Berguru Kepada Hati

“Mengapa seorang pengembara tidak layak berguru…?”, gumamnya lirih.

Masih juga orang ini membuat pahatan-pahatan pada sebuah batu besar. Kedua tangannya sibuk menggerayangi batu itu. Sesekali memukulkan batu segenggaman tangannya pada permukaan batu itu. Tampak batu sudah mulai membentuk sesosok tubuh manusia. Hampir sebesar dirinya. Malam mulai menggelayuti. Dua hari sudah orang ini memahat siang-malam, tanpa istirahat, tanpa makan. Seakan keinginannya untuk belajar begitu memuncak. Rasa lelah tak dirasakannya.

“Mengapa seorang gelandangan dilarang belajar…?”, lagi-lagi orang ini bergumam sendiri. Suaranya hampir tak terdengar tertimbun suara engah nafasnya.

Pletak-pletuk suara pahatan masih terus terdengar. Hanya diterangi sinar bulan purnama dan api obor. Tengah malam itu patung sudah hampir sempurna terbentuk. Membentuk sosok tubuh dengan wajah peyot tua. Tangan kanan terlipat di depan perut, sementara tangan kirinya memegang gendewa panah.

“Salam hormat saya, guru…,” terdengar sang pemahat kembali bergumam sambil menghela nafas panjang. Tampaknya apa yang dilakukannya sudah selesai. Hari menjelang pagi. Sang pemahat tampak kuyu dan lusuh. Wajahnya cekung pucat. Kedua tangannya terlihat sedikit gemetaran. Pagi menyingsing itu sang pemahat duduk berlutut si depan patung buatannya sendiri.

“Guru,…begitu hebat nama guru, begitu kesaktian guru terdengar di seantero dunia wayang, semua orang mengagumimu, semua ksatria ingin berguru kepada yang mulia guru..,” sang pemahat berhenti sejenak menelan ludah. Bibirnya terlihat sangat kering, hampir tiga hari dia sama sekali belum minum barang seteguk. “Hamba tahu, bahwa hamba tidak punya cukup kekuasaan untuk dapat berguru kepada yang mulia guru, hamba juga sadar, bahwa bekal dan kekayaan hamba tak akan cukup untuk mengganti apa yang akan guru ajarkan kepada hamba,..”. Sang pemahat kemudian berhenti. Wajahnya tertunduk sayu, bibirnya terlihat bergetar. “Tapi ijinkan hamba untuk berguru kepada roh guru, biarkan hamba mengabdi dengan keteguhan hati berkhayal terhadap sosok anda, guru..”

Yang diajak bicara adalah patung hasil karyanya sendiri. Patung tetap kokoh angkuh berdiri dihadapannya. Sebuah patung berbentuk hampir sempurna seperti sosok manusia sampai ke lekuk-lekuk keriput paling detail sekalipun.

Sang pemahat ini berdiri. Tampak jelas dari sorot matanya bahwa dia sebenarnya adalah seorang yang berpengaruh. Dibalik sorot mata sayunya, masih terpancar sinar kewibawaan seorang raja. Masih tampak pada lusuh pakaiannya, bahwa pakaian itu sebenarnya adalah busana kebesaran seorang ksatria. Tapi baju itu tampak sudah compang-camping, kotor dan berdebu.

Perlahan dia meraih sebuah gendewa besar di atas tanah. Perlahan berdiri, sekali lagi memberi hormat pada patung buatannya, kemudian tangan kanannya mengambil tumpukan anak panah. Perlahan mengambil sikap memanah, membidikkannya ke arah pohon jauh di ujung tanah lapang itu, dan …wush! Sebuah anak panah melesat cepat..

****

“Luar biasa, anakku! Kamulah anak muda yang paling berbakat yang pernah saya didik. Suatu hari nanti, ilmu memanahmu tidak akan ada yang bisa menandingi di dunia wayang ini,” terdengar suara serak parau melengking dari mulut seorang tua peyot. Tapi tunggu! Sungguh luar biasa! Orang tua peyot inilah yang rupanya menjadi model patung yang pernah dibuat seorang pemahat yang kita kenal. Seorang tua keriput, berhidung bengkok, muka tidak simetris, mata kirinya terkatup, kumis dan jenggot yang tidak terurus. Rambut putih digelung kebelakang. Sementara tangan kanan terlipat di depan perut memegang tasbih, dan tangan kirinya menepuk-nepuk kepala seorang muda di depannya yang membelakanginya membidikkan anak panah.

“Benarkah guru, benarkah saya yang paling pandai memanah di bumi wayang ini, guru Drona..?” tanya si anak muda tetap tertunduk, sambil kembali menyiapkan anak panah berikutnya, dan membidik melatih kebolehannya memanah dengan sasaran ribuan kaki di depan, seekor tupai yang berlarian ke sana kemari dikelilingi beberapa binatang yang mati beserakan tertembus anak panah. Ada ayam hutan yang mati tertembus anak panah tepat di matanya, ada seekor burung elang kecil yang terpotong kedua sayapnya sekaligus, dan banyak lagi.

Seorang anak muda yang sangat tampan. Begitu belia. Sorot matanya tajam, hidung mancung, bermahkota seorang ksatria. Ketampanan yang seolah menciptakan aura tersendiri bagi siapa pun yang melihatnya. Setiap perempuan dipastikan akan jatuh hati walau hanya sekilas melihat parasnya.

“Seluruh hidupku kenyang oleh kembara merambah penjuru dunia wayang, terkadang berguru, terkadang diangkat sebagai guru, selama itu tak ada seorang ksatria pun mampu memanah sepertimu, wahai Permadi..,” ucap orang tua peyot itu yang disebut sebut dengan nama Guru Drona oleh sang anak muda belia.

Bersamaan dengan kalimat terakhirnya, kemudian terdengar….wush!! Dua buah anak panah sekaligus melesat menuju sang tupai. Wujud sang tupai hanyalah seperti sebuah titik diantara rimbunan pohon, dari tempat sang pemanah membidik. Dua anak panah seakan berkejaran berlomba memburu sang tupai, dan cruupp! Dua anak panah menancap sekaligus. Tapi tunggu! Si tupai masih tampak berlari! Rupanya anak panah menancap pada seekor ular yang saat itu akan menerkam si tupai dari atas pohon. Panah pertama tepat menembus batok kepala si ular, sementara panah kedua tepat membelah panah pertama. “Luar Biasa, Permadi…!..Luar biasa..!”, kembali terdengar suara parau sang Drona.

Bresss!! Tiba-tiba hampir bersamaan, terlihat enam buah anak panah menancap sekaligus. Menancap tepat membentuk lingkaran di sekeliling sang tupai yang akan melompat ketakutan. Sehingga tampak anak panah itu seolah memagari tupai untuk bergerak. Anak panah yang melesat begitu cepat entah dari mana.

Drona dan si muda tampan bernama Permadi, terkejut bukan kepalang, dan hampir bersamaan melompat berlari bagai terbang meluncur menuju ke balik rerimbunan pohon yang atas sasmita mereka, dianggap sebagai tempat keenam anak panah itu berasal. Semakin terkejutlah mereka, ketika dibalik pohon yang rubuh oleh terjangan mereka berdua, berdiri sesosok tubuh tertunduk, kedua tangannya memegang gendewa yang didirikan hampir dua kali tinggi tubuhnya. Terlihat jelas seraut wajah yang kita kenal. Wajah sang pemahat. Hanya kali ini penampilannya semakin menjijikkan. Wajahnya hitam legam seakan tersulut panas matahari. Sementara seluruh pakaiannya tidak lagi berbentuk, seperti seonggok kain perca ditempelkan begitu saja menutup tubuhnya. Bau busuk tubuhnya menyengat di udara menghapus bau wangi bersih badan sang ksatria tampan.

“Kurang ajar! Siapa kamu manusia bau..! Berani-beraninya mengganggu…,” dengan berteriak-teriak, suara Drona semakin terdengar pecah parau.

Sang pemahat yang ternyata juga pemanah mahir duduk berlutut membungkukkan badan seolah bersujud dihadapan Drona, “Ampunilah hamba yang lancang, Guru. Hamba hanya ingin menjajal apa yang hamba pelajari dari Guru..”. Drona dan Permadi saling bertatapan pandang. Tampak mimik muka tidak suka diperlihatkan Permadi sang pemuda tampan.

Dua hari perjalanan menembus hutan mengikuti sang pemahat, sampailah Drona dan Permadi ketempat sang pemahat berlatih memanah. Mereka terbelalak memandangi sebuah patung batu yang sama persis dengan sosok tubuh Drona. Sementara sang pemahat terdiam menundukkan kepala.

“Ampunilah hamba, Guru….”

“Aku bukan gurumu..!!!” Drona berteriak memotong.

Sejenak diam, sang pemahat kemudian memberanikan diri melanjutkan, “Maafkan saya. Saya sebenarnya juga seorang putra raja. Dari kerajaan kecil terpencil jauh di ujung barat dunia wayang bernama Paranggelung. Dua puluh purnama perjalanan berkuda, hamba tempuh hanya ingin menuntut ilmu berguru kepada panjenengan.., tapi rupanya bekal hamba sudah habis diperjalanan. Tidak ada lagi emas tersisa untuk upeti bagi Kerajaan Hastinapura agar bisa berguru kepada panjenengan..”

Drona hanya diam termangu. Terlihat sorot mata kekaguman terpancar. Membuat Permadi mendekat dan memegang lengan kanan Drona. Wajah iri tampak tersirat dari sorot mata Permadi.

Sebentar Drona menoleh ke Permadi, menghela nafas, kembali memandang sang pemahat dan berkata, “Ilmu memanahmu luar biasa, anak muda. Saatnya memberikan baktimu kepadaku yang telah memberikan inspirasi kepadamu..,” sejenak suasana hening, “Potong ibu jari tangan kananmu dan berikan kepadaku! Tunjukan baktimu padaku.” lanjut Drona memecah keheningan. Mendengar itu, tampak sekilas Permadi tersenyum.

Tapi aneh, sang pemahat tanpa bertanya-tanya lagi, dan tanpa ragu lagi mengambil sebilah belati yang disarungkan dipinggangnya. Dengan tangan kirinya, mantap dia memotong ibu jari tangan kanannya. Darah segar mengalir deras ke tanah. Potongan jari itu kemudian dihaturkannya ke Drona sambil berlutut dan tertunduk.

Potongan jari penuh darah itu diraih Drona, kemudian melangkah pergi begitu saja. Diikuti Permadi yang melangkah dibelakang. Sejenak berhenti, tanpa berpaling Drona berkata, “Siapa namamu anak muda..?”

“Bambang Ekalaya.., Guru..”

Drona dan Permadi melangkah pergi meninggalkan sang pemahat Ekalaya sendiri. Tampak Ekalaya masih dalam posisinya, berlutut dan tertunduk. Darah masih menetes deras dari jari tangannya. Tak nampak sedikit pun rasa sesal di wajahnya…

Pitoyo

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: