Ilusi Pikiran Sukra Sang Putra Brighu part 2/2

Di dalam dirimu sudah ada program seks dan sanggama. Ada pula rekaman ciri-ciri lawan jenis yang kau anggap ideal. Maka begitu ada stimuli dari luar, kau langsung terpicu. Kau tidak bisa lagi menikmati persahabatan dengan lawan jenis. Yang kau pikirkan hanyalah seks. Bila kau tidak mengubah sikapmu, tidak berupaya untuk mengubah program dasarmu, program itu pula yang kelak kau bawa ke alam sana, atau kelahiran berikutnya. Apa yang akan kau lakukan dengan nafsumu di alam sana? Are you getting my point? Bidadari berdada telanjang yang kau harapkan akan melayanimu di alam sana lahir dari keinginanmu sendiri. Kemudian, di alam sana bila tidak menemukan bidadari , kau akan bingung sendiri. Kau akan balik ke sini untuk mencarinya… Oh, sudah berapa kali kau melakukan hal yang sama, dan masih tidak sadar juga. *1 Bhaja Govindam

Menganggap Ilusi dunia sebagai hal nyata

Sukra Putra Bhrigu, telah berkelana dalam banyak kehidupan sesuai imaginasi dari ‘mind’-nya. Di dalam mind Sukra sudah ada program seks dan sanggama. Ada pula rekaman ciri-ciri lawan jenis yang dianggap ideal. Maka begitu ada stimuli dari luar, ada bidadari Visvachi, maka mind Sukra langsung terpicu. Kala itu Sukra telah bertindak mengikuti mind-nya, Sukra melupakan jatidirinya.

Oleh karena terikat dengan ‘mind’, maka Sukra berada dalam kesadaran ilusif. Oleh karena hidup berdasar ‘mind’ maka Sukra terikat dengan Hukum Sebab-Akibat, Reinkarnasi, Evolusi dan sebagainya. Kesadaran ilusif tersebut sudah mendarah daging dalam ribuan kehidupan dan telah menjadi bagian dari pikiran bawah sadarnya, sehingga ilusi dunia ini telah dianggap sebagai hal nyata. Seperti mimpi itu terasa nyata, dan baru setelah terjaga bisa mengatakan semua yang dialami hanya mimpi. Buddha dan orang-orang suci lainnya sudah terjaga, maka mereka paham bahwa dunia ini hanyalah sebuah mimpi.

Setelah 360.000 tahun berlalu, Resi Bhrigu terjaga dari samadhinya. Sang resi melihat tubuh Sukra, putranya telah kaku dan memperkirakan sang putra telah meninggal dunia. “Mengapa putraku harus mati, padahal sesuai rencana kehidupannya, dia seharusnya hidup sampai akhir penciptaan ini? Aku harus mengutuk tindakan Dewa Yama yang sembrono ini.”

Dewa Kematian, Dewa Yama datang ke hadapan Resi Bhrigu dan berkata, “Wahai Resi Agung, mereka yang telah mengenal Paramatman tidak akan terganggu oleh kemarahan orang lain. Aku terikat oleh hukum Ilahi, dan tidak akan terpengaruh oleh kutukanmu. Aku telah mengalami berbagai kehidupan, dan tugasku adalah membawa kematian. Akan tetapi mengapa kau begitu terikat dengan putramu dalam kehidupan ini?”

“Melalui ‘gyana’, kesadaran, seseorang dapat memahami bahwa tidak ada hukum sebab dan akibat, yang hadir adalah Atman. Karena manusia melihat dari sudut ‘agyana’, ketidaksadaran maka terwujudlah ilusi alam semesta ini. Mereka yang sadar menyadari hakikat keilusian ini dan terlepas dari hukum sebab akibat.”

Untuk mencapai moksha, untuk memperoleh keselamatan, untuk mengakhiri lingkaran kematian dan kelahiran, Anda tidak butuh lahir sampai seratus kali. Sekarang dan saat ini pun, Anda bisa terbebaskan. Anda bisa mencapai moksha, bisa memperoleh keselamatan, bisa terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Yang terikat dengan Hukum Karma, Hukum Sebab Akibat, Reinkarnasi, Evolusi, dan lain sebagainya adalah badan Anda, mind Anda, jiwa Anda, ego Anda. Kesadaran Ilusif-lah yang terikat dengan semua itu. Merasa “terjerat” oleh hukum-hukum itu pun adalah bagian dari Kesadaran Ilusif. Dengan melampauinya, Engkau terbebaskan dari ilusi dan segala produk hukumnya. *2 Atma Bodha

Pertemuan Resi Bhrigu dan Dewa Yama dengan Sukra

Dewa Yama melanjutkan, “Wahai ResiBhrigu janganlah gusar, aku tidak membunuh putramu, ia sedang menjalani kodratnya, kutukanmu itu merupakan kesia-siaan. Setiap manusia memiliki dua tubuh, tubuh halus, ‘etheric body’ dan tubuh kasar, ‘gross body’. Tubuh kasar itu dapat musnah dan hanya berfungsi dengan bantuan pikiran dan tidak mempunyai intelegensia. Kala pikiran menuju kebenaran, tubuh pun menuju kebenaran. Demikian juga sebaliknya, kala pikiran menuju ketidakbenaran, tubuh pun menuju ketidakbenaran.”

“Kala Resi larut dalam samadhi, Sukra telah terpikat dengan bidadari Vishvachi. Dan dengan tubuh halusnya dia mengalami berbagai kelahiran dan kematian. Pada saat ini Sukra sedang bertapa di tepi sungai Gangga, dia sedang berupaya mengendalikan inderanya. Resi Bhrigu, cobalah lihat dengan mata batimu!”

Yang menuntut kenikmatan indra adalah mind. Keinginan, keterikatan dan apa yang kita anggap cinta selama ini, semua adalah expression of mind, ungkapan-ungkapan mind. Sifat-sifat dasar manusia juga berkaitan erat dengan mind. Sifat tenang, sifat aktif dan sifat malas lahir dari rahim mind. Melampaui ketiga sifat itu berarti melampaui mind. Atau sebaliknya, melampaui mind berarti melampaui ketiga sifat dasar itu. *3 Narada Bhakti Sutra

Resi Bhrigu kemudian melihat semua peristiwa yang telah dialami oleh Sukra dan berkata, “Dewa Yama, aku mohon maaf atas segala ketergesaanku, tadi Dewa Yama menyatakan bahwa setiap insan mempunyai dua tubuh, yang halus dan yang kasar. Namun bagiku yang hadir hanyalah yang halus karena sejatinya semua tindakan ini dilakukan oleh pikiran, tubuh hanya mengikuti.”

Dewa Yama menjawab, “ Benar Resi, seperti pembuat gerabah menciptakan tempayan, demikian pula pikiran menciptakan raga. Begitu pemahaman pikiran begitu juga penciptaannya. Bagi seorang bijak, semua tindakan ini adalah pekerjaan sang pikiran saja. Sebenarnya yang eksis hanyalah Brahman semata. Demikian pula dengan putramu, jadi bagaimana mungkin aku dapat bersalah dalam hal ini?”

Resi Bhrigu dan Dewa Yama kemudian pergi ke tempat Sukra bertapa. Mereka paham bahwa Sukra telah mencapai tahap ‘gyani’, dan berada dalam keadaan sangat damai. Dewa Yama segera membangunkan Sukra. Sukra sadar dan langsung bertanya dengan penuh hormat siapakah mereka berdua. Resi Bhrigu berkata, Kau adalah seorang ‘gyani’, cobalah untuk mengenali siapa kami dan siapa kah dirimu?

Sukra memejamkan mata dan berkata penuh ketakjuban,” Yang Mulia Ayahanda dan Dewa Yama, alam ini sungguh sangat menakjubkan. Aku sadar bahwa aku telah berkelana karena pengaruh ilusiku. Kini aku telah mencapai kesadaran dan ilusi telah sirna. Aku tidak memiliki hasrat apa pun juga. Namun sesuai kodrat maka aku harus kembali ke pegunungan Mandrachal, hukum alam harus dijalani.”

Sebelum mengakhiri kisahnya, Resi Vasishtha berkata kepada Sri Rama, “Ramji, secara fisik seorang ‘gyani’ nampak menjalani kehidupan seperti manusia biasa. Namun, karakter mereka berbeda dengan manusia biasa. Seorang ‘gyani’ hidup tanpa keterikatan dengan unsur-unsur duniawi. Selama masih memiliki raga, maka raga akan merasakan kesenangan dan kesusahan, suka dan duka, akan tetapi seorang ‘gyani’ menghadapi semua ini dengan penuh kesabaran. Dia sadar bahwa semua yang dialaminya adalah hasil dari karma-karma yang telah dilakukannya sebelumnya. Seorang ‘gyani’ melakukan aktivitasnya secara alami, tetapi tidak terikat kepada hasilnya, maupun kepada semua unsur-unsur di sekitarnya. Berbeda dengan seorang ‘agyani’ yang tidak berdaya dengan aktivitas pikirannya.”

Sri Vasishtha melanjutkan kisahnya : “Ramji, setelah menyaksikan tubuhnya yang telah rapuh tersebut Sukra lebih suka untuk meninggalkan tubuhnya tersebut, namun dicegah oleh Dewa Yama. Dewa Yama menganjurkan kepada Sukra agar menerima tubuh tersebut, dan melalui tubuhnya itu Sukra harus menjadi guru para asura, di samping itu masa kehidupannya masih teramat lama. Dewa Yama kemudian kembali ke istananya.

Kehidupan para Buddha, mereka yang telah terjaga

Hidup di dunia ini bersifat sementara, dan Sang Buddha memberi contoh kesementaraan hidup dengan contoh yang sederhana. Di bawah ini adalah kutipan dari buku *4 Ah, Hridaya Sutra bagi orang Modern.

Selokan air kotor di depan rumah anda, air kali dan air sungai yang kadang jernih dan kadang keruh – semuanya sedang menuju laut. Es Dhammo Sanantano – demikianlah Kebenaran itu adanya. Tetapi, sesungguhnya kebenaran tadi masih belum utuh – masih separuh. Seorang Buddha berupaya melihat sisi lain kebenaran, Ia ingin melihat kebenaran seutuhnya.

Dan sisi lain kebenaran yang mereka lihat, sungguh menakjubkan! Air laut menguap dan menjadi awan. Lalu awan berubah menjadi air hujan. Kemudian turunlah air hujan untuk mengisi semua mata air yang ada dan bahkan mengalir kembali lewat selokan air kotor di depan rumah anda ………

Ketahuilah, semuanya ini permainan gila – tak berarti. Tasmaat Jagrutaah, Jagrutaah – oleh karena itu, bangkitlah, sadarlah! Dan seorang Buddha tertawa terbahak-bahak.

Dibekali dengan kesadaran baru tersebut, seorang Buddha mulai merayakan kehidupan. Sesungguhnya, hanya seorang Buddha yang bisa merayakan kehidupan. Bukan mereka yang sering muncul di layar teve. Mereka sekedar senang-senang, sebentar lagi kesenangan mereka juga akan berubah menjadi kesedihan.

Yang bisa membuat anda menjadi seorang selebriti hanyalah kesadaran. Kesadaran yang muncul dari dalam diri sendiri.

Penderitaan Gusti Yesus selalu dibesar-besarkan. Ya, Ia ditahan, disiksa dan bahkan disalibkan, tidak berarti bahwa Ia menderita. Seorang yang menderita tidak dapat memaafkan mereka yang menyebabkan penderitaan terhadap dirinya. Sudah tahu akan disalibkan, Ia masih mengundang para muridnya untuk makan malam bersama. Yesus adalah seorang Buddha, seorang selebriti sejati. Begitu pula dengan Siddharta Gautama dan Muhammad. Menjelang akhir hayat, selama berhari-hari badan mereka menderita, tetapi perayaan kehidupan berjalan terus. Mereka para selebriti sejati.

Seorang Buddha bisa merayakan hidup setiap saat dan dalam setiap keadaan, karena ia sadar bahwa sesungguhnya kekeruhan dan kejernihan bukanlah dua hal yang berbeda. Air yang keruh akan jernih kembali dan air yang jernih akan menjadi keruh untuk menjadi jernih kembali. Berada dalam kekeruhan – ia tidak akan mengeluh, karena ia sadar bahwa kekeruhan hanya bersifat sementara. Begitu pula di tengah kejernihan, ia tidak akan menjadi senang, lalu angkuh, karena ia sadar bahwa kejernihan pun bersifat sementara. *4 Ah, Hridaya Sutra bagi orang Modern

Bertindak di dunia dengan penuh kesadaran

Di bawah ini adalah juga kutipan dari buku *4 Ah, Hridaya Sutra bagi orang Modern.

Lalu aku melihat surga terbuka : sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama : “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan matanya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah “Firman Allah”. Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. (Wahyu 19:11-15).

Kitab wahyu sedang menjelaskan ciri-ciri para Avalokita, para Mesias, para Avataar, para Buddha mendatang. Berarti para Avalokita masa kini tidak akan menggunakan pedang beneran. Mulut merekalah yang akan mengeluarkan pedang. Pedang kata-kata. Kata-kata yang tajam, keras, ketus, pedas, langsung to the point. Karena selama ini mereka sudah bereksperimen dengan kata-kata lembut dan manis, ternyata tidak berguna.

Para Avalokita masa kini akan menjadi milik dunia. Sesungguhnya ia adalah warga dunia. Kesadaran seorang Avalokita yang telah melampaui segala macam pengalaman membuat dia melihat kekosongan di balik segala-galanya. Lalu apa yang ia lakukan? Ia tidak akan duduk diam. Ia juga tidak akan meninggalkan arena permainan. Dengan kesadaran baru itu, ia akan terjun kembali dalam arena permainan. Kali ini ia bermain dengan penuh kesadaran dan untuk menyadarkan para pemain lainnya. Kelak para pujangga Cina akan menerjemahkan istilah ini dalam bahasa Cina – Kua Shih Yin, yang berarti Ia yang Mendengarkan Jeritan. Mereka melakukan improvisasi yang luar biasa. Sangat indah, sangat manis. Di India dan Tibet, sosok Avalokita digambarkan sebagai seorang pria, sedangkan di Cina, ia diberikan sosok wanita. Sungguh hebat! Karena, Ia Yang Mendengarkan Jeritan haruslah penuh dengan welas-asih. Dan wanita lebih cocok untuk mewakili nilai yang satu ini. Kasih bersifat sangat lembut, sangat feminin. *4 Ah, Hridaya Sutra bagi orang Modern

Di bawah ini adalah kutipan dari buku *2 Atma Bodha, semoga memberi semangat kepada putra-putri Ibu Pertiwi dalam menjalanani kehidupan menuju Kebahagiaan Sejati. Amin.

Para nabi, mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini saya sebut proses kebuddhaan. Bisa juga disebut proses “kekristusan”, atau proses apa saja—terserah Anda. Karya Sri Shankara yang satu ini ditulis untuk para calon buddha. Ciri-ciri mereka pun dijelaskan. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang. Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan. *2 Atma Bodha

Mengapresiasi terhadap semua ajaran agama

Terima Kasih Guru,yang telah memberikan pemahaman untuk mengapresiasi semua kepercayaan, semua agama.

Sesungguhnya tidak perlu bertemu dalam urusan kepercayaan, karena kepercayaan saya sama sekali tidak mengganggu kepercayaan Anda. Begitu pun sebaliknya. Kepercayaan adalah urusan batin yang terdalam. Jika urusan pribadi seperti itu dijadikan landasan bagi interaksi umum, repotlah kita semua. *5 Sutasoma

Aku meyakini adanya Sumber Abadi/Puncak Kenyataan atau Kesadaran Murni yang menembus dan melampaui segalanya – dipanggil dengan berbagai nama dan mengalir melalui semua bentuk alam, bentuk kehidupan.

Aku meyakini bahwa agama serta kepercayaan-kepercayaan yang berbeda hanya merupakan jalan yang berbeda untuk menuju Sumber Abadi/Puncak Kenyataan atau Kesadaran Murni ini, sehingga semuanya patut kuhargai dan kupahami secara bersama. *6 Shambala

Terima Kasih Guru atas segala panduanmu. Aku bersujud pada Dia yang bersemayam dalam diri Guru. Namaste.

*1 Bhaja Govindam Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2004.

*2 Atma Bodha ATMA BODHA Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001.

*3 Narada Bhakti Sutra Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2001

*4 Ah, Hridaya Sutra Bagi Orang Modern AH! Mereguk Keindahan Tak Terkatakan. Pragyaa Paaramitaa Hridaya Sutra Bagi Orang Modern, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2000.

*5 Sutasoma Sandi SUTASOMA menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular, PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta 2007.

*6 Shambala Shambala, Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran, Anand Krishna, PT Gramedia Pustaka Utama, 2000

http://www.anandkrishna.org/oneearthmedia/ind/

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: