amerta, tempat para Pandawa. Lha wong Raden Arjuna, penengah Pandawa, sampai sekarang sudah hampir 32 hari 32 malam tidak mau bicara. Bagaimana tidak dianggap urgent?

Gareng menduga, Risang Dananjaya itu sudah hampir 32 siang-ratri ndak berkenan ngomong lantaran malu kepada laki-laki serupa Ariel. Ndak gengsi gimana, wong Dananjaya ya Arjuna sudah kondang dijuluki lelananging jagad, lelakinya dunia. Ternyata di atas langit masih ada langit, di balik Gayus masih ada ber-Gayus-Gayus. Di muka bumi jagad keblat papat ini ternyata masih ada pejantan yang lebih jos ketimbang dirinya.

Adik Gareng, Petruk, meredakan suasana. Dia wadul ke Togog. Menurut Petruk, bisa jadi Ndoro Kombang Ali-ali itu puasa tanpa sabda sampai nyaris full 32 hari 32 malam bukan karena kehilangan muka pada lelaki bermuka Ariel. Ndoro Kombang Ali-ali jauh lebih unggul.

Ingat Dewi Larasati? Putri Kresna yang keahlian memanahnya jauh lebih unggul ketimbang Srikandi itu saja sudah tersensus sebagai istri Arjuna yang ke-41. Padahal abis sama Ning Laras, Cak Kombang Ali-ali ya alias Margono itu masih kawin lagi, kawin lagi. Ah, angka 32 nggak ada apa-apanya kalau dibanding jumlah istri Arjuna…

”Abdi te’ nyaho’ naon eta’ angka 32 mah?” Mbilung nyahut dalam bahasa Sunda. Maksudnya, dia ndak mudeng kok dari tadi ribut angka 32 itu kenapa. ”Aku malah pertama dengar angka 32 itu dari Mas Pramono Anung. Kan pekan lalu di DPR ada sidang Panitia Pengawas Century. Anggota DPR protes kok laporan Pak KPK, Pak Jaksa, Pak Polisi, ndak beres-beres padahal sudah datang ke DPR dua kali. Niat apa nggak sih mereka mengusut kasus Century sampai tuntas tas tas tas…? Nah, Mas Pram yang mimpin sidang bilang, ndak papa toh baru 2 kali, yang penting tidak sampai 32 kali…”

”Bagong?” Togog sebagai kakak Semar, mewakili Semar meminta pendapat si bungsu ponokawan Pandawa.

”Wah, Pakde Togog, Ariel itu siapa saya ndak tahu. Biasanya kalau dipanggil Ariel itu nama aslinya Syahril. Padahal saya ndak tahu Syahril Djohan, SD, sekarang di mana. Dan apakah masih sungguh-sungguh diperiksa dalam perkara makelar kasus. Yang masih dikuyo-kuyo kan SD yang lain, Susno Duadji. Terus soal Century saya juga sudah lupa, apa itu. Kesuwen. Kelamaan. Jadi saya no comment saja, Pakde.”

”Kalau soal angka 32, Gong?”

”Nah, kalau soal angka itu saya inget persis, Pakde. Itulah jumlah tahun ketika Pak Harto berkuasa. Total jenderal keseluruhannya 32 warsa. Ini kita hitung sejak 1966 sampai 1998.”

***

Atas nama Semar, dari berbagai masukan, Togog menyimpulkan pandangan baru. Raden Mintaraga alias Arjuna, menurut Togog, tidak prihatin lantaran merasa kalah pamor pada Ariel. Sang Palguna itu berpuasa bicara selama hampir 32 hari 32 malam lantaran ingin menghayati betapa kuat dan berwibawanya pemerintahan Pak Harto selama 32 tahun.

Seburuk-buruknya zaman Pak Harto, mana mungkin hakim ndak patheken pada pertimbangan presiden yang disokong aspirasi masyarakat. Ingat kan? Waktu itu Pak Presiden minta agar Bibit-Chandra dibebaskan dari kasus dugaan pemerasan terhadap Anggodo. Rakyat mendukung. Dukungan diperkuat oleh Tim 32 dibagi 4 yaitu Tim 8. Maka pemimpin KPK itu bisa kembali aktif jadi komandan kesatuan tempur pada korupsi.

Satu-satunya kantor yang digadang-gadang rakyat bisa mengusut kasus Century kan KPK. Orang-orang sudah ndak percaya kepada kejaksaan dan kepolisian. Eh, sekarang pengadilan memenangkan Anggodo. Artinya Bibit-Chandra akan diseret kembali ke pengadilan. Kantor KPK akan kembali kosong. Musnah sudah harapan masyarakat agar kasus Century diusut secara tuntas tas tas tas….

Tunggu dulu…Limbuk dan Cangik datang tergopoh-gopoh. Pembacaan kesimpulan oleh Togog terhenti. Ponokawan Limbuk yang disertai emaknya itu menangis lantaran gagal berfoto dengan Presiden Obama di Indonesia. Dia cuma punya potret bareng Obama di Amrik.

Napas Limbuk masih tersengal-sengal karena tangis, dan kembang-kempis karena berlarian jauh dari kantornya di Astina.

”Kebangeten Kang Obama itu,” kata Limbuk. ”Sudah dua kali dia mblenjani janji akan datang menengok saya. Padahal kurang apa saya menjaga perasaan Obama. Saya tahu dia dan para leluhurnya sangat tergantung fulus Yahudi. Makanya pas Israel menyerang kapal bantuan kemanusiaan ke Palestina, pas pemimpin negara-negara lain mengutuk Israel, saya nahaaaaan supaya tidak mengutuk Israel.”

Jeda tangisan. Setelah itu Limbuk berlanjut, ”Saya tidak ngutuk Israel karena saya takut nyakiti perasaan Obama. Harga diri saya sudah saya gadaikan demi Obama. Eh, masih juga Obama batal copy darat dengan saya. Dua kali gagal lagi deh cita-cita saya untuk memamerkan foto saya meluk Obama di Indonesia kepada Pak SBY…hiks..hiks…hiks…”

”Tenang, Mbuk,” hibur Bagong. ”Baru batal 2 kali. Belum 32 kali…”

***

Ternyata berita acara Togog harus diperbaiki. Kedatangan Limbuk meski semula cuma mau curhat atas batalnya Obama ke Indonesia sebanyak 32 dibagi 16 kali alias 2 kali, ternyata juga membawa info penting dari juragannya di Astina, Dewi Banuwati. Kekasih gelap Arjuna itu bilang, sesungguhnya Arjuna menyesal. Kenapa waktu zaman mereka masih hot-hot-nya pacaran belum musim kamera video. Akibatnya Arjuna nggak bisa pamer bukti.

Jadi bukan soal angka ”32” itu yang biangkerok masalah buat Arjuna. Wong waktu Julio Iglesias didesas-desuskan pernah tidur dengan 3.000 perempuan, Arjuna juga menter kok. Tenang-tenang saja. Karena penyanyi dari Amerika Latin itu tak sanggup menunjukkan bukti rekaman video.

Anehnya, Cangik, sama-sama dari Astina dan dari sumber yang satu, Dewi Banuwati, Permaisuri Raja Duryudana, punya info penting yang berbeda. Konon menurut Banuwati, kekasih gelapnya diam saja prihatin selama 32 hari 32 malam karena video porno dipakai untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Sekarang berita-berita tentang rentetan Gayus dan mafia perpajakan ketutup soal video porno.

Risang Dananjaya, menurut Banuwati, adalah tokoh yang kepekaan sosialnya tinggi sekali. Dananjaya prihatin, berita-berita penyergapan teroris sudah tak mampu lagi mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu ketidakadilan yang lain termasuk soal Century. Maka dialihkanlah kepedulian masyarakat kepada pornografi. Nanti kalau video porno sudah tidak mempan lagi mengalihkan perhatian masyarakat pada isu-isu sosial, kita akan memerlukan pengalihan apa lagi?

Itulah yang membuat Dananjaya prihatin.

***

Keprihatinan orang biasa mungkin tak menimbulkan apa-apa. Lain halnya kalau yang nandang sungkawa tokoh spiritual sekelas Arjuna. Kahyangan Suralaya geger. Batara Guru penguasa kahyangan tersebut segera memerintahkan Batara Indra turun ke Mayapada, menemui Arjuna.

Dulu waktu nyambangi Arjuna sebagai Begawan Ciptaning di gua Mintaraga, Batara Indra menyamar pandita tua, Resi Padya. Sekarang Indra menyamar sebagai murid sekolah dasar yang sedang kesengsem video porno di telepon genggamnya.

Dulu Resi Padya menguji Arjuna dengan angka-angka. Arjuna disuruh menebak jumlah butir beras yang digenggam Resi Padya dan apa makna jumlah tersebut. Sekarang, bocah sekolah dasar samaran Batara Indra pun menggladi Arjuna tentang apa itu angka 32. Ah, Arjuna menjawabnya dengan tangkas.

”Angka 32 itu keramat, wingit, karena diotak-atik dengan cara apa pun tetap punya makna. Lihatlah 3 tambah 2 itu lima. Panca wiwijangan. Indra kita berjumlah lima. Itu yang wajib kita pertimbangkan. Lalu 3 kali 2 itu enam. Sad wiwijangan. Itu yang namanya krenteging ati, firasat. Itulah tambahan pertimbangan buat kita. Dan tahukah kamu, Le, bocah sekolah dasar, 32 dibagi 8 sama dengan 4…ada 8 ada 4…8,4 triliun…itulah yang diusulkan jadi dana aspirasi anggota DPR…”

”Hahaha…Jangan guyon, Oom Arjuna,” kata si murid sekolah dasar, lalu matanya kembali ke video porno di HP-nya.

”Aku serius. Kembali ke 32. Sadarkah kamu, 3 pangkat 2 itu 9. Itulah jumlah lubang pada setiap insan, babahan hawa sanga, yang harus kita kendalikan saat meditasi. Panca indra dan firasat harus kita pertimbangkan tapi bukan segala-galanya. Keheningan kalbu saat kita menguasai babahan hawa sanga justru harus menjadi komandan untuk mengarahkan panca indra dan firasat dalam menanggapi apa pun termasuk soal video porno. Maka, hei bocah, lewat puasaku ini aku minta bantuanmu untuk menggugah kesadaran masyarakat agar jembar wawasannya dalam menanggapi video porno…”

”Ah, Oom Arjuna, aku cuma bocah SD, apa dayaku?”

”Jangan mungkir. Kembali ke 32. Angka 3 dikurangi 2 jadi 1. Itulah satu-satunya wujud yang kini ada di depanku: Batara Indra.”

Bocah SD ber-HP video porno itu badar jadi aslinya, Batara Indra, dan merangkul Arjuna. (*)

http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: