Bisma, Manusia Wadat Yang Sumpahnya Menjadi Sebab Perang Bharatayudha

Hanya satu permintaan Gangga kepada Sentanu, yaitu harus memanjakannya, artinya tidak boleh bertanya siapa sebenarnya ia itu, bahkan tidak boleh menghalang-halangi apapun yang diperbuatnya, walau buruk sekalipun. Sekali-kali Sentanu tidak boleh murka dengan alas an apapun kepada Gangga, istrinya. Permintaan Ganggaa diterima dengan senang hati, karena kecuali Gangga adalah memang wanita yang berseri-seri, walaupun tanpa “make-up” , juga parasnya tetap cantik dan bertubuh indah.

Perkawinan Sentanu dengan GAngga sekaligus penobatan menjadi raja di Astinapura dimeriahkan. Tetapi untuk waktu yang cukup lama perkawinan itu tidak mendatangkan rasa bahagia, bahkan Sentanu selalu diliputi rasa cemas dan dosa atas perbuatan permaisurinya yang setiap kali melahirkan bayi segera dilemparkan ke dalam sungai Gangga.

Sentanu tidak berani sepatahpun menegornya, karena sebelumnya memang sudah bersumpah tidak akan menegor tingkah laku yang akan diperbuat permaisurinya. Namun setelah ketujuh kalinya, maka pada kelahiran bayi yang kedelapan meledaklah kemarahan Sentanu yang tak tertahan lagi. Ia segera menghampiri Gangga sambil bersabda:

“Hai Gangga ! Hentikan perbuatanmu yang terkutuk dan tak berperikemanusiaan itu. Berikan bayi yang kau pegang”.

Sangat terkejutlah hati Gangga dan menghentikan perbuatan melabuh bayi, putranya yang kedelapan itu. Sambil menyerahkan bayi tersebut kepada Sentanu, berkatalah ia:

“Sinuwun, terimalah anak yang lahir atas perkawinan kita. Nama bayi ini adalah Dewabrata, kelak aka menjadi satria sakti, mahawira, arif bijaksana, filosuf sekaligus pujangga agung, bahkan akan menjadi paglima perang yang sangat dikagumi baik oleh kawan maupun lawnnya. Karena sang Prabu melanggar janji, berani menegur hamba, maka izinkanlah hamba kembali ke Kahyangan”.

Keputusan Gangga ini kalau kita renungkan secara eksistensial hanya memperpanjang penderitaan dan kematian Bisma dari seorang wanita.

Sentanu menerima bayi, dan pasa saat itu juga Gangga lenyap dari pandangan mata. Dan saat itu pulalah Dewabrata dinobatkan menjadi Pangeran Adipati pewaris kerajaan Astina. Jadi dengan demikian Sentanu menduda sambil memelihara bayi (Dewabrata). Semula ia bertekad akan mempertahankan status kedudaannya dan mencoba untuk hidup dalam dunia kerohanian. Tetapi porak-porandalah niatnya. Ketika Sentanu sedang santai di tepi sungai Jamuna bertemulah ia dengan seorang gadis yang cantik cemerlang tak ubahnya bidadari dari Kahyangan, Durgandini namanya. Ia putrid dari negeri Wirata, dahulu bernama Lara Amis yang dikarenakan badannya berbau amis. Setelah penyakit Lara Amis dapat disembuhkan oleh Palasara, berganti nama Setiawati atau Satayojana.

Oleh Prabu Sentanu dipinanglah dewi itu untuk menjadi permaisurinya dan pengasuh putranya. Tetapi jawab sang Dewi:

“Saya bersedia menjadi permaisuri paduka yang mulia, tetapi putra lelaki yang saya lahirkan harus dinobatkan menjadi raja sebagai pengganti paduka”.

Kendatipun sang Prabu tergila-gila oleh asmaranya yang meluap-luap, namun Sentanu bungkam seribu bahasa. Ia ingat putra tunggalnya sang Dewabrata. Ketika sampai di istana, Dewabrata melihat ayahnya yang murung, sedih karena tak berhasil mempersunting gadis cantik itu, maka Dewabrata dating bersujud dan bersumpah di hadapan ayahandanya:

“Hamba berjanji”, demikian Dewabrata: “Bahwa hamba akan rela menyerahkan tahta kerajaan Astina untuk putra yang dilahirkan oleh Ibu ini dengan ayahandaku, demi untuk kepentingan negara dan raja yang akan melanjutkan keturunan kita”.

Benar-benar terjadi, anak mengawinkan bapak. Mulai saat itulah Dewabrata bernama Bisma yang berarti patuh kepada sumpah, teguh memegang janji dan berani melaksanakannya tanpa syarata. Dan ternyata dari perkawinan itu lahirlah dua orang putra bernama Citranggada dan Wicitrawirya, yang kemudian benar juga mereka naik tahta kerajaan Astina silih berganti. Namun malang, kedua putra mahkota tersebut meninggal karena perang dalam usia muda tanpa menurunkan seorang putrapun sebagai penggantinya, sebagai raja Astina.

Setyawati mengharap agar Bisma bersedia mengawini kedua janda itu dan naik tahta kerajaan Astina. Tetapi dengan tegas Bisma menolak karena ia telah bersumpah akan menjadi Brahmacarya (wadat) dan menyarankan agar Abiyasa putra Setyawati dari Bagawan Palasara saja yang menggantikan tahta adiknya dan sekaligus mengawini Ambika dan Ambalika.

Siapakah sebenarnya yang menjadi penyebab perang Bharatayudha yang penuh dengan kekejaman itu? Abiyasakah? Atau Bismakah? Apapun kata orang, tetapi faktanya bicara, andaikata Bisma naik tahta atau Abiyasa ma uterus naik tahta, mestinya tidak aka nada perang antara Pandawa dan Kurawa. Apapun alasannya, perang adalah kejam, menderitakan kedua belah pihak, baik yang menang, maupun yang kalah.

Dimanakah letah darah Bharata kalau yang perang itu Kurawa dan Pandawa? Apa tidak sebaiknya Bharatayudha diganti dengan Wiratayudha (perang keturunan Wirata) atau Saptarenggayudha (perang darah Saptarengga). Inilah problim baru bagi ahli dan pencipta wayang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: