Dewi Amba Akan Membalas Dendam Kepada Bisma, Karena ditolak cintanya.

Tersebutlah di negara Kasi tiga putri raja naik panggung untuk mengadakan sayembara pilih, yaitu memilih calon jadohnya. Aneh, tetapi nyata, inilah tradisi. Menurut adat istiadat gadis yang telah dewasa harus memilih jodohnya. Karena memang dasar ayu maka tak mengherankan kalau banyak pangeran dan putra-putra raja dari berbagai negara dating untuk mengikuti sayembara. Tidak ketinggalan pula Bisma, putra dan pewaris tunggal kerajaan Astinapura dating untuk mengikuti sayembara tersebut sungguh mencemaskan para peserta sayembara lainnya. Mengapa? Karena Bisma sudah terkenal sebagai pahlawan besar lagi bijaksana, sakti dan memiliki kekuatan yang luar biasa.

“Untuk apa Bisma itu dating?” Bisik para peserta “kan ia seorang Brahmacarya, sudah berjanji tidak akan kawin seumur hidupnya. Apakah ia telah meralat janjinya?”

Putri-putri Kasi pun sama sekali tak menghiraukan atas kehadiran Bisma, bahkan mereka membuang muka ketika Bisma melihatnya, karena mereka juga menduga bahwa kedatangannya pasti bukan untuk ikut dalam sayembara, tetapi hanya menonton saja. Dugaan mereka ternyata salah. Karena ketika Bisma melihat sikap para pangeran dan ketiga putrid yang menghindari pandangan matanya itu, maka naik darahlah Bisma. Di tantangnya para peserta sayembara satu persatu dan duel terjadi. Tak ada satupun yang dapat menyaingi atau mengalahkan kesaktian Bisma. Semua pangeran dikalahkannya. Maka ia segera menyambar ke tiga putrid kasi yang jelita itu dan dengan kereta termasyurnya yang dapat terbang laksana Boing 747 segera “take off” (tinggal landas) meninggalkan alun-alun negeri Kasi. Beda antara Boeing 747 dengan keretanya Bisma, yaitu kalau Boeing 747 menyemburkan gas panas, sedang keretanya Bisma tak mengeluarkan suara yang memekakkan telinga maupun gas panas, tetapi malahan membuat angina sejuk yang mempesonakan semua pangeran yang hadir.

Namun sial. Di tengah perjalanan kereta Bisma dihadang oleh prabu Salva dari negeri Saubala. Semula Salva adalah kekasih dewi Amba (salah satu dari ketiga putri Kasi) dan telah mengikat asmara, karena itu tidak mustahil “duel” antara Bisma dengan Salva terjadi. Ketika Salva kalah dan akan dibunuh oleh Bisma, maka Amba meminta agar niat Bisma diurungkan. Pendek kata Salva nyaris mati berkat pertolongan dewi Amba. Saking cintanya kepada Salva, setelah sampai di istana Astinapura, ia segera dating kepada Bisma, dan berkatalah dewi Amba dengan sinisnya:

“Wahai Bisma, tuan mestinya tahu ajaran-ajaran Weda. Mengapa kau langgar ajaran Weda itu. Bebaskan aku, agar aku dapat mengabdi kepada kekasihku prabu Salva”.

Bisma mengabulkan permintaan dewi Amba, bahkan dengan keretanya dan diiringi para hulubalangnya dewi Amba di antarkan kembali kepada prabu Salva. Sambil menangis dewi Amba menghadap prabu Salva dan menghaturkan sembah:

“Duh sinuwun, hamba telah berketetapan hati, bahwa hamba akan mengabdi kepada paduka Sri Maharaja Salva. Karena itu jadikanlah hamba permaisuri tuanku”.

“Duh, dewi Amba, saying sudah terlambat”. Jawab Salva. “Aku tak dapat menerima kedatanganmu, karena kau telah tahu sendiri bahwa aku telah ditaklukkan di depan umum. Sedang engkau kemudian telah ikut Bisma. Sebagai seorang laki-laki aku benar-benar merasa sangat terhina. Karena itu sebaiknya engkau kembali kepada Bisma dan kerjakan apa yang dititahkan olehnya kepadamu”.

Pendek kata dengan rasa sedih bercampur malu dewi Amba kembali kepada Bisma. Bisma mencoba membujuk Wicitrawirya agar mau menerima dewi Amba. Tetapi ia tetap menolaknya dengan alas an bahwa putrid tersebut telah meletakkan hatinya kepada raja Salva. Mendengar penolakan secara terus terang itu menjadi remuk-redamlah hati dewi Amba. Ia amsih mencoba untuk mengabdi kepada raja Salva, tetapi prabu Salva-pun tetap menolaknya dengan kerasnya.

Benar-benar hancur luluhlah hati dewi Amba. Pendek kata terjadilah frustasi, murung, hidupnya tak menentu, tanpa kasih, tanpa cinta dan harapanpun tiada. Paras cantik yang semula ia miliki telah menajdi “kampong perot”, dan wajahnya tak bersinar lagi, pucat pasi bagaikan mayat hidup. Kepedihan dan kesedihan ini akhirnya berubah menjadi rasa benci dan dendam kesumat yang luar biasa terhadap Bisma. Ia beranggapan bahwa Bismalah yang menghancurkan semua hidupnya. Maka dengan tak tentu arahnya perjalanan dewi Amba sampai di pertapaan Resi Parasurama (Ramaparasu). Dewi Amba sujud dan menceritakan nasib sial yang telah menimpanya.

Karena Ramaparasu tak mampu lagi bertanding secara phisik dengan Bisma, maka ia menasehatkan kepada dewi Amba, untuk kembali kepada Bisma dan menyerahkan nasibnya serta menuruti apa saja yang diperintahkan. Inilah satu-satunya jalan. Tetapi apa yang terjadi?

Dewi Amba malahan tambah bingung, “judeg” , sedih bercampur malu benci penuh dendam dan putus asa. Ia tidak kembali kepada Bisma tetapi malahan “ngalu” / bunuh diri, sehingga sukmanya mengembara dan memang kelak dewi Amba berhasil membalas dendam sakit hatinya membunuh Bisma dengan cara hidup “tumimbal” (kembali) atau manitis (reinkarnasi) kepada dewi Srikandi putri Prabu Drupada raja negeri Pancalaradya.

Lagi-lagi membuktikan bahwa hidup itu selalu dihadapkan pada suatu pilihan, memilih “itu” atau “ini”. Tidak memilihpun sudah berarti memilih.

Kieregaard (1813-1855) berkata:

“I perceive perfectly that there are two possibilities one can do either this or that”.

“Sejak semula saya menyaksikan, bahwa ada dua kemungkinan, seorang hanya bisa melakukan “ini” atau “itu”.

Nah demikianlah wayang menganjurkan kepada manusia, bahwa orang harus lebih dahulu menetapkan pilihan bagi dirinya: “Siapa aku, ingin jadi apa”, barulah manusia bertindak yang sesuai dengan pilihannya. Tanpa putusan dan pilihan yang tegas dan mantap, manusia akan terombang-ambing. Yang demikian ini berarti manusia tidak menghayati dan menjalani eksistensinya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: