Banjaran Cerita Pandawa (32) Pandawa Gupak

Pada waktu Dewi Drupadi dipermalukan Dursasana(karya herjaka HS)

Prabu Suyudana dihadap oleh Pendeta Durna dan Patih Sengkuni. Mereka berunding tentang perdamaian dengan Pandhawa. Tengah mereka berbicara Nakula datang, bertanya tentang rencana kehadiran raja Suyudana. Raja Suyudana minta agar Pandhawa menyiapkan Balai Kencana bertiang delapanratus. Nakula minta diri, raja suyudana masuk istana.

Prabu Suyudana menemui prameswari Dewi Banowati. Sang Raja bercerita tentang rencana perdamaian dengan Pandhawa. Mereka lalu santap bersama. Patih Sengkuni dan para Korawa menghantar Nakula sampai di perbatasan negara.

Sadewa menghadap raja Kresna di kerajaan Dwarawati. Raja diminta kehadirannya di Ngamarta. Kresna menyanggupinya, dan bersama Setyaki berangkat ke Ngamarta.

Yudisthira menerima kehadiran Nakula. Nakula memberitahu segala permintaan raja Suyudana. Yudisthira susah hatinya. Kresna dan Setyaki datang, Yudisthira menyambut dengan hormat. Kresna menyetujui rencana perdamaian Korawa dengan Pandhawa. Wrekodara disuruh ke negara Ngalengka, meminjam persyaratan yang diminta oleh raja Suyudana. Wrekodara berangkat ke Ngalengka, akan menghadap raja Wibisana. Bathara Bayu menemaninya.

Raja Wibisana menerima kehadiran Wrekodara. Wrekodara menyampaikan maksud kedatangannya. Wibisana mengajak Wrekodara ke tempat Balai Kencana. Balai Kencana dilihat oleh Wrekodara hanya tampak seperti Balai-balai bambu. Balai Kencana segera dibawanya.

Patih Sengkuni dan para Korawa mencegat perjalanan Wrekodara. Terjadilah perkelahian, Korawa tidak mampu melawan Wrekodara, lalu kembali ke Ngastina.

Perjalanan Wrekodara diketahui oleh Anoman. Anoman menjamu di Dhadhalisada. Kemudian Wrekodara meminta pamit, kembali ke Ngamarta.

Perjalanan Wrekodara lewat di Tegal Kuru. Baladewa mencegat, Balai Kencana disuruh meninggalkan di Tegal Kuru. Balai Kencana ditinggal oleh Wrekodara.

Wrekodara menemui Yudisthira, Kresna, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Wrekodara memberi tahu, bahwa Balai Kencana telah diperoleh dan sekarang ditinggalkan di Tegal Kuru atas permintaan Baladewa. Nakula disuruh memberi tahu kepada raja Ngastina. Semua warga Pandhawa berangkat ke Tegal Kuru.

Bathara Guru dihadap oleh Bathara Narada, Bathara Brama, Bathara Kuwera, Bathara Citragotra, mereka menanyakan sebab terjadinya gara-gara. Bathara Narada memberi tahu, bahwa Korawa akan mengadakan perdamaian dengan Pandhawa. Bathara Guru khawatir bila tidak terjadi perang Baratayuda. Empat dewa disuruh mendurhakai perdamaian lewat orang-orang Korawa. Para dewa turun ke Marcapada.

Prabu Suyudana dan para para Korawa menerima kedatangan Nakula. Nakula memberi tahu, bahwa permintaan raja telah siap di Tegal Kuru. Raja Suyudana dan para Korawa pergi ke pesanggrahan.

Baladewa memihak Korawa, Kresna dipihak Pandhawa. Masing-masih minta agar menyampaiakn janji. Pandhawa mendahului berjanji, bila memulai berbuat durhaka, sanggup menerima hukuman dari dewa, sengsara sampai anak cucunya. Korawa berjanji demikian itu juga.. korawa dan Pandhawa telah bersatu. Para dewa merasuki kepada Burisrawa, Dursasana dan Patih Sengkuni. Dewa lain merasuk kepada Satyaki dan Gatotkaca. Burisrawa pergi menggoda Sumbadra, Patih Sengkuni mencari Kunthi dan Dursasana mencari Drupadi.

Patih Senhgkuni mengejar Kunthi, dan berhasil menarik kain penutup buah dada. Kunthi mengutuk, kelak bila Patih Sengkuni mati jenasahnya akan busuk tidak seperti bangkai anusia.

Dursasana menggoda Drupadi, dan berhasil melepas sanggul. Drupadi berjanji, ia tidak akan bersanggul sebelum berjamas dengan darah Dursasana.

Burisrawa mengejar Sumbadra. Sumbadra lari, Srikandhi menghalanginya. Burisrawa diberi minuman keras. Setyaki memberi minuman keras kepada Baladewa. Setyaki dan Gathotkaca panas hati, karena Sumbadra digoda, lalu mencari sebab untuk menghantamnya. kain Burisrawa diinjak oleh Setyaki, terjadilah perkelahian. para Korawa memisahnya.

Patih Sengkuni ingin memukul Setyaki. Kartamarma disuruh menghina putra-putra Pandhawa. Kartamarma menghina Nakula, Sadewa, Pancawala, Angkawijaya dan Gathotkaca. Putra-putra Pandhawa mengamuk, terjadilah perkelahian.

Baladewa melihat lalu dilerainya. Baladewa marah terhadap Gathotkaca. Gathothotkaca dipukulinya. Wrekodara membela anaknya. Kresna datang melerai perkelahian mereka. Para Pandhawa berkumpul lalu kembali ke Ngamarta

R.S Subalidinata
L.Th. Mayer. Wajangverhalen, 1924: 237-247

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: